12 Angry Men: No Bomb, No Car Chases, No Super-Hero Suit but Edge of the Seat Stuff None the Less

Featured image

Juror #11: I don’t believe I have to be loyal to one side or the other. I’m simply asking questions

Akhirnya saya berkesempatan menikmati film yang digadang-gadang sebagai salah satu film hitam putih terbaik ini. Ketidaksengajaan, saat ngumpul sama teman Gila Film di acara Oscar Februari lalu ketika teman buka laptop ada file ‘12 Angry Men’ langsung saya saya salin. Dan tengah pekan ini saya tuntaskan.

Sebenarnya cerita yang tersaji sederhana namun jadi tidak sesederhana yang kita pikirkan saat ini menentukan nasib hidup-mati seseorang. Di tangan Lumet, film dengan satu setting tempat ini berjalan mendebarkan. Tak ada ledakan, tak ada tembak-tembakan, tak ada adu jotos. Tapi sungguh menegangkan. Dari awal sampai akhir kita disuguhi orang ngobrol, diskusi, lempar tangkap pendapat. Unik bukan?

Jadi di suatu sore yang panas ada 12 orang juri pengadilan yang sedang berunding untuk menentukan keputusan hakim, atas kasus pembunuhan. Karakter tanpa nama. Seorang remaja didakwa membunuh ayahnya sendiri pada suatu malam. Suara harus bulat-lat-lat, sehingga meeting tak akan ditutup seandainya ada satu orang saja tak sependapat. Tak ada nama dari keduabelas orang ini, hanya disebutkan juri 1, juri 2 dst sampai 12. Mereka tak saling mengenal dan tak ada kepentingan untuk memutuskan ‘Bersalah’ atau ‘Tidak Bersalah’.

Awalnya secara aklamasi sepertinya meeting akan berlangsung cepat, setelah melalui voting, ternyata ada satu orang yang menganggap sang anak tak bersalah. Dia pun mengutarkan alasannya, yang membuat jengkel sebagian juri. Dia lalu meminta voting ulang dari 11 juri, andai suara bulat dia akan setuju. Voting tertutup, melalui tulisan di kertas satu-satu dibacakan, sepertinya akan tertulis ‘Bersalah’ semua, sampai akhir muncul satu kertas bertulis ‘Tak Bersalah’. Dari sinilah mulai memanas. Dan diskusi ini tak akan selesai secepat yang diperkirakan, akan berlangsung sampai malam. Dengan segala alibi, penelusuran, pendapat serta alasan-alasan masing-masing kita mencoba menyelami karakter setiap juri. Nyeleneh, ada yang pengen cepat-cepat pulang karena malam itu ada pertandingan olahraga. Ada yang kuekeuh terhadap pendapatnya sendiri karena ada saksi yang melihat pembunuhan tersebut. Ada yang mengikuti arus suara banyak. Ada yang isinya marah-marah terus. Seru! Sampai di keputusan final apakah sang anak bersalah? Rasanya akan jadi nikmat kalau menonton sendiri.

Saya selalu suka film yang minimalis yang dieksekusi dengan rapi dan sedap dipandang. Apalagi film se-klasik ini. Di tahun 1957 teknologi tak secanggih sekarang, jadi sungguh layak di-apresiasi  apa yang ditampilkan Lumet. Dari awal sampai akhir kita hanya disuguhkan orang nge-goliam terus. Hebatnya lagi ini film tak membosankan. Seru sampai titik akhir. Film rekomendasi tingkat tinggi. Salah satu film terbaik sepanjang masa yang pernah saya tonton.

12 Angry Men | Directed by: Sidney Lumet | Screenplay: Reginald Rose | Cast: Henry Fonda, Lee J Cobb, John Fiedler | Skor: 5/5

Karawang, 070515

Iklan

14 thoughts on “12 Angry Men: No Bomb, No Car Chases, No Super-Hero Suit but Edge of the Seat Stuff None the Less

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s