Prediksi Pemenang OSCAR 2014

Gambar

Prediksi OSCAR 2014

Catatan: Seminggu ini saya mem-posting review film semua Kejar pasang karena pengumuman Oscar tinggal 2 hari lagi. Sehingga kalau tetap komit satu-hari-satu-posting di hari kerja, ga akan terkejar. Seminggu ini juga ga ada postingan #nostalgia, tak ada review buku. Saya masih hutang dua review Bartimaeus. Tak ada tulisan curhat masalah pribadi. Tak ada cerita bola, padahal tengah pekan lalu Chelsea ditahan Galatasaray dan menjadi satu-satunya wakil EPL yang selamat dari kekalahan UCL 16-besar. Serta Lazio yang kemarin secara dramatis tersingkir menyakitkan di menit akhir. Semua itu sengaja saya tahan untuk mengisi slot review film. Bahkan malam ini saya posting dua. Hhhmm…, salah perhitungan. Sebelum HARI-H saya sudah siapkan prediksi pemenang Oscar. Tulisan kedua malam ini special untuk gelaran akbar penganugerahan piala Oscar.

Dan berikut beberapa prediksi saya…

1.      Best Animated Feature: Frozen

Baru menyaksikan tiga film dari lima yang dinominasikan. Se-dekade terakhir, baru tahun ini tak ada Pixar di dalamnya. Despicable Me 2 terlalu lemah di cerita walau kita dihujani Minions seperti harapan, lalu The Croods walau mempesona tentang pra-sejarah namun terlalu mudah diprediksi. Pun Frozen, saya bahkan sudah bisa menebak arah film saat baca preview-nya. Namun kelembutan Disney selalu bisa membekukan hati kita.

2.      Best Supporting Actor: Jared Leto – Dallas Buyers Club

Kelima film sudah saya tonton, namun peran sebagai seorang transgender yang meyakinkan tentunya jauh lebih sulit ketimbang si gemuk yang berotak jorok, bajak laut kerempeng, penyidik koruptor atau majikan yang kejam. Di Dallas Buyers Club, Jared Leto sungguh bermain cantik.

3.      Best Supporting Actress: Julia Roberts – August: Osage County

Saya terpesona dengan gaya Barbara yang terlihat begitu tegar sekaligus rapuh dalam drama keluarga yang penuh kekacauan ini. Julia berhasil mengimbangi akting hebat Meryl, baik dalam gesture atau mimik muka. Dan tentu saja teriakan fenomenal, yang mungkin jadi salah satu quote terbaik tahun 2013: Eat the fish, Bit*h!

4.      Best Actor: Matthew McConaughey – Dallas Buyers Club

Saya pengen segera melihat Leo segera pecah telur mengangkat piala Oscar, namun di sisi lain Bale juga bermain sungguh bagus sebagai sang penipu ulung. Walau beraksi dengan meyakinkan sebagai budak, Chiwetel peluangnya paling kecil. Di sektor ini pilihan pemenang jadi begitu mudah di tentukan saat kita melihat Matthew yang kurus kerempeng namun tetap bisa tersenyum bak seorang jagoan.

5.      Best Actress: Meryl Streep – August: Osage County

Kabarnya Cate Blanchett bermain bagus di Blue Jasmine, sayang sampai tenggat waktu yang ditentukan saya ga berhasil menyaksikannya, begitu pula aksi Judi. Rasanya saya begitu yakin bisa mencoret Amy Adams dan Sandra Bullock dalam persaingan. Head-to-head terjadi antara Cate dan Meryl. Dan saya kembali berharap sang aktris senior ini pecah rekor dengan meraih piala keempatnya.

“Saya sangat bahagia untuk film kami, di mana saya dan Julia juga dinominasikan. Kami semua merasa bangga akan film August: Osage County. Dengan penghargaan dari Academy, kami berharap akan memberi perhatian pada film kami di seluruh dunia,” – Daily Mail.

Ya, saya sungguh mencintai film ini juga.

6.      Best Original Screenplay: American Hustle

David O. Russels layak mengangkat piala Oscar tahun ini. Bersama Eric Warren Singer, David membuat naskah film tipu-menipu jadi begitu bernyawa. Lihat saja, lima bintang besar semuanya berkilau karena dapat porsi yang pas dalam tiap adegan. Setelah hasil Oscar yang mengecewakan dalam Silver Linings Playbook dan The Fighter, dia layak berpesta tahun ini.

7.      Best Adapted Screenplay: Captain Phillips

Pengen sekali menunjuk Before Midnight, seri ketiga kisah cinta karya Richard Linklater. Namun ketegangan di tengah laut dalam drama penyelamatan sang kapten begitu mempesona. Sejak di adegan perompak berhasil menduduki kapal sampai akhirnya tiga letusan terdengar, film ini begitu luar biasa. Ayolah, kita harus akui kali ini drama di atas laut lebih menarik ketimbang di dasar laut Bikini Bottom.

8.      Best Visual Effects: Gravity

Star Trek memang mempesona baik dalam cerita ataupun suguhan visual yang memanjakan mata. Tapi tak bisa dipungkiri Gravity memberi warna baru dalam cinema, di mana kita sepanjang film di ajak melayang di luar angkasa. Yak, tahan nafas Anda sampai pendaratan.

9.      Best Original Song: Let It Go – Frozen

Hanya satu kata untuk lagu di film Frozen: amazing! Saya justru merasa lagu di sini lebih bagus ketimbang filmnya sendiri. Sebenarnya bukan hanya Let It Go doang sih, lagu-lagu yang lain juga sama menakjubkannya, khas Disney yang membuat kita berdendang.

10.  Best Original Score: Her

Di film sunyi dan membuat saya sering menguap, score Her menjadi penyelamat misi cinta aneh manusia terhadap OS. Rintikannya bisa memacu emosi untuk bilang: Now We Know Her!

11.  Best Cinematography: Gravity

Melayang-layang dalam ketidakpastian ditata dengan sangat megah. Inside Llewyn Davis bisa jadi pesaing utama, namun keunggulan utama Gravity ya ada di cinematography-nya. Sangat mudah untuk bilang mereka pasti menang.

12.  Best Director: David O. Russell – American Hustle

Yuhui! Hanya Alfonso Cuaron yang membuatku berfikir dua kali, siapakah sutradara terbaik tahun ini. Sekali lagi ada rasa kecewa di dua film sebelumnya yang membuatku yakin juri akan menunjuk David O. Russel berjaya. Kesabarannya kembali mengarahakn J-Law dan Cooper layak dibalas oleh Hustle!

13.  Best Picture: American Hustle

Di kategori utama ini, dari beberapa web yang saya kunjungi, banyak yang memilih 12 Years A Slave, apalagi ini film mengukir jejak manis di BAFTA Award tahun. Ditambah film dengan kisah nyata biasanya lebih diunggulkan. Menurutku film terbaik 2013 adalah Captain Phillips. Ingin sekali menjagokannya, sayang Greengrass tak masuk nominasi best director. Karena sering kali pemenang film terbaik berbanding lurus dengan sutradara terbaik. Mungkin tahun lalu pengecualian sehingga keluar rel, namun tahun ini saya yakin akan kembali ke jalur lagi. Dan American Hustle melengkapi malam sempurna David.

