BBM Harga Naik, Kejutan Yang Tak Mengejutkan

image

Malam, 17 November 2014 pukul 21:00 WIB saya sedang mencuci baju. Setelah seminggu baju kotor mengendap tak tersentuh. Malam ini air baru saja mengalir setelah 4 hari tak nyala. Air awalnya kotor, jadi saya tampung dulu sampai mengendap lalu saya ambil bagian atas untuk mencuci. Di tengah mahalnya tarif PDAM saya paling anti membuang sia air. Tarif listrik yang awal bulan ini juga mencapai puncaknya setelah di kado 3 kali bertahap naik, juga harus lebih berhemat. Dan di sela-sela menanti selesainya mesin cuci berhenti bekerja saya keluar rumah untuk membeli roti tawar dan susu buat sarapan besok. Berhubung dompet sedang tipis dan bensin udah mencapai huruf E maka sekalian ambil uang di mesin ATM dan berencana isi bensin karena lokasinya memang berdekatan. Dan betapa terkejut saya sampai di depan SPBU ada antrian panjang. Akhirnya ga jadi isi bensin di pom, ambil duit lalu beli eceran 2 liter. Dengan uang 100 ribu uang kembalian 74 ribu. Lha saya sempat nanya kok mahal?! “Nanti dini hari bbm naik jadi menyesuaikan “. Terkejut, saya langsung pulang nyalain tv dan pantau grup bola. Ternyata benar, bensin premium mulai pukul 00:00 menjadi Rp 8.500 per liter. Saya yang setiap minggu baca majalah Tempo, setiap saat baca detikcom, setiap hari baca Kompas ternyata kalah update sama penjual bensin eceran. Setelah beberapa kali cari Channel yang bahas berita mengejutkan ini akhirnya bisa lihat pidato lengkapnya. Berikut penyataan pak presiden yang malam ini pakai kemeja putih, seperti biasa:
“Assalamualaikum wr wb,
Selamat malam salam sejahtera bagi kita semua.
Dari waktu ke waktu kita sebagai bangsa kerap dihadapkan pada pilihan sulit. Meski demikian kita harus memilih dan mengambil keputusan. Hari ini setelah melalui serangkaian pembahasan di Didkabpar, di kementrian teknis, di kemenko perekonomian dan di rapat terbatas di Istana, pemerintah memutuskan untuk melakukan pengalihan subsidi BBM dari sektor konsumtif ke sektor-sektor produktif.
Selama ini negara membutuhkan anggaran untuk membangung infrastruktur untuk membangun pendidikan dan kesehatan. Namun anggaran ini tidak tersedia karena dihamburkan untuk subsidi BBM. Sebagai konsekuensi dari pengalihan
subsidi tersebut saya selaku Presiden RI menetapkan harga BBM baru yang akan berlaku pukul 00.00 WIB, terhitung sejak tanggal 18 November 2014.
Harga premium ditetapkan dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500. Harga solar ditetapkan dari Rp5500 menjadi Rp7500. Untuk rakyat kurang mampu disiapkan perhitungan sosial berupa paket, kartu keluarga sejahtera, kartu Indonsia Sehat, kartu Indonesia pintar, yang dapat dapat untuk menjaga daya beli rakyat dan memulai usaha-usaha di sektor ekonomi produktif.
Pasti akan bermunculan pendapat yang setuju dan tidak setuju. Pemerintah sangat menghargai setiap masukan-masukan. Semoga keputusan pengalihan subsidi ke arah sektor produktif ini merupakan jalan terbuka untuk menghadirkan anggaran belanja yang lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Demikian yang
saya sampaikan.
Wassalamualaikum wr wb.”
Oke. Saya acungi jempol buat pak Jokowi yang cepat mengambil keputusan. Ga bertele tele seperti pak SBY yang penuh kompromi. Saya masih ingat waktu mau naik jadi Rp 6.500 waktu itu ketunda tunda, keburu pada demo sampai korban berjatuhan. Pada akhirnya perubahan harga ketunda. Mending seperti ini kasih kejutan 3 jam sebelum berubah harganya. Jadi kita siap ga siap harus terima fakta. Kejutan yang memang tak Mengejutkan. Pesta rakyat telah usai, kehidupan kembali normal.
Karawang, 1811140

