(review) Her: Now We Know How

Gambar

Samantha: I feel like I can be anything with you

Pertama kali lihat sampul dvd-nya saya kaget, ini film dengan pede memasang banyak tanda winner dari berbagai penghargaan film festival, kanan kiri atas penuh. Sebelum nominasi Oscar diumumkan saya sudah menonton ini film jadi harapan saya tetap tak muluk. Perlu dicatat, mood menonton sangat berpengaruh atas kepuasan akhir. Mood saya lagi bagus-bagusnya, ditonton di malam Minggu dengan pasangan ditemani kanan camilan kiri teh hangat di kala hujan. Jadi mood menonton saya optimal, demi medapat bukti tanda winner tersebut.

Her bercerita tentang masa depan di mana teknologi begitu canggih sehingga komputer sudah bisa berinteraksi dengan manusia. Bayangkan saja, kita bisa ngobrol dengan komputer, bisa nyusuh beresin file, nyuruh ngetik apa yang kita bilang pun bisa. Hebat! Saking hebatnya zaman itu seorang pria kesepian terlihat gila karena terjebak teknologi. Adalah Theodore Twombly (Joaquin Phoenix), yang pernikahannya di ambang perceraian. Dia galau dalam kesendirian, seperti tanpa gairah menjalankan rutinitasnya. Setelah membeli Operating System (OS) bernama Samantha (disuarakan oleh Scarlett Johansson) hidupnya berubah. Dengan Samantha dia banyak cerita, curhat tentang masalah yang menghinggapinya. Semakin hari, Twon merasa jatuh hati. Mengajakanya jalan-jalan, berbagi banyak keceriaan. Dalam sebuah adegan, Twonbahkan berfantasi bercinta dengan Samantha.

Berhasilkah Twon mengatasi kesendiriannya? Apakah dia akhirnya bercerai? Bagaimana nasib hubungan aneh ini selanjutnya? Semua tersaji dalam film karya Spike Jonze, dengan embel-embel ‘a Spike Jonze love story’, Her akan menghantar Anda dalam kisah cinta yang tak biasa. Spike Jonze adalah orang dibalik kamera film  Being John Malkovich (BJM), Adaptation dan Where The Wild Things Are (WTWTA). Film keren di mana manusia bisa memasuki otak orang lain dan menjadi orang tersebut selama beberapa menit. Lalu ‘Adaptation’ tentang usaha seseorang mengadaptasi buku best seller Pencuri bunga Anggrek dan akhirnya malah terlibat dalam kasus dengan penulisnya. Sedang WTWTA adalah adaptasi dari karya klasik Maurice Sendak tentang anak yang berada di dunia fantasi dan bermain bersama hewan-hewan buas. Jadi bisa dipagari film Her jelas akan bermain dalam ketidakwarasan dan perlu mikir untuk menikmatinya.

Sayangnya untuk yang ini saya kurang suka. Saya memasukkan BJM dalam film berpengaruh sepanjang masa, saya terpesona dengan WTWTA dan lebih terpukau dengan Adaptation, namun untuk Her maaf saja filmnya terlalu sunyi, ceritanya mudah ditebak dan untuk sebuah nominasi film terbaik Oscar, Her terlalu lembek. Ketika saya posting kekecewaan ini film di Facebook, ada yang komplain. Saya terima kok masukan kalian, prinsip saya kalau saya menonton film ga puas ya saya akan bilang jelek sekalipun itu film Oscar. Saya tak peduli, Her tak memberikan klimak yang berarti. Saya bahkan mengantuk, dan berkali-kali ditepuk istri untuk tetap fokus. Saya paksakan sampai menit terakhir dan hasilnya adalah sebuah kekecewaan. Dan daripada berdebat panjang kenapa saya ga suka, saya lebih baik membuat review yang dibagikan ke Facebook. Sekali lagi, Her terlalu lembek…

Catatan: Jelas ini bukan film jagoanku di Oscar tahun ini. Akan tetapi sebuah entah ini hanya sebuah kebetulan atau tidak, pengalaman dalam dua tahun terakhir film nominasi Oscar pertama yang saya tonton bersama istri selalu menang Best Picture. Dua tahun lalu The Artist, istri saya komen: ‘Ah ga mungkin menang ini kan film hitam putih. Ceritanya masih kurang’. Lalu Argo setahun berselang, istriku komen: ‘Terlalu mudah diprediksi, ga akan menang’. Istriku memang tak fanatik film, dia hanya ikut saja saya ajak nonton. Sayangnya komennya tak berbanding lurus dengan juri Oscar. Kasus Her yang saya takuti adalah pasca menontonnya dia komen: ‘Film apaan ini, film bikin ngantuk gini jangan sampai menang Oscar’. Waduh! Alarm bahaya telah meraung…

Her

Director: Spike Jonze — Cast: Joaquin Phoenix, Amy Adams, Scarlett Johansson, Rooney Mara, Olivia Wilde — Screenplay: Spike Jonze — Skor: 2.5/5

Karawang, 230114

Advertisements

31 thoughts on “(review) Her: Now We Know How

  1. kita lihat saja hasilnya nanti… 😀

    kayanya saya pernah nonton film yang setema dengan di atas…. judulnya SIMEONE. film tentang pembuatan film yang aktor lawannya adalah komputer

  2. Menurut saya film yang terlalu overrated adalah “Avatar”, biasa aja menurut saya, udah gitu makhluk2nya bentuknya aneh. Maksa banget rasanya kisah cinta manusia dengan makhluk aneh ky gitu. Wkwkwkk…

  3. mungkin kemenangan Oscar ini memang kebetulan untuk film yang berhubungan dengan teknologi komputer gitu gak ya Mas?

    saya sendiri, lebih suka nonton film drama komedi atau base on true story
    jadi, selesai nonton, masih ada yang bisa ” dibawa”

    Salam

  4. Hahahaha… komen istrinya menandakan sesuatu, ya…. :))
    Saya juga kurang suka mas nonton film yg “lembek” dan ceritanya mudah ditebak, hehe….

  5. ngeliat kover nya kayak klasik-klasik film gimana gitu,saya palingnggak suka sama yang klasik klasik. tapi tak apa di coba saja.
    thanks bung. banyakin review movie baru nya ya! 😀 Old but Gold it;s oke.

  6. It’s the best time to make some plans for the longer term and it is time to be
    happy. I have read this submit and if I may I wish to recommend
    you few interesting things or advice. Maybe you could write next articles referring to this article.

    I wish to learn more issues approximately it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s