📓KOIN PENYOK 📒

image

📓KOIN PENYOK 📒

Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.

Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok.”

Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. “Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno”, kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.

Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu & menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.

Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya,

“Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang & pergi kita tidak membawa apa-apa.

Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.

Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?

Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.

Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah.

Saat kehilangan sesuatu kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa jadi “kehilangan” itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke”aku”an. Ke”aku”an lah yang membuat kita menderita.

Rumahku, hartaku, istriku, anakku. Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak ajak apa-apa dan siapa-siapa.

Pada waktunya “let it go”, siapapun yang bisa melepas, tidak melekat, tidak menggenggam erat maka dia akan bahagia.

Dibacakan oleh: Widada
Pada hari Selasa, 3 Maret 2015
Di briefing pagi motivasi dan inspirasi NICI

Iklan

The Equalizer: An ‘Almost’ Great Film

Susan: Sometimes we make wrong choices to get the right place.

Dari sutradara dan aktor yang memukau kita lewat ‘The Training Day’ kita disuguhkan film polisi-penjahat lagi. Robert McCall (Denzel Washington) adalah seorang pekerja di toserba bangunan yang suka menghabiskan waktu dengan membaca buku. Terlihat seperti warga biasa, bercengkrama dengan penduduk, ikut olahraga sore, sampai ngopi santai di café saat malam hari. Tapi dari gerak-geriknya jelas dia bukan orang biasa.

Sampai pada suatu malam di café tempat dia biasa ngopi, dia bertemu dengan Teri (Chloe Grace Moretz) seorang pelacur yang bercita-cita menjadi penyanyi. Dari situ mereka akrab, layaknya seorang bapak McCall bersenda gulau dan coba melindungi Teri. Saat pulang, mereka dihadang sebuah mobil yang memaksa Teri masuk dan mengancam McCall untuk menjauhinya. Mobil berisi germo, yang memberi kartu nama, sekedar berbisnis. Beberapa hari kemudian Teri tergolek lemah di rumah sakit, dia babak belur dihajar mafia yang menaunginya. Dengan kartu nama di tangan, McCall mendatangi gedung tempat mafia Rusia berada. Menawarkan uang besar untuk membebaskan Teri. Slavi (David Meunier) sang kepala mafia tak terima, itu adalah pelecehan. Lalu McCall melihat jam tangannya, menghitung dengan cepat dan bak bik bug! Semua dibunuh. Dari sini kita tahu, McCall seperti McClean! “You’re gonna bleed out all over this funky floor, all over 9,800 Dollars.”

Cerita kemudian berlanjut, bahwa McCall mempunyai masa lalu yang buruk penuh kekerasan. Polisi mencari dalang pembantaian, dan bos Slavi dari Rusia mengirim pasukan untuk mencari McCall. Di tempat kerja dia berteman dengan security Ralphie (Johnny Skourtis) yang gendut dan beberapa karyawan. Dalam sebuah adegan, toko mereka dirampok, dengan todongan pistol sang kasir diminta menyerahkan uang dan cincin. McCall dengan kalem, meng-identify penjahat lalu membiarkannya kabur. Esoknya cincin sudah di meja kasir. Tanpa ada scene pembantaian kita tahu, apa yang terjadi. Di lain adegan, McCall meringkus dua polisi korup yang suka meminta uang upeti kepada pemilik toko. Setelah direkam, dia meminta mengembalikan uang tersebut kalau tidak video tersebut akan disebar. Dari sini saya berteriak, “wow it’s a real hero…”

Vladimir Pushkin (Vladimir Kulich) orang suruhan dari Rusia pelan tapi pasti mengetahui identitas McCall. Dengan penuturan yang ala petak umpet, kejar sana sini dan beberapa orang dekat diancam dan dibunuh. Akhirnya momen duel itu tiba juga. Bagaimana nasib Teri? Apakah identitas asli McCall akhirnya terungkap publik?

Dari awal sampai pertengahan film ini terlihat bagus dan catchy. Nyaris syarat semua film thriller ada, sayangnya menjelang akhir Fuqua kehilangan kendali. Susunan cerita yang rapi itu berantakan di penghujung kisah. Film ini hanya hampir bagus, ya hanya hampir. Rasanya terlalu sempurna jagoan unbeaten itu. Aksi-aksinya bagus, aktingnya Oke, sayang ending-nya salah eksekusi. Terlalu sempurna untuk dinalar jadi nyata. Kisah pihak berwajib menolong orang tertindas di Amerika terkenal dengan kutipan: “Odds against you? Need help? Call the Equalizer. 212 555 4200” dan McCall terlalu digdaya untuk mewujudkannya. Sebuah film yang nyaris wah. Nyaris saja…

The Equalizer | Director: Antoine Fuqua | Screenplay: Richard Wenk | Cast: Denzel Washington, Marton Csokas, Chloe Grace Moretz, Mellisa Leo | Skor: 3/5

Karawang, 040315

(review) Big Eyes: Big Movie

Ruben: Why are their eyes so big? | Walter: Eyes are the windows to the souls!

