(review) Casino Jack: Topik Panas Korupsi

Image

Jack Abramoff (Kevin spacey) adalah seolah lobbist, tukang makelar di dunia politik Amerika. Film dibuka dengan cantik saat Jack maki-maki bayangannya sendiri di depan cermin sambil gosok gigi. Tentang kekecewaan perjalanan hidup ini dan kotornya dunia politik, sampai akhirnya dia ditahan sebagai seorang yang melakukan penipuan, korupsi, dan persekongkolan. Dalam sel itulah dia bertemu dengan 2 narapidana, berkenalan dengan Snake kenapa sampai dirinya ditahan. Cerita lalu flash back ke dua tahun sebelumnya.

Based on true event! Nama Jack Abramoff sempat membuat geger Amerika. Pada tahun 2006 dia dijatuhi hukuman penjara selama enam tahun. Namun tahun 2010 dia dibebaskan. Kehidupannya menuai pro dan kontra, apakah dia bersalah atau hanya korban politik. Sepak terjangnya sebagai seorang pelobi membuatnya mempunyai koneksi khusus ke dewan kongres dan gedung putih. Profesi yang menggiurkan sekaligus rawan. Jack mencapai puncak kejayaan sebagai super lobbist hingga masuk ke berbagai surat kabar. Bersama temannya Michael Scanlon mereka mengarungi kerasnya dunia makelar politik yang lebih banyak ke klub hiburan, casino dan judi. Salah satu tugas Jack adalah melobi dewan kongres untuk meloloskan izin pendirian casino. Awalnya semua berjalan lancar dan aman sampai akhirnya datang sebuah bencana.

Bencana bermula saat seseorang bernama Gus, pembisnis kapal pesiar dari Eropa yang bangkrut. Jack menghubungi para dewan untuk menjualnya. Dalam perjalanan mereka terpeleset oleh ulah rekan sendiri , Adam Kidan yang membuat Gus terbunuh oleh mafia. Terbunuhnya Gus mengundang media ‘Washington Post’ untuk mengoreknya dan akhirnya turut menyeret Jack ke pengadilan. Saat sidang pengadilan Jack akhirnya seperti tersadar untuk membongkar kebobrokan birokrat dan menyebut beberapa pejabat yang menerima suap. Akhirnya penyelidikan korupsi ini makin panjang sampai ke gedung putih. Film ditutup dengan senyum, Jack yang mengabdi sebagai pelayanan masyarakat dan mempertanyakan ini semua, ‘apanya yang salah?’

Menonton Casino Jack membuat saya terpaksa membandingkan kondisi di Negara kita yang di tahun 2013 ini penuh intrik dan menyeret para pemangku jabatan pemerintah kena korupsi. Istri saya malah sampai bilang, ini penyidik kalau di sini semacam KPK kali ya, si Jack ini mirip Fathana sedang anggota dewan yang menerima itu Luthfi Hasan dkk. Ya, bisa jadi semacam itu mereka menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Keberanian Jack dalam persidangan mirip Nazarudin yang membuat partai Demokrat ketar-ketir.

Film ini tak serumit yang saya kira, film politik yang biasanya penuh istilah asing tak muncul. Beberapa adegan malah lucu dan sadis. Beberapa adegan mungkin membosankan tapi dengan kesabaran, klimaknya muncul juga dengan ledakan Jack di pengadilan. Lobbyist, that against the law?

Postingan akhir tahun nyaris time line saya penuh kaleidoskop 2013. Saya pilih review film yang saya tonton semalam. Penampilan Kevin Spacey memang sebagus biasanya. Saya sempat berimajinasi sebuah cerita kalau dibuat flash back akan terlihat keren. Apalagi melihat mimic Kevin yang galau dan sungguh meyakinkan. Endingnya pun membuat kita makin yakin bahwa politik memang kejam.

