Menanti Lawan Madrid di Final UCL 2014

Gambar
Mengejutkan, secara mengejutkan Bayern Muenchen sang juara bertahan Liga Champions 2013 tersingkir dengan skor agg. telak 5-0 di tangan Real Madrid. Setelah bermain 1-0 di stadion Bernabeu seminggu lalu, pagi dini hari tadi Madrid dengan perkasa mendepak juara Bundesliga 2014 tersebut. Laga sudah panas saat 15 menit berjalan Ramos sudah mencetak gol melalui sundulan kepala. Lima menit berselang Ramos lagi-lagi menambah golnya melalui kepala, kali ini mendapat umpan matang Di Maria lewat tending bebas.
Bayern makin terbenam saat melalui serangan balik cepat Modric, Bale, Benzema, dan terakhir CR7 menceploskan bola menjadikan skor turun minum 3 gol tanpa balas. Butuh 5 gol untuk lolos, harapan Bayern makin menipis dengan ditariknya Mario Marjuki diganti Martinez. Sebuah indikasi bahwa Pep sudah menyerah dengan mengurangi seorang striker. Walau usaha menahan serangan Madrid memang berhasil, namun saat menit terakhir mereka kembali dibobol Ronaldo menjadikan skor agg. 5-0. Langkah luar biasa dari Don Carlo guna mewujudkan La Decima Madrid.
Ronaldo memecahkan rekor dalam semusim bisa mencetak 16 gol di Liga Champions. Rekor hebat yang mungkin butuh 5-10 tahun lagi untuk kembali dipecahkan. Setelah se-dekade, Madrid kembali ke final dan selangkah lagi meraih gelar La Decima mereka. Tinggal menunggu lawannya Antara Chelsea atau Atletico yang akan bertanding malam ini. Jangan lewatkan di SCTV jam 2, sehari ini kerja dipastikan bakal ga konsen kerja karena menantinya. KtBFFH!
Karawang, 300414

