Menunggumu #nostalgia

Catatan: Ini adalah posting-an kedua yang saya nukil dari catatan Facebook. Tercatat di-publish tanggal 20 Juni 2011.

Gambar

Menunggumu # 19

“Saya datang lebih cepat agar kamu tak lama menungguku nanti”

“Maaf acaranya molor, ini belum selesai”

“Jadi jam berapa selesainya?”

“Paling jam 4.30”

“Oke, saya tunggu”

Detik berjalan, menit merangkak.

Menunggu adalah tinggal beberapa saat di suatu tempat dan mengharap sesuatu akan terjadi (datang).

“Sudah setengah lima nih”

“Maaf ternyata lebih lama dari yang kuduga”

“Saya sudah kesemutan menunggumu di sini. Pastikan saja jam berapa pulangnya”

“Hhhmmm.., ga bisa pasti sih masalahnya ini final brief”

“Trus gmana baiknya, saya pulang lagi?”

“Jangan. Tunggu jam 5 ya. Kamu sambil apalah, makan dulu, sholat dulu, atau ngapain”

“Sudah. Ya sudah 30 menit lagi ya” 

Detik berjalan, menit merangkak.

Menunggu adalah menantikan (sesuatu yg mesti datang atau terjadi).

“Saya tunggu 5 menit lagi, kalau ga segera datang saya pulang”

“Ya jangan 5 menit. Waduh belum selesai juga nih gmana ya?”

“Tadi katanya jam 5 sekarang hampir jam 5”

“Maaf saya belum bisa keluar sekarang, tanggung bentar lagi selesai”

“Oke 15 menit ga selesai saya pulang lagi”

Detik berjalan, menit merangkak.

Menunggu adalah mendiami, menghuni, menunggui.

“Oke, waktu habis. Saya pulang lagi saja”

“Tunggu sayang, ini sudah penutupan acara. Saya mau keluar ruangan sekarang.”

“Benar ya, cepatlah datang kaki saya sudah meng’akar’ menunggumu di sini”

“Okey, tunggu ya” ditutupnya telp untuk kesekian kalinya.

Detik berjalan, menit merangkak.

Menunggu adalah mengharap menanti sesuatu, dan bila lama itu sangat menjengkelkan.

Sambil menuggu dia keluar ruangan, kubuka makanan ringan yang tadi tertunda. Lalu ada sms masuk, segera saja kubuka. Ternyata dari dia, berbunyi:

“Maaf sayang, ternyata setelah brief selesai ada ujian apa yang disampaikan. Jadi mungkin 30 menit lagi baru bisa selesai. Tunggu saya ya”

“Aaaaggghhhhhh……”

Ruang TLP06 – Cikarang, 200611

Menunggu adalah sebuah kesetiaan.

Karawang, 301113

CATATAN INKHEART #nostalgia

Gambar


Catatan:

Tulisan ini pernah di-publish di facebook tanggal 16 Maret 2010 dan blog Multi-ku. Saya pindahkan ke sini buat nostalgia. Ke depannya mungkin beberapa tulisan akan saya pindahkan juga. Yup, #nostalgia

Untuk Anna,

Yang bahkan menyingkirkan The Lord of the rings sebentar, demi membaca buku ini.

(Apalagi yang bisa diharapkan ibu dari anaknya?) Dan untuk Elinor, Yang meminjamkan namanya, Meskipun dalam ceritaku bukan peri ratu

“Menarik melihat cara penyajian per bab novel ‘Inkheart’ karya Cornelia Funke. Tiap awal bab akan ada semacam catatan yang dinukil dari buku lain atau suatu yang menarik yang isinya menjabarkan secara linier garis cerita. Tulisan ini sengaja saya ketik secara manual dari buku bersampul merah tersebut agar menikmati catatannya lebih nyaman dan ringkas, sekaligus sebagai referensi teman-teman buat memilih bacaan (cerita fantasi). Pecinta dongeng pasti akan menyukai ini.”

Datang, datang

Datang sepatah kata, datang,

Datang di waktu malam,

Ingin menyala.

Debu. Debu, debu. Malam.

(Paul Celan, Enfuhrung)

1. Tamu asing di malam hari

Sinar bulan memantul di mata kuda kayu dan tikus waktu Tolly mengambil keduanya dari bawah bantal. Jam berdetak dan dalam keheningan ia merasa mendengar suara kaki telanjang melangkah di lantai, lalu cekikikan, bisikan, dan suatu bunyi, seperti lembar-lembar yang dibuka.