Oke, berdoalah lebih khusuk. Takdir senyum-manyun menanti Senin siang nanti. We will have to wait and see! Have a healthy and happy Oscar weekend.

Karawang, 030314 – a prediction by LBP

(review) American Hustle: Lie – And We Loved Each Other.

Gambar

Sydney Prosser: You’re nothing to me until you’re everything.

Christian Bale menanggalkan baju Batman-nya, dengan kepala botak dan penampilan jadul memakai kaca mata besar, dia menyamar secara meyakinkan. Amy Adams memakai pakaian kerah you-can-see menjadi penggoda para klien. Bradley Cooper mendadani penampilannya menjadi penyidik ala KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) berwajah preman. Jennifer Lawrence Menjadi istri Bale yang cerewet dengan rambut keritingnya. Dan Jeremy Renner melengkapi cast bintang sebagai seorang walikota yang dicintai warganya.

Film dibuka dengan Irving Rosenfeld (Christian Bale) seorang penipu ulung yang berdandan menutupi kepala botaknya dengan rambut palsu, berpenampilan bak seorang bisnisman. Bersama Sydney Prosser (Amy Adams) dan Richie DiMaso (Bradley Cooper) mereka bertiga sedang mencoba menjebak walikota dengan sekoper uang suap. Skenarionya mereka diutus seorang syeik untuk memberikan uang pelicin guna mendapat izin mendirikan casino di New Jersey. Sebagai walikota yang terkenal bersih dan dicintai warga Carmine Polito (Jeremy Renner) terang-terangan menolaknya dan meninggalkan pertemuan. Seakan rencana rencana ini berantakan, lalu film pun digulirkan ke belakang, melihat latar belakang semua karakter.

Irving Rosenfeld adalah anak tukang kaca yang sejak kecil diajarkan menipu. Sewaktu kecil dia disuruh ayahnya memecahkan kaca toko di sekitar tempat usahanya, sehingga kacanya laku. Perbuatan anak kecil tentu saja dianggap hanya kenakalan, sehingga permintaan maaf dan denda ala kadarnya. Tak heran sewaktu dewasa dia menjadi seorang penipu. Sydney Prosser adalah remaja bosan dengan rutinitas bekerja di majalah cosmopolitan, walau awalnya bekerja dengan hati tapi waktu membuatnya tak betah, sehingga dia melakukan bisnis ilegal. Richie DiMaso adalah seorang penyidik FBI, yang suka menjatuhkan para politikus. Menganggap mereka kotor, sehingga sering melakukan penjebakan di mana ruang pertemuan sudah disiapkan dengan alat perekam. Carmine Polito adalah walikota yang terlihat bersih, dengan hati melayani masyarakat. Saat dijebak dia sedang berusaha membuka kesempatan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, sehingga tawaran pembukaan casino dari seorang syeik Abu Dhabi terlihat menggiurkan.

Setelah pengenalan karakter, kita lalu disuguhi alasan kenapa duet penipu Irwing dan Sydney mau bekerja sama dengan FBI. Rencana-pun disusun, awalnya atasan Richie tak menyetujui rencana ini, karena melibatkan uang besar sebagai kail-nya. Namun akhirnya berubah pikiran setelah mendengar rayuan. Adegan lalu ditarik kembali ke masa di awal film saat sang walikota keluar ruangan dengan marah. Irwing mengejarnya dan meminta maaf atas kelancangan mereka. Dengan pengalamannya dalam bersilat lidah sebagai penipu, Carmine termakan umpan. Negosiasi kembali dibuka. Lalu muncullah seorang karakter aneh Rosalyn (Jennifer Lawrence) sebagai istri Irving. Dia adalah istri yang cerewet dan protektif terhadap keluarga, tapi ternyata itu hanya sampul karena saat menjelang akhir kita dikejutkan fakta dibalik sifat hati-hatinya. Saat walikota menelpon ke rumahnya untuk memenuhi undangan negosiasi dengan syeik di hotel Plaza yang mengangkat adalah Rosalyn sehingga terpaksa diajak datang juga. Irwing yang ada affair dengan Sydney jelas keberatan. Di durasi satu jam film kita serasa ikut duduk dalam perundingan. Membiarkan para wanita pesta di luar, keadaan serasa menegangkan setelah tahu, Carmine mengajak seorang gangster. Apalagi kita tahu syeik palsu asal Abu Dhabi yang disewa FBI adalah seorang Mexico. Keadaan makin tegang saat sang gangster menyapanya dalam bahasa Arab. Batin saya teriak, ‘modaro koe!’ Saat semua terdiam, sesorang menjatuhkan gelas di atas meja sehingga konsentrasi buyar. Namun pihak walikota tetap fokus dan terdiam seakan masih meminta jawab dalam bahasa asing. Diluar duga Irwing dan Richie sendiri, si syeik palsu itu bisa menjawab dengan lancar. Sehingga kesepakatanpun terjalin, transaksi uang suap pun berlanjut.

Merasa ini adalah kemenangan besar, FBI berpesta. Namun Irwing malah seperti tersadar saat mendengar perkataan sang walikota yang membela rakyatnya. Setelah negosiasi selesai, Irwing meminta maaf ke rumah Carmine dan menjelaskan segalanya. Sadar dirinya dijebak, walikota marah besar lalu menghajar dan mengusirnya. Saat semuanya sudah terasa clear demi kepentingan setiap golongan, muncul twist yang membuat saya tersenyum. Karena ternyata sisi keberpihakan setiap karakter memang terlihat abu-abu sedari awal sehingga saat FBI melakukan penggerebekan, semua yang awalnya terlihat jelas malah berantakan. Twist apakah itu? Lihat sendiri biar kalian bisa berteriak ‘bravooo!’ seperti saya.

Inilah film yang digadang-gadang akan menang oscar tahun 2014 ini. bersama 12 Years A Slave, American Hustle mengirim banyak wakilnya. Bale tampil luar biasa, bertubuh gendut dan memakai kaca mata membuatku pangling. Jen-Law sekali lagi membuktikan bahwa oscar tahun lalu bukan hanya kebetulan. Amy Adams sama gilanya, menjadi seorang wanita affair yang bersisi dua, membuat kita bertanya-tanya ke arah siapakah dia berpihak. Renner juga tampil brilian, tebar senyumnya bak selebriti. Cooper pun 11-12, menampilkan sisi egois seorang pemberantas korupsi. Secara keseluruhan ini film istimewa karya David O Russell. Melanjutkan kehebatannya tahun lalu Silver Linings Playbook, dia kembali memasang Jen-Law dan Cooper. Sebuah prestasi luar biasa. Yang jadi tanya berapa piala yang akan diboyong film ini, layak kita nanti Senin nanti.

