Heretic: Tidakkah Kita Sudah Cukup Menderita Karena Agama Kita?

image

#30HariReviewBuku #2
Saya membeli novel ini tahun 2008, 6 tahun yang lalu dan baru kelar membacanya 3 hari yang lalu saat libur akhir pekan. Entah kenapa bisa molor selama ini, kebiasan saya membeli buku dan menumpuknya benar-benar keterlaluan. Dalam tempo 2 hari novel karya Sarah Singleton ini selesai. Dulu saya memasukkan daftar beli karena sinopsis back cover-nya yang mengundang penasaran di mana seorang anak kecil bisa bertahan hidup ratusan tahun di dunia peri.
Diceritakan seorang anak perempuan bernama Elisabeth menemukan makhluk berkulit hijau di hutan dan takjup ternyata dia seorang gadis yang usianya ga jauh darinya. Gadis bernama Isabella hidup di dunia peri selama 300 tahun, dia bersembunyi dari kejaran orang-orang yang menuduhnya sebagai seorang penyihir.
Cerita bersetting tahun 1500-an di Inggris, di mana saat itu terjadi pergolakan antara Ratu Inggris Elisabeth dengan Raja Inggris Henry. Saling klaim dan tuduh karena perbedaan paham. Tepatnya tahun 1530-an Raja Henry memutuskan menutup 800 biara dan mengambil alih pemimpin tertinggi karena tak mengabulkan permintaan cerainya lalu mengangkat dirinya menjadi pemimpin tertinggi gereja. Kemudian tahun 1558 saat putri raja Elisabeth menjadi dinobatkan menjadi ratu Inggris diputuskan mereka kembali memeluk Protestan. 12 tahun berselang ratu Elisabeth dikucilkan Paus Pius V dan menyeru untuk seluruh pemeluk Katolik menggulingkannya. Perseteruan berlanjut tahun 1584 akhirnya Parlemen memutuskan bahwa menjadi pastor Katolik di Inggris adalah penghiatan, dan mereka-pun diburu.
Konflik cerita ada pada perseteruan keyakinan. Yang kuasa mencoba membinasakan yang minoritas, yang tertindas berusaha bersembunyi dalam doa. Kejar-kejaran, pembunuhan dan merasa agamanya yang paling benar membuat dendam turun-temurun. Namun jangan khawatir, buku ini diambil dari sudut pandang seorang gadis remaja jadi ga akan serumit ritual kepercayaan. Ga ada detail kekerasan, walau rasa frustasi menyelingkupi hampir sepanjang cerita. Selalu, ya selalu ada harapan. Itulah pesan utama buku ini. Sejarah mencatat pergolakan agama membuat banyak korban berjatuhan. Bahkan hingga sampai sekarang di beberapa negara masih saja terjadi konflik agama.
Judul tulisan ini mungkin sedikit provokatif, saya ambil dari salah satu dialog antara Jane dan putra-nya Robert yang membawa Thomas — Pastor ke rumahnya. Sebuah larangan di zaman itu, lalu sang ibu marah, “Tahukah kau bahaya apa yang kau bawa kepada kami? Tahukah kau apa yang akan terjadi jika orang-orang tahu kita menampung pria ini? Astaga! Tidakkah kita sudah cukup menderita karena agama kita? Mengertikah kau apa yang bisa mereka lakukan terhadapmu?”
Lalu bagaimana bisa Isabella bertahan ratusan tahun dan masih hidup? Karena waktu di dunia biasa mengalir seperti arus yang tetap, tapi di negeri bayangan waktu bisa dibentuk dan diubah, dilipat, dipercepat atau diperlambat. Di dunia peri waktu bisa berupa arus deras atau danau tenang. Kau melihat segalanya berhenti bergerak? Hanya saja sebenarnya tidak ada yang berhenti bergerak. Jika kita kembali, kita akan kembali ke detik itu.
Dengan dasar cerita seperti itu, banyak hal bisa terjadi di luar batas logika manusia. Sebuah cerita dengan potensi besar. Namun sayangnya apa yang ditawarkan Heretic tak sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Konflik yang sedari awal dibangun bagus tak bisa mencapai klimak di ending. Gaya bertutur Sarah juga kurang luwes, meletup-letup namun sebatass percikan sehingga ledakan yang dinanti tak terjadi. Sampai akhirnya kejutan yang sudah dipersiapkan tersaji, saya sudah bisa menduganya. Buku ini dengan cepat saya lahap, dengan cepat dingat namun dengan cepat pula ceritanya dilupa. Ga usah sampai akhir tahun ini, sampai pertengahan tahun saja pasti sudah tak terbekas di kepala karena akan tergusur cerita-cerita yang lebih kuat. Heretic, here we go.
Kita berfikir dunia bayangan adalah refleksi dunia kita sendiri, dan tentu saja mereka menganggap dunia kita adalah refleksi dunia mereka. Mungkin.
Heretic | a novel by Sarah Singleton copyright 2006 | Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani | Penerbit Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama: Oktober 2007 | 328 hlm; 20 cm | ISBN-10:979-22-3214-1 | Skor: 2/5
Karawang, 040415

Iklan

8 thoughts on “Heretic: Tidakkah Kita Sudah Cukup Menderita Karena Agama Kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s