Casino Jack – Director: George Hickenlooper – Cast: Kevin spacey, Barry Pepper, Jon Lovitz – Script: Norman Snider – Skor: 3.5/5

Karawang, 311213 – happy new year 2014

(review) Walking With Dinosaurs: 3D Yang Menakjubkan

Image

Tanggal 27 Desember 2013 lalu saya berkesempatan menonton film bareng keponakan di Solo  Square, libur lima hari akhirnya kuputuskan mudik. Ponakanku Winda yang berumur tujuh tahun baru saja menerima rapor dapat rangking dua. Minta hadiah sepatu dan jalan-jalan ke Solo Square, akhirnya sekalian ke XXI. Daftar putar yang paling logis buat anak SD ya ‘Walking with Dinosaurs 3D’. Bercerita tentang seorang paleontologist bernama Zack yang menggali situs purbakala bersama dua ponakannya Ricky dan Jade.  Saat Ricky ditinggal di mobil tiba-tiba muncul seekor burung gagak yang bisa bicara bernama Alex yang bercerita tentang petualangan dinosaurus puluhan juta tahun lalu.

Diceritakan Alex (narrator) bahwa dulu ada kawanan patchyrhinosaurus yang bermigrasi untuk menghindari  musim dingin.  Kawanan dipimpin oleh seorang leader yang paling kuat. Patchy dan Scowler dua bersaudara, anak sang leader akhirnya mengalami sebuah musibah yang akan mempengaruhi perjalanan hidupnya. Patchy yang mempunya cacat mempunyai lubang di tanduknya, jatuh hati kepada Juniper. Mereka akhirnya terpisah dari kawanan karena selama perjalanan mereka selalu dihadang oleh dinosaurus jenis karmivora (pemakan daging) dan omnivora (pemakan segala). Akankah mereka bisa kembali bersatu dengan patchyrhinosaurus yang lain ataukah perjalanan penuh resiko ini akan mengakhiri semuanya?

Secara keseluruhan film ini sangat ringan, sangat cocok buat anak-anak. Ga usah mikir jauh-jauh, duduk dan nikmati sajian yang ada. Karena tujuan utama saya memang untuk menyenangakn ponakan maka saya tak akan complain dengan suguhan yang ada. Durasinya satu setengah jam terasa sebentar untuk sebuah film 3D. Film ini diangkat dari serial documenter tv BBC tahun 1999. Film yang lebih mengedepankan edukasi ketimbang script. Mengajak kita mengenal dinosaurus. Jadi jangan berharap banyak terhadap ceritanya.

Tampilan 3D yang menakjubkan. Saya sempat terkesan untuk beberapa adegan. Saat Alex terbang melintas seperti di depan kita. Saat kawanan berlari, derumannya tampak nyata. Adegan paling menakjubkan adalah ketika Patchy jatuh hati kepada Juniper di mana dalam suasana ceria banyak kupu-kupu berterbangan di sekitar kita, benar-benar tampak di depan mata kita. Mengingatkanku pada adegan Sully yang tersesat di dunia Pandora lalu binatang mirip ubur-ubur mengelilinginya. Menakjubkan,  3D nya semenakjubkan Avatar. Pilihan bagus buat mengajakan seluruh keluarga, karena kapan lagi kita bisa melihat binatang dinosaurus tampak keluar layar dan menampol mata kita?

Karawang, 311213

Nonton Bareng Chelsea Karawang

Image

(suasana nonbar sebelum kick-off)

Nonton bola memang paling asyik sendirian di kamar sambil makan gorengan ditemani secangkir kopi. Kebiasaan rutin itu setengah musim ini terancam dan tak bisa sesering dulu. Pasca EPL berpindah tangan ke TV Orange, siaran live di tv swasta berkurang. Meninggalkan SCTV dan Indosiar yang hanya memiliki hak siar premium di mana tiap pekan hanya menanyakan satu live maka penggemar bola terbaik sedunia kini patut bersedih. Setengah tahun berjalan banyak kekecewaan. Sejauh ini kalau ga ad adi tv, saya hanya menonton via streaming internet yang kadang nyambung kadang kena blokir.

Akhirnya saya punya kesempatan untuk nonton bareng (nonbar) juga. Berawal dari ajakan bbm teman kerja, seorang True Blue mengajak nonbar di sebuah tempat karaoke. Namun mendekati tengah malam dia malah cancel karena besok masuk kerja pagi sementara malam itu dia kerja sampai larut. Tapi berhubung saya terlanjur izin istri dan jarang-jarang di-acc maka acara harus tetap jalan, kapan lagi saya diperbolehkan keluar dini hari?