Film ini memaksaku membandingkan dengan keadaan di Indonesia. Coba bayangkan KPK menjebak suap seorang gubernur bersih dan dicintai misalkan saja, Jokowi. Akan menjadi heboh negara ini. Well, yang dilakukan FBI saya berpendapat seperti pernah dilakukan oleh KPK. Yah, siapa yang tahu? Politik memang rumit. Tetap semangat para pemangku jabatan bersih, moga istiqomah.

American Hustle

Director: David O Russell – Screenplay: Eric Warren Singer, David O Russell – Cast: Christian Bale, Bradley Cooper, Amy Adams, Jeremy Renner, Jenifer Lawrence – Skor: 4.5/5

Karawang, 020314 – Welcome March

(review) Dallas Buyers Club: Watch What You Eat And Who You Eat

Gambar

Film dibuka dengan adegan Ron Woodroof (Matthew McConaughey) sedang bercinta, dengan background sebuah pertandingan rodeo, koboi menaklukan banteng dengan menaikinya. Beberapa saat kemudian dia tergeletak di rumah sakit dengan kondisi sekarat, menuju maut. Dr. Sevard (Dennis O’hare) mendiagnosa hidup Ron tinggal 30 hari karena mengidap virus HIV. Marah dan tak percaya dia malah memaki dokter yang asal menganalisa. Sang koboi jagoan dari Texas ga mungkin mengidapnya. Dia menolak dirawat dan kalau benar hidupnya tinggal hitungan hari, dia mau bersenang-senang. Lalu film ini dihitung per hari saat dia divonis. Day 1, dia menghabiskan waktu dengan Tucker (Steve Zahn), temannya yang seorang polisi bersama dua pelacur, mereka pesta narkoba. Namun Ron tak ikut serta dalam hubungan badan, walau marah dengan sang dokter dia merasa ada yang tak beres dalam tubuhnya sehingga secara tak langsung harus mencegah penularan. Hari berikutnya, dia menemui dokter di rumah sakit untuk meminta penjelasan lebih rinci. Namun dia malah ditemui wanita dokter Eve (Jenifer Garner) karena Dr. Sevard sedang tak ada di tempat. Dari situ dia tahu ada obat pengurang rasa sakit, namun obat tersebut ilegal, belum dapat izin edar oleh FDA (Food and Drug Administration). Obat AZT kata dokter tak bisa membuatnya hidup lebih lama, karena berfungsi hanya untuk mengurangi rasa sakit.

Malam harinya dia pesta gila lagi di sebuah klub malam, di sana dia bertemu seorang peminum yang wajahnya familiar. Ternyata dia adalah office boy (OB) di rumah sakit tempat dokter Eve bekerja. Dari perkenalan itulah Ron meminta bantuan untuk mencuri AZT dan menggantinya dengan uang yang layak. Hari demi hari dilalui dengan pesta menuju kematian. Sampai akhirnya di day 29, sang OB memberitahunya bahwa AZT kini terkunci rapat di lemari sehingga transaksi tersebut adalah yang terakhir. Namun dia memberi sebuah alamat dokter yang bisa memberinya AZT melimpah di negara Mexico. Setelah siuman dari pingsannya, dan menuju deadline hari h, dia memegang alamat yang diberi oleh sang OB di dalam mobilnya. Ron menangis sejadi-jadinya. Nah ini scene haru-biru yang membuat Matthew patut dinominasikan best actor tahun ini. Rasanya hopeless belum siap menghadapi kematian. Usaha terakhir pun dicoba, dia ke Mexico untuk mendapatkannya.

Di Mexico saat bertemu Dr. Vass (Griffin Dunne), di rumah prakteknya dia melihat banyak pengidap dan merasakan wajah-wajah sedih senasib. Pulang dari Mexico dia membawa banyak obat ilegal. Melewati perbatasan dengan berbohong sebagai seorang pendeta, namun terdeteksi juga. Di ruang interogasi, dia berbohong bahwa obat-obatan tersebut tak akan diperjualbelikan.

Deadline hidup 30 hari terlewati, dia masih bisa bernafas karena obat tersebut ternyata mujarab dan mampu membuatnya bisa bertahan. Akhirnya dia pun mencoba mendistribusikannya kepada orang-orang yang mengidap AIDS. Dari situ dia berkenalan dengan seorang transgender bernama Rayon (diperankan dengan luar biasa oleh Jared Leto). Mereka membuat perjanjian bagi hasil atas usaha penjualan AZT. Berawal dari kecil dan kenalan terdekat, komunitas mereka menjadi booming, obat yang oleh FDA dianggap ilegal dan tak memenuhi persyaratan layak secara medis tersebut banyak peminat sehingga Ron dan Rayon kewalahan. Impor ilegal tersebut juga membuat saham Perusahaan yang memproduksinya melonjak naik. Saking sulitnya Ron sampai harus terbang ke Jepang.

Perjuangan untuk melegalkan AZT akhirnya berbuah manis. Walau masih dilarang, FDA akhirnya mengumumkan bahwa para penderita AIDS dibebaskan untuk memilih apakah mau mengambil resiko dengan mengkonsumsinya karena obat AZT masih dalam tahap percobaan. Sebuah kemenangan yang membuat Ron diberi applause oleh member-nya. Dan diantara orang-orang tersebut dokter Eve salah satu yang mengucapkan selamat, Ron layak disebut pahlawan.

Well, film ini lebih bagus dari perkiraan saya. Ceritanya masuk dan mencerahkan, tema bertahan hidup, perjuangan pengakuan publik, sampai kepedulian antar sesama. Akting para bintangnya juga mantab. Matthew bisa jadi menang best actor atas totalitasnya memerankan Ron. Dia menguruskan tubuhnya sampai kerempeng, mengingatkanku pada Christian Bale di film The Fighter, tapi yang paling mencuri perhatianku adalah Jared Leto yang dengan luwes memainkan seorang waria. Jared saya jagokan menang. Aksi sebagai waria yang meyakinkan begitu sulit, dia bermain cantik. Jenifer Garner bukan hanya sebagai pemanis di antara para pesakitan. Dia juga main bagus, respon saat dia diminta mundur dari rumah sakit, namun menolak sangat membekas, scene ini favorite saya, dia membalas permintaan bosnya dengan berkata: “aku tak akan mundur, silakan pecat aku!” lalu keluar ruangan. Begitulah cara keluar dari tempat kerja yang gentle.

Di akhir film dijelaskan nasib Ron dalam epilog singkat. Komunitas yang diburu kepolisian namun bermanfaat bagi warga penderita AIDS tersebut tersebut diberi nama ‘Dallas Buyers Club’.

Dallas Buyers Club

Director: Jean-Marc Valle – Screenplay: Craig Berton, Mellisa Wallack – Cast: Matthew McConaughey, Jared Leto, Jenifer Garner, – Skor: 4/5

Karawang, 270214

(review) August: Osage County – Marriage is hard

Gambar

Lihat poster filmnya, seluruh orang yang ada dalam gambar tersebut adalah keluarga besar. Apa yang terjadi sehingga bisa seribut itu? Inilah film dengan bertebaran aktor kaliber Oscar, jadi set ekspekasimu dengan tinggi (mungkin). Berdasarkan buku pemenang Pulitzer Prize dan Multiple Tony-Award karya Tracy Letts. Orang yang menghantar Anda ke cerita Killing Joe.

