Gerson Poyk : Sang Sutradara dan Wartawati Burung

image

Two downs four to go
Jelek sekali. Itulah kata pertama yang saya teriakan seusai membaca buku kedua dari enam buku yang baru kubeli.
Saya pertama kali mendengar nama penulis senior ini di koran Kompas. Namanya wara wiri menghiasi kolom sastra dan literatur puisi Nasional. Didasari rasa penasaran akan karyanya maka saat kesempatan itu ada saya tak berfikir dua kali untuk membawanya ke meja kasir. Setelah membaca dua cerpen Angkong Hantu yang begitu bagusnya saya seperti kembali terhempas ke tanah. Sang Sutradara dan Wartawati Burung sungguh novel yang buruk. Maaf pak Gerson Poyk saya harus objektif dan mengatakan ini.
Cerita dibuka oleh sebuah percakapan di telepon. Tentang sebuah rencana balik nama sebidang tanah di Bali. Percakapan antar anggota keluarga yang disusun dengan membosankan. Sang Sutradara nasional yang terkenal dan kaya bernama papa To’o itu sudah pisah ranjang dan pisah sama istrinya mama Emma selama 20 tahun. Mempunyai 3 orang anak, 2 sukses sampai sarjana sedang yang 1 sakit gila. Setelah adegan panjang yang tak menarik kita dihadapkan adegan pertemuan yang mendebarkan. Papa To’o bersama saudara-saudaranya menemui Mama Emma untuk menandatangani surat guna memperlancar balik nama tanah. Mama Emma bersama Lexy Indo, residivis penyelundup narkoba. Saat negosiasi terjadi cek cok yang berujung pada perkelahian antara Papa To’o dan Lexy. Lexy terluka, bolpion yang dipegang sang sutradara mengenai matanya. Perkara lanjut ke polisi. Sang Sutradara terkenal dikerubuti wartawan infotaiment tentang kasusnya. Di antara wartawan tersebut ada satu yang menyelundupkan kartu nama ke kantong bajunya, dan pesan bahwa Pipit, wartawati itu berkeinginan membuat buku otobiografi tentangnya.
Papa To’o yang melihat kecantikan Pipit setuju. Mereka akhirnya sepakat bertemu di vila puncak untuk wawancara. Di situlah tumbuh rasa cinta antara pria separo abad dengan wartawati muda.
“Ide dan kemauan saja tidak cukup, tuan. Di atas segalanya manusia harus dituntun oleh hati nurani agar ide dan kemauan tidak memutlakkan diri”.
Saat saya membaca lebih dari separuhnya saya sempat berharap akan ada kejutan. Dengan penuh kesabaran saya coba bertahan. Sampai di adegan wawancara di Jakarta saya sempat berharap ada tragedi sebagai konflik cerita. Namun sayang justru saya disuguhi dongeng Happy ending. Seolah-olah hidup ini semudah membalikkan telapak tangan, tiba-tiba ada damai. Luar biasa, sungguh cerita yang membosankan.
Minimnya konflik, susunan kalimat yang datar, cerita sederhana, sampai endingnya yang buruk. Sayang sekali pengalaman pertamaku dengan sastrawan kebanggaan Nasional ini berujung buruk. Mudah mudahan buku ketiga Animal Farm yang akan menemani malam minggu ku ini bisa menjadi obat kecewa. Sayang sekali…
Karawang, 111014

Iklan

7 thoughts on “Gerson Poyk : Sang Sutradara dan Wartawati Burung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s