(review) PK: Wrong Number!

Jelang akhir tahun, kututup nonton film yang brilian. Jauh hari sebelum Desember 2014 tiba saya sudah disuguhi jadwal film (bagus) yang akan dirilis yang masuk daftar mau tonton. Dari Pendekar Tongkat Emas, Hobbit, Paddington sampai Night At The Museum 3. Dan seperti yang sudah-sudah akan selalu ada film yang diluar radar mencuat. Gara-gara sebuah grup film yang mayoritas bilang bagus, akhirnya saya memutuskan pergi ke Bekasi untuk menonton PK. Di Cikarang belum (atau mungkin ga akan) tayang jadi kepaksa menempuh 2 jam perjalanan ke Mega Bekasi, itupun tayang hanya 2 slot di malam hari. Nonton bareng Deni dan Zul, teman Gila Film yang lama ga ketemu.

Dari orang yang telah memukau Anda lewat 3 Idiots. PK (baca: Peekay) dari Bahasa Hindi yang berarti mabuk. Film dibuka dengan sebuah adegan sebuah Ufo yang mendaratkan alien (PK, diperankan dengan bagus oleh Aamir Khan) di India, dengan bertelanjang hanya berkalung radar (remote control) sang alien berjalan mencoba meyapa manusia, seorang penggembala yang ditemuinya. Alien disini sama seperti manusia tapi ga bisa Bahasa manusia, di planet mereka tinggal mereka berkomunikasi dengan telematik, berpegangan tangan, dan tak bisa bohong. Saat menatap sang penggembala yang berkalung radio-tape untuk berkomunikasi, orang tersebut malah mencuri remote control dan berlari naik kereta. Dalam pengejaran sang alien malah mendapat radio-tape, yang akan mewarnai sepanjang film ini. Remote control tersebut adalah alat pemanggil Ufo, jadi selama barang itu hilang maka dia ga akan bisa pulang. Dan dimulailah perjalanan pencarian, yang dalam film ini nantinya bisa juga dianalogikan pencarian Tuhan.

Film lalu loncat ke kota Bruge, Bergia dimana di hari yang cerah menampilkan Jagat Janani / Jaggu (Anushka Sharma) mengendarai sepeda menuju konser besar. Sayang sekali saat sampai di tempat pertunjukan, tiket sold out. Lalu ada extra tiket yang dijual seorang calo (Sai Gundewar) di depan gerbang, saat bersamaan muncul seorang pria tampan Sarfraz Yousuf (Sushant Singh Rajput) yang juga ingin membeli tiket tersebut. Sayang sekali sang calo yang melihat perebutan tiket memanfaatkan momen dengan menjual jauh lebih mahal, yang seharusnya berharga 40  menjadi 100. Berdua mereka mengumpulkan duit, ditotal hanya 96. Lalu mereka meminta tolong pada seorang kakek yang berdiri makan ice cream uang sebesar 4 untuk sebuah tiket. Sang kakek yang juga ingin menonton konser bilang bahwa tiket habis dan ga tahu ada calo yang jual extra ticket, marah dan mendatangi sang calo, lalu bukannya memberikan tiket ke Jaggu malah kabur ke konser. Merasa ditipu sang kakek, Jaggu dan Sarfraz mengejar ke pintu konser lalu melumurkan ice cream ke bajunya. Maka mereka pun dikejar security, kabur berdua naik sepeda. Setelah aman, mereka berkenalan. Jaggu seorang Hindu dari India, reporter TV. Sarfraz seorang muslim, duta untuk Pakistan. Mereka saling mencintai, namun Jaggu ragu karena mereka dari keluarga agamis. Saat memberitahu ayahnya yang kolot lewat web cam laptop, ayahnya marah menentang pasangan berbeda agama. Ayahnya lalu mendatangi pemuka agama yang dihormatinya, Tapasvi Maharaj (Saurabh Shukla) untuk meminta petunjuk. Yang Mulia Tapasvi lalu menghubungi “Tuhan” untuk meminta jawaban, dia memprediksi laki-laki tersebut hanya mencari kesenangan dan akan mencampakkannya. Marah, Jaggu menutup koneksi. Lalu dia bersumpah akan melawan takdir, bahwa nubuat takdir yang didengarnya salah. Dia lalu mengajak menikah Sarfraz besoknya, kaget Sarfraz ragu. Karena  baginya menikah adalah menyatukan dua keluarga bukan individu, namun demi cinta dia siap. Besoknya saat Jaggu menunggu Sarfraz di altar datang seorang anak kecil memberi secarik kertas yang intinya permintaan maaf dia ga bisa hadir dan membatalkan pernikahan. Saya sempat teriak, laki sialan kutu kupr**! Shock, Jaggu membuang kertas tersebut di kursi dan pulang dalam tangisan. Pulang ke India dengan luka yang sangat perih.