Sebenarnya saya sudah hopeless sama film-film Tim Burton. Tiga film sebelumnya yang mengecewakan, Alice In Wonderland, Dark shadows dan Frankenweenie membuat ekspektasi ku merosot. Kaset film sudah ada di rak bulan lalu, numpuk antri untuk ditonton. Setelah Oscar baru saya pilah-pilih. Kata penjual dvd sih ini film bagus, namun tetap saya set harapan serendah mungkin. Semalam akhirnya kelahap juga.

Film dibuka dengan sebuah mesin cetak menelurkan gambar seorang gadis berbaju biru, dengan mata besar sedang bersedih, gambar dengan identitas Keane. Lalu sebuah narasi oleh Dick Nolan (Danny Huston) mengantar kita ke sebuah kota Tennesse, setting tahun 1950-an seorang pelukis Margaret (Amy Adams) dan putrinya Jane (Delaney Raye) sedang mengepak pakaian dengan tergesa untuk keluar kota. Mereka berdua kabur ke San Fransisco setelah Margaret bercerai. Margaret bertemu teman lama, DeeAnn (Krysten Ritter) untuk mendiskusikan masa depannya. Bermodal keahlian menggambar, dia melamar ke Perusahaan furniture. Di Minggu siang, Margaret jualan lukisan di taman kota. Di situlah dia berkenalan Walter Keane (Christoph Waltz) yang juga memajang lukisan. Walter berpendapat, Margaret terlalu murah menjajakan seni lukis. Walter memperkenalkan dirinya sebagai seorang bisnisman di bidang property dan melukis di hari Minngu. Lukisan jalanan kota Paris yang sebenarnya bagus, namun terlihat ada yang aneh (akan diungkap di akhir film sebagai salah satu kejutan besar).  Dari situ mereka lanjut kencan.

Pada suatu hari, Margaret mendapat telpon dari mantan suaminya untuk menjemput Jane, meminta hak asuh karena sebagai single parent dia dianggap ga akan mampu. Di situlah Walter langsung melamar. Baru kenal langsung ke pelaminan, honey moon ke Hawaii. Sejujurnya sampai di scene ini saya curiga, Walter menyembunyikan sesuatu. Hal yang dengan brilian akan diungkap di akhir film. DeeAnn berpendapat Margaret terlalu cepat mengambil keputusan, namun dia bergeming karena Walter adalah ayah yang baik dan berkecukupan karena daya sales nya bagus.

Benar saja, setiap kesempatan bisa dijadikan duit oleh Walter. Dirinya terusir dari gallery pelukis milik Ruben (Jason Schwartzman) karena menganggap lukisan jalan Paris sudah ga ada yang minat “sweep the gutters before the taste police arrive”. Perhatikan kata-kata Ruben saat mengusirnya, ada yang janggalkan? Lalu dia pun mencari tempat untuk memajang lukisan, di sebuah pub dia menyewa dindingnya. Awalnya sulit menjual seni di tempat para pemabuk. Namun saat sepertinya segalanya berjalan buruk, datanglah selebritis lokal Enrico Banducci (Jon Polito) yang berkelahi dengan Walter, perkelahian yang berujung sebuah lukisan dipukulkan ke kepala Enrico yang kebetulan ada wartawan. Esoknya masuk berita, yang membuat Walter mulai dikenal. Pelan tapi pasti, lukisan anak kecil dengan mata besar diminati publik. Lukisan dengan identitas Keane, padahal dilukis oleh Margaret. Dari dinding pub kini mereka bisa membuka galeri sendiri, menjual poster dengan tanda tangan Walter sampai bisa membeli rumah besar yang dilengkapi kolam renang. See folks, don’t care if it’s a copy. Mau dong satu copy aja!

Margaret melukis, Walter menjual. Publik tahunya itu karya Walter, sampai akhirnya mereka melukis anak-anak dengan berbagai ras dan warna untuk dipamerkan Unicef. Sayangnya lukisan itu dikritik buruk di Time. Inikah awal kehancuran karir Walter Keane? Sampai rumah tangga mereka pun terancam bubar kerena Margaret lama-lama kesal juga lukisan yang dibuat dengan sepenuh hati itu diklaim. Jane (Madeleine Arthur) yang kini beranjak dewasa juga memberontak dan ga setuju dengan kondisi seperti ini. DeeAnn yang tahu rahasia Margaret kesal sahabatnya berubah. Berhasilkah mereka keluar dari bayang-bayang kesuksesan lukisan Big Eyes?

Well, saya terkejut. Tim Burton membuat film jadi lebih hidup. Berdasarkan kisah nyata, cerita mengalir dengan bagus karena kita akan selalu dibuat tanya, berikutnya apa yang terjadi. Waltz seperti biasa, tampil memukau – layak Oscar, apalagi dialog di pengadilan yang lucu sekaligus sedih. Akting dia memang tiada duanya, sebagai seorang penipu yang lihai dengan kata-kata lamis-nya. Amy Adams tampil cantik sebagai seorang ibu yang mencintai putrinya sepenuh hati dan mencoba melindunginya. Dari awal pun kita tahu, lukisan anak dengan mata besar itu adalah Jane. Saya jadi pengen memajang posternya di dinding kamar. Ada yang jual ga ya? Oh saya akan cari!

Big Eyes | Director: Tim Burton | Screenplay: Scott Alexander, Larry Karaszewski | Cast: Amy Adams, Christoph Waltz, Krysten Ritten | Skor: 4/5

Karawang, 040315