Iklan

(review) Negeri Para Bedebah: Manusia Di Atas Perahu Bocor

Gambar
Kemarin saat nonton film The Raid 2: Berandal bersama May dan teman kuliahnya, saya mampir sebentar di toko buku Salemba di Mal Lippo Cikarang. Baru kali ini saya masuk toko buku dengan kondisi AC mati, siang yang gerah. Karena cuaca di luar saat ini panas, maka kunjungan lihat-lihat buku tak senyaman seperti biasanya. Paling 10 menit saya langsung ke rak novel dan mencari buku, yang siapa tahu ada yang diincar. Di rak novel baru ternyata dipenuhi buku remaja, gila dua rak panjang isinya mayoritas novel teenlit lokal. Beneran, dunia literasi kita makin bergairah. Perkembangan yang menarik, walau saya tak tertarik membelinya. Akhirnya teman-teman yang kepanasan menyerah keluar toko duluan menunggu di kursi mal di luar. Saya yang ga enak berlama-lama segera menyusul, tapi saat akan melewati pintu keluar ada tumpukan cetakan baru novel best seller. Iseng lihat bentar, dan ternyata ada novel karya Tere-Liye bejibun. Semua cetakan baru dengan design sampul baru. Incaran lama saya, Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk ada di sana. Tanpa pikir panjang saya comot keduanya. Namun saat konfirm ke istri untuk belfi dua buku, dia malah manyun yang itu berarti berkata, ‘hemat, beib hemat!’. Apalagi saat ini saya jobless sehingga rasanya egois sekali kalau langsung beli dua buku tebal. Akhirnya mengalah mengambil yang seri pertama, 60 ribu rupiah. Masuk ke antrian kasir yang panjang, yang ternyata gara-gara komputernya mati sehingga belanjaan ditulis manual dengan nota, macam kuitansi pasar loak.
Malamnya saat lelah karena perjalanan Cikarang-Karawang, si May bahkan sudah tidur sebelum Isya’ saya sempatkan baca Negeri Para Bedebah. Ini buku sudah saya incar lama setelah baca review dari teman-teman yang rata-rata bilang buku bagus. Buku yang saya pegang adalah cetakan ke-6 di Desember 2013. 3-4 bulan sekali ini buku cetak ulang, betapa hebatnya sang Penulis selain produktif bukunya banyak yang cetak ulang. Yang pertama kubaca jelas, backcover-nya: Di Negeri Para Bedebah, kisah fiksi kalah seru disbanding kisah nyata. Di Negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah. Tetapi setidaknya kawan, di Negeri para bedebah petarung sejati tidak akan berhianat. Kalimat-kalimat yang bagus yang akan membuat calon pembeli tertarik.
Sebelum masuk ke daftar isi, kita sudah diperingatkan bahwa cerita yang akan saya baca ini hanya fiktif jadi apabila ada kesamaan nama tokoh atau kisah itu hanya kebetulan belaka. Sepertinya Tere akan bermain api dengan cerita yang akan tersaji. Bab pertama, di sini ditulisnya episode 1 berjudul ‘krisis dunia’ pun saya lahap dengan cepat. Kisah dibuka dengan sebuah wawancara seorang konsultan keuangan bernama Thomas bersama wartawan majalah ekonomi mingguan bernama Julia. Wawancara terpaksa dilakukan di atas pesawat karena kesibukan Thom yang luar biasa, bahkan kesibukannya mengalahkan sang presiden. Sindiran ini akan terbukti dalam rentang tiga hari ke depan dia akan luar biasa sibuk. Perjalanan dari London ke Singapura ini menjadi pengalaman yang pertama buat Julia wawancara di atas pesawat kelas eksekutif: “Anda tahu, terus terang saya sedikit gugup. Bukan untuk wawancaranya tapi saya begitu antusias. Ya Tuhan, saya baru pertama kali menumpang pesawat besar. Ini mengagumkan, ini lebih besar dibanding dengan foto-foto rilis pertamanya. Berapa ukurannya? Paling besar di dunia? Tiga kali lebih pesawat biasa, dan saya menumpang di kelas eksekutif. Teman-teman wartawan pasti iri kalau tahu redaksi kami menghabiskan banyak uang untuk membelikan selembar tiket agar saya satu pesawat dengan Anda.”
Permulaan wawancara yang buruk, permulaan perkenalan yang kurang bagus antara dua karakter yang nantinya akan terus bersinggungan. Lalu saat Thomas sampai di Jakarta di akhir pekan, dia disibukkan dengan jadwal yang padat. Jumat malam ini, dia yang seorang petarung di klub petarung. Semacam klub berkelahi di buku ‘Fight Club’ nya Chuck Palahniuk. Premisnya sama, di mana mereka professional berkelahi hanya untuk kesenangan. Lupakan pangkat, lupakan derajat di rutinitas. Siapa saja yang bergabung di klub akan berkelahi di atas lingkarang merah, selesai tanding semua lupakan, tak ada dendam tak ada kemarahan. Benar, aturannya sama dengan fight club, rekrutnya rahasia hanya teman-teman dekat. Bedanya tak ada twist, dua karakter satu tubuh di sini. Saya jadi bertanya, apakah Tere harus meminta izin kepada Chuck untuk mencantumkan sebagian aturan kisahnya ke dalam buku ini.
Dari klub petarung, Thomas berkenalan dengan Rudi sang polisi, Randy sang petugas imigrasi, dan Erik seorang perekayasa data yang ulung. Tiga karakter yang akan sangat membantu menggerakkan cerita. Lalu ada kadek yatch Pasifik, kapal milik keluarga yang cerdas dan setia. Ada Ram, orang kepercayaan keluarga yang mengurus bermacam bisnis. Ada sektetaris cantik yang selalu jadi andalan, Maggie. Antagonisnya, dua orang yang mempunyai dendam masa lalu. Sang jaksa dan seorang polisi bintang tiga. Sementara karakter dalam keluarga ada om Liem yang memimpin bank Semesta di ambang pailit. Opa, yang di usia senjanya menjadi penasehat bijak dengan cerita masa lalunya tentang perjalanan dari Cina daratan menuju tanah yang dijanjikan, Indonesia. Perjalanan laut di atas perahu bocor yang dituturkan berulang kali bagai kaset rusak. Ada sahabat lama dalam bisnis keluarga tuan Shinpei, orang yang dulu bersama saat berjuang di zaman susah dalam memasok bisnis tepung terigu. Semua dirajut dalam cerita tentang kebobrokan Negara ini, plot utamanya adalah penyelamatan bank Semesta dari lukuidasi dengan dana talangan bail out dari pemerintah. Intrik itulah yang membuat Thomas selama tiga hari harus tunggang-langgang dari kebisingan ibu kota sampai ke Yogya dan Bali.
Kisah panjang 48 episode ini dimulai dengan dering telepon tengah malam, Sabtu dini hari di bab 4. Saat itu Thomas sedang istirahat di hotel, pasca bertarung dengan Rudi. Telepon yang menggangu itu, rasanya ingin tak diangkatnya. Namun ternyata telepon sedini ini datang dari keluarganya. Ram, sang pengurus bisnis keluarga memberitahu bahwa tantenya sakit keras, karena om Liem tersangkut kasus. Terpaksa dia bangun dan bergegas ke rumah om-nya yang tak pernah dijumpainya selama 20 tahun. Dari adegan ini sampai dengan titik kalimat terakhir, kalian akan disuguhkan adegan action non-stop. Pelarian ke bandara, lalu ke tempat persembunyian, tertangkap namun bisa kabur lagi. Berlayar tak tentu arah, meeting dengan orang-orang penting di pesawat. Adegan baku tembak, kabur lagi. Suap kepada sipir penjara, tipu-menipu demi kepentingan pribadi. Berlagak jadi kader partai berwarna lembayung, sandera yang berharga sampai akhirnya sebuah ending yang mengapung di atas laut haru-biru. Bak mimpi yang terlihat samar namun terasa nyata, dalam tiga hari itu Thomas terus berlari bagai dikejar monster tak berwujud. Ketika akhirnya dalang dan penghianat ditemukan, ternyata itu hanya ikan teri. Penghianat kelas kakapnya terlepas dari tangkapan, dan buku ini ditutup dengan dendam menuju target utama.
Manarik? Jelas, sungguh bagus ada buku karya anak bangsa sedinamis ini. Walaupun yah harus diakui, Tere tak menyajikan cerita original. Harus diakui pula di dunia ini tak ada yang original, semua pakai teori ATM-Amati, Tiru, Modifikasi. Coba tonton film Fight Club, 21, The Beautiful Mind, The Wallstreet, The Coruptor sampai Crash. Semua dinukil dan dirajut dengan cerita panas korupsi bank nasional yang bail out –nya mewarnai berita selama 5 tahun terakhir. Bahkan terang-terangan Tere menyebut ibu menteri, orang yang ditemuinya bersama Julia yang akan mengubah keputusannya. Juga angka talangannya 7T, walau akhirnya angka itu dimodifikasi Erik jadi hanya 1,5T. Tere bermain-main dengan fakta, dan di sinilah hebatnya dia. Luar biasa, salute bro!
Secara keseluruhan saya sepakat dengan beberapa review bahwa buku ini recommended buat dilahap. Saya membacanya dengan perseneling penuh, cepat sekali. Hanya dua hari di sela kesibukan semu di rumah. Saya bahkan meletakkan sejenak buku The Man Who Loved Book Too Much yang sudah kebaca separo, demi kenikmatannya. Dan sepertinya menyenangkan sekali mempunyai seorang kakek pencerita yang hebat, walau kisah yang dituturkan berulang kali sama layaknya kaset rusak. Di situ selalu ada hikmah. Seperti Opa yang terombang-ambing di atas perahu bocor dengan ketidakpastian, kita semua kini hidup di negeri para bedebah. Kita semua berjudi dengan masa depan. Tahun pemilu dengan segala janji manisnya? Bah!
Karawang, 020414

