(review) Antologi Cerpen Hasan Al Bana: Sampan Zulaika (1)

https://lazionebudy.files.wordpress.com/2014/09/c360_2014-09-28-11-52-46-550.jpg?w=199
Saat penat akan bacaan panjang sebuah novel, saya sesekali membeli kumpulan cerpen untuk bacaan santai kalau lagi sempit waktu. Ini adalah buku yang saya beli pertama pasca kelahiran Hermione, Agustus 2014 lalu. Niatannya dulu untuk teman jaga malam saat Hermione butuh minum susu 2 jam sekali. Review akan saya pecah jadi 2, total ada 14 cerpen dan berikut ini bagian pertamanya:
1. Rumah Amangboru
Haji Sudung yang sudah tua, sudah 4 tahun ditinggal mati oleh istrinya. Sering ia mengiau dan melamunkan masa lalu sampai merembes air matanya kalau ingat istrinya. Anak-anaknya yang sudah hidup di tanah rantau membuatnya kesepian. Akhirnya setelah dirembug keluarga diputuskan ia ikut anaknya di tanah rantau, agar bisa dirawat. Dulu saat anak-anaknya kecil dialah yang berkuasa, kini dialah yang menurut. Berat rasanya meninggalkan kampung halaman, namun bagaimana lagi. Di rumah anaknya dia tinggal bersama menantu, Risda dan dua cucunya Veri dan Andhika. Awalnya segalanya berjalan mulus, adaptasi di tempat baru juga ga terlalu banyak kendala. Namun semakin menua, haji Sudung makin pelupa. Pernah dia pulang dari masjid salah masuk rumah tetangga. Tambah pikun ia, sudah sering buang hajat di celana. Warga di belakang kompleks pernah memulangkan Haji Sudung karena berak saat sembahyang Magrib. Dengan kesibukan Risda mengurus salon akhrinya terbesit ide kepada Marsan, anak Haji Sulung, agar beliau dititipkan. Antara sadar dan tak sadar, Haji Sulung mendengarkan. Oh ternyata hanya mimpi buruk, namun Hasan menyusun kejutan di kalimat akhir cerita dengan manis.
2. Gokma
Gokma memang pelupa. Tapi ia tak pernah lupa bagaimana cara merayakan selera suaminya. Daulat gemar menyantap gulai daun ubi tumbuk. Apalagi dalam keadaan letih atau takkala seleranya sedang sulit disetir. Gokma kini hamil, sudah 6 bulan. Ekonomi mereka sedang sulit, Daulat yang kerja hanya sebagai penambang tak pernah mencukupi kebutuhan keluarga. Sering Gokma penjam kanan kiri untuk biaya berobat Daulat yang kini sering sakit-sakitan. Awal pernikahan mereka, keluarga banyak yang menentang karena Daulat keturunan Jawa, beda marga nanti kena kutukan. Gokma bergeming, kini saat Daulat sakit parah dia tetap berpikiran positif. Ini bukan kutukan, namun lika-liku kehidupan dalam berkeluarga, Daulat sebelum menikah juga sudah sering sakit-sakit-kan?! Makanya kalau Gokma pinjam uang ke ibunya, Daulat pasti marah karena akan diungkit-ungkit masalah awal pernikahan mereka. Sampai pada suatu ketika Gokma mencari di mana suaminya pamit setelah selesai makan? Trenyuh…
3. Parompa Sadun Kiriman Ibu
Parompa sadun, sebidang kain tenun adat berbentuk persegi panjang (mirip ulos Batak Toba). Lamrina yang menikah dengan orang Jawa, Hadi sempat ditentang ibunya. Sebenarnya bukan asal usulnya yang dipermasalahkan, tapi kalau dia segera menikah maka Lamrina akan melangkahi kakaknya Masniari yang belum menikah. Saat Lamrian merantau ke ibukota niatan untuk bekerja tapi malah bertemu jodoh. Setelah tarik ulur yang melelahkan, akhirnya lamaran diterima dan pesta adat pun digelar di Jakarta, ibunya menyaksikan. Namun berjalannya waktu, ibunya kadang menyinggung nasib kakaknya lewat telepon yang tak kunjung ketemu jodoh sampai dikait-kaitkan dengan pernikahannya yang dianggapnya sebagai penghalang. Saat Lamrina akhirnya hamil, diberitahunya ibu. Hasil USG janinnya perempuan, namun karena ibu ingin anak laki-laki maka parompa sadun yang dikirim bertulis Doli Hasian – nama seorang laki-laki. Saat ditelpon, walau Lamrina menyampaikan dengan hati-hati kejanggalan itu ibunya marah. Keinginan ibunya punya cucu laki-laki menyeret perasaannya ke pojok serba salah. Lamrina Mintaito – artinya Memohon Saudara Laki-laki, besar harapan akan berikutnya laki-laki, namun sayang ayahnya meninggal jadi harapan kini ada pada generasi berikutnya, harapan mempunyai nama Doli Hasian dalam keluarga mereka. Kejutan disimpan Hasan, ternyata kesedihan dari awal cerita yang dialami Lamrina bukan melulu masalah kegagalannya memberi cucu laki-laki tapi sebuah kabar via telpon interlokal membuatnya meratapi takdir hidup.