Film dibuka dengan percakapan (lebih seperti sebuah monolog) antara seorang pria renta, penyair Beverly Weston (Sam Shepard) dengan calon pembantu rumah tangganya, Johnna Monevata (Misty Upham). Lalu sang penyair menghilang, beberapa lama kemudian dia ditemukan bunuh diri.

Sebuah keluarga harus berkumpul saat ada berita duka atas kematian ayah/kakek/adik/kakak/mertua (tergantung dari sudut panjang setiap karakter) mereka. Mereka pulang kampung ke Osage County kota kecil di utara Oklahoma, datang dari berbagai kota untuk mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir. Lama tak jumpa, beberapa di antaranya canggung. Reuni keluarga ini terdiri dari Violet Weston (Meryl Streep), suami almarhum yang menderita kanker mulut bersama ketiga putrinya: pertama Barbara (Julia Roberts) datang bersama suami Bill Fordham (Ewan McGregor) dan anaknya Jean (Abigail Breslin), kedua Karen Weston (Juliette Lewis) dan pasangan Steve Heidebrecht (Dermot Mulroney) serta yang ketiga Ivy (Julianne Nicholson) si bungsu yang masih lajang. Hadir juga Mattie Fae (Margo Martindale) adik Violet, bersama suaminya Charles Aiken (Chris Cooper) beserta anaknya Little Charles Aiken (Benedict Cumberbatch). Awal film lambat, namun bersabarlah, setelah drama panjang pengenalan setiap karakter, keluarga besar ini makan malam. Sentral cerita ada pada Violet dan puti sulungnya Barbara. Lihat teaser poster-nya mereka berpelukan, karena dalam perjalanan drama ini kita akan tahu mereka berdua rapuh.

Makan malam yang awalnya tenang berubah menjadi kacau saat Violet yang suka merancau membuat perdebatan sengit. Saling serang, saling tangkis kata-kata. Malam yang harusnya dami karena ada keluarga meninggal malah jadi berantakan. Adegan makan malam yang panjang ini seperti bilang: ‘begini lho sebuah dinner scene harusnya dibuat’. Enak ditonton dan rasanya kita ikut menikmati renyahnya kalkun goreng, yah walau akhirnya ditutup dengan kopi pahit. Konflik keluarga ini berlanjut besoknya, satu per satu rahasia kelam masa lalu antar personal terkuak. Silsilah keluarga yang awalnya selurus kain dadung kini bagai benang kusut tersiram air.

Sampai akhirnya kita disuguhkan percakapan tiga orang di meja makan, takut spoiler saya ga menyebutkannya. Siapa saja mereka tonton sendiri biar lebih nikmat. Scene ini layak diabadikan sebagai salah satu adegan drama terbaik 2013. Seperti dinner yang sebelumnya kacau, makan pagi kali ini berlangsung meriah. Saling bentak, saling lempar piring (ga ke orang sih, ke lantai kenceng-kencengan) dan sampai akhirnya ada yang walk-out. Adegan yang dibuat sungguh luar biasa. Detik-detik inilah yang membuatku kembali yakin, Meryl akan kembali menang oscar. Lalu penampilan Benedict yang kaku, seperti misscast untuk seorang yang dipanggil si anak manis. Julia Roberts berhasil mengimbangi Meryl, teriakan kepadanya: Eat the fish, Bit*h! bisa jadi quote yang dikenang. Akankah dia akan menang oscar? Persaingan ketat dengan si montok Jennifer Lawrence yang bermain dalam film American Hustle, sang pole position. Secara keseluruhan saya puas lihat A:OC, walau ceritanya hanya berpusat dalam sebuah rumah, namun penampilan para bintang membuat film ini menjadi berkilau.

I’m so glad one of my girls stayed close to home. In my day, family stuck together.”

August: Osage County

Director: John Wells – Screenplay: Tracy Letts – Cast: Meryl Streep, Julia Roberts, Chris Cooper, Ewan McGregor, Abigail Breslin, Benedict Cumberbath, Margo Martindale – Skor: 4/5

Karawang, 260214

(review) 12 Years A Slave: First You Word, Sir!

Gambar

Seorang sutradara kulit hitam membuat film yang mengekplorasi perbudakan, menunjuk seorang aktor langganannya untuk sebuah peran antagonis. Menghasilkan sebuah film drama yang menyayat hati, tentang sebuah era di mana warna kulit masih menjadi sebuah kendala utama. Berdasarkan kisah nyata yang tertuang dalam buku berjudul sama yang ditulis olehnya sendiri tahun 1853. Memoar tersebut lalu disunting dan terbitkan lagi tahun 1968 oleh Sue Eakin dan Joseph Logsdon.

Kisah ini bermula saat Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) terjebak dalam penculikan. Solomon adalah seorang negro, pemain biola yang tinggal bersama istri dan anaknya di New York. Suatu saat dia ditawari untuk bermain biola selama dua minggu di Washington oleh dua orang pria, Brown (Scoot McNayr) dan Hamilton (Taran Killam). Merasa tersanjung dan tertarik dengan bayaran yang ditawarkan, dia menyetujuinya. Saat malam mereka pesta miras Solomon dicekoki hingga tak sadarkan diri dan saat pagi menjelang dia sudah dalam keadaan terantai. Merasa sebagai orang merdeka, dia berontak, namun percuma. Solomon dijual di tempat pembudakan di New Orlean dan diberi nama baru Platt–seorang budak pelarian dari Georgia.

Dari situ dia terjual bersama orang-orang kulit hitam lainnnya kepada William Ford (Benedict Cumberbath). Seorang pemilik perkebunan. Solomon disarankan untuk merahasiakan identitas aslinya oleh sesama budak agar selamat. Solomon bertugas mengangkut kayu di perairan. William digambarkan sebagai master yang baik hati, dalam sebuah scene Solomon dihadiahi sebuah biola. Namun di sana dia dibenci sama tukang kayu John Tibeats (Paul Dano) hingga terjadi perselisihan. Solomon berpindah pemilik guna menyelamatkan hidup yang kebetulan dia lagi berhutang sehingga terpaksa menjual ke seorang juragan kapas, Edwin Epps (diperankan secara brutal oleh Michael Fassbender). Di sini dia bertugas untuk memetik kapas. Di tempat inilah neraka berada, disiksa dan dilecehkan secara keji. Edwin beranggapan bahwa menyiksa budak diperbolehkan Alkitab. Banyak scene yang membuatku tak kuat melihat layar, seram sekali. Bahkan ada adegan Patsey (Lupita Nyong’o), seorang budak perempuan diperkosa oleh Epps. Pandangan Parsey kosong, seperti mayat hidup. Di sebuah titik terendah yang membuatnya menyerah akan hidup, dia minta Solomon untuk membunuhnya. Tentu saja dia tak mau, sekeras apapun cobaan hidup kita harus terus berjuang.

