Edge of Tomorrow: We Should Just Reset

Live. Die. Repeat. Sebuah tagline film paling diingat tahun 2014. Sleeper hit summer movie, tagline-nya untuk kali ini tak bohong. Kisah akan diulang saat jagoan mati, terbangun dari tidur lalu mencoba menemukan jalan keluar. Familiar dengan kisah seperti ini? Tunggu dulu…

Berdasarkan novel yang terbit tahun 2004 karya Hiroshi Sakurazaka dari Jepang: All You Need Is Kill. Berseting bumi masa depan di mana dunia sedang diinvasi alien. Lt. Col. Bill Cage (Tom Cruise) yang penakut diterjunkan ke perang, di garis terdepan. Perang melawan alien yang mematikan. Dalam perjalanan menuju ke sana di holikopter dia tertidur. Terbangun saat mendarat di Inggris, bertemu jenderal Brigham (Brendan Gleeson), dalam dialog canggung yang asyik diikuti ini Cage diputuskan maju perang. Mencoba menolak dan kabur, dia dilumpuhkan. Lalu Cage terbangun di kamp militer yang siap tempur. Dengan gugup dia meminta klarifikasi bahwa ini sebuah kesalahan, ga ada yang peduli. Saat armor sudah terpasang, Cage diterjunkan dan perang-pun dimulai. Tak butuh waktu lama, dia terbunuh. Sebelum mati dirinya kena cairan alien (dalam film ini disebut Mimic), cairan yang tak biasa karena beberapa saat kemudian dia hidup lagi. Hidupnya di-reset ke kamp militer saat terbangun. Adegan berikutnya, sama dengan sebelumnya dia kembali dikirim ke perang. Mati lagi dengan cara yang berbeda, lalu terbangun di kamp. Begitu terus, Cage bingung dan mencoba cari jalan keluar. Dalam perang dia bertemu Rita Vrataski (Emily Blunt) sang ‘Metal Full Bi*ch’, dia coba jelaskan apa yang dialaminya. Dengan yakin Rita berteriak: “come find me when you wake up!”

Setelah kembali tewas, dia mencari Rita di kamp latihan, ini pun butuh adegan berulang-ulang sampai akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam ruangan untuk menjelaskan rencana ke depan. Bahwa Rita pernah mengalami hal yang sama, dirinya kena cairan Mimic, dan hidupnya terus berulang kalau dia mati. Looping time terhenti saat Rita mengalami pendarahan, dan terjadi tranfusi sehingga darah Rita yang  berasal dari Mimic diganti darah lain. Kini hal tersebut dialami Cage, inilah saatnya kesempatan emas mengalahkan alien terbuka. Ga mudah memang tapi setidaknya dia tahu bahwa pengiriman pasukan di judgement day adalah kesalahan besar, ini bukan perang ini pembantaian. Berhasilkah Cage memperbaiki kenangan?

Well, untuk kali ini saya setuju. Ini film bagus. Thrilling dan dibuat tanya apa yang akan terjadi berikutnya? Walaupun idenya ga original tapi setidaknya setelah credit title muncul ada sebuah kepuasan menonton. Kalau kalian suka Source Code, Groundhog Day, Starship Troopers atau The Butterfly Effect kalian akan girang. Bahkan cerpen yang saya tulis tahun 2011 berjudul Let Me Out pun mirip dengan film ini. Terbangun, gagal, ulangi lagi. Yah, walau ga se-ekstrem di arena perang.

Setidaknya saya mencatat 6 hal bagus dari Edge Of Tomorrow:

  1. Gagal – ulang. Seperti main game, kita bisa me-reset permainan. Habatnya film ini ga menimbulkan bosan. Setiap segmen membuka jawab ke segmen berikutnya. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
  2. Ending bagus. Tanpa saya kasih tahu akhirnya. Ekspresi Cage dimainkan dengan sempurna di akhir cerita. Dia ga banyak bicara namun luapan emosinya dalam.
  3. Tak terprediksi. Kamu tak akan bisa menebak apa yang akan terjadi setelah bangun. Yakinlah, mungkin hanya meraba tapi percayalah ga ada nyata.
  4. Chemistry yang kuat. Tom dan Emily main sangat bagus. Pasangan sempurna untuk menyelamatkan dunia.
  5. Detail berlogika. Ada teori looping time, dan detail yang ditampilkan masih masuk logika. Bagusnya lagi — seperti hitungan Cage – tak ada yang meleset. Kecuali kalau kamu percaya bahwa hidup ini maju terus dan tak ada kenangan yang tertinggal.
  6. Visual effect. Karena ini film musim panas, visual efek sebagai syarat mutlak. Dan terpenuhi.

Seperti film-film bagus lainnya, Edge Of Tomorrow akan dikenang 5, 10 atau 50 tahun ke depan. Percayalah film ini layak masuk koleksi Anda. Seperti inilah seharusnya film blockbuster dibuat. Live – Die- Repeat and then Smile!

Edge Of Tomorrow | Director: Doug Liman | Screenplay: Christopher McQuarrie, Jez Butterworth | Cast: Tom Cruise, Emily blunt, Bill Paxoton, Brendan Gleeson | Skor: 5/5

Karawang, 050315

Iklan

5 thoughts on “Edge of Tomorrow: We Should Just Reset

  1. Film ini hampir mirip dengan film “Source Code”. Tp di “Source Code” terikat waktu dan tokohnya sekarat, untuk bangkit lagi dia harus menghabiskan waktu dulu. Sedangkan di film “Edge of Tomorrow” tak terikat waktu dan yang membangunkannya melalui kematian dalam mimpi.
    Saya sependapat poin 1, gagal brti kesuksesan yang tertunda, utk menemukan jalan keluar. Cruize salah satu bintang film yang sering saya tonton langsung filmnya di bioskop. For all, good job and amazing! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s