4. Ijazah
Pak Toras marah-marah, ijazahnya – yang setingkat SMA itu hilang bak ditelan bumi. Seisi rumah kena omelan, istri dan 3 anaknya diperintahkan untuk mencarinya. Katanya terakhir lihat tersimpan di ruang laci lemari ruang tamu. Setiap hari selama sepekan ini, pasti saja menggerutu karena istri dan anknya tak kunjung menemukan ijazahnya. Pak Toras yang kini berusia 43 tahun adalah seorang Kepala Desa, sepintas pandang sosok dan tingkahnya tak cocok untuk disebut Kepala Desa, sedikitpun tak berwibawa apalagi berkharisma. Bicaranya amburadul, cengengesan, mudah tertawa karena suka melucu. Tapi kalau sudah tersinggung, kepal tangannya gantian meninju, sudah sifatnya begitu. Awalnya pak Toras tak mau dipilih jadi Kepala Desa, tapi karena didesak kawan-kawannya termasuk sanak dan kerabatnya, ia pun maju mencalonkan, dan terpilih! Kekayaannya mulai bertambah, ternyata enak juga jadi Kepala Desa. Namun waktu berjalan cepat, sampai akhirnya masa jabatannya akan segera berakhir. Ia pun ancang-ancang mau mencalonkan lagi. Di zaman reformasi, aturan makin rumit, begitu juga untuk menjadi Lurah, harus memiliki ijazah setingkat SMA – minimal. Padahal dulu pas dia mencalonkan diri aturannya tak begitu. Makanya siapa yang tak pening, ijazah yang diperlukannya itu tiba-tiba menghilang entah kemana. Matilah aku! Makinya berulang kali. Sampai kini belum ketemu, sampai stress mencarinya. Saat keputusasaan menderanya, tiba-tiba pak Toras kedinginan, peluhnya bercucuran, tubuhnya gemetar. Ia menggigil, benar-benar menggigil. Ada apa gerangan?!
5. Pasar Jongjong
Suatu pagi 28 tahun silam, Ompung Laut memundak sekeranjang ikan sepat tangkapannya. Sepat-sepat itu ia perangkap ketika ia dan istrinya bermalam di sawah, menunggui bunting padi yang sedang ranum. Pagi saat ia pulang, dibawanya ikan sepat sekeranjang itu. Mungkin karena penat, ia rehat tepat di tanah kosong milik Haji Mahot. Beberapa warga melintas, saling bertegur sapa, lantas pergi menjinjing ikan tiga-empat ekore sepat yang ia bagikan. Ompung Laut menolak imbalan uang yang mereka sodorkan, ya karena memang ikan sepat tersebut memang untuk dibagikan bukan dijual. Tapi tetap, orang-orang meninggalkan uang ke dalam sisi keranjangnya. Nah, beriringan masa, saat warga bertemu Ompung Laut, orang bertanya mengenai ikan sepat. Maka saat di sawah ada waktu luang, ia menagkap ikan sepat lalu berdiri di tanah Haji Mahot untuk membagikan ikan sepat, tetap warga selalu menyisihkan uang untuknya. Jadilan rutinitas, dia menjual ikan sepat di sana. Namun pernah ikannya ga laku sama sekali, maka ia pun memasaknya lalu menjajakannya di sana. Laris. Kemudian hari, Nek Arse malah ikut menjajakan sayurannya di sisi Ompung Laut. Pemilik lahan tak keberatan, bahkan ia turut menjual hasil ladangnya di sana. Turut pula Mursalim yang memasarkan telur-telur ayamnya. Makin ramailah transaksi jual-beli di tanah Haji Mahot. Secara tak resmi, akhirnya jadilah pasar. Mengenai nama Pasar Jonjong, itu karena awalnya Ompung Laut ‘kan cuma berdiri sebentar menjinjing ikan di sana. Namun dengan bergulirnya waktu, sengketa tanah terjadi. Milik pribadi atau Pemerintah? Sebuah ending sengketa tanah yang mungkin sering kita lihat di berita, terjadi. Bagaimana nasib pasar Jongjong?
6. Rabiah
Rabiah dihukum gantung! Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia, saat ini sedang menunggu pelaksanaan eksekusi mati di negeri ringgit, Malaysia. Kini ia hanya bisa mengunyah sisa hari di dalam jeruji. Lalu cerita ditarik mundur, asal mula kenapa Rabiah dijatuhi hukuman mati. Rabiah yang orang tak berpunya memutuskan merantau di negeri seberang, maka berkat saran bu Ifah, Rabiah meminta restu ibunya. Bekerja yang halal, bukan yang macam-macam. Saat itu ibunya tanpa berpikir panjang memberi izin. Saat berangkat, ibunya tersenyum dan mengecup Rubiah sambil menasehati, “Yang penting pandai-pandailah menjaga diri. Kita memang bukan orang berada, Rabiah. Tapi kita punya harga diri, itu mesti dijaga. Hati-hati, apalagi kita ini perempuan, jangan mudah terperangkap rayu.” Dan berangkatlah Rabiah ke negeri Jiran bersama 24 perempuan lain naik kapal feri. Namun harapan tinggal harapan, mereka dijual. Memberontak, sampai akhirnya terjadi pembunuhan. Seperti yang disampaikan di awal cerita, Rabiah akan dihukum gantung di negeri seberang. Salah siapa ini?!