(Lucy M. Boston, Anak-anak dari Green Knowe)

2. Rahasia-rahasia

“Tapi apa yang bisa dilakukan anak-anak ini tanpa cerita?” Tanya Naftali Red Zebulun menjawab, “Mereka pasti bisa menerimanya. Buku cerita bukan roti. Orang bisa hidup tanpa buku cerita.”

“Tapi aku tidak bisa hidup tanpa buku cerita,” kata Naftali.

(Issac B. Singer, Naftali sang pendongeng dan kudanya Sus)

3. Pergi ke selatan

“Dibalik hutan liar itu terdapat dunia yang begitu luas, kata si Tikus. “Dan dunia itu bukan urusan kita, kau, juga aku. Aku belum pernah pergi ke dalamnya dan tidak akan pernah pergi ke sana, apalagi kau, kalau saja kau punya sedikit akal sehat.”

(Kenneth Grahame, Angin di pohon Willow)

4. Rumah penuh buku

“Kebunku adalah milikku,” kata si raksasa tegas, “semua tahu itu dan tak seorang pun boleh bermain di dalamnya selain aku.”

(Oscar Wilde, Si raksasa yang kikir)

5. Hanya satu gambar

Barangsiapa mencuri buku atau tidak mengembalikan buku yang dipinjamnya, ditangannya buku itu akan berubah menjadi ular yang mematikan. Otaknya tidak berfungsi lagi dan kelumpuhan melanda sekujur tubuhnya. Begitu nyaring dia akan berteriak memohon ampun, namun derita takkan dikurangi sampai ia mulai membusuk. Ngengat buku akan menggerogoti isi perutnya seperti cacing-cacing maut yang tidak bisa mati. Dan jika dia menjalani hukuman terakhirnya, api neraka akan memanggang tubuhnya sepanjang masa.

(Prasasti di perpustakaan biara San Pedro, Barcelona, dikutip Alberto Manguel)

6. Api dan bintang-bintang

Di sana mereka tampil bersama beruang, anjing, kambing, monyet, dan marmot yang menari-nari; meniti tambang di ketinggian, berjungkir balik de depan dan ke belakang, melempar lalu berdiri di atas pedang dan pisau tanpa terluka sedikit pun, menelan api dan mengunyah batu, memeragakan seni sulap di balik mantel dan topi atau menggunakan piala-piala ajaib dan rantai, bernyanyi semerdu burung bulbul, berteriak seperti merak, dan mencicit seperti rusa, berkumpul dan menari diiringi suara suling.

(Wilhelm Hertz, Buku akrobat)

7. Di balik kegelapan malam

Seribu musuh di luar rumah

Lebih baik daripada satu di dalam.

(Peribahasa Arab)

8. Sendiri

“Sayangku,” akhirnya nenekku berkata. “Apa kau yakin tidak bakal sedih harus menjadi tikus sepanjang sisa hidupmu?”

“Bagiku tidak ada bedanya,” aku menjawab. “Tidak masalah menjadi apa atau bagaimana wujudku selama tetap ada yang mencintaiku.”

(Roald Dahl, Ratu penyihir)

9. Pertukaran yang berbahaya

Sejenis penyakit buku yang kejam dan parah menjangkiti jiwa manusia. Betapa hina, merasa terikat pada benda lemah yang terdiri atas kertas, tulisan yang tercetak, serta perasaan orang yang sudah mati. Bukankah akan lebih baik, lebih bermartabat, dan lebih perkasa jika kita tinggalkan saja sampah itu di tempatnya lalu melangkah memasuki dunia sebagai manusia super yang bebas, merdeka dan tuna aksara?

(Solomon Eagle, Moving a library)

10. Gua sang singa

Dengarlah! (Orang-orang dewasa tidak perlu membaca bagian ini). Aku tidak bermaksud mengatakan pada kalian bahwa buku ini akan berakhir tragis. Sejak awal kukatakan ini buku kesayanganku. Tetapi sekarang akan muncul hal-hal yang mengerikan.

(William Goldman, The Princess Bride)

11. Pengecut

Rumah! Itulah makna suara-suara lembut itu, belaian-belaian sayang datang dalam hembusan angin, tangan-tangan kecil tak terlihat, yang memanggil dan menariknya ke arah tertentu.

(Kenneth Grahame, Angin di pohon Dedalu)

12. Terus ke selatan

Jalan ini tak ada habisnya

Dari pintu tempat ia bermula.

