Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh

Saya diberi kehormatan bersama kalian di hari pertama di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah, bahkan, sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. Hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya.
Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik. Saya putus kuliah dari Red College setelah 6 bulan pertama, tapi saya tetap ada di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti. Saat itu saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi. Saya belajar tipe tulisan serif dan sanserif, tentang meragamkan jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat para tipograf menjadi hebat. Tidak ada satu pun dari yang saya pelajari itu akan sepertinya akan bermanfaat dalam kehidupan saya.
Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macitosh pertama, semuanya saya ingat kembali. Hasilnya, Mac menjadi komputer pertama dengan tipografi yang indah. Andai saya tidak pernah putus kuliah dan kemudian ikut kelas kaligrafi, Mac tidak akan punya beragam tulisan atau huruf yang berjarak secara proporsional. Dan karena Windows hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang akan memiliki tipografi indah.
Tentu saja, tidak mugkin menghubungkan titik-titik itu ke masa depan saat saya masih kuliah di kampus. Tapi terlihat sangat-sangat jelas jika ditinjau sepuluh tahun kemudian. Jadi, kita harus percaya bahwa titik-titik itu suatu saat akan terhubung di masa mendatang. Kita harus percaya pada sesuatu – insting, takdir, kehidupan… apalah. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, bahkan telah membuat semua perubahan dalam kehidupan saya.
Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan. Saya merasa beruntung karena saya menemukan apa yang sangat ingin saya lakukan dalam kehidupan sejak usia yang sangat muda. Woz dan saya memulai Apple di garasi orangtua saya saat usia 20 tahun. Kami bekerja dengan keras, dan dalam 10 tahun Apple telah berkembang dari hanya kami berdua menjadi di garasi menjadi sebuah Perusahaan senilai 2 milliar dolar dengan lebih dari 4000 pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami – Macitosh – setahun lalu, dan saya baru saja berusia 30 tahun. Kemudian saya dipecat.
Apa yang telah menjadi fokus kehiduapn saya telah hilang dan itu sangat menyakitkan. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan saat itu beberapa bulan kemudian. Tapi secara perlahan ada sesuatu yang mulai terpikir. Saya telah ditolak, namun saya masih mencintai apa yang saya lakukan. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi. Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata dipecat dari Apple merupakan hal terbaik bagi saya. Beban berat menjadi sukses digantikan dengan perasaan enteng menjadi orang baru. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki salah satu periode paling kreatif dalam kehidupan saya.
Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah Perusahaan bernama NeXT dan sebuah Perusahaan lain bernama Pixar, yang kini menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung kehidupan Apple.
Dipecat dari Apple memang sebuah pil pahit buat saya, namun saya pikir memang inilah yang diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan sangat keras. Jangan hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus bertahan adalah saya mencintai apa yang saya lakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, dan satu-satunya cara untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa adalah mencintai apa yang kalian lakukan.
Cerita yang ketiga adalah mengenai kematian. Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat nanti adalah hal yang paling penting yang akan saya temukan untuk menolong saya membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup. Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Para dokter memberitahu saya bahwa hampir dipastikan ini jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan harapan saya hidup hanya enam bulan lagi. Tapi kemudian saya menjalani operasi dan baik-baik saja hingga saat ini. Itu adalah saat terdekat saya menghadapi kematian, dan saya berharap hanya itulah, hingga beberapa dekade mendatang.
Kerena sudah melalui tahapan ini, saya bisa lebih yakin mengatakan bahwa kematian adalah sebuah konsep yang berguna dan murni intelektual. Kematian adalah agen perubahan kehidupan. Ia memberikan jalan untuk yang baru dengan menyingkirkan yang lama. Kali ini yang baru adalah kalian, namun suatu saat nanti tidak lama dari sekarang, kalian akan menjadi tua dan tersingkir. Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan dengan hidup dalam kehidupan orang lain. Jangan diperangkap oleh dogma. Jangan biarkan opini orang lain mengaburkan suara hati kalian. Dan yang terpenting, milikilah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu.
Ketika saya masih muda, ada sebuah terbitan luar biasa bernama Katalog Seluruh Dunia, seperti Google dalam bentuk buku 35 tahun sebelum Google lahir. Buku itu dilengkapi dengan alat bantu yang keren dan catatan yang bagus. Pada halaman belakang edisi terakhir mereka, ada sebuah foto mengenai jalan perkampungan waktu dini hari, jalan yang mungkin akan kalian ikuti jika suka berpetualang. Di bawahnya ada kata-kata “Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh”. Itu adalah pesan perpisahakn mereka sebelum mereka pergi. Dan saya selalu berharap hal itu buat saya sendiri. Dan sekarang, kalian para lulusan baru, saya mengharapkan itu untuk kalian.
“Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh”.
Catatan di atas adalah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Pixar Animation Studio dalam sebuah upacara wisuda pada tanggal 12 Juni 2005. Saya ketik ulang persis dari buku Kubik Leadership yang baru saya baca. Buku teman sekantor yang saya pinjam karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini.

Ruang HRD NICI – Karawang, 190914

Advertisements

12 thoughts on “Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s