7. Kurik
Kurik adalah seekor ayam kesayangan milik Giling pemberian uda-nya, saudara kandung mendiang suami Deslima. Deslima adalah janda yang sering sulit ekonomi. Kurik berbulu hitam lebat, dan ditumbuhi rerintik putih. Nah, setiap ayam yang demikina disebut kurik. Saban pagi Kurik diberi makan, dibebaskan Giling dari kandang di taruma rumah mereka. Kalau sedang rajin, Giling pergi mengorek tanah lembab di sekitar parik, memburu cacing kegemaran Kurik. Terus, Giling tak jera meski berulang kali menanggung cubitan Deslima karena ketahuan menabur segenggam beras untuk Kurik. Pernah bibir Giling koyak dipatuk Kurik, saat itu Giling sedang duduk di tangga dan sedang menyantap jagung rebus. Tiba-tiba Kurik melesat untuk menjarah jagung rebus, namun patukan Kurik luput sehingga malah mengenai bibir Giling. Begitupun, cuma dua hari Giling marah. Selepas itu Kurik kembali dipangku dan dielus-elus. Singkatnya Kurik menjadi binatang peliharaan Giling. Bukan, inti konflik cerita ini bukan berfokus tentang ayam kesayangan. Tapi tentang pengorbanan. Karena saudara Deslima ada yang datang dari Jakarta, mudik. Biasanya membawa amplop untuk sekedar salam tempel, seperti sebelum-sebelumnya. Sayang untuk kali ini, demi sebuah angpao harus ada yang dikorbankan. “Kurik… Kurik…”
KGV V5/23 – Karawang, 280914

Iklan

(review) The Maze Runner: Run Thomas Run!

C360_2014-09-22-06-05-23-996[1]
Namaku Thomas. Hanya itu yang dapat dingatnya. Seolah-olah semua memorinya hilang. Thomas dikirim ke Glade – sebuah tempat yang dikelilingi labirin yang sekatnya bisa dikendalikan dari luar. Menjadi anak bawang, karena menjadi anak terbaru yang masuk. Setiap ada pengiriman anak baru, maka dia akan dipandu oleh yang terakhir datang. Semuanya laki-laki, semuanya remaja, mereka-pun tak tahu apa sebab mereka di sana. Adalah Chuck, anak bawang sebelum Thomas yang jadi sobatnya. Chuck bertugas menjelaskan detail yang ada di Glade. Setiap bulan satu remaja dikirim.
Karena semua orang tak tahu sebab mereka di sana, maka mereka bertahan hidup dengan kemampuan yang mereka bisa kepada komunitas. Ada pembangun, Pembersih, Pengawas, Pemungut, Juru-masak, Pembuat peta, Anak medis, Pengolah lahan, Pekerjaan di rumah darah dan tentu saja Pelari. Kotak pengiriman remaja termasuk sebagai kotak pengiriman bekal yang dikirm – oleh entah siapa – seperti pakaian, makanan, obat-obatan. Lalu masing-masing diberi tugas oleh Gally – mereka menyebutnya kapten Gally, orang yang dituakan di sana yang sangat cerewet. Thomas mengingat banyak hal kecil tentang hidup – makan, minum, pakaian, belajar, bermain, gambaran umum tentang kehidupan di dunia. Namun setiap detail yang akan melengkapi gambar kenangannya entah mengapa terhapus. Seolah dirinya melihat sebuah gambar melalui dasar air keruh. Di atas segalanya mungkin Thomas merasa sedih. Kenangan menjadi barang yang sangat berharga di Glade.
Lalu satu per satu karakter diperkenalkan. Ada Gally yang sok ngatur, ada Chuck yang penakut, ada Newt yang optimis yang sepertinya menjadi wakil ketua di Glade, Alby, Jeff, Clint, Ben, Minho, Zart, Winston dan banyak lagi. Glade terbagi dalam empat tempat: Kebun, Rumah darah, Wisma dan Tempat orang-orang mati. Diluar itu ada sebuah maze yang harus ditaklukkan untuk mencari jalan keluar. Lalu dipilihlah orang-orang dengan fisik prima untuk menjadi pelari labirin untuk membuat peta jalur keluar setiap siang. Glade akan tertutup setiap petang, dan di luar ada binatang menyeramkan bernama Griever – serangga besi (semacam gabungan antara hewan dan mesin) yang akan membunuh pelari yang gagal kembali ke Glade tepat waktu saat gerbang ditutup. Sesosok makhluk bulat besar seukuran sapi tetapi berwujud tak jelas, bisa merangkak di tembok dan bermata merah (lampu) seperti sebuah kamera. Dan Thomas menawarkan diri untuk menjadi pelari. “Temukan jalan keluar untuk kita, pecahkan jalan Maze itu dan temukan jalan pulang kita!”
Sampai akhirnya ada sebuah alarm meraung yang menandakan akan ada anak bawang dikirim ke Glade. Ini adalah kali pertama dalam sebulan ada dua anak baru datang, diluar duga anak baru tersebut bukan laki-laki. Dan pertama kali pula anak baru itu membawa pesan dengan tinta hitam acak-acakan di atas kertas terdiri lima kata: “Dia yang terakhir, untuk selamanya”. Remaja perempuan ini tak sadarkan diri berhari-hari.