Tak terasa perbudakan yang menerpanya sudah selama 12 tahun sejak diculik tahun 1841. Lalu muncullah seorang malaikat penyelamat, adalah seorang pekerja asal Kanada bernama Bass (Brad Pitt, terserah Pitt mau jadi apa, lha dia kan salah satu produser-nya) dia yang sedang membangun pavilium di rumah Epps merasa ada yang berbeda dalam diri Solomon. Berkesempatan untuk berbincang, akhirnya dia mempercayainya sehingga dia membuka rahasia bahwa dia sebenarnya adalah orang merdeka. Solomon meminta tolong kepadanya untuk mengirim surat ke Saratoga Springs, Bass setuju. Akhirnya pada suatu siang yang terik datangkanlah seorang sheriff untuk mengecek kebenaran. Dia menanyakan beberapa data kehidupan dirinya di New York. Dari situ akhirnya dia dijemput pulang.

Adegan kepulangan Solomon Northup inilah yang paling memorable. Turun dari kereta kuda, dia masuk ke rumah yang sudah bertahun-tahun ditinggalkannya. Bertemu istrinya, memeluk anak-anaknya. Berkenalan dengan memantuanya, dan air mata haru semakin berjatuhan saat dia akhirnya menimang cucu. Penampilan natural yang sangat meyakinkan dari seorang aktor amatir Chiwetel Ejiofor, yang membuatnya mendapat nominasi oscar.

12 Years A Slave

Director: Steve McQueen – Screenplay: John Ridley – Cast: Chiwetel Ejiofor, Brad Pitt, Michael K William, Michael Fassbender, Benedict Cumberbath, Paul Dano, Lupita Nyong’o – Skor: 3.5/5

Karawang, 250214

(review) The Wolf of Wall Street: A Rich One

Gambar

Film Oscar – nominasi best picture kedua tahun ini yang saya tonton. Berdasarkan buku yang ditulis oleh dirinya sendiri. Tentang Jordan Belfort (Leo DiCaprio) seorang pialang saham di Wall Street yang sukses besar secara finansial, namun akhirnya harus berurusan dengan pihak berwajib karena terlibat pencucian uang.

Ini adalah film kelima duet antara DiCaprio dan Martin Scorsese, empat film sebelumnya adalah Shutter Island, The Departed, Gangs of New York dan The Aviator. Kolaborasi mereka selalu menghasilkan karya yang luar biasa. Puncak dari duet maut ini adalah Oscar untuk tahun 2006 dalam The Departed.

The Wolf durasinya lama, dua setengah jam lebih. Banyak ‘penampakan’ jadi saran saya kalau mau nonton ini film jangan sama orang tua, kalau ga mau dijewer. Apalagi nonton sama anak kecil, lebih berbahaya lagi. Jelas ini film kategori dewasa, yang saya sendiri heran Leo berani tampil gila. Yah, walau ga heran-heran amat sih sebab aktor besar dari sono emang selalu tampil total seperti Michael Fassbender di film Shame, Angelina Jolie di Original Sin atau Ryan Gosling di film Blue Valentine.

Kisah ini tentang seorang pemuda yang nikah muda, Jordan Belfort yang memulai karir di Wall Street. Salah satu adegan memorable adalah saat Jordan dinasehati oleh Mark Hanna (Matthew McMonaughey) di situ dia bilang: “OK, first rule of Wall Street – Nobody – and I don’t care if you’re Warren Buffet or Jimmy Buffet – nobody knows if a stock is going up, down or f-ing sideways, least of all stockbrokers. But we have to pretend we know. “

Saat Jordan sedang semangat-semangatnya, tempatnya bekerja bangkrut sehingga dia pun membuka jalan sendiri dengan bekeja di Perusahaan saham yang lebih kecil, Stratton Oakmont. Pelan tapi pasti, Perusahaannya menjelma jadi raksasa. Dalam sebuah kesempatan, Jordan bertemu dengan Donnie Azoff (Jonah Hill) dan langsung tertarik untuk bergabung. Saat itu juga Donnie keluar dari kerja dan memulai petualangan di Wall Street. Jordan akhirnya cerai karena dia kepergok selingkuh dengan Naomi Lapaglia (Margot Robbie). Di sinilah kegilaan dimulai.

FBI curiga ada tindakan ilegal di sana, sehingga dilakukan investivigasi. Agen Patrick Denham (Kyle Chandler) memimpin penyelidikan. Berbagai cara ditempuh untuk mengamankan duit berlimpahnya, termasuk dengan membuka rekening ke Swiss. Dan menitipkan sebagian uangnya ke saudaranya Leah Belfort (Christine Ebersole). Malang, Leah meninggal dunia. Jordan dipaksa ke Swiss untuk mengurusnya. Ini hanya sebagian kecil cara Jordan sembunyi, akan banyak adegan gila lihat uang berlimpah di layar. Lalu bagaimanakah kisah kucing-kucingan ini berakhir?

Kegilaan akan pesta pora Jordan terkenal kala itu, yang akhirnya membuat Wall Street mengundang banyak para lulusan universitas terkemuka untuk menjadi karyawannya. Judul ‘The Wolf of Wall Street’ sendiri diambil dari sebuah artikel majalah Forbes yang menyebut sebagai “twisted Robin Hood”. Di mana dia merampok dengan cara halus dengan membujuk untuk menginvestasikan uangnya di Stratton lalu memutarnya demi keuntungan golongan. Jordan yang kecanduan narkoba dan seks adalah seorang motivator ulung. Di kantor dia sering membakar semangat anak buahnya untuk kerja keras agar kehidupannya bisa mapan. Saat akhirnya dia akan menyerah pada penyidik, Jordan malah berteriak: “This right here is the land of opportunity. This is America. This is my home! The show goes on!”

The Wolf setidaknya lebih riuh dan meriah ketimbang Her yang saya tonton sebelumnya. Lebih bagus dalam menampilkan cerita dan bak seorang Mario Teguh, kata-katanya super. Yang saya sayangkan adalah banyaknya adegan vulgar tanpa sensor (saya nonton di dvd). Untuk sebuah film Oscar, The Wolf terlalu terbuka dalam banyak hal. Blak-blakan, hal itu justru malah mengurangi kenikmatan yang diharap. Atau mungkin karena ekspektasiku yang terlalu tinggi? Apalagi saya menontonnya sama si May. Duh! Tontonan yang mengejutkan di saat santai. Menurutku justru si Matthew yang tampil gila, saat di awal cerita walau muncul hanya sekitar lima menit tapi nasehatnya kepada Jordan sungguh membekas. Lihatlah di ending, adegan “hhhmmm…,” sambil tepuk dada itu, saya ketawa sekaligus miris. Lalu penampilan kocak Jonah Hill, yang lugu sekaligus ganas. Mungkin salah satu penampilan terbaiknya, side-kick yang sempurna. Ada juga Jon Favreau yang juga muncul sebentar. Sutradara sekaligus aktor kesukaanku. Dan yang paling gila penampilan Margot Robbie yang berani telanjang di banyak scene untuk mengimbangi kegilaan Leo. Dan tetap saja leading actor nya adalah Leo. Akankah berbuah Oscar untuk sang mega bintang? Kuharap dia pecah telur!