Jam 1.00 berangkat ke tempat karaoke, tapi sebelum sampai di sana di sebuah kedai roti ada ramai orang ber-jersey Chelsea. Ada nonbar-kah? Iseng mampir dan bertanya, benar saja. Akhirnya ga jadi ke tempat karaoke tapi nonbar di kedai roti bakar Jupe –Juragan Pengusaha-, kenalan sama orang-orang CISC (Chelsea Indonesia Supporter Club) region Karawang. Karena laga masih lama, jam 03:00 masih ada waktu satu setengah jam makanya kita ngobrol ngalor-ngidul sekalian kenalan. Biaya nonbar sepuluh ribu rupiah dapat roti bakar dan sebotol teh. Mereka minta pin BB agar nanti ada event nonbar gampang informasinya. Ternyata dari Karawang pas Chelsea ke Jakarta mengirim dua bus. Waktu itu saya ke Senayan ketemu True Blue di Jakarta bertiga doang. Banyak hal yang tak kuketahui (atau tak ingin kuketahui?) dari CISC region Karawang.

Saat kick-off kurang dari setengah jam, teman-teman CISC membludak. Banyak juga yang hadir, sementara tuan rumah Arsenal Indonesia region Karawang sama banyaknya. Pertandingan belum mulai, banyak yang mulai adu chant, nyanyi keras-keras mendukung klub kesayangannya. Gila berisik banget. Adu chant bersahutan antara fan Chelsea dan Arsenal. Kirain kalau sudah mulai akan diam, ternyata tidak. Nyanyinya makin kencang dan tak ada hentinya. Heran ini pada hafal. Bahkan saat tendangan Lampard menempa mistar mereka tak berhenti sejenak untuk berteriak sekedar ‘oh..’ atau ‘wow..’ nyanyi terus. Nonbar makin terganggu saat kanan-kiri saya mulai hujan asap rokok. Duh terpaksa menyingkir cari tempat yang anti-asap dan itu adanya di belakang pojokan. Saat laga setengah babak menyisakan lima menit saya tukar tiket masuk dengan teh botol dan roti bakar. HT 0-0 dan akhirnya chant yang berisik itu berhenti juga, mereka menyantap roti. Hufh!

Peluit dimulainya babak kedua mereka kembali berteriak-teriak kayak kesurupan. Ada satu chant yang membuatku tersenyum, saat mereka mengejek Manchester kedua fan kompak dan nyanyi lebij keras, padahal sebelumnya mereka saling lempar provokasi. Maklumlah dua Manchester adalah musuh duo London. Dan satu chant lagi yang menurut saya aneh, Robin Van Persie yang hijrha ke seteru mereka fak-fakin. “We don’t need Robin cause we have Batman’. Ada-ada saja.

Sementara adzan Subuh berkumandang, kalau saya nonton sendiri langsung saya mute, eh mereka ga peduli. Seperti tak kenal lelah mereka terus benyanyi memberi semangat pemain idolanya (padahal mana dengar mereka?). Gila, ga pada sakit tenggorokan apa? Laga dini hari ini sepi peluang, sepi serangan dan ternyata saat peluit panjang dibunyikan skor akhir tetap kaca mata. Oh damn so bored! Karawang yang akhir-akhir ini berhawa dingan dengan angin semilirnya membuatku segera beranjak pulang. Setelah sembahyang Subuh dan minum obat flu saya istirahat.

Secara keseluruhan nonbar pertama ini tak berkesan. Menurut saya nonbar itu ga senikmat yang saya kira. Saya ga bisa bersantai pakai selimut, meluk guling dan menonton dengan tenang. Sampai rumah malah sakit flu karena hawa dini hari yang menggigil. Makanya saat siang tadi ada bbm masuk berbunyi: Nonton bareng EPL w/ @CISCKarawang Supported by Kedai Susu Jupe. #Chelsea vs Swansea City at Kedai susu Jupe. Hari Kamis, 26 Des 2013. Open gate: 21:00, Kick-off: 22:00. HTM: 10k (roti bakat + teh botol) Big screen! open for member/non member. Come on join guys. Be there and #wearyourblue. Bah! Saya ga akan datang. Begitu juga ajakan Minggu nanti saat laga big match lawan Liverpool. Kalau live di tv (katanya SCTV bersedia menanyakannya) saya mending menikmati secangkir kopi dan gorengan di rumah. Namun tiba-tiba siang tadi saya pusing lagi saat tahu kalau Serie A sudah tidak disiarkan lagi oleh TVRI, jadi laga derby Milano Minggu lalu adalah yang terakhir. Duh! Why?

Karawang, 241213 – Happy boxing day!

