Big Driver

Featured image

Dengan embel-embel berdasarkan novel Stephen King, saya pilih film ini menemani akhir pekan. Tanpa tahu review apapun, tanpa tahu bocoran apapun jadi ekpektasi senormal mungkin. King sendiri adalah seorang mentor bagiku, terutama nasehatnya dalam bidang kepenulisan, “bahwa untuk menjadi penulis kuncinya hanya satu: tulis, tulis, tulis…” jadi setiap ada yang berbau King saya coba untuk menikmatinya.

Film dibuka dengan setting sebuah gorong-gorong penuh mayat wanita dan musik yang mencekam khas horror. Adegan berpindah di sebuah rumah mewah, Tess Throne (Maria Belo) sedang melakukan live streaming telpon dengan tetangga sekaligus temannya tentang buku baru yang akan ditebitkan. Tess adalah novelis yang sedang menanjak karirnya, hari ini dia sedang ada acara launching bertemu dengan kolega Ramona Norvell (Ann Dowd). Dari pertemuan itu Tess harus keluar kota, dibantu GPS mobilnya Tess berangkat. Di sebuah jalan desa yang sepi ban mobil Tess pecah, kena kayu penuh paku. Setelah menepi dia meminta tolong dengan mencoba memberhentikan setiap mobil yang lewat. Setelah beberapa lama, ada mini truck yang berhenti, seseorang bertubuh tambun. Memperkenalkan dirinya sebagai Lester (Will Haris) – akan jadi anonim Big Driver – dia pun memcoba melepas ban. Lester terlihat pria yang sopan, ceria, dan (sepertinya) baik. Saat Lester menunduk, Tess iseng melihat isi truck-nya. Kaget karena di sana banyak kayu penuh paku, jantungnya langsung berdebar, jangan-jangan dia juga yang menjebak. Mengingatkanku pada tukang tambal ban curang sepanjang Pantura. Saat pikirannya penuh kewaspadaan, Lester mendekat dan langsung mencekik Tess. Diseretnya ke sebuah bangaun tua, dan selanjutnya penuh adegan kekerasan – pemerkosaan dan percobaan pembunuhan – yang membuat Tess putus asa.

Tess lalu dibuang di gorong-gorong, yang di adegan pembuka tadi. Tess yang pura-pura mati lalu bangkit, penuh luka dia mencoba mencari pertolongan. Setelah berjalan jauh, akhirnya dia menemukan sebuah toko dengan telpon umum. Setelah sampai di rumah lagi, dia lalu menyusun rencana. Akankah melapor ke polisi ataukah menelusuri sang penjahat untuk balas dendam. Sebagai seorang novelis pilihan kedua terasa menatang, disusunnya segala kemungkinan untuk menuntut balas Big Driver. Mampukah?

Awalnya saya exited dengan pembuka sampai alibi Tess, namun sayang semakin menit film menipis keteganggan menurut drastis, gagal mempertahankan tempo. Tess sendiri mengalami semacam halusinasi punya teman bicara imajiner yang membantunya menyelesaikan masalah, walau kadang teman imajinernya salah. Kelebihannya, ternyata ada kejutan bahwa Tess keluar kota sebenarnya sudah direncana. Bahkan dia dijadikan calon korban-pun ternyata sudah diskenariokan.

Dengan ekspektasi biasa, ternyata terpenuhi karena secara keseluruhan memang film yang biasa. Ga usah terlalu dipikikan, film ini akan cepat berlalu lalu hilang dari ingatanku.

Big Driver | Director: Michael Solomon | Screenplay: Stephen King | Cast: Mario Belo, Ann Dowd, Will Haris | Skor: 2/5

Karawang, 16022015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s