(review) Kumpulan Cerpen Benny Arnas: Bulan Celurit Api (bagian I)

Rencananya dalam sebulan ini saya mau posting review buku. 30 buku yang pernah saya baca akan saya review. Sebenarnya sih mau tanggal 4 April 2015 sampai sebulan sesudahnya, namun ternyata ada kendala. Draft sudah ada, minimal 5 catatan sudah siap. Ternyata koneksi di rumah acakadut jadi ketika posting, gagal terus sampai puluhan kali. Sehingga baru bias dimulai hari ini. Mudah-mudahan kendala koneksi bisa teratasi. Here we are…

#30HariMeriewBuku #1

Setelah terpesona dengan kumpulan cerpen Hasan al Bana (oiya saya hutang review part 2 ya) saya coba lagi kumpulan cerpen yang lain, kali ini dari bung Benny Arnas yang ternyata sama-sama dari tanah Sumatra. Ada 13 cerpen pilihan yang tercantum, 12 buah sudah dipublikasikan 1 buah fresh. Biar tak terlalu panjang, review lagi-lagi saya pecah jadi 2 posting.

Dibuka dengan prolog, “Memandang Mengarang”, beliau menceritakan proses dari awal bagaimana dirinya bermetamorfosa menjadi penulis. Dari anggota nasyid, Forum Lingkar Pena (FLP) sampai guru-guru yang membimbingnya menjadi sekarang. Terkesan narsis, bukan hanya dalam bercerita tapi juga pilihan back-cover. Terlihat bung Benny berani memajang foto narsisnya (tentunya sudah dipilih yang paling cakep) dan di dalamnya masih terselip foto dia sambil main piano. Bagaimana seorang narsis menghasilkan cerpen yang sudah puluhan kali muncul di koran? Berikut diantaranya:

Bulan Celurit Api

Mak Muna melihat malam ini bulan tampak sabit membentuk celurit, menurut ramalan turun termurun itu petanda buruk. Malam ini sedang ada hajatan, pesta rakyat promosi lurah menjelang pemilihan. Joget-jogetan di atas panggung, mabuk sampai keramaian yang membuat mak Muna yang sudah tua ini pusing. Ternyata zaman benar-benar telah berubah. Mak Muna yang seorang janda ditinggal mati suami kini benar-benar muak. Inikah petanda buruk dari bulan celurit api? Ternyata tidak, ada kejadian yang lebih gawat dari sekedar pesta Tarup.

Percakapan Pengantin

“Sepatutnya, perkawinan mereka adalah pertautan tak lazim. Oh mereka sama-sama tulikah? Sama-sama pengkor kakinyakah? Sama-sama julingkah? Tidak. Mereka tak berkekurangan serupa itu.” Dari pembuka ini kita sudah diperingatkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam pesta pernikahan ini. Yang datang sedikit, penuh resiko, penuh tanda tanya. Lalu kita dijejali “percakapan” dua pengantin penuh kekhawatiran. Sampai akhirnya kalimat penutup yang menohok fakta disajikan.

Tentang Perempuan Tua Dari Kampung Bukit Batu Yang Mengambil Uang Getah Para Dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer Ke Pasar Kecamatan

Judulnya panjang sekali. Sepanjang perjalanan Mak Atut yang naik sepeda onthel ke pasar Kecamatan sejauh 16 kilometer. Motifnya jelas, mengambil uang (gaji) suaminya yang meninggal seminggu lalu. Ternyata suaminya meninggal gara-gara kecelakaan saat bekerja yang mengakibatkan mobil sialan itu di-massa. Setelah perjalanan yang melelahkan itu, Mak Atut bersitegang dengan juragan para yang merasa dirugikan karena mobilnya digembosi. Namun jelas Mak atut lebih marah kehilangan suami. setelah mereda dan menerima uang 250 ribu dia kembali pulang. Namun sampai di tengah jalan, tepat 8 kilometer dari rumah dan 8 kilometer dari pasar kecamatan, terjadi twist yang keren sekali.

Bujang Kurap

Ini kisah klasik dari desa / daerah sang penulis: Lubuklinggau. Tentang asal usul penggilan bujang kurap. Panggilan yang berkonotasi negatif tersebut ternyata tak seburuk kedengarannya. Mungkin seperti kata “kasep” dalam Jawa yang artinya sakit kronis ternyata dalam Bahasa Sunda berarti “ganteng”. Jauh ya?! Yang pastinya sih ga seperti Malin Kundang dari Minangkabau.

Hari Matinya Ketib Isa

Ketib Isa meninggal dunia pagi ini. Seorang penghulu kampung yang dihormati. Uniknya Mak Zahar, istrinya sungguh berbeda jauh dari sifat almarhum. Pasangan yang aneh, suami yang baik mendapat istri yang suka bergosip dan berperilaku buruk. Kedua anaknya Komar dan Zul ternyata sifatnya turun ibu, petakilan, suka mabuk, judi dan bikin onar. Sampai akhirnya setelah pelayat berkumpul, kedua anaknya pulang. Dengan penuh amarah Mak Zahar menyambutnya dengan caci maki yang didengar warga. Kejutan terjadi. Kepiluan apa yang membuat kematian Ketib Isa semakin menyedihkan?

Bulan Celurit Api | kumpulan cerpen oleh Benny Arnas | cetakan pertama, Oktober 2010 | Penerbit Koekoesan | ISBN 978-979-1442-36-7 | 130 halaman, 140 mm x 210 mm | Skor 3.5/5

Karawang, 080415

Advertisements

3 thoughts on “(review) Kumpulan Cerpen Benny Arnas: Bulan Celurit Api (bagian I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s