Waktu berjalan. Setiap remaja menjalankan tugasnya masing-masing. Cerita berpusat pada para pelari yang berangkat pagi pulang sore dengan membawa bekal seadanya. Lalu sesampainya di Glade mereka akan membuat peta perjalanan hari itu. Membuat pola yang memungkinan menemukan jalan keluar – jalan pulang. Namun semakin lama, peta yang mereka buat semakin rumit untuk dipecahkan. Sampai pada seuatu pagi mereka menemukan seekor Griever mati. Mesin binatang itu rusak. Ada yang ganjil. Ada yang meninggal, Ben disalahkan lalu dihukum dibuang keluar Glade di malam hari, yang itu artinya kematian buat Ben? Akhirnya mereka bisa melihat lebih dekat Griever, di tubuhnya tercetak tulisan “Wicked”. Tulisan yang membuat Thomas menggigil karena merasa pernah melihatnya sebelum ini.
Thomas terus berlari. Demi warga Glade, demi sebuah peta untuk jalan kembali pulang kepada keluarga masing-masing. Hingga di suatu petang, perempuan itu sepertinya siuman. “Ingatanku sudah hilang Tom, aku tak kan bisa mengingat banyak hal lagi saat bangun. Kita bisa melewatinya serangkaian Percobaan. Ini harus berakhir, mereka mengirimku sebagai kunci pembuka.” Wanita tersebut berbicara. Namun tak ada yang bisa mendengarkannya kecuali Thomas. Ketika hal itu ditanyakan kepada Newt yang ada disampingnya Newt malah bingung karena memang tak ada yang bicara. “Teresa”, wanita itu kembali berkata. “Kau dan aku Tom, kita lakukan ini untuk mereka. Untuk kita”.
Ternyata Teresa bisa telepati dengan Thomas. Sampai saatnya ketika Teresa benar-benar siuman dan memulai tugas barunya di Glade, mereka akrab. Saat sepertinya pola peta maze mulai diketahui, Teresa memberi tahu Thomas bahwa di lengan atas Teresa ada tulisan “Wicked adalah baik”. Tulisan yang kembali lagi membuat Thomas tersentak, karena sepertinya memori yang hilang itu kembali hinggap. Memutar masa lalu yang samar. Peta maze yang tersimpan rapat sepertinya akan memberi mereka jalan keluar. Namun saat malam menjelang, Glade tiba-tiba tak tertutup. Pintu menuju maze terbuka lebar sampai langit gelap. Hal yang membuat warga Glade bergidik takut, Griever akan mengamuk. Namun ini pula akhirnya jadi jalan keluar. Dengan keberanian yang tersisa mereka memutuskan melawan. Setiap darah yang keluar, setiap remaja yang meninggal memberi jalan ke tahap berikutnya. Mereka terus berjalan keluar meninggalkan Glade, sampai akhirnya sebuah kejutan saat mereka menemukan jalan keluar membuat kita trenyuh. Sebuah nihilitas? Bisa jadi.
Well, saya membaca novel karya James Dasher ini tahun lalu saat mendengar kabar akan diangkat ke layar lebar. Kesan pertama, novel ini so predictable. Sangat tertebak. Sejak tahu bahwa Thomas sepertinya familiar dengan kata “Wicked” maka kita bisa menerka cerita ini akan ke mana. Apalagi saat memperhatikan nama-nama penghuni Glade yang tak asing. Sebagai clue, nama-nama mereka bukan nama asli tapi nama yang diberikan oleh para Pengirim – sang creator untuk sebuah, hhhmmm.. yang disampaikan Teresa lewat telepati – percobaan. Simple sekali ceritanya. Sebagus apapun tutur bahasa yang disajikan tapi kalau ceritanya biasa tetap saja kurang greget. Story is – first thing first! Namun dari beberapa kasus, ada buku cerita yang kurang bagus saat diadaptasi ke film jadi keren. Jadi tetap, silakan tonton the Maze Runner di bioskop yang sekarang sedang tayang. Yang pasti saya ga akan nonton The Maze Runner di bioskop. Bukan karena sudah ga minat, tapi yah karena di kota Karawang memang tak ada bisokop. Hehe…, sedih!
Secara keseluruhan, The Maze Runner gagal memberi klimak yang diharapkan. Novel setebal 526 halaman yang sayangnya gagal memberi sajian magis, jauh dari novel young-adult sejenis. Hal membuat saya malas melanjutkan baca sequel-nya The Scorch Trials, walau sudah terpajang di rak bukuku.
Ruang HRD NICI – Karawang, 220914

Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh

Saya diberi kehormatan bersama kalian di hari pertama di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah, bahkan, sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. Hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya.
Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik. Saya putus kuliah dari Red College setelah 6 bulan pertama, tapi saya tetap ada di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti. Saat itu saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi. Saya belajar tipe tulisan serif dan sanserif, tentang meragamkan jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat para tipograf menjadi hebat. Tidak ada satu pun dari yang saya pelajari itu akan sepertinya akan bermanfaat dalam kehidupan saya.
Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macitosh pertama, semuanya saya ingat kembali. Hasilnya, Mac menjadi komputer pertama dengan tipografi yang indah. Andai saya tidak pernah putus kuliah dan kemudian ikut kelas kaligrafi, Mac tidak akan punya beragam tulisan atau huruf yang berjarak secara proporsional. Dan karena Windows hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang akan memiliki tipografi indah.
Tentu saja, tidak mugkin menghubungkan titik-titik itu ke masa depan saat saya masih kuliah di kampus. Tapi terlihat sangat-sangat jelas jika ditinjau sepuluh tahun kemudian. Jadi, kita harus percaya bahwa titik-titik itu suatu saat akan terhubung di masa mendatang. Kita harus percaya pada sesuatu – insting, takdir, kehidupan… apalah. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, bahkan telah membuat semua perubahan dalam kehidupan saya.
Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan. Saya merasa beruntung karena saya menemukan apa yang sangat ingin saya lakukan dalam kehidupan sejak usia yang sangat muda. Woz dan saya memulai Apple di garasi orangtua saya saat usia 20 tahun. Kami bekerja dengan keras, dan dalam 10 tahun Apple telah berkembang dari hanya kami berdua menjadi di garasi menjadi sebuah Perusahaan senilai 2 milliar dolar dengan lebih dari 4000 pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami – Macitosh – setahun lalu, dan saya baru saja berusia 30 tahun. Kemudian saya dipecat.
Apa yang telah menjadi fokus kehiduapn saya telah hilang dan itu sangat menyakitkan. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan saat itu beberapa bulan kemudian. Tapi secara perlahan ada sesuatu yang mulai terpikir. Saya telah ditolak, namun saya masih mencintai apa yang saya lakukan. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi. Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata dipecat dari Apple merupakan hal terbaik bagi saya. Beban berat menjadi sukses digantikan dengan perasaan enteng menjadi orang baru. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki salah satu periode paling kreatif dalam kehidupan saya.
Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah Perusahaan bernama NeXT dan sebuah Perusahaan lain bernama Pixar, yang kini menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung kehidupan Apple.
Dipecat dari Apple memang sebuah pil pahit buat saya, namun saya pikir memang inilah yang diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan sangat keras. Jangan hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus bertahan adalah saya mencintai apa yang saya lakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, dan satu-satunya cara untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa adalah mencintai apa yang kalian lakukan.
Cerita yang ketiga adalah mengenai kematian. Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat nanti adalah hal yang paling penting yang akan saya temukan untuk menolong saya membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup. Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Para dokter memberitahu saya bahwa hampir dipastikan ini jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan harapan saya hidup hanya enam bulan lagi. Tapi kemudian saya menjalani operasi dan baik-baik saja hingga saat ini. Itu adalah saat terdekat saya menghadapi kematian, dan saya berharap hanya itulah, hingga beberapa dekade mendatang.
Kerena sudah melalui tahapan ini, saya bisa lebih yakin mengatakan bahwa kematian adalah sebuah konsep yang berguna dan murni intelektual. Kematian adalah agen perubahan kehidupan. Ia memberikan jalan untuk yang baru dengan menyingkirkan yang lama. Kali ini yang baru adalah kalian, namun suatu saat nanti tidak lama dari sekarang, kalian akan menjadi tua dan tersingkir. Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan dengan hidup dalam kehidupan orang lain. Jangan diperangkap oleh dogma. Jangan biarkan opini orang lain mengaburkan suara hati kalian. Dan yang terpenting, milikilah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu.
Ketika saya masih muda, ada sebuah terbitan luar biasa bernama Katalog Seluruh Dunia, seperti Google dalam bentuk buku 35 tahun sebelum Google lahir. Buku itu dilengkapi dengan alat bantu yang keren dan catatan yang bagus. Pada halaman belakang edisi terakhir mereka, ada sebuah foto mengenai jalan perkampungan waktu dini hari, jalan yang mungkin akan kalian ikuti jika suka berpetualang. Di bawahnya ada kata-kata “Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh”. Itu adalah pesan perpisahakn mereka sebelum mereka pergi. Dan saya selalu berharap hal itu buat saya sendiri. Dan sekarang, kalian para lulusan baru, saya mengharapkan itu untuk kalian.
“Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh”.
Catatan di atas adalah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Pixar Animation Studio dalam sebuah upacara wisuda pada tanggal 12 Juni 2005. Saya ketik ulang persis dari buku Kubik Leadership yang baru saya baca. Buku teman sekantor yang saya pinjam karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini.

Ruang HRD NICI – Karawang, 190914

(review) Rembulan Tenggelam Di Wajahmu: Apakah Hidup Ini Adil?

https://lazionebudy.files.wordpress.com/2014/09/c360_2014-09-15-06-06-59-0061.jpg
Inilah novel kedua Tere Liye yang saya baca setelah “Negeri Para Bedebah”. Novel ini adalah satu dari empat buku hadiah ulang tahun ke 31, di mana kesemuanya adalah karya Tere Liye. Hanya dalam dua hari saya selesaikan baca. Buku cetakan ke tiga belas pada Juli 2014, luar biasa produktif dan best seller. Betapa bangga dan kayanya ini bung (Darwis) Tere Liye, karena nyaris di semua toko buku yang saya kunjungi ada bukunya.
Kisah diawali dengan bagus, di sebuah malam takbir di mana orang-orang bersuka cita merayakan hari kemenangan ada seorang anak di sebuah panti asuhan sedang bersedih. Seorang yatim piatu yang menangis di sebuah ayunan, dia sedih karena tak tahu siapa ayah dan ibunya yang meninggal saat dia lahir. Tetes tangisnya seperti sebuah mantra pemanggil hujan. Cuaca yang sebelumnya cerah dalam gegap gempita takbir di sepanjang jalan tiba-tiba hujan lebat. Seakan mengajak kita ikut bersedih akan tanya, “apakah hidup ini adil?.” Anak kecil bernama Rinai inilah yang akan menjadi garis merah seluruh cerita.