(review) Frenemy: Aku Mendengarkan Nasehat Cinta Dari Seorang Jomblo Sejati

Gambar

Dengan embel-embel ‘Juara II lomba novel 30 hari 30 buku Bentang Belia’, novel remaja karya Ayuwidya ini menyeruak di antara novel-novel terjemahan luar negeri yang saya beli pertengahan tahun lalu. Saya sendiri heran kenapa bisa beli novel remaja yang sudah sangat jarang saya baca, si May juga heran tak biasanya saya baca cerita cinta. Di lemari buku saya mayoritas adalah buku-buku cerita terjemahan dengan cerita yang bukan cinta remaja. Jauh dari tema cinta-cintaan anak sekolah. Novel ini bahkan kelar dibaca istriku dulu, baru saya membacanya. Dia membacanya dalam semalam, saya besoknya juga dalam rentang yang tak lama.

Frenemy is someone, who is your friend but also an enemy (urban dictionary). Frenemy bercerita tentang seorang remaja bernama Tamara Galuh Wangi yang bersekolah di Arc. Dari pertama menginjakkan kakinya di sekolah tersebut dia sudah berniat untuk menjadi popular, berteman dengan orang-orang popular dan bertekad akan mengikuti ektra-kulikuler yang menjadi favorite di sana. Maka dari itu dia ingin berteman dengan Tiara yang jadi incaran semua cewek di sekolah, sebuah mimpi. Lalu Charlene yang selalu memakai barang bermerek, Kalin yang suka menyebut selebritis dan designer terkenal atau Bianca yang sering dikerubuti cowok-cowok. Namun sayang, impian itu kandas. Tiara hanya anak piatu dengan uang jajan pas-pasan yang pernah ke salon dengan rambut kriting gagal. Korban salon murahan yang enggak bisa membedakan ikal cewek-cewek ala Korea yang dimintanya dengan surai singa. Misi makin sulit untuk menjadi popular setelah dia terjebak menjadi teman seorang kutu buku kuper, Kayla.

