Berkebun

Image

(foto diambil seminggu yang lalu saat balik dari kampung, bunganya masih lemas)

Di halaman rumah saya yang sempit saya mencoba berkebun. Tahu sendirikan perumahan selalu menghadirkan halaman yang minimalis, ukuran rumah kredit ini kata pengembangnya 36 x 72 jujur saja saya ga tahu artinya dan ga mau cari tahu. Rumah yang baru kami tempati setengah tahun yang lalu ini awalnya mau langsung direnovasi dengan di-pelur. Jadi ditutup semen penuh untuk dijadikan teras dan garasi. Tapi rencana meleset karena kesalahan hitung dan budget-nya membengkak sehingga dari beli sampai sekarang halaman depan masih tanah. Daripada nganggur, akhirnya ada yang inisiatif mengisinya dengan tanaman.

Yang berinisiatif menghadirkan tanaman adalah bapak, di suatu pagi hari libur yang cerah dibawanya tanaman Pucuk Merah. Saya yang bangun kesiangan, tahu-tahu lihat di depan sudah selesai ditanam aja. Seminggu kemudian bapak bawa pohon Coklat. Awalnya tetap cuek, sampai sekitar sebulan kemudian bapak mencabuti rumput sampai bersih, padahal di Perumahan tiap bulan ada tukang kebun yang keliling pakai pemotong rumput dan tiap rumah disiangi. Saya makin ga enak hati, saat bapak bawa tamanan Kaktus tiga buah. Akhirnya istriku mengusulkan kita urus halaman depan sendiri jangan mengandalkan bapak terus.

Dan saat kita jalan-jalan ke Ragunan November lalu, di luar Taman Ragunan ada abang jualan tanaman kita pun iseng beli satu tanaman Jeruk dan tiga Dewandaru. Ga tahu manfaat ini buah, kata abang-nya buat obat. Beberapa waktu disiram kok kelihatan asyik, makanya kita mau komitmen mending dihijaukan saja sekalian dan ketika main ke tempat teman ada tanaman Singkong, kita minta batang Singkong dan dengan sistem stek, tamanan Singkong baru dua minggu sudah tumbuh daunnya. Lalu pas mudik akhir tahun ndilalah, mbak-ku membawakan banyak tamanan dari Melati, Lidah Buaya, Rumput Jepang, sampai bunga-bunga tak bernama yang warna warni (bernama sih, saya aja yang ga paham nama-nama per-kebun-an). Makin asri dan hijau halaman depan. Malah kemarin kita beli Anggrek yang sudah muncul kuncup bunganya. Sekarang sudah mekar, tiap pagi teh atau kopi ampasnya disiramkan. Sejauh ini yang paling sedap dilihat ya si Anggrek ini.

Ada lagi, biji Semangka dan Melon yang kelar dikupas, iseng ditabur di pot, tumbuh. Biji Cabai sisa makan gorengan, sekalian ditabur, tumbuh. Bawang Merah yang mengendap lama di dapur, tumbuh daunnya sekalian ditaman. Buah Korma yang senasip dengan Bawang Merah, taman! Terakhir, waktu istriku mau masak dengan membeli sayur Kangkung akhirnya ikut ditaman juga. Karena sakit ga jadi diolah sehingga sudah tiga hari ga keurus, daripada dibuang makanya ikut ditaman sekalin, tumbuh.

Jadinya kini macam-macam tamanan tumbuh campur aduk. Tiap mau berangkat kerja atau pulang, pasti selalu menengok kebun mungil kami. Rasanya adem. Ada yang mau nyumbang tanaman? πŸ™‚

Karawang, 100114 – the Constant Gardener

Iklan

50 thoughts on “Berkebun

  1. Hahaha! Bisa tumbuh semua kok! Bener-bener deh tanah surga! *kayak pernah pelesiran aja ke sana?!

    Waw 36 x 72 itu seluas ladang orang tuaku yang menjadi sumber utama penghasilan mereka buat membesarkan anak-anaknya! Mantapks luasnya!