Evaluasi

https://lazionebudy.files.wordpress.com/2014/11/upload1.jpg?w=300
Recruit karyawan itu gampang-gampang susah. Hari ini saya kena tegur masalah recruitment. Karyawan baru yang baru masuk tanggal 3 November 2014 tiba-tiba datang ke kantor menemui saya mengajukan pengunduran diri. Berarti baru dua minggu dia bekerja. Saya tanya-tanya kenapa mundur, sebabnya dia mendapatkan pekerjaan di tempat lain dan mulai siang ini langsung kerja. Saya hanya geleng-geleng kepala, sebegitu mudahnya komitmen dirusak. Perusahaan di tempat kerjanya menurutnya lebih menjanjikan, baik secara gaji atau fasilitas. Well, saya sanggah ‘kan pas proses penerimaan saya sudah bilang, ini Perusahaan baru jadi harus siap dengan konsekuensi plus dan minusnya. Dia menambah alibi, tempat kerjanya juga lebih dekat. Langsung saya bilang ke dia, “sejujurnya kamu mengecewakan saya…”
Proses penerimaan karyawan yang saya lakukan memang terbuka untuk umum. Dalam artinya saya ga melihat SARA (suku, agama, ras dan antar golongan), tidak melihat sumber lamaran. Mau dari kiriman surat via pos, email, referensi karyawan, LSM sampai job fair yang kini menjamur. Tidak melihat kaya-miskin, jelek-cakep sampai dari asal manapun. Semuanya berpeluang bergabung dengan tetap mengikuti prosedur yang kami tetapkan. Ada tiga aspek utama yang kami nilai: Attitude, skill dan knowledge. Ketiganya harus OK kalau mau lanjut ke tahap medical. Setelah medical kita kasih pembekalan melalui training karyawan baru. Baru kemudian terjun ke lapangan. Sebenarnya saringannya sudah kami coba seketat mungkin, namun kejadian pagi tadi benar-benar menampar saya.
Keadaan tambah runyam siang ini, saat ada laporan dari departemen produksi bahwa ada orang baru sudah ga masuk kerja dua hari berturut-turut. Langsung saya hubungi via telpon untuk memastikan sebabnya. Dan di seberang jaringan dengan entengnya bilang mau resign. Duh! Kenapa? Katanya ga kuat kerja di pabrik makanan, bau bahan bumbu makannya menyengat. Kenapa langsung menyerah, kan pas training saya bilang: “Jangan menyerah, kalian butuh waktu untuk adaptasi di tempat baru. Kalau tangan pegal, kaki pegal, kepala pusing. Pulang kerja istirahat yang cukup. Besoknya hadapi lagi, kalau besoknya masih pegal jangan menyerah. Besok hadapi lagi, begitu terus. Saya yakin seminggu dua minggu akan terbiasa. Butuh adaptasi. Ibaratnya orang main futsal, awalnya sakit semua tapi kalau sudah biasa akan menikmatinya. Jangan menyerah, kalian anak muda harus ulet dan kerja keras”. Nyatanya dia tak mendengarkan, keukeh mau mundur. Saya kena semprot lagi.
Pada dasarnya recruit itu gampang-gampang susah. Saya menyebutkan gampang dua kali di awal lalu susah di akhir, itu artinya lebih condong ke yang lebih mudah. Di tengah krisis saat ini, para pencari kerja jumlahnya jomplang dengan lowongan yang ada. Email saya setiap hari minimal ada 30 lamaran masuk, di meja kerja yang berantakan ada lebih dari 1000 surat lamaran, di situs job seeker yang kami pasang ada ribuan kandidat, di lemari arsip ada ratusan referensi. Saat memilih dan memilah saya selalu menyebut namaNya dan mengibaratkan perpanjangan tanganNya. Dari ribuan peluang itu, saya mix panggilan 130% dari posisi yang kosong untuk tes tertulis awal. Lalu kita saring lagi di sesi interview dengan HR. kalau OK, lanjut interview dengan user produksi. Saat tes kita juga fair, ga peduli sumbernya dari mana kalau ga lolos ya langsung coret. Saya lebih mengedepankan sisi attitude (tingkah laku) ketimbang kemampuan dan pengetahuan. Dengan prosedur seketat ini bulan ini saya ditampar 2 kali. Sungguh memalukan.
Tidak ada tolok ukur pasti dalam memilih orang, orang yang cerdas belum tentu kerjanya bener. Orang yang agamis belum tentu bisa kerja. Orang berpengalaman belum tentu mahir di tempat baru, tidak ada yang pasti. Satu-satunya kepastian ya ketidakpastian itu sendiri. Makanya saya lebih memilih sisi tingkah laku di atas dua nilai lainnya. Apakah dengan tamparan ini saya gagal? Hhhmmm…, bisa ya bisa juga tidak. Karena beberapa waktu yang lalu bos saya juga gagal recruit, 2 kali juga. Setelah bergabung, mundur. Yang satu bahkan lebih parah lagi, sehari di training besoknya ngilang. Jadi apanya yang salah?
Saya terima kritik, ya saya mengakui kali ini saya salah recruit. Prosedur nya akan di evaluasi, ya saya terima. Sumber referensi akan benar-benar diperketat, ya saya siap. Terkadang dalam bekerja kita butuh mundur selangkah untuk maju dua langkah. Kembali lagi di awal, recruitment itu gampang-gampang susah. Sekarang saya balik, wahai pencari kerja, mencari kerja itu juga gampang-gampang susah jadi mari kita saling respect!
Karawang, 171114