Terbentang hingga di kejauhan sana,

Mesti kujalani sedapat yang aku bisa.

Kaki letih, tapi kuberjalan juga,

Sampai kudapati jalan yang lebih besar,

Tempat banyak jalur dan urusan bertemu.

Lalu ke mana? Aku tidak tahu.

(J.R.R. Tolkien, The Lord of the rings: Sembilan pembawa cincin)

13. Markas Capricorn

Namun Selig menjawab pertanyaan yang terakhir: Sepertinya dia terbang ke negeri seberang Kegelapan. Tempat yang tak dihuni manusia dan tidak ada binatang tersesat ke sana, langitnya berwarna bagai tembaga dan besi menjadi tanahnya, tempat kekuatan-kekuatan jahat bersembunyi dibawah payung jamur-jamur yang membatu dan di lorong-lorong yang sudah ditinggalkan tikus tanah.

(Issac B. Singer, Naftali sang pendongeng dan kudanya Sus)

14. Tugas terlaksana

“Tidak ada gunanya mencari dia,” gerutu si Berang-berang “Apa maksudmu?” Tanya Susan. “Dia pasti belum jauh. Kita harus menemukannya! Apa maksudmu bahwa kita tidak perlu mencarinya?”

“Karena sudah jelas di mana dia berada saat ini!” jawab si Berang-berang “Apa kalian belum mengerti juga? Dia pergi ke perempuan itu, si Penyihir Putih. Dan dia menghianati kita!”

(C.S. Lewis, The Chronicles of Narnia: Sang Singa, sang penyihir, dan lemari)

15. Kebahagiaan dan kemalangan

Saat itu tengah malam, Bingo tidak bisa tidur, lantainya keras, namun ia sudah terbiasa. Selimutnya kotor dan berbau busuk, tapi ini juga bukan hal yang asing untuknya. Sebuah lagu terngiang-ngiang dan ia tidak dapat mengenyahkannya dari kepalanya. Lagu kemenganan orang-orang Wendel.

(Michael de Larrabeiti, The Borribles go for broke: Buku kedua trilogy The Borribles)

16. Pada zaman dulu

Dia mengangkat buku itu. “Aku akan membacakan buku ini untukmu, sebagai hiburan.”

“Apa di dalamnya ada soal olahraga?”

“Anggar. Gulat. Siksaan. Cinta sejati. Kebencian. Balas dendam. Raksasa. Pemburu. Penjahat. Orang-orang baik. Perempuan-perempuan cantik. Ular. Laba-laba. Kesakitan. Kematian. Pemberani. Pengecut. Pria-pria perkasa. Pengejaran. Pelarian. Kebohongan. Kebenaran. Gairah. Keajaiban.”

(William Goldman, The Princess bride)

17. Penghianat yang dihianati

Kesenangan ganjil timbul ketika ia menyaksikan sesuatu perlahan-lahan musnah, melihatnya menghitam lalu berubah menjadi sesuatu yang lain. […] Rasanya ia ingin sekali memanggang sate sosis dalam kobaran api itu, sementara buku-buku itu melantak dijilat kematian bersama setiap kepak sayap merpati-merpati putih di depan rumah. Sementara buku-buku itu membumbung berhamburan dalam pusaran bunga api, dihembus pergi angin yang gelap oleh orang.

(Ray Bradbury, Fahrenheit 451)

18. Lidah ajaib

Tuan Trelawney, dokter Livesey, dan yang lainnya memintaku menuliskan kembali seluruh kisah tentang Pulau Harta Karun dari awal sampai akhir, dan tidak merahasiakan apa pun kecuali letak pulau itu. Karena itu sekarang kuambil pena bulu, di tahun 17… dan mulai dengan ketika ayahku menjadi pemilik penginapan “Admiral Benbow” lalu seorang pelaut tua yang kulitnya coklat terbakar matahari dengan bekas luka tebasan pedang datang pertama kali untuk tinggal bersama kami.

(Robert L. Stevenson, Pulau Harta Karun)

19. Harapan yang menipis

Kaa menurunkan kepala dan sejenak merebahkannya perlahan di pundak Mogli. “Hati yang tabah dan lidah yang terjaga,” pujinya. “Dengan ini kau akan bisa bertahan di rimba ini, anak manusia. Tapi sekarang pergilah segera bersama teman-temanmu. Tidurlah karena bulan sebentar lagi akan berakhir dan apa yang sekarang akan terjadi tak perlu kau hiraukan.”