The Wolf of Wall Street

Director: Martin Scorsese – Screenplay: Terence Winter – Cast: Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Margot Robbie, Matthew McMonaughey – Skor: 3/5

Karawang, 210214

Autocorrect

Gambar

Autocorrect yang ada di Ms Word 2007 ini sebenarnya malah membuat ketikan kita sering salah. Harusnya kita off-kan saja ketimbang tiap kata yang kita tulis jadi kacau.

Computer, music, gossip, focus, dating, ad adi adalah beberapa contoh ketikan kata yang secara otomatis malah diperbaiki oleh mereka. Padahal bukan membenarkan tapi menjerumuskan ke dalam kesalahan. Sehingga bukannya autocorrect tapi untuk beberapa kata malah autofault. Kecanggihan komputer seperti dalam film Her yang mana komputer sudah bisa menterjemahkan ucapan menjadi sebuah ketikan rapi rasanya masih jauh dari era sekarang. Nanti juru ketik pada menganggur. Namun saya yakin hal itu bisa direalisasikan suatu saat nanti. Yang saya yakini itu bukan lima atau sepuluh tahun ke depan. Beberapa waktu yang lalu saya pernah baca ada seorang warga Indonesia yang menemukan alat bisa menterjemahkan ucapan ke bentuk tulisan, tapi itu jauh dari bayangan yang saya maksud, di mana ketika saya bilang ‘Ini ibu Budi’, maka di lembar Ms Word tertera persis seperti yang saya minta. Era itu masih jauh.

Laptop di rumah autocorrect-nya saya matikan. Caranya Office button > word option > proofing > autocorrect option, lalu uncheck semua. sementara komputer di kantor tetap seperti apa adanya. Itulah fungsinya check ulang sebelum dilepas. Ketikan saya juga belum bisa menggunakan sebelas jari, masih glotal-gratul dengan ujung jari di atas huruf sekenanya. Pernah coba dengan latihan menggunakan game Typing Shark, tapi ga lama nyerah. Pernah juga coba menggunakan panduan manual dari sebuah aplikasi yang ku install tapi tak kulanjutkan. Bagiku masih enakan yang sekarang, yang terpenting konsisten tiap hari mengetik saja pasti sedikit banyak akan ada bedanya.

Pekerjaan editor mungkin menjadi sebuah profesi yang menantang dan rasanya mengasyikkan karena menjalankan hobi dengan dibayar itu adalah sebuah kesuksesan tak ternilai. Layaknya seorang yang hobi bermusik, jadi musisi adalah puncak kenikmatan hidup. Begitu pula yang hobi main  bola, menjadi pesepakbola tentunya menyenangkan. Seneng-seneng dibayar. Sayangnya sejauh saya melihat ke belakang, pekerjaan yang saya geluti tak ada satu pun yang mempresentasikan hobi. Masih jauh dari harapan. Kebanyakan masuk-keluar PT.

Jadi sampai sekarang, mengetik selain dalam rutinitas kerja hanya mengisi waktu sela di rumah guna mengejar kesenangan. Masih dalam masa mencoba menjadwal ulang nasehat penulis hebat Stephen Edwin King: “Jika ingin menjadi penulis, maka tulis tulis tulis, tak ada nasehat selain itu. Membaca dan menulis empat sampai enam jam sehari, Jika tidak dapat menemukan waktu untuk itu, jangan berharap untuk menjadi penulis yang baik”.

Ia menetapkan setiap harinya dengan kuota 2000 kata dan tidak akan berhenti menulis sampai terpenuhi. King mendefinisikan bakat dalam berkarya tulis “Jika menulis sesuatu karena seseorang mengirimkan cek, jika kamu menguangkan cek tersebut dan  kemudian kamu bayar tagihan lampu dengan uang itu, maka saya anggap anda berbakat (menulis)”

Yup, autocorrect! Sudahkah Anda mencobanya? Kalau bukan sekarang kapan lagi?!

Karawang, 200214

(review) Captain Phillips: You’re Not Just A Fisherman!

Gambar

Muse: “Relax, captain. Relax. We (are) not Al Qaeda here. Just Business.

Akhirnya ada juga film Oscar tahun ini yang membuatku terkesima. Setelah dibuat jenuh dengan Her, menggila dengan The Wolf of Wallstreet, melayang tak tentu arah dalam Gravity dan miris oleh 12 Years ASslave, muncul juga kepuasan sampai viewgasme pasca menonton Captain Phillips. Tom Hanks layak dapat Oscar!

Berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada 6 – 10 Juli 2009 dari buku Richard Phillips: A Captain’s Duty: Somali Pirates, Navy SEALs, and Dangerous Days at Sea, tentang sebuah pembajakan kapal kargo M.V Maersk Alabama oleh perompak Somalia. Film disusun dengan sangat rapi dan detail, khas Greengrass orang dibalik sekuel Bourne. Dimulai dengan persiapan pemberangkatan kapal di sebuah pelabuhan, menampakan sekilas kehidupan bahagia keluarga sang kapten. Keberangkatannya yang berpisah sama istrinya Andrea Phillips (Catherine Keener). Lalu saat jangkar diangkat, dimulailah perjalanan drama ini. Saat sesi pengenalan karakter di waktu yang bersamaan kita akan disuguhkan sekilas persiapan para perompak. Saat sudah di tengah lautan di perairan Djubouti, Somalia kita disuguhkan dengan sebuah kapal kargo besar sarat barang dengan dua speedboat kecil yang berisi para antagonis. Sang kapten menyadarinya, maka dia menginstruksikan para awaknya untuk mengikuti procedure penyelamatan. Bersama awak kapal Shane (Michael Chernus) dan kepala ruang mesin Mike Perry (David Warshofsky) mereka berusaha menghindar. Sempat mengecoh sang penjahat, yang membuat ciut nyali. Kapal boat bajak laut mundur salah satu dan jagoan kita sementara menjauh aman. Namun saat pergantian malam dan keyakinan bahwa kapten kapal hanya menggertak, empat perompak yang terdiri dari Bilal (Barkhad Abdirahman), Muse (Barkad Abdi), Elmi (Mahat M Ali) dan Najee (Faysal Ahmed) kembali berusaha mengejarnya. Hasilnya sebuah epic drama yang luar biasa menegangkan.

