(review) Boxtroll: The Troll Hunter, Roald Dahl Wanna-Be

Featured image

Film animasi kandidat Oscar 2015 pertama yang saya tonton. Tagline-nya menantang kita, Dare to be box? Dari orang yang pernah mempesona kita dengan film Coraline. Film dibuka dengan sebuah kota menjelang malam, warga segera menutup rapat-rapat pintu dan jendela karena ada boxtroll yang berkeliaran yang bisa menculik anak-anak. Tersebutlah Archibald Snacther (Ben Kingsley) – si topi merah, dan pasukannya yang menawarkan kepada wali kota Lord Portkey Rind (Jared Haris) — si topi putih, untuk membasmi para boxtroll. Sang walikota setuju, tapi pertaruhannya besar yaitu topi putih sebagai lambang kekuasaan akan berpindah tangan.

Cerita lalu fokus kepada para boxtroll, sebuah makhluk troll yang memakai boks (mengingatkanku pada kura-kura) sebagai pakaian mereka, dalam kesehariannya mereka membawa barang-barang rongsokan dari dunia atas (kota) di malam hari. Membawanya pulang ke dunia bawah (sebuah tempat tinggal yang dibangun di bawah tanah oleh troll) untuk dijadikan perlengkapan hidup, siangnya mereka kembali dan tidur. Mulai dari roda, besi-besi tua, lampu, boneka, sampai kardus-kardus yang kiranya menarik dan bermanfaat. Tersebutlah dua karakter utama troll: Fish (Dee Bradley Baker) dan Shoe (Steve Blum) yang akan mewarnai sepanjang film. Boxtroll ketika diburu selalu masuk ke dalam bok ketakutan. Persis kura-kura pas mau ditangkap. Lucu sekali melihat ekspresi mereka. Dan yang mengejutkanku ada sebuah boxtroll seorang bayi manusia bernama Eggs (Issac Hempstead Wright) di antara mereka. Eggs secara flash sebuah musik yang menawan tumbuh menjadi remaja.

Eggs lalu bergabung dengan boxtroll lainnya setiap malam ke dunia atas. Lalu secara tak sengaja bertemu dengan putri Lord Portkey, bernama Winnie (Elle Fanning). Winnie yang penasaran dengan boxtroll akhirnya berhasil mengajak berbicara Eggs dan menjelaskan kenapa warga ketakutan. Justru Eggs yang terkejut karena, dalam sebuah drama pinggir jalan diparodikan boxtroll telah menculik seorang bayi Trubshaw, sehingga anggapan dunia atas itu tidak benar. Sampai akhirnya Winnie terperangkap di dunai bawah, dan terkejut sampai teriak: Where are the rivers of blood, and the mountains of bones? I was promised rivers of blood!

Keadaan makin runyam karena boxtroll makin hari makin habis yang setiap malam dibasmi pasukan topi merah. Dan sang boxtroll favorite, dalam adegan dramatisnya Fish tertangkap. Namun tetap saja para boxtroll itu sudah menjadi kewajaran, Eggs tak setuju. Shoe yang mengajak bercanda Eggs dengan main lempar serangga, tetap bergeming sedih. Cintanya pada Fish membulatkan tekad untuk menyelamatkannya. Bersama Winnie mereka mencoba membongkar rahasia di balik tertangkapnya boxtroll. Berhasilkah?

Mr Pickles: We exterminators! Of justice!

Mr. Gristle: We exterminate justice!

Well, saya terkejut. Film sesederhana ini bisa masuk nominasi best animasi Oscar. Ceritanya ketebak, plot hole di mana-mana, aksinya juga standar. Dibanding Coraline yang rilis 5 tahun lalu, jelas Boxtroll tak ada apa-apanya. Saya berani jamin ini film ga akan menang di perhelatan Oscar nanti, bahkan saat saya belum menonton pesaing yang lain. Duh! Overall, cerita film yang so so sini mengingatkanku pada kisah-kisah yang ditulis Roald Dahl dengan sentuhan warna-warni. Ingat The BFG, nah boxtroll dalam imajinasiku tampangnya mirip mereka tapi ga raksasa. Membayangkan BFG tersenyum pada ratu Inggris sama seperti senyum Fish yang innocene.

Oiya, saat credit title muncul nikmatilah, sampai lima menit akhir akan ada scene after credit. Nyentil sekali dua orang ini, Pickles dan Gristle. Kita hidup di dunia ini, hanya setitik air. Bahkan gerakkan kita pun sudah diatur yang Maha Besar. Besarkah? See…

Boxtroll | Directed by: Graham Annable, Anthony Stacci | Written by: Irena Brighull, Adam Pava | Cast: Ben Kingsley, Jared Haris, Elle Fanning, Nick Frost, Issac Hempstead Wright | Skor: 3/5

Karawang, 200115

Iklan