Sebagai seorang reporter TV, Jaggu berusaha mencari berita yang unik guna menaikkan rating. Setelah mendapat tugas membawa berita seekor anjing bernama Nikku yang berusaha bunuh diri, berita yang so so. Jaggu menemukan kejadian aneh saat di kereta dapat pamflet: “Telah hilang Tuhan, jika menemukan hubungi Pitsy di reruntuhan tangga.” Jaggu mengikuti si orang aneh yang ternyata alien kita tadi, memakai helm kuning ke mana-mana biar terlihat berbeda dari atas sehingga Tuhan tahu. Mengalungkan radio-tape dan bertempat tinggal di penjara. Dia melanggar aturan kota, kencing di tempat bertulisan “dilarang kencing di sini”, agar ditangkap polisi, sehingga bisa tidur nyenyak dalam bui. Melihat keanehan ini, Jaggu minat untuk mewawancarainya. Menyogok polisi agar bisa satu sel, saat rekaman dinyalakan. PK membuka kedoknya bahwa dia dikirim ke planet bumi, lalu kehilangan remote control sehingga ga bisa pulang.

Mulailah flash back, awal mula PK mengenal bumi. Dancing car, fasyen sampai dikira orang hilang ingatan. Awal dia mendapat Bahasa manusia, yang ternyata dari koneksi tangan seorang pelacur. Dia selalu diomeli orang saat menanyakan remote control, “hanya Tuhan yang tahu”. Lalu dia pun mencoba mencari Tuhan untuk meminta petunjuk, masuk Biara, Vihara, Gereja, Klenteng, Masjid, you name it… lalu dia bingung karena setiap agama memberi perintah yang berbeda. Memberi aturan yang nyeleneh, katanya Tuhan itu Esa tapi kenapa ada banyak Tuhan? Sampai scene ini kepercayaan/agama Anda akan dicoba digoyahkan oleh seorang alien. Agama ini memberi perintah puasa di hari Senin, yang lain puasa hari Selasa. Kepercayaan ini menyuruh menghormati sapi, yang satu lagi menyuruh menyembelihnya. Ajaran ini meminta anggur dibawa ke tempat ibadah, sementara yang lain meng-haram-kannya. PK bingung, bagaimana cara menemukan Tuhan agar remote controlnya ketemu. Jaggu awalnya ga percaya, sampai akhirnya dia menemukan fakta bahwa PK jujur. Dalam sebuah adegan, ada seorang kakek meminta uang buat berobat dengan menjabat tangannya. Dari komunikasi tak terucap itu, PK tahu dia bohong. Namun PK tetap memberinya uang karena dia tahu uang tersebut untuk membayar biaya makan di restoran dalam rangka ulang tahun istrinya yang ke 75. Jaggu mengikuti sang kakek dan terhenyak ternyata semuanya tepat dan percaya bahwa PK bukan manusia. Lalu Jaggu berjanji akan membantu PK untuk menemukan remote control-nya. Remote tersebut ada di tangan fake godmen Tapasvi Maharaj. Akankah berhasil? Nikmatilah film akhir tahun ini.

Meminjam tagline cerita Da Vinci Code yang berbunyi, “..akan mengguncang iman Anda!”, film PK sama absurb-nya. Saya sampai terpingkal-pingkal tertawa, tapi saat selesai tertawa saya sadar saya menertawakan diri sendiri. Apakah sudah benar cara “berkomunikasi” kita dengan Tuhan. Jangan-jangan salah sambung? Tema film ini sebenarnya berat, namun dibuat komedi. Open minded, kalau fanatisme buta maka kalian (mungkin) akan marah dengan sang sutradara sekaligus penulis cerita, Rajkumar Hirani. Di India, sebagaimana seperti Negara kita yang majemuk harus tolelir. Film ini dibagi dua, bagian pertama lebih kepada komedi lalu bagian kedua, Interval akan ke drama yang menghantam kepercayaan manusia terhadap Tuhan atau malahan akan menyentuh hati Anda yang paling dalam. Wait wait.. jangan marah. Tontonlah dulu, trust me: Amir’s acting, Anushkha’s cuteness and Shushant’s innocence will win your heart. Guaranteed!

Salah satu adegan yang memorable buatku adalah saat Jaggu dan PK menari untuk menghilangkan rasa sedih. Dimana aransemen lagu pas banget dengan gerak dansanya. Kemudian saat twist (ya film punya kejutan besar) diungkap, saya menangis. Betapa komunikasi adalah kunci kebahagiaan. Tak sia-sia saya ke luar angkasa, hhmmm.. maksdunya ke Bekasi untuk menonton film ini. Ini adalah film India kedua yang kutonton di bioskop setelah My Name Is Khan. Adalah film ketiga yang kutonton di bioskop tahun ini setelah Robocop dan The Raid 2: Berandal. Sadly, saya harus akui PK adalah film terbaik 2014. Saya sebenarnya juga kurang minat film India, tapi ini lain. Ini film langka, yang bisa jadi hanya muncul 5 tahun sekali. My year definitely ended with such a present with PK.

Film ini start jam 18:15 dan untungnya saya sudah sholat Maghrib terlebih dulu. Allahu Akbar!

PK – Director: Rajkumar Hirani | Written by: Rajkumar Hirani | Cast: Aamir Khan, Anushka Sharma, Sanjay Dutt, Boman Irani | Skor: 5/5

Karawang, 261214

Iklan

7 thoughts on “(review) PK: Wrong Number!

  1. Ping balik: (review) The Giver: Kearifan Yang Menyakitkan | Lazione Budy

  2. Ping balik: Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas #6 | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s