Akhirnya para perompak berhasil memasuki kapal kargo dan mendudukinya. Kapten dan kru mencoba melawan dan bertahan hidup ditengah kepanikan. Saat sepertinya mereka berhasil menguasai kapal, sebuah pemberontakan kecil terjadi yang membuat pimpinan mereka, Muse ditawan. Sempat menawarkan uang damai dan melepas kapal sebagai solusi akhir, para perompak menolak dan saat Muse dilepas, mereka balik menyandera kapten Phillips dengan melepas sekoci memisahkan diri dari kapal kargo. Lalu infomasi ini sampai ke Pemerintah Amerika yang segera mengirim pasukan pembebasan. Sekoci yang berlayar menuju Somalia dihadang oleh pasukan Angkatan Laut Amerika lengkap. Faktanya penyelamatan yang dilakukan AL Amerika ini diperintahkan langsung oleh presiden Obama yang terdiri dari tiga kapal penghancur: US Boxer, US Brainbridge, dan US Halyburton. Bagai David lawan Goliath, adu nyali, kucing-kuicngan dan tawar-menawar terjadi sampai akhirnya sebuah tindakan nekat sang kapten dengan melompat ke laut untuk melarikan diri nyaris mengakhirnya. Bagaimana akhir drama penyanderaan ini? Silakan tonton dan nikmatinya sensasi tensi tinggi yang tersaji. Mungkin ending-nya sudah bisa ditebak tapi suguhan drama di atas laut ini sungguh menakjubkan.

Kita sepertinya berharap segera bebas, namun di satu sisi semakin menit durasi menipis kita semakin dibuat deg-degan. Ada sebersit simpati terhadap perompak namun tak semua. Sebuah letusan akhirnya menandai klimak cerita. Seperti inilah seharusnya film Oscar dibuat. Tegang sampai akhir. Penampilan Barkhad Abdi sebagai Muse juga keren. Memang layak masuk nominasi aktor pendukung terbaik. Sebagai informasi tambahan, dalam kapal kargo tersebut terdiri dari 20 kru berbagai Negara termasuk orang Indonesia.

Kelar menonton ini film saya sungguh terkejut, karena justru tak ada nama Tom Hanks di nominasi best actor. Ini adalah penampilan terbaik sepanjang karirnya. Setelah bermain apik sebagai Walt Disney, dia langsung mengemudikan kapal ini. Aktingnya luar biasa. Mimik tegas sebagai pemimpin, kalut saat kapalnya sudah dimasuki perompak, ketakutan saat hopeless semuanya ditampilkan dengan keren. Saking mengamati layar dengan tensi tingginya saya lupa sama camilan, dan setrikaan yang saya pegang. Campur aduk. Well, inilah film terbaik keluaran tahun 2013.

Dan dengan sudahnya checklist film Captain Phillips ini maka sudah lima film nominasi best picture Oscar yang kulahap. (sementara) Saya menjagokannya! Next: American Hustle, Dallas Buyers Club, Nebraska, Philonema.

Captain Phillips

Director: Paul Greengrass — Screenplay: Billy Ray — Cast: Tom Hanks, Catherine Keener, Barkhad Abdi – Skor: 5/5

(review) Robocop: This is the future of American justice!

Gambar

Bagi yang menghabiskan masa kecil sampai remaja di tahun 90an, Robocop adalah pahlawan yang layak dikenang. Selain, tentunya Son Goku, Kura-Kura Ninja, Power Ranger, Ksatria Baja Hitam sampai Wiro Sableng. Robocop adalah idola di zaman paling memorable akhir 80an sampai pertengahan 90an, kemunculannya di tv atau di media cetak menjadi sebuah hiburan wajib. Kala itu kita tak semudah sekarang mendapatkan informasi dan hiburan digital tak sebanyak opsi Saya sumringah saat ada komik strip sehalaman bergambar Alex Murphy di majalah Bobo. Sebagian saya gunting dan tempel di dinding. Sebuah kegilaan masa kecil begitu bahagia.

Jadi saat mendengar Robocop akan di-reboot tahun 2014 saya sangat antusias. Seperti saat TMNT rilis tahun 2007, Dragon Ball Evolution tahun 2009, Saya menontonnya di bioskop dengan hati berdebar, takut dirusak. Teaser poster-nya membuatku mengernyitkan dahi, warnanya hitam bukan perak. Penutup wajahnya ada segaris merah menyala. Trailer-nya bagus dengan adegan ikonis tangan Robocop yang ada di samping paha, lalu muncul pistol, ‘jreeet!’. Penantian panjang itu saya tuntaskan pada hari Minggu, 16 Februari 2014 lalu saat ke Mal Lippo Cikarang. Nonton dengan teman STM yang artinya satu generasi, sama-sama menggilai robot ini. Saat layar dibuka lampu biskop dimatikan, muncullah logo Metro-Goldwyn-Mayer (MGM) dengan backsound singa. Eh bukan, ternyata suara Samuel L Jackson yang kocak meniru suara…, apa ya? Hhhmmm…, seisi bioskop tergelak, sinting!

Film dibuka dengan penjelasan seorang presenter kocak Pat Novak bahwa Amerika membutuhkan robot untuk menyelesaikan masalah, salah satunya masalah terorisme. Kecepatan dan ketangkasan robot tak bisa disamai oleh manusia. Namun manusia masih punya nurani, masih punya hati sehingga dalam misi selalu berfikir dua kali. Adalah Dr Dennett Norton (diperankan dengan keren oleh Gary Oldman) yang mendapat tugas untuk menyatukan manusia dengan robot. Dengan didanai organisasi milik Raymond Sellars (Michael Keaton) mereka memilah tubuh siapakah yang akan dijadikan pioneer.

Saat memilah dan memilih itulah secara bersamaan, seorang detektif bernama Alex Murphy mengalami serangan teror. Saat bersama rekannya Jack Lewis (Michael K. Williams) mengurai kejahatan senjata illegal, Jack kena tembak dan tak sadarkan diri. Sang antagonis Antoine Vallon (Patrick Garrow) merasa perlu menyingkirkan Alex yang sudah tahu jati dirinya. Dengan memasang bom di mobilnya. Naas bagi Alex, dalam sebuah adegan romantis tiba-tiba alarm mobilnya berbunyi. Merasa keheranan karena ada kejanggalan, Alex mencoba mematikan alarm. Saat tangan kirinya menyentuh pintu mobil, Boom! Lalu secara cepat keputusan harus diambil, dengan kondisi separuh tubuh cacat, untuk menjaga agar Alex tetap hidup mereka menawarkan opsi untuk menjadikan Alex percobaan manusia-robot.

Saat melihat dalam kaca tubuh Alex, tiga bulan kemudian, saya ngilu. Serem sekali, saya ga berani menatap layar beberapa saat. Saat akhirnya baju robot dipasang semuanya saya sempat berujar. ‘Lho kok tetap seperti versi original dengan warna perak?’ Ga seperti di poster yang berwarna hitam. Namun ternyata itu tak lama, karena segera berubah setelah teriakan: “Make him more tactical. Let’s go with black.”

Saat publik menanti pengenalan sang manusia robot, Robocop gagal saat uploading data kejahatan. Otaknya error dan jati diri Alex sedikit terenggut. Namun ternyata dari situlah akhirnya dia berubah jadi Robocop yang kita kenal. Jiwanya sudah tak sepenuhnya ada dikendali Alex, namun sudah secanggih komputer, sehingga saat menatap kerumunan semua orang terdeteksi: Threat or No Threat. Kemudian dendamnya muncul untuk memburu Vallon. Ketika semuanya sepertinya berjalan lancar, ada penghianat dari dalam. Siapakah dia? Tonton segera di bioskop kesayangan Anda!