(Rudyard Kipling, Buku rimba raya)

20. Ular dan Duri

Para anggota Borrible berbalik dan di sana, tepat di ujung jembatan terlihat lingkaran cahaya putih menyilaukan, muncul dari bawah langit yang gelap. Sinar itu lampu mobil yang berada di utara jembatan, dari arah itulah beberapa menit lalu mereka baru saja melarikan diri.

(Michael de Larrabeti, The Borribles go for broke: Buku kedua trilogy The Borribles)

21. Basta

Hutan ini, yang sekarang begitu tenang, pasti waktu itu dipenuhi jerit kematian, pikirku. Dan bayangan itu begitu jelas sehingga rasanya aku bisa mendengar suara mereka.

(Robert L. Stevenson, Pulau harta karun)

21. Aman

Sejak saat itu hari-hari berlalu dengan lambat, namun untungnya setiap fajar baru membawa pergi sedikit ketakutan yang membebani jiwa pemuda malang itu.

(Mark Twain, Petualangan Tom Sawyer)

22. Malam penuh kata

Anak kecil mana yang tidak menganggap dirinya bisa melihat perahu layar Peter pan di langit ketika ia tidak bisa tidur pada malam hangat di musim panas? Aku akan mengajarimu cara melihat kapal itu.

(Robert Cottoneo, Ketika seorang anak kecil pada suatu hari di musim panas)

23. Fenoglio

Kalian tidak mengenaliku, kecuali kalau kalian pernah membaca buku yang berjudul Petualangan Tom Sawyer, tapi itu tidak penting. Buku itu ditulis oleh Mr. Mark Twain dan apa yang dia ceritakan di dalamnya adalah benar—kurang lebih. Dalam beberapa hal dia melebih-lebihkan, tetapi kebanyakan memang begitulah kejadiannya. Soal itu sih sebetulnya tidak perlu dipermasalahkan. Aku belum pernah mengenal seseorng yang tidak sesekali berbohong dalam hidupnya.

(Mark Twain, Petualangan Huckleberry Finn)

24. Akhir yang salah

Cerita, novel, dongeng—semua seperti makhluk hidup dan mungkin memang makhluk hidup. Semua punya kepala, kaki, sistem peredaran darah, dan pakaian seperti manusia sungguhan.

(Erich Kastner, Emil dan para Detektif)

25. Firasat buruk dan dugaan

Dan sekarang barulah ia meletakan bukunya. Dan melihat padaku. Dan berkata, “Hidup ini tidak adil, Bill. Kita memberitahu anak-anak kita bahwa hidup ini tidak adil, padahal itu muslihat licik. Itu bukan Cuma sekedar kebohongan, itu kebohongan yang kejam. Hidup ini tidak adil, tidak pernah adil dan tidak akan pernah menjadi adil.”

(William Goldman, The Princess Bride)

26. Hanya satu ide

“Mungkin memang benar begitu,” kata si orang-orang sawah.

“Tapi janji adalah janji, dan janji harus ditepati.”

(L. Frank Baum, The Wizard of OZ)

27. Di rumah

Untukmu, si miskin—perpustakaanku

Cukuplah sebagai harta.

(William Shakepeare, The Tempes)

28. Persinggahan yang nyaman

“Aku tidak punya ibu,” kata Peterpan

Ia juga sedikit pun tidak merindukannya.

Ia menganggap ibu terlalu berlebihan.

(James M. Barrie, Peter pan)

29. Pippo si cerewet

“Kalian mendapat informasi yang salah,” Butterblume berkata pada lelaki itu.

“Di sini tidak ada pemukiman, bermil-mil dari sini juga tidak ada.”

“Jadi, tidak aka nada yang bisa mendengarkan kau berteriak,” kata lelaki Sisilia itu dan melompat ke depan Buttercup dengan kegesitan yang mencengangkan.

(William Goldman, The Princess Bride)

30. Di balik kerimbunan bukit

“Jangan ganggu dia,” kata Merlin. “Mungkin dia baru akan mau berteman denganmu kalau telah mengenalmu lebih dekat. Burung hantu tidak bisa diburu-buru.

(T.H. White, The once and future king)

31. Kembali terperangkap

Dia meminta pendapat Raja sambil diam-diam berharap Raja akan melarang putranya pergi. Namun raja malah berkata, “Yah, sayang, petualangan memang bermanfaat bahkan untuk orang yang masih sangat kecil sekalipun. Petualangan akan tetap tersimpan dalam diri seseorang, meskipun di kemudian hari bisa saja ia tidak ingat petualangan itu lagi.