Sementara di masa yang sama di sebuah rumah sakit, tergeletak seorang tua bernama Rehan. Pria 60 tahun yang sekarat sedang dirawat oleh dokter dan tim medis paling ahli agar nyawanya selamat. Seorang konglomerat pemilik kongsi bisnis imperium terbesar yang pernah ada. Saat sepertinya nyawa Ray sudah mustahil tertolong, tiba-tiba seperti ada keajaiban karena organ tubuhnya kembali berfungsi normal. Dan tubuh Ray seperti terhempas di sebuah tempat. Lalu datanglah (malaikat?) dengan wajah menyenangkan yang menepuk bahunya. Di sinilah dijelaskan bahwa Ray mendapat kesempatan untuk menemukan lima jawaban atas pertanyaan hidupnya. Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan? Terdengar familiar? Ya, kalau kau sudah membaca bukunya Mitch Albom.
Ray terhempas di sebuah terminal yang hangat. Lho, bukankah dia tadinya terbaring lemah di rumah sakit? Ternyata dia memulai ‘tur’ untuk mengenang masa lalu bersama Pria Dengan Wajah Menyenangkan. Tur inilah yang akan menjadi kisah panjang dalam novel ini. Ray adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan yang tak menyenangkan. Dirinya kesal dengan sang pengasuh yang sering menghukumnya. Menurut Ray, sang pengasuh adalah seorang munafik yang menghalalkan segala cara untuk bisa menunaikan ibadah haji. Sehingga berusaha mengumpulkan banyak uang, tak peduli itu memeras uang panti dan menyuruh anak-anak bekerja. Hingga pada suatu pagi di hari raya Ray memutuskan kabur membawa box istimewa milik pengasuh panti yang dikira Ray berisi uang. Tersebutlah teman Ray yang setia bernama Diar. Seorang lugu yang mengagumi Ray, sungguh bertolak belakang sifat mereka. Diar yang polos suka membantu Ray yang suka mencuri dan berjudi.
Lalu sebuah fakta yang mengejutkan Ray terkuak. Alasan kenapa dirinya saat berusia 16 tahun bisa terbaring lemah di rumah sakit di ibu kota, padahal sebelumnya dia sedang terbaring lemah di rumah sakit di sebuah kota di timur pulau Jawa pasca dirinya dirampok. Ternyata ada sebuah rahasia besar alasan kenapa Ray yang merasa membuang sia-sia waktu 16 tahun di panti. Itulah sebab-akibat kehidupan, bahwa kehidupan kita saling terkait dengan orang lain.
Kehidupan baru Ray di Jakarta dimulai. Dirinya mencoba melupakan masa lalu kelamnya dengan kembali membuka diri dengan teman-teman barunya di Rumah Singgah. Sebuah rumah di pinggiran kota yang menampung orang-orang dengan masa lalu tak jelas. Ada Natan yang pandai bernyanyi, ada bang Ape yang dituakan yang selalu memberi nasehat penyemangat hidup, ada Ilham yang suka melukis, ada si kembar Oude dan Ouda. “Kalian akan menjadi saudara di manapun berada, kalian sungguh akan menjadi saudara. Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang hilang dari kenangan. Kalian sungguh akan menjadi saudara.” Ray lalu sekolah mengambil kelas kesetaraan. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Saat akhirnya Ray sepertinya menemukan keluarga barunya, sebuah tragedi terjadi. Lukisan Ilham yang akan dibawa ke pameran dirusak sekelompok preman. Ray yang marah menghajar preman-preman tersebut. Celaka, mereka membalas menghajar Natan yang waktu itu masuk 12 besar kontes nyanyi di tv. Dengan amarah dan dendam yang membara Ray memporakporandakan gerombolan preman. Hal yang membuat Bang Ape marah besar. Ray yang membela diri, bahwa kalau ada saudaranya disakiti maka harus dibalas bukannya malah berdiam diri. Ray yang emosional akhirnya memutuskan kabur dari rumah singgah.
Memulai kehidupan baru sendirian di sebuah kontrakan di Selatan ibukota. Kesehariannya mengamen di kereta. Hobi lama memandang bulan di atap rumah dilanjutkan di atap kontrakan dekat tower air. Tower air yang akan menjadi twist di cerita berikutnya. Di sana Ray berkenalan dengan pria misterius bernama Plee. Setelah pendekatan beberapa bulan, akhirnya Plee berterus terang bahwa dirinya adalah seorang pencuri berlian. Dirinya mengajak Ray bergabung setelah melihatnya turun dari tower air dengan lincah. Apa salahnya menjadi orang jahat? Pencurian pertama mereka lakukan di sebuah malam takbir hari raya di sebuah gedung berlantai 40. Pencurian yang awalnya lancar berubah menjadi petaka saat ada kesalahan kecil salah perhitungan memicu alarm. Melalui adegan bak film action, mereka melarikan diri. Naas, kaki Ray tertembak dan mereka terpaksa membalas tembakan yang mengakibatkan dua orang security tewas.
Dalam pelarian, akhirnya terungkap bagaimana Ray bisa lolos sementara Plee tertangkap. Sebuah flash back yang mengharu biru menghantar Plee dihukum mati. Merasa bersalah dan hatinya hancur, Ray memutuskan kembali ke kota kelahirannya dengan naik kereta pertama di hari eksekusi Plee. Di dalam kereta itulah Ray menemukan cinta pertamanya, seorang gadis cantik bernama Fitri. Gadis yang ternyata ada sangkut-pautnya dengan garis cerita panjang ini. Ray yang memulai hidup baru sebagai buruh bangunan bekerja dengan giat. Dengan berjalannya waktu dia naik pangkat jadi wakil kepala mandor. Dengan kecerdasan di atas rata-rata, dia belajar cepat tentang arsitektur. di atas gedung setengah jadi, Ray melanjutkan hobinya memandang rembulan. Bersama anak buahnya Jo, Ray menemukan kembali gadis cantik di dalam kereta. Hingga terkuak sebuah kenangan kelam yang menyedihkan. Namun hal itu tak menghalangi Ray untuk meminang Fitri.
