Doraemon stand By Me: Just Collecting The Bits From Serial and Bundle It

Serial Doraemon adalah legenda. Sejak saya masih SD kelas 4 sampai kini sudah punya anak, serial ini masih ada di RCTI. Bahkan sekarang Nobita-pun masih sama, kelas 4 SD. Sebuah langkah bagus ketika dengar Doraemon dibuat film bioskop. Berbondong-bondong penggemar di Indonesia menantinya dengan sangat antusias. PP BBM teman-teman saya, banyak memakainya. Lini masa social media ramai membicarakannya. Adik ipar saya adalah fan beratnya, segala aksesoris mengenai di biru dibelinya. Kamarnya penuh dengan poster dan stiker si kucing. Tak terkecuali saya. Walau saya lebih condong menyukai si kuning, tapi tetap Doraemon adalah legenda besar.

Film dibuka dengan Nobita yang bangun kesiangan, terlambat sekolah, nilai ujian jeblok, di-bully Giant. Sepertinya segala nasib buruk berafiliasi menghampirinya. Melalui monitor, dua robot masa depan memperhatikannya. Melalui laci, keluarlah mereka. Mereka membawa misi untuk membuat bahagia Nobita. Doraemon ditinggal, misi harus berhasil agar dia bisa kembali ke masa depan. Saat dia melihat  masa depan Nobita akan menikah dengan siapa. Ternyata tak sesuai harapan, karena dia menaksir teman sekelasnya Sizuka. Sementara Sizuka menyukai Dekisugi, siswa terpintar. Tak terima dengan nasib itu, dia meminta Doraemon membantu mengubah masa depan. Berhasilkah?

Ini adalah pertanyaan retorika. Kita semua tahu, segalanya jadi BISA dengan kantong ajaib. Baling-baling bambu, pintu ke mana saja, ramuan bohong, ramuan cinta, segalanya dikerahkan untuk membuat Nobita bahagia. Peralatan canggih yang sudah akrab, karena menemani kita dua dekade lebih. Sebuah nostalgia yang pantas. Sayangnya Stand by Me sepertinya salah eksekusi. Cerita kurang kuat, konflik terlalu sederhana. Bagi Doraemon, melawan takdir bukanlah sebuah hal sulit apalagi sekedar memodifikasi jodoh. Tak ada yang mustahil.

Film ini juga kurang greget, karena dirunut dari awal pertemuan Doraemon di keluarga Nobi. Taka da yang baru, semua ada dalam serial, mencomotnya lalu dijarut dalam  satu setengah jam. Dengan beragam alat yang ada di kantong, wajar dong kita berharap lebih. Sayangnya saat kredit title muncul, hanya suara “lho kok gitu doing…” yang mewakili keseluruhan. Bloopers di ending tak bisa menyelamatkan, karena sebuah kartun hal tersebut jelas modifikasi, ga natural. Mending mempertontonkan di balik layar atau menyimpan scene after credit atau sesuatu yang bisa membuat fan berharap sequel, bukan malah blooper ala Jackie Chan.

Secara keseluruhan tetap layak lahap, namun karena ekspektasi kita yang terlampau tinggi Stand By Me gagal memuaskan saya. Mari kita lihat apa yang akan dilakukan orang Jepang terhadap franchise besar ini.

Stand By ME | Director: Tony Oliver, Ryuichi Yagi | Screenplay: Takashi Yamazaki | Cast (voice by):, Wasabi Mizuta, Megumi Oohara, Yumi Kakazu, Kaiji Tang | Skor: 3/5

Karawang, 180315

Iklan

6 thoughts on “Doraemon stand By Me: Just Collecting The Bits From Serial and Bundle It

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s