Indonesia Gagal Lagi

Image

Untuk kesekian kalinya timnas Indonesia gagal meraih emas di ajang sepak bola pria Sea Games. Berarti kegagalan Sea Games Myanmar menjadikan angka 22 tahun puasa gelar. Terakhir kali Timnas kita meraih juara di Sea Games 1991 Fillipina. Perjalanan Timnas Indonesia U23 menuju final sungguh memprihatinkan. Di laga grup yang berisi lima tim, Indonesia memulainya dengan kemenangan tipis 1-0 lawan tim lemah Kamboja, tim yang biasanya jadi lumbung gol. Permainan kita jauh dari kata bagus. Seperti perkiraan di pertandingan kedua lawan Thailand kita tumbang memalukan 4-1. Timnas kita amburadul di semua sisi. Di laga ketiga tak ada perkembangan berarti. Lawan tim lemah Timor Leste, pendatang baru yang di atas kertas harusnya bisa diatasi malah berakhir tanpa gol. Penyerang kita bikin gregetan. Dan di pertandingan pamungkas grup lawan tuan rumah Myanmar kita menang beruntung, menang bejan 1 gol melalui titik penalti.

Perjalanan lolos ke semifinal yang tak meyakinkan tersebut membuat kita perlu was-was saat di fase knock-out kita melawan musuh bebuyutan Malaysia. Tim Harimau Malaya yang menjadi juara grup sebelah dengan kemenangan seru di laga pamungkas menyingkirkan Vietnam, mereka menatap Indonesia dengan nada optimis. Laga ini sekaligus kesempatan kita untuk melakukan revan dua tahun lalu saat kita tumbang di final. Dengan pasukan compang-camping awalnya banyak yang ragu.

Pasukan menjawab! Di awal laga kita langsung mengambil alih serangan, hasilnya kita bisa leading lewat kaki Bayu Gatra. Melakukan one-two Bayu melakukan shoot yang tak bisa dijangkau kiper Malaysia. Setelah itu ya bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik. Saat kita sudah siap-siap berjingkrak menuju final, kelengahan terjadi. Lima menit sebelum waktu normal selesai kita kebobolan. Berawal dari kesalahan control Andik, bola dapat direbut yang menghasilkan sepak pojok yang kemudian memaksa kita melanjutkan perpanjangan waktu. Tak ada gol tercipta. Ada kejadian unik saat kita menyadari Andik yang masuk sebagai pemain penganti ternyata ditarik lagi. Dan adu penalti, adu bejan, adu tos-tosan, adu domba ini memihak kita. Adalah Kurnia Meiga yang menjadi pahlawan kemenangan. Dua tendangan penalti awal Malaysia dapat digagalkan olehnya dengan tangkapan sempurna. Skor akhir 4-5 yang mengantar kita kembali melawan negeri Gajah Putih di final.

Mengingat skor di pertemuan sebelumnya mencolok 4-1 maka harapan saya tak muluk-muluk, apalagi kalau ditarik sejarah kita melawan mereka yang hanya menang sekali sisanya seri dan kalah. Benar saja kita sudah kebobolan di menit-menit awal. Sisanya kita gatot –gagal total– dalam semua serangan. Skor akhir 1-0 dan kita kembali harus menelan pil pahit. Lagi-lagi perak.

Melihat penampilan Timnas U23 di Sea Games kali ini kita sudah seharusnya syukur dapat juara dua. Perjalanan menuju ke sana sungguh miris. Penurunan drastis dari dua tahun lalu saat kita jadi tuan rumah yang kala itu kita hanya kalah adu penalti. Mengaca pada kesuksesan Timnas U19 yang bisa menjuarai AFF U19 2013 dan melaju ke piala Asia 2014 kita harusnya mengadopsi gaya mereka. Rekrut pemain tanpa ada pemain titipan. Serahkan pelatih berkuasa penuh menentukan skuad. Blususkan ke pelosok negeri untuk menemukan bibit muda berkualitas. Dan yang terpenting jangan direcoki politik. Muak rasanya sepak bola kita dikotori politik PSSI. Sepak bola kita siaga satu.

Kegagalan ini makin lengkap saat penutupan Sea Games hari Minggu kemarin kita ada di posisi empat klasemen akhir. Emas yang diraup jauh dari target. Rasanya gagal seperti jadi nama tengah Indonesia. Entah mau sampai kapan kita bisa raih emas sepak bola lagi.