(Eva Ibbotson, Rahasia peron 13)

32. Pelayan Capricorn

Karena aku tidak pernah melihat ayah dan ibuku, gambaran awalku tentang sosok mereka dengan tidak masuk akalnya kubuat berdasarkan nisan mereka. Dari bentuk huruf yang ada di nisan ayahku, aku mendapat gagasan aneh bahwa dia lelaki berbahu lebar, pendek, dan gemuk, dengan rambut keriting hitam dan kulit gelap. Dari bentuk dan tarikan garis tulisan “Juga Georgiana, istri almarhum yang tersebut di atas”, aku menarik kesimpulan yang kekanak-kanakan bahwa ibuku punya tahi lalat dan sakit-sakitan.

(Charles Dickens, Great Expectations)

33. Rahasia-rahasia

“Kalau aku menjadi ksatria,” kata Wart sambil melamun menatap perapian, “Aku akan meminta pada Tuhan agar Dia mengirimkan semua kejahatan di dunia ini padaku, hanya padaku. Kalau aku bisa mengalahkannya, tidak aka nada lagi kejahatan tersisa, dan kalau kejahatan mengalahkanku, hanya aku sendirilah yang menanggung akibatnya.”

“Pernyataanmu luar biasa sombong,” kata Merlin, “dan kaulah yang akan dikalahkan. Dan kau akan menderita karenanya.”

(T.H. White, The once and future king)

34. Tujuan yang berbeda-beda

Faber membenamkan hidungnya ke dalam bukuku. “Tahukah anda bahwa buku beraroma pala atau rempah-rempah dari negeri-negeri eksotis? Waktu kecil, aku suka sekali menciumnya.”

(Ray Bradbury, Fahrenheit 451)

35. Di rumah Capricorn

Dalam mimpi terkadang aku berjalan di rumah gelap yang tidak kukenal. Rumah yang asing, muram, dan mengerikan. Kamar-kamar gelap mengelilingiku hingga aku tak bisa bernapas lagi… (Astrid Linggren, Mio Anakku)

36. Kecerobohan

“Jadi kau pikir ini jebakan?” Tanya sang bangsawan.

“Aku selalu menganggap semua sebagai jebakan, selama tidak ada bukti yang menunjukan sebaliknya,” jawab sang pangeran. “Karena itulah aku masih hidup.”

(William Goldman, The Princess bride)

37. Kata-kata yang dibisikkan

Ia begitu menyukai air mata anak laki-laki itu sehingga ia mengulurkan jari-jarinya yang indah, membiarkan tetes-tetes air itu mengalir di sana. Suaranya begitu halus sehingga si anak laki-laki awalnya tidak mengerti apa yang dikatakannya. Lalu anak itu mengerti. Ia bilang bahwa menurutnya ia akan kembali sehat jika anak-anak percaya pada peri.

(James M. Barrie, Peter pan)

38. Hukuman untuk penghianat

“Dan kau?” Lobosh ingin tahu. “Kau, Krabat, apa kau tidak takut?”

“Lebih daripada yang kau duga,” kata Krabat. “Dan bukan hanya keselamatan diriku sendiri yang kucemaskan.”

(Otfried Preubler, Krabat)

38. Kuda hitam sang malam

“Dia menunduk dan mengeluarkan Sophie dari saku rompi. Sekarang Sophie berdiri di sana, memakai piama kecil, bertelanjang kaki. Dia menggigil dan melihat berkeliling, mengamati gumpalan kabut yang bergulung-gulung dan uap halus yang bergolak menakutkan.

“Di mana kita sekarang?” Tanya Sophie

“Kita ada di negeri mimpi,” kata si BFG. “Kita di tempat asal mimpi-mimpi.”

(Roald Dahl, The BFG)

39. Farid

Setiap perampok biasa mengintai jalan-jalan antar desa, memburu ke dusun dan kota serta merongrong penduduk. Dan setelah merampok caravan atau menjarah isi desa, mereka membawa hasil rampasan mereka ke tempat terpencil dan tersembunyi ini.

(Kisah Ali baba dan empat puluh perampok)

40. Ekor berbulu di ambang jendela

Hanya bahasa yang melindungi kita dari ketakutan akan benda-benda tak bernama.

(Toni Morrison, pidato sambutan