Kecerdasan Emosi

Ada 3 contoh cerita yang dipaparkan dalam briefing motivasi pagi ini mengenai kecerdasan emosi.

  1. Di sebuah masjid ada seorang pencuri sandal. Kebetulan pak ustadz sedang keluar dari masjid dan memergokinya. Sang pencuri lari dan dikejar sampai akhirnya tertangkap. Sang ustadz menasehatinya, kenapa mencuri? “Kembalikan sandal tersebut. Kalau ga punya uang, ini saya kasih uang dan belilah sandal.”
  2. Di sebuah sekolah, di toilet putri setiap pagi cermin nya selalu kotor dengan lipstick. Banyak kecupan-kecupan nakal di sana yang membentuk bibir. Sang guru kesal, maka dibuatlah pengumuman: “dilarang mengotori cermin toilet”. Namun keesokan harinya masih saja ada bekas bibir di cermin. Kesal, kasus ini dilimpahkan kepada kepala sekolah. Dengan bijak sang kepala sekolah lalu mengumpulkan seluruh siswi di toilet lalu dia memanggil office boy (OB). Dan memerintahkan kepadanya untuk membersihkan cermin. Dengan cekatan sang OB mengambil kain lap lalu mencelupkannya ke dalam toilet jongkok dan mengelapkannya ke cermin, lalu berujar: “beginilah setiap hari saya bersihkan cerminnya”.
  3. Seorang ibu sepulang dari pasar menemukan dinding rumahnya penuh coretan anaknya yang masih balita, di usia segitu dia senang sekali belajar menulis di mana saja. Padahal sudah diperingatkan berkali-kali untuk jangan mencoret-coret dinding. Sang suami lalu mengambil tindakan, tembok dilapisi kertas dan berujar kepada sang anak, “Silakan salurkan kreatifitas kamu nak di sini”.

Dari ketiga kasus di atas, kita bisa ambil hikmah. Salah satu bentuk kecerdasan emosi adalah bisa memberikan solusi yang baik saat kita kena masalah. Dalam keseharian kita, kita harus akui kita pernah melakukan kesalahan. Nah inti dari cerita ini, bagaimana kita menyelesaikannya dengan cerdas. Baik atasan atau bawahan, baik rekan kerja atau karyawan lain, tinggal kita menyikapinya. Apakah dengan marah bisa menyelesaikannya? Ataukah dengan jawaban dan tindakan yang tepat dengan memberi solusi agar kesalahan serupa tak terulang.

Terakhir, dalam sebuah training yang dimulaia jam 09:00 tepat ada seorang ibu yang tergopoh-gopoh datang jam 09:30 untuk duduk di barisan paling depan. Sang trainer hanya tersenyum lalu berujar, “tenang saja bu, Anda tak terlambat. Hanya saja training-nya kita mulai lebih awal …”

Ruang HR NICI – Karawang, 270115

Iklan

6 thoughts on “Kecerdasan Emosi

  1. hehehe… jadi ntar klo ada mahasiswa saya datang telat saya akan bilang, “tenang nak, belum terlambat kok, memang tadi kita mulai kuliah lebih awal” 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s