  2. Wah, rajin banget nih Mas. Salut saya.
    Tetangga-tetangga kontrakan saya seperti mulai keranjingan bertanam dalam pot. Jadi lumayan nikmat menatap deretan kontrakan dgn hiasan pot dgn berbagai tumbuhannya.

    Salam,

  3. Nyumbang tanaman..?? Boleeeh.. Mau apa nih kang..?? Hehe

    Kalau saya mah, rajiiin ke tempat jualan taneman, trs beli..beli.. trs yg nanem mah kang mas, saya tinggal tunjuk2 kalau salah langsuung ” cintakuuu …sayangkuuu.. bukan disana nanemnyaa..!!” Haha
    Soalnya tangan kangmas dingin, apa yg dia tanem, jd deeh.. kebalik sama sayaah πŸ˜€

    • apa saja diterima, asal yg kecil biar masih muat di halaman sempit kami.
      hehe…, sama tuh istriku juga semangat ke yg jualan tamanan di pinggir jalan tapi malas ngerawatnya. tangan cowok memang lebih sensitif sama tanaman. haha…

  4. Ini kisahnya sama persis kayak cerita kakak saya waktu masih tinggal di Malang. Berawal dari jengah karena Bapak yang tiap ke sana pasti sibuk tanam2 sambil bebersih kebun, akhirnya mulai nanam sendiri. Hasilnya waktu itu, kalo mau bikin lalapan tinggal metik aja. Segar dan bebas pestisida. πŸ˜€

  5. Usul, kalau bisa jangan sampai dipelur deh … Lebih bagus dibuat lahan terbuka untuk serapan air dan kesegarah udara (ramah lingkungan). Rumah saya juga kecil, tapi halaman depan dan belakang tetap saya biarkan terbuka dan tetap ada tamannya. Membangun ke atas saja ….

  6. Wah, asyik banget, Mas…. πŸ˜€

    Memang sebaiknya lahan kosong di halaman rumah sebaiknya jangan disemen, tapi dibuat kebun-kebunan. Bisa nyerap air, dan rumah jadi terlihat asri, hehe…

    Kalo saya memang tinggal di desa mas, jadi rumah saya dikelilingi kebun, tepatnya kebun salak, hehe….

  7. samaaa.lagi (baru sih tepatnya) semangat nanem2. kemarin beli kembang panca warna yg warna biru di pasar. moga tangan saya sensitif juga sama taneman. biar subur.

    eh… 2 pekan dari sekarang bakal ada kelas Indonesia Berkebun ke-14 di BSD. Lumayan tuh, belajar di kelas en praktek langsung nanem tanaman organik πŸ˜€

  8. tanam kelor deh… bukan untuk ngusir setan tapi emang khasiatnya banyak .. serius nih..
    jangka pendek –> daunnya bisa dicampurin ke sayur bening / sayur bayam —> buat badan sehat
    atau untuk keluhan2 sakit yang enteng2 sangat berkhasiat,.. apalagi daunnya ga bau ‘langu’ dan sejenisnya, jadi diseduh gitu aja… dah manjur
    jangka panjang –> nanti2 kalo dah punya ‘dedek’ lagi bisa buat nglancarin asi.

    gogling deh… tanaman ini keren.. πŸ˜€

  9. Hihihihi lucu om bud, mamaku juga seneng berkebun tapi demennya yg besar2 bahkan dulu maunya nanem duren, nangka, pohon asem, kedondong, dan mangga karena waktu dirumah orang tuanya memang banyak pohon. Tapi gak jadi karena space kecil akhirnya cuma nanem kelapa dan rambutan di halaman depan. Alhamdulillah karena sebelah kelapa, pohon rambutannya jadi tumbuh pendek, kalo berbuah gampang banget ambilnya. Pasti nanti pas masa panen kenikmatan sendiri loh om pas metikin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s