Karawang, 231213

(Double Review) Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan The Hobbit: Desolation of Smaug

Image

Terakhir kali review film kapan ya? Setahun, dua tahun, enam bulan, hhmmm… sudah lama sampai lupa. Hobi nonton film memang tetap jalan walau ga seaktif dulu. Ajakan nonton bareng sama Gila Film (GF) dari Jakarta tetap ada walau jarang datang. Tapi hari Minggu, 15 Desember 2013 lalu tiba-tiba ingin ikut ngumpul, meski istri ga mau menemani. Akhirnya tetap ke sana sama teman kerja. Berkumpul di Plaza Senayan jam 09:00 WIB, beberapa menit sebelum film pertama dimulai.

Film pertama adalah film lokal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (TKVDW) berdasarkan novel legendaris Buya Hamka. Film yang rilis tanggal 19 Desember 2013 (hari ini) dapat kami saksikan gratis untuk acara screening sebelum dilepas ke bioskop, GF dapat undangan. Sudah gratis dapat goodie bag dan survenir berisi majalah ‘Reader Digest Indonesia’, kipas (atau mouse pad nih?), poster film dan kaos. Sebelumnya saya sudah lihat di trailer yang terasa sungguh megah tenggelamnya kapal, sampai ada yang mengatakan Titanic-wanna-be. Ekspektasi saya sih ga muluk-muluk, bisa terhibur sudah syukur. Sebelum film diputar ada pembukaan sekilas dari seorang ibu (panitia?) bahwa dilarang merekam film apapun alasannya, karena ini pemutaran perdana maka diharapkan semua penonton bisa kerja sama. Selamat menikmati.

Film dibuka dengan setting zaman Indonesia belum merdeka tahun 1930-an. Seorang pemuda Makassar bernama Zainuddin (Herjunot Ali) memutuskan merantau ke tanah Minangkabau untuk menimba ilmu, ke tanah kelahiran (alm) ayahnya. Dia menetap di rumah saudaranya (Jajang C Noer) selama tinggal di sana. Dalam perjalanan cerita Zainuddin jatuh hati dengan anak seorang bangsawan Minang bernama Hayati (Pevita Pearce). Di sebuah scene romantis di tengah hujan mereka mengakrabkan diri dan lalu berlanjut bertukar surat. Sampai akhirnya Zainuddin menyatakan cintanya, gayung bersambut Hayati menerima cinta Zainuddin. Kabar kedekatan mereka merebak ke penjuru kampung membuat resah warga karena Zainuddin dianggap tidak mempunyai pertalian darah lagi dengan keluarganya di Minangkabau dan bukan dari anak berada. Terusirlah Zainuddin dari sana, sebelum pergi ke Padang Panjang mereka bertemu di sebuah danau dan terucap ikrar cinta mati. Yang dialog puitisnya serem banget, salut buat tim penulis naskah yang salah satunya penulis 5 cm Donny Dhirgantoro.

Dalam keterpisahan mereka tetap terhubung dengan surat yang rutin berkabar, hingga mereka punya kesempatan untuk bertemu karena Hayati akan ke Padang Panjang guna menonton pacuan kuda. Tragedi dimulai di sini. Selama di rumah saudaranya Khadijah ada seorang pemuda kaya bernama Aziz (Reza Rahardian) jatuh hati kepada Hayati dan dalam waktu singkat langsung melamar Hayati, secara bersamaan Zainuddin melayangkan surat lamaran juga. Rembug desa pun digelar untuk memutuskan siapa yang akan diterima sebagai suami Hayati. Dalam tekanan, Hayati memutuskan menurut orang tua yang terbaik walau saat berkabar ke Zainuddin ini adalah pilihan hati dan meminta Zainuddin melupakannya. Maka pernikahan Hayati – Aziz pun digelar. Runtuhlah hati Zainuddin, terpuruk bagai langit jatuh.

Dalam keterpurukannya, sahabat sekaligus saudaranya Muluk (Randy Nidji) memberi semangat untuk bangkit lalu mereka berdua merantau ke Batavia, tanah Jawa untuk mengejar karir mewujudkan mimpi Zainuddin sebagai penulis dengan nama gubahan Z. Novel Zainuddin yang berdasar pengalaman hidupnya ternyata laku keras dan dalam waktu singkat memperoleh popularitas yang mengantarnya menjadi termasyur. Puncaknya Zainuddin ditawari bekerja mengurus percetakan di Soerabaya. Sementara itu Aziz mendapat promosi jabatan yang mengharuskan mereka tinggal di Soerabaya. Sebuah skenarion drama yang bagus. Dalam sebuah acara opera yang mengadaptasi novelnya, di sinilah akhirnya secara dramatis Zainuddin (yang memakai nama pena Syahrir) bertemu langsung dengan Hayati.