Saat kita disuguhi drama yang memikat dengan tensi yang terjaga sampai menjelang klimak, harusnya Alex meledak dan menghancurkan layar. Namun sayang, Jose Padilha tak melakukannya. Ending-nya anti klimak. Susunan bagus dari awal serasa berantakan saat suara baling-baling helikopter mendekat. Seperti ada yang hilang ketika credit title muncul.

Secara keseluruhan saya suka. Dramanya bagus, dan saya memang suka film drama. Aksinya memang minim tapi tetap nikmat disaksikan. Ikon pistol di paha, motor gedenya, penutup wajah, sampai deteksi pengelihatan muncul. Dan itu sudah cukup membuatku sumringah. Kura-kura Ninja gagal, villainnya kurang gahar. Dragon Ball Evolution lebih buruk lagi. Berantakan, sungguh buruk, plot hole di mana-mana. Robocop yang ini lumayan, setidaknya Jose tak merusak idola kita. Jadi bagi yang pengen nostalgia masa kecil, film ini bisa jadi salah satu obat mujarap. Mumpung masih hangat dan seru-serunya.

Robocop

Director: Jose Padilha – Screenplay: Joshua Zetumer – Cast: Joel Kinnaman, Gary Oldman, Michael Keaton, Samuel L Jackson, Abby Cornish – Skor: 3/5

Karawang, 190214

Westlife

Gambar

Tiba-tiba pengen bikin tulisan tentang Westlife, gara-gara hari Minggu tanggal 16 Feb kemarin di NET tv jam 21:00 ada konsernya ‘What About Us’. Jadwal acara tv harusnya diisi sama konser live Iwan Fals dari Cimahi, namun tertunda beberapa saat sehingga sekitar 30 menit muncul konser boyband ini. Saya ga akan membahas detail lagu-lagu mereka, saya hanya akan berbagi masa-masa saya menyukai lagu-lagunya. Westlife terkenal juga dengan kegemarannya mendaur-ulang lagu jadul, dari ‘I Have A Dream’, ‘My Girl’, ‘Uptown Girl’, ‘Be With You’ sampai satu album utuh berisi lagu Frank Sinatra dalam ‘Allow Us To Be Frank’.

Harus saya akui dulu saya suka sama lagu-lagu boyband yang satu ini. Dulu saat awal kemunculannya di akhir 90an. Awalnya saya dengar ini boyband di radio PTPN FM. Lalu single ‘Swear It again’ melejit. Dunia, khususnya Eropa dan Asia digunjang demam Westlife.

Mengikuti jejak Boyzone yang sama-sama dari Irlandia, Westlife juga didominasi seorang lead vocal. Kalau di Boyzone ada Ronan Keating maka Westlife punya Shane Filan. Nyaris semua lagu dia yang memimpin. Tak heran Shane pun akhirnya bersolo karir pasca bubar tanggal 23 Juni 2012. Eh sebelum bubar, Brian sudah terlebih dahulu cabut tahun 2004 untuk fokus ke keluarga dan nyanyi sendiri, namun gagal di pasaran. Sehingga dari tahun 2004 sampai 2012 Westlife hanya berempat.

Album ‘Westlife Duluxe’ saya sampai rusak karena keseringan diputar. Tahun 90an adalah puncak era pita kaset dimana saat itu mp3 baru mulai merambah masyarakat. 6 single dari album perdana mereka sukses mewarnai masa remaja saya. Lalu muncul labum kedua ‘Coast to Coast’ dengan lagu andalan pertama ‘My Love’ tahun 2000. Sama suksesnya dengan album perdana. Dua tahun berselang album ‘World Of Our Own’ muncul memperkenalkan single ‘Queen Of My Heart’ yang lebih mellow. Sukses lagi. Kemudian mereka terlena dengan sejuknya puncak popularitas. Saat kita di puncak kejadian selanjutnya jelas adalah penurunan, puncak adalah titik tertinggi sebuah pencapaian. Nah, Westlife mulai menuruninya dengan merilis album Best Of dalam ‘Unbreakable’. Setelah itu mereka tetap rutin meliris satu album dalam setahun. Berturut-turut album ‘Turn Around’, ‘Allow Us To Be Frank,’ ‘Face To Face’, ‘The Love Album’, ‘Back Home’ dilepas ke pasaran. Oiya sempat juga mereka berduet dengan idola lamaku: Sherina Munaf lewat lagu ‘I Have A Dream’. Sebuah kejutan, waktu itu di sekolah sang ketua kelas memberitahuku mereka duet, sempat kukira hanya april fool, namun ternyata bukan hoax. Saya langsung berburu kasetnya. Berisi satu lagu di kedua side-nya, hanya didaur-ulang. Dengan harga Rp 15 ribu kita dapat sebuah pin-up poster yang ku laminating dan ditempel di kamar. Mengingat itu, lucu ya.

Saya memiliki album Westlife dari ‘Westlife Duluxe’, ‘Coast to Coast’, ‘World of our own’, ‘Best of’, ‘Turn Around’, ‘Allow us to be Frank’, ‘Face To Face’ dan terakhir ‘The Love Album’ setelah itu jejak Westlife menghilang dari peredaran, baik kemunculannya di tv atau keseharianku.

Saya ga mau munafik dengan bilang: saya benci Westlife, seperti yang dilakukan oleh banyak generasi saya yang sudah dewasa. Banyak teman-teman saya mengatakan ‘khilaf’ pernah menyukai Westlife di masa remaja, terutama pria. Mereka berdalih itu masa labil saat masih sekolah sehingga masih mencari jati diri. Menyukainya semacam dosa yang membuatnya malu, sehingga masa khilaf itu tak mau diingat, dikenang atau malah bahkan tak mau mengakuinya. Well, saya tak mau seperti itu. Memang ada benarnya juga, masa remaja saya diwarnai euforia Westlife, tapi tetap saya tak akan melepasnya dengan muak. Makanya saat ini banyak yang menghina boyband macam One Direction, Smash dan sejenisnya. Kita harus maklum, saya harus maklum. Saya mungkin salah satu yang anti-boyband saat ini, ya karena sekarang sudah lewat masanya. Sesekali saya juga sebal melihatnya, langsung saya ganti channel kalau ada mereka. Masa memang sudah berubah. Lagu yang diputar dalam kehidupna juga harus menyesuaikan.

Westlife memang sudah bubar dan tinggal kenangan. Namun lagu-lagunya tetap patut dikenang. Seperti N’Sync, Boyzone, dan (mungkin) segera menyusul Backsteet Boys yang sudah pernah mewarnai masa peralihan saya. Maka suka-ga-suka bagiku Westlife tetaplah #legenda.

Westlife (1998-2012): Shane – Brian – Kian – Nicky – Mark

Karawang, 180214