Divergent: Sad, Happy and Revengeful – One of Best 2014

Tori: You’re different. You don’t fit into a category. They can’t control you. They call it Divergent. You can’t let them find out about you.

Sekali lagi, adaptasi novel best-seller menemukan ‘klik’ yang tepat. Divergent sepertinya (akan) mengikuti gerbong sukses: Harry Potter, Narnia, The Hunger Games dan (eheeemmm…) Twilligt. Cerita solid, karakter OK, eksekusi pas. Catat: Cerita yang bagus itu penuh konflik lalu penyelesaiannya masuk logika. Veronica Roth melakukannya dengan luar biasa. Dari awal sampai akhir permasalahan tiada habis, saya suka cerita fantasi yang begini. Saya heran dengan penonton yang komplain akan cerita sebagus ini. Suatu saat koleksi lengkap novelnya pasti masuk rak saya.

Dengan setting kota Chicago masa depan. Beatrice (Shailene Woodley) bersama kakaknya Caleb (Ansel Elgort) mengikuti tes untuk menentukan di faksi mana mereka akan hidup. Terdiri atas lima faksi: 1. Faksi Amity – hidup sebagai petani dan damai. 2. Faksi Erudite – kumpulan orang cerdasyang haus akan pengetahuan. 3. Candor – menyukai kejujuran. 4. Abnegation – suka membantu sesama. 5. Dauntless – kumpulan para pemberani. Setelah tes, Beatrice ternyata ga cocok di-lima faksi tersebut yang disebut divergent. Hasilnya ada tiga faksi: Erudite, Abnegation dan Dauntless. Karena divergent dianggap berbahaya, maka dia diminta untuk merahasiakan hasil tes.

Saat upacara pemilihan faksi, (mengingatkanku pada cerita The Giver) Caleb memilih Erudite. Sementara Beatrice secara mengejutkan memilih kumpulan pemberani. Dimulailah petualangan pelatihan untuk menjadi seorang Dauntless sejati. Beatrice berganti nama menjadi Tris. Naik kereta yang sedang jalan, melompat dari ketinggian, bertarung, menembak, memanjat gedung tanpa pengaman. Singkatnya pelatihan Dauntless ala militer, karena mereka dididik untuk menjadi pasukan keamanan. Kematian selalu mengintai, dan itu terlihat wajar oleh Dauntless. Ada dua pelatih utama, Four (Theo James) yang masih menggunakan perasaan dan Eric (Jai Courtney) yang kejam tanpa ampun. Dalam perjalanan, Four dan Tris menjalin kasih.

Sementara dari kaum Erudite yang dipimpin Jeanine (Kate Winslet) memulai misi penyeimbangan faksi. Mencoba memusnahkan kaum Abnegation. Tris yang asli dari faksi tersebut mencoba menyelamatkan orang tuanya. Berhasilkah?

Premis cerita young adult seperti ini sudah banyak dibuat. Ada yang sukses, banyak yang flop: Golden Compass, Eragon, misalnya. Walaupun fan terbelah, banyak yang suka namun lebih banyak yang kesal, saya percaya Divergent akan sukses ke depan. Satu hal yang perlu dicatat, cerita Divergent sangat solid. Saya belum membaca bukunya, dan (baru akan) membacanya. Dengan pondasi yang kuat harusnya Insurgent dan seterusnya bisa membumbung tinggi. Divergent series surely going to be big hit in future. Yup, I am not teenager. 31 + straight male. How do you like that?

Divergent | Director: Neil Burger | Screenplay: Evan Daugherty | Cast: Shailene Woodley, Ansel Elgort, Jai Courtney, Theo James | Skor: 4/5

Karawang, 140315 — catatan: Saat ini Insurgent sedang tayang di bioskop.

Iklan

7 thoughts on “Divergent: Sad, Happy and Revengeful – One of Best 2014

  1. Saya masih lebih suka the hunger games sih. Waktu nonton itu susah banget ngapalin faksi2nya. Bukunya juga belum selesai kebaca. Yang bikin salut, penulisnya masih muda euy!

  2. From: Lazione BudySent: Sabtu, 14 Maret 2015 2.08 PMTo: cakidur@ymail.comReply To: Lazione BudySubject: [New post] Divergent: Sad, Happy and Revengeful – One of Best 2014

    a:hover { color: red; } a { text-decoration: none; color: #0088cc; } a.primaryactionlink:link, a.primaryactionlink:visited { background-color: #2585B2; color: #fff; } a.primaryactionlink:hover, a.primaryactionlink:active { background-color: #11729E !important; color: #fff !important; }

    /* @media only screen and (max-device-width: 480px) { .post { min-width: 700px !important; } } */ WordPress.com

    lazione budy posted: “Sekali lagi, adaptasi novel best-seller menemukan ‘klik’ yang tepat. Divergent sepertinya (akan) mengikuti gerbong sukses: Harry Potter, Narnia, The Hunger Games dan (eheeemmm…) Twilligt. Cerita solid, karakter OK, eksekusi pas. Catat: Cerita yang bagus i”

  3. “We Raise Soldier Not A Rebels”

    Divergent sangat menggambarkan dinamika kehidupan dalam segi apapun. Terutama pada aspek sistem. Akan selalu ada orang-orang yang mendobrak konformitas dan kemapanan sistem. Akan selalu ada “pemberontak-pemberontak” sistem yang sudah terbangun. Ini mungkin kenapa orang-orang yang berbeda (Divergent) akan selalu dipandang berbahaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s