Roda berputar, Aziz bangkrut dan menanggung hutang. Hobi berjudinya mengantar ke lubang hitam sampai akhirnya mereka meminta tolong kepada Zainuddin untuk tinggal di rumahnya karena kini mereka benar-benar kere. Mereka dipersilakan tinggal, hanya satu larangannya mereka tidak boleh memasuki ruang kerjanya. Wah mengingatkanku pada Pintu Terlarang! Aziz yang merasa malu menumpang hidup akhirnya memutuskan mencari kerja dengan keluar dari rumah Zainuddin dan berjanji akan kembali kalau sudah mendapatkan pekerjaan. Di sebuah adegan yang membuat kita meneteskan air mata terkuak alasan mereka dilarang masuk ke ruang kerja Zainuddin. Dalam keterputusasaan, Aziz akhirnya menceraikan Hayati (talak) melalui surat dan mengembalikan Hayati kepada Zainuddin serta meminta maaf karena dulu telah merebutnya. Kini tak ada lagi penghalang untuk menyatukan cinta Zainuddin-Hayati.

Akankah Zainuddin mau menerima kembali Hayati? Akankah cinta sejati mereka bisa bersatu? Di mana posisi kapal yang tenggelam yang tertera dalam judul cerita? Saksikan di bioskop kesayangan Anda mulai 19 Desember 2013.

Secara keseluruhan film ini memuaskan. Bukan karena diminta me-review bagus oleh panitia, tapi beneran saya mengharu-biru sepanjang gambar bergerak. Akting trio Herjunot–Pevita–Reza sungguh bagus. Reza pasca menang piala maya untuk kategori aktor terbaik dengan memerankan Habibie dalam film ‘Habibie & Ainun’ kembali menampilkan sugguhan prima. Herjunot yang bertranformasi dari lelaki kampung yang lugu menjadi terkenal dan kaya raya tetap realistis dalam bertutur kata. Pevita yang sepanjang film berpenampilan muram dapat mengimbangi dan layak dapat jempol. Film ini patut diapresiasi di tengah film-film lokal yang seperti asal jadi. Kehebatan menampilkan setting jadul era pra-kemerdekaan harus dihargai. Sempat saya bergumam, ini seperti ‘The Great Gatsby’. Bahkan beberapa adegan dan sound track (diisi oleh Nidji dengan sangat pas) nya pun tertata runut senikmat karya klasik Amerika tersebut. Dan tentu saja bahasanya yang puitis karena ini adalah adaptasi karya legenda Buya Hamka. Siapkan mental Anda dalam mendengarkan percakapan indah yang akan membuat wanita (dan juga beberapa pria) klepek-klepek meleleh hatinya. Durasi yang hampir tiga jam tak terasa.

Kelemahan tetap ada karena teknologi kita yang tak secanggih Hollywood maka jangan harap tenggelamnya kapal bisa se-wah film James Cameron. Tapi menurut saya itu tertutupi keindahan cerita yang sungguh layak dibanggakan, setidaknya ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ jauh lebih bagus ketimbang ‘Di bawah Lindungan Ka’bah’.

Sungguh beruntung saya dapat menyaksikannya sebelum rilis.

Sesuai rencana setelah film selesai film TKVDW kita berlanjut menonton The Hobbit: Desolation of Smaug (DOS) di XXI Epicentrum. Kata Zul, ketua GF di sana XXI-nya memperkenalkan dolby Atmos di mana sound-nya menggelegar di sekitar kita. Pasca nonton seperti biasa narsis dulu.

Gambar

(yang motret saya)

Gambar

(hidup ARB! haha…)

Gambar

(narsis dengan banner ‘Gila Film’)

Gambar

(32 tiket Desolation of Smaug)

Sesampai di XXI Epicentrum saya rada khawatir untuk kepulangan ke Karawang setelah tahu detail film. Kalau film DOS dimulai jam 15:35 dan durasi film dua setengah jam maka saya keluar dari XXI pas Maghrib, khawatir tak ada bus yang mengantar saya balik. Sepanjang film saya lihat jam, sehingga tak nyaman. Untungnya aman bisa sampai rumah jam 20:00 berarti perjalanan lancar jaya.