Tamara ingin menjadi bagian dari girlband yang diadakan di Arc, salah satu ektra-kulikuler favorite, sayangnya gagal. Dia ingin menjadi cheerleader yang bisa menyoraki pemain basket yang kece, gagal juga. Salah satu sesi eliminasinya yang memakai dance bahkan berujung memalukan. Namun dari seleksi tersebut dia yang kena timpuk bola basket sampai pingsan malah dapat kenalan kakak kelas keren bernama kak Alven. Dari situlah mereka akhirnya dekat.

Tamara akhirnya memilih eksul tak popular, jurnalistik. Eksul ini mengelola majalah online sekolah Highlight yang isinya berkisar tentang dunia remaja yang dibagi dalam beberapa rubrik, Tamara di divisi artikel remaja padahal dia ingin di divisi gosip yang saat ini dipegang Viselle. Divisi gosip lebih mentereng karena sering diundang oleh orang-orang popular, jadi bisa ikutan tenar. Bahkan Viselle sesekali dapat voucher sogokan dari orang-orang yang ingin namanya dimuat dalam berita positif.

“Kalau lu beli sesuatu belilah yang mahal. Termahal yang bisa lu beli! Karena harga ga pernah bohong. Sesuatu yang mahal pasti terbuat dari bahan yang berkualitas, paling bagus dan pengerjaannya bagus, jadi dipakainya juga bagus”. Salah satu kutipan yang sebenarnya terdengar sombong, yang sayangnya benar. Waktu membacanya saya sempat geram, ini anak-anak sekolah enak banget ngomongnya. Belum pernah cari duit, emang duit tinggal metik dari pohon? Atau gaya remaja yang suka menghambur-hamburkan uang dengan makan enak, beli barang mahal sampai gaya pesta yang tak cocok buat di Indonesia.

Sampai akhirnya keajaiban bak cerita Cinderela yang menemukan pangerannya terjadi, Tamara jadian dengan pemain basket kaya raya yang mengubah segalanya. Bisa kalian bayangkan dari seorang kere berambut keriting gagal menjadi seorang yang diperebutkan cowok-cowok beken. Sepertinya hanya ada dalam cerita. Bersanding dengan wanita cantik akan membuatmu terlihat jelek, jadi lebih baik menyingkir saja. Mereka yang tak mau menyingkir biasanya akan berhadapan dengan lidah api Charlene. Dan, ternyata kak Alven yang naksir Tamara adalah saudara Charlene. Tamara yang terlanjur jatuh hati dan terbiasa diberi hadiah barang-barang mahal dari kak Alven akhirnya malah terjebak antara lanjut ingin menjadi popular ataukah menyerah. Dengan dekat dengan kak Alven, dia akan sering muncul di berita gosip sehingga akan mendongkrak polling popular.

Keadaan makin rumit saat muncul karakter baru bernama kak Arial. Seorang cowok yang cool, macam Rangga di film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ yang ternyata juga naksir Tamara. Bisa kalian bayangkan, cerita mimpi bangetkan? Sementara persahabatannya dengan si kutu buku makin meruncing karena sejak dekat dengan gang popular, Tamara berubah, yang menambah rumit situasi.

Dapatkah Tamara menjadi siswa paling popular? Bagi pembaca yang suka dunia remaja tentang cinta-cintaan kalian layak melahapnya. Kalau ga suka dunia cinta monyet sebaiknya jangan memaksa, kalau tetap juga melahapnya ya seperti saya ini. Ceritanya sederhana sekali. Ketebak dari awal, dan akan makin pusing melihat nama-nama merk produk fashion terkenal yang tak kukenal. Dunia literasi Indonesia memang makin beragam, dan novel ini tetap layak dihargai (dari kaca mata remaja) sebagai sebuah karya. Frenemy, friend and enemy. Kisah remaja galau, kita semua sudah melewati masa tersebut. Ehhhmm…, 10, 15 atau 20 tahun yang lalu. Enough!

Karawang, 010414