Kehidupan baru Ray yang lebih mapan bersama keluarga ternyata tak berlangsung lama. Enam tahun yang terasa cepat membuat kita ikut bertanya, betapa kejam takdir yang digariskan Tuhan untuk Ray. Dengan kesedihan mendalam, Ray kembali ke ibukota. Menelusuri kenangan dengan berkunjung di Rumah Singgah, kontrakan tower air. Dan akhirnya dirinya memutuskan menjadi pembisnis di bidang arsitektur. singkat cerita Ray kaya raya, tapi hatinya hampa. Dirinya menghabiskan masa tua dengan kesendirian, sampai di usia 54 tahun dimulailah sakit-sakitan.
Di enam tahun akhir hidupnya, Ray menderita. Enam tahun sepertinya menjadi angka yang digariskan dalam hidupnya. Semua dijelaskan oleh sang malaikat untuk menjawab lima pertanyaan Ray. Sampai akhirnya kita kembali ke masa kini, masa saat Ray terbaring lemah di rumah sakit. Apakah Ray sudah meninggal? Belum. Dirinya masih punya hutang yang harus diselesaikan! Lalu apa kaitannya dengan gadis kecil bernama Rinai yang menangis di ayunan? Usianya enam tahun. Dan itu sudah cukup menjelaskan garis merah takdir hidupnya.
Well, saya sudah membaca novel ‘The Five People You Meet In Heaven’ karya Mitch Albom yang anehnya diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi ‘Meniti Bianglala’, nanti saya review juga. Temanya sama, dimana Eddie seorang tua yang sekarat mendapat kesempatan bertemu lima orang yang hidupnya bersinggungan dengannya. Dijelaskan secara runut flash back, persis seperti kisah Ray. Seperti yang saya bilang di review novel Tere Liye sebelumnya. Saya yakin beliau memakai teori ATM – Amati, Tiru, Modifikasi. Jelas bung Darwis sudah membaca bukunya Albom. Karena dari setting waktu pun sama. Orang sekarat, lima hal, flash back kehidupan dari kecil sampai akhirnya kembali ke masa kini. Pertanyaan sama, apakah bung Darwis harus meminta izin kepada Albom untuk menyemi sebagian ceritanya? Seperti Fight Club yang diambil aturannya secara mentah-mentah oleh bung Darwis untuk dua buku “Negeri Para Bedebah” dan “Negeri Di Ujung Tanduk”, jelas cerita “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu” tidaklah original.
Terlepas dari itu, buku ini layak dinikmati untuk menggugah kita bahwa setiap tindakan kita baik atau buruk akan kita tuai hasilnya di kemudian hari. Bahwa segala tindakan kita berpengaruh terhadap nasib orang lain, kehidupan sebab-akibat. Betapa kita harus banyak berkorban dan menebus dosa masa lalu untuk orang lain. Diar berkorban untuk Ray, pengasuh panti berkorban untuk Diar, Ray berkorban untuk Natan, Plee berkorban untuk Ray, dan banyak pengorbanan yang lain saat sang malaikat mengungkap fakta kehidupan yang berputar di antara kita semua. Seperti dua paragraf yang saya nukil berikut:
“Pengorbanan,” kata Kapten. “Kau membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah atas pengorbanan yang kau berikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kau korbankan.”
“Kau belum mengerti, pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukan sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu yang didambakan. Pengorbanan kecil, pengorbanan besar. Seorang ibu bekerja keras agar anaknya bisa sekolah. Seorang anak perempuan pindah rumah untuk merawat ayahnya yang sedang sakit…”
Bukan. Dua paragraf di atas bukan dari “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu”, tapi di buku “Meniti Bianglala.”
Ruang HRD NICI – Karawang, 150914

Lima Orang

https://lazionebudy.files.wordpress.com/2014/09/dsc_00231.jpg
Bukannya mau riya’ tapi ingin sharing saja. Saya pernah berjanji: “Kalau kelahiran kali ini ibu dan anak sehat dan lancar maka saya akan mengirim pulsa 50 ribu kepada lima orang teman yang pernah membantu saya. Tanpa saya beri tahu mereka.” Dan Alhamdulillah tanggal 10 Agustus 2014 lalu persalinan lancar seperti yang diharapkan. Maka dari tanggal 11 Agustus – 15 Agustus 2014, berturut-turut saya kirim pulsa elektrik kepada mereka yang terpilih. Sebagai catatan kelima orang terpilih ini setahuku ga punya blog, atau kalau punya blog mereka ga aktif. Jadi kemungkinan mereka baca ini tulisan dibawah 5%.
1. Inu
Saya memanggilnya pak Kepala Suku. Teman sekolah STM, dia adalah ketua kelas yang dipilih secara terpaksa. Saat itu wali kelas (hello pak Nurdin!) sedang membuat susunan pengurus kelas. Saat bagian ketua, ga ada yang mengusulkan. Maka sebagai teman sebangku dengan Inu saya teriak namanya dan semua teman setuju saja. Toh apa enaknya jadi orang yang nantinya direpotin. Teman ke perpustakaan Solo, teman nonton film, teman sharing paling dekat semasa pakai seragam putih abu-abu. Dan kebetulan menjadi perantara perkenalan saya dengan May, istriku. Sehingga layak ditaruh di paling atas dalam list ini.
2. Kapten Eko
Di kantor dulu saya dipanggil Spongebob, karena senangnya saya sama serial ini. Dan sang kapten bajak laut adalah Kapten Eko. Beliau teman akrab saat kerja di pabrik furniture 8 tahun yang lalu. Teman sharing kalau ada masalah apapun. Satu-satunya teman saya yang saya taruh namanya di penghormatan di surat undangan menikah. Pemberi semangat saat saya down. Dan walau sudah lama terpisah jarak, sering dia bertanya kabar atau sekedar menyapa ‘hi..’ di facebook. Saya menghormatinya sebagai orang yang di-tua-kan, yah walau hanya selisih 4 tahun denganku. “aye aye kapten!”
3. M.AJI.C
Aji, teman SMP yang membuatku semangat saat pulang kampung. Setelah silaturahmi dengan keluarga dan tetangga, nama Aji ada di top list orang yang ingin ku kunjungi saat mudik. Teman sebangku SMP, penggemar Milan yang walau sudah jarang bertemu tetap berkabar baik lewat Whats App, facebook atau sekedar sms. Salah satu momen yang mengharukan dengannya adalah saat lulus SMP kita mau lanjut sekolah kemana? Karena saya suka elektronika dan selepas STM mau bekerja maka saya lanjut ke STM 1 Solo, yang diikuti olehnya. Sayang mata dia minus, harus pakai kata mata sehingga saat seleksi jurusan elektonika dia gagal. Diluar dugaku, Aji kekeuh lanjut di STM 1 Solo dengan mengambil jurusan yang ‘lebih rendah’ yaitu teknik bangunan hanya demi tetap satu sekolahan denganku. Saat itu dia malah bergurau, “siapa tahu nanti jadi arsitek”.
4. PAI
Namanya Pia, tapi saya panggilnya Pai, yah walau nama aslinya juga jauh dari kata Pia. Teman sekampus istriku, lulusan cum claude. Sering membatu ngerjain tugas kuliah. Sering jalan bareng, setiap ada momen khusus jadi orang pertama yang berkunjung. Walau teman May tapi dekat juga denganku, mungkin karena dia penggemar buku juga. Selepas kuliah, dia lanjut di kampusnya menjadi penjaga perpustakaan. Yang jelas kalau ingat Pia saya selalu ingat adegan Spongebob di episode ‘I am the biggest fan” kala Tomy – jelly spotter dkk terjepit di gua karena pintu gua dijaga ratu ubur-ubur. Spongebob dengan berani kelaur dari gua dan membuat gelembung berbentuk pai. Sehingga ratu ubur-ubur pergi membawa gelembung pai. Semua orang lalu mengelu-elukan si Kuning, ketika ditanya “bagaimana kamu tahu kalau dia suka pai?” Spongebob dengan tertawa khasnya berteriak, “semua orang kan suka Pai.”
5. Agus Agus
Pak Agus adalah seorang manager HRD. Jasa utamanya jelas saat dia memilih saya menjadi leader HRD dari ratusan kandidat. Mungkin bagi pak Agus dia hanya menjalankan tugas, tapi bagiku saat dia memilih saya untuk bergabung di Perusahaan tersebut saya menemukan pengalaman luar biasa sebagai HR. Saya sangat berterima kasih. Walau sekarang sudah terpisah Perusahaan, tapi tetap saya tak kan bisa melupakannya. Saat seorang HRD meng-acc pilihan karyawan untuk bergabung, saya mengibaratkannya sebagai “perpanjangan Tangan Tuhan.”
Ruang HRD NICI – Karawang, 140914

Official, 31

https://lazionebudy.files.wordpress.com/2014/09/dsc_00421.jpg
31 tahun. Well, rasanya cepat sekali. Tak terasa usia saya sampai di angka keramat 31 hari ini. Ada beberapa target yang sukses diraih, ada juga yang meleset. Di usia 31 ini, pencapaian terbaik adalah menikah dan memiliki seorang ‘Hermione’ dalam keluargaku. Alhamdulillah, terkabul 10 Agustus 2014 lalu. Terlihat sederhana, mungkin. Karena menikah dan punya anak adalah sebuah proses yang akan semua orang alami. Wait, Tak semua orang. Saya teringat kisah Sherlock Holmes, saat ditanya Watson sebenarnya cita-cita Sherlock itu apa? Dia ingin di usia tua ada (keluarga) yang menemaninya. Dia paling takut menghabiskan masa senja sendirian. Nyatanya seperti yang kita tahu, Sherlock gagal menikah saking menikmatinya pekerjaan menangkap penjahat. Seorang jenius yang kesepian.
Sementara target terbesar yang belum kuraih adalah novel ku rilis. Kini dengan usia yang benar-benar matang, deadline novel adalah di usia ini. Dengan kehadiran Hermione harusnya semangatku terlecuti. Kenapa email saya bernama lazione_31@yahoo.co.id? Karena saya percaya, saat membuatnya 9 tahun lalu saya akan meraih sukses besar di usia ini. OK, Tuhan saya siap! 31, I’m loving it!
Ruang HRD NICI – Karawang, 3 September 2014