Sesaat sebelum film dimulai layar menampilkan promo dolby Atmos, seperti biasa iklan selalu tampak menarik. Suara hewan berlarian memang tampak nyata, suara hujan seperti di sekeliling kita, hembusan angin pun semilir layaknya kita ada di pucuk pohon. Saya amati speaker-nya ternyata ada di kanan kiri plus atap. Hebat, salute demi kenikmatan yang maksimal. Film pun dimulai, logo WB muncul dan scene pembuka pertemuan Gandalf the Grey (Ian McKellen) dan Thorin (Richard Armitage) di sebuah kedai makan ditampilkan. Sebuah rencana perjalanan panjang balas dendam dirancang, dan disinggunglah alasan mereka membutuhkan seorang Hobbit yang jago mencuri bernama Bilbo Baggins (Martin Freeman).

Bagi yang belum nonton seri pertama sebaiknya tonton dulu ‘The Hobbit: An Unexpected Journey’ (AUJ). Karena DOS akan langsung di tengah cerita AUJ. Seperti sebuah ritual Middle-Earth, dalam perjalanan Gandalf memisahkan diri. Adegan langsung pada saat pasukan kurcaci (tarik nafas, baca perlahan-lahan) – Thorin, Balin, Dwalin, Bifor, Bufor, Bombur, Kili, Fili, Oin, Gloin, Nori, Dori, dan Ori serta seorang Hobbit — Bilbo terjebak di hutan penuh laba-laba raksasa. Bilbo Baggins bak pahlawan selalu ada di saat yang tepat, dengan cincin ajaibnya Bilbo berjuang membebaskan diri. Setelah pergumulan yang nyaris menjadi bencana muncul pasukan peri yang menyelamatkan mereka sekaligus menawan mereka. Dalam tawanan ada cerita sempalan (tambahan) mengenai cinta antara peri Tauriel (Evangeline Lily) dan kurcaci Kili (Aidan Turner). Seperti di novel mereka dapat melarikan diri melalui tong anggur yang dihanyutkan di sungai tapi dalam visualisasinya tampak sangat berlebihan.

Dalam perjalanan arung jeram mereka dihadang pasukan Orc yang mencoba menggagalkan perjalanan menuju ke Gunung Sunyi. Dan Kili kena anak panah di kaki. Walau terluka mereka dapat sampai di kota danau yang dibantu oleh ojeg perahu, Bart. Cerita makin terasa mengada-ada saat pemerintahan kota danau yang korup dan dibenci warga mencoba menghadang pasukan, tapi kemudian mendukung perjalanan dengan memberi perlengkapan senjata.

Akhirnya pasukan ini sampai di Gunung Sunyi. Kunci khusus membuka gerbang menuju tempat emas tertimbun. Saat di dalam gua itulah apa yang kita nanti akhirnya muncul juga. Naga Smaug (Benedict Cumberbatch) terbangun saya pun turut terbangun. Lha, sejauh ini ternyata saya ngantuk. Pendengaran langsung saya tajamkan demi Sherlock! nyatanya tak persis, suara Benedict Cumberbatch disamarkan, aksen British-nya tak ketara. Waduh, wajah Sherlock! Yang katanya menggunakan teknologi mo-cap pun tak terlalu nampak, jadi apa bedanya Smaug diperankan Ben Cumberbatch atau Ben Stiller, mr. Bean (misalnya)? Beda sama Smeagol yang nampak menyakinkan dibawakan Andi Serkis, Smaug tak ubahnya makhluk kebingungan.

Tapi harus diakui, scene akhir ini paling mendebarkan dan paling menarik sepanjang film. Saat kita nyaris mencapai klimak cerita credit title muncul. Dan tamatlah DOS. Sebal? Silakan! Seperti yang kita tahu, The Hobbit yang bukunya tak setebal ‘Harry Potter and Goblet of Fire’ dipecah dalam tiga film dengan durasi diatas dua jam semua (mungkin). Kelanjutannya ‘There and Back Again’ (TABA) akan rilis tahun depan. Jadi yang penasaran akhir cerita perjalanan ini harus menanti setahun lagi.

Secara keseluruhan seri DOS terasa berlebihan, banyak hal bisa dibuang dalam mendukung cerita malah ditampilkan yang bisa berakibat bosan. Legolas, Bart dan banyak karakter tambahan tak ada dalam novel  tapi karena ini prekuel ‘The Lord of the Rings’ (TLOTR) maka secara timeline bisa ada dalam cerita. Bahkan Tauriel pun sebenarnya tak ada dalam universe TLOTR, karakter ini hanya rekaan Peter Jackson. Apakah saya puas menyaksikan DOS? Belum, bagusan AUJ menurut saya. Jadi kalau AUJ dan DOS kurang sukses di Oscar jangan harap TABA akan sesempurna The Return of The King.

What have we done? – last line!

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Director: Sunil Soraya — Cast: Herjunot Ali, Reza Rahardian, Pevita Pearce, Jajang C Noer, Ninik L Karim — Screenplay: Dhonny Dhirgantoro, Imam Tantowi — Score: 4/5

The Hobbit: Desolation of Smaug

Director: Peter Jackson — Cast: Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage — Screenplay: Fran Walsh — Score: 4/5

Karawang, 191213

Santai Saja

Tahun baru tinggal menghitung hari, tahun akan segera berganti. Ada banyak hal yang memang tak bisa kita capai dalam hidup ini. Berfikir realistis dan mencoba mencapai target apa saja ke depannya. Bukannya pesimis, saya termasuk orang yang santai menghadapi hidup, menikmati hidup. Tekanan, tuntutan, atau pengharapan orang sekitar saya anggap sebagai masukan untuk lebih baik bukan sebagai keharusan.

Beberapa waktu yang lalu istri saya wisuda D3. Akhirnya perjuangan tiga tahun bekerja sambil kuliah terbayar juga. Perjuangan yang tak mudah karena selain dua rutinitas tersebut dia juga berperan sebagai istri. Bisa lulus tepat waktu dan IPKnya sesuai target minimal tiga adalah sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Dengan kelulusannya maka dalam keluarga kami sudah selesai semua pendidikan kuliahnya. Adik iparku juga sudah lulus D3 kebidanan bulan September lalu. Kini kita bisa lebih focus ke target berikutnya.

Sebenarnya pasca lulus kuliah saya bebaskan kepada istriku buat memilih langkah berikutnya, apakah mau lanjut bekerja untuk membantu ekonomi keluarga atau di rumah jadi ibu rumah tangga. Tapi berhubung gaji saya yang tak seberapa dia memutuskan tetap berkarir. Istri saya memang juara kalau mengurus uang. Saya yang waktu lajang terbiasa boros, terutama untuk budget buku kini ditangani olehnya jadi lebih terkendali. Bagi saya, tahun hanyalah angka-angka yang ada di kalender. Selagi kita bisa bahagia tak perlu risau terhadap perkataan tetangga. Hidup ini singkat, nikmati saja!

Menikmati hidup dan menyepelekan hidup (mungkin) terdengar beda tipis.

Karawang, 191213

Club 100

Image

Akhirnya saya posting di WordPress (WP) tembus di angka 100. Ini adalah kiriman ke seratus. Dari pertama kali bergabung di bulan Maret 2013 saya awalnya belum begitu aktif dengan WP, masih cari-cari blog apa yang bagus dan (semoga) bisa berumur panjang. Setelah Multiply yang akhirnya tumbang saya sempat mau kembali ke Blogspot, saya pernah registrasi empat tahun yang lalu di sana namun jarang diisi, dan mengingat di sana tulisannya bolong-blong serta tak jelas maka lebih baik memulai dari awal lagi. Di bulan Maret saya daftar WP.

Beberapa tulisan memang tulisan lama. Saya tak punya target muluk-muluk dengan WP. Pada dasarnya bisa aktif dengan publish tulisan rata-rata sepuluh per bulan saja sudah syukur. Apalagi nyaris semua tulisan tersebut ditulis di kantor di jam kerja.

Setelah mencapai Club 100 apa target berikutnya? Tetap eksis yang utama, mungkin kualitas tulisan (moga) bisa meningkat. Ah itu hanya bonus saja, yang utama tetap bisa eksis di sini. Dan berdoalah Perusahaan tetap berbaik hati membebaskan saya untuk terus terkoneksi dengan blog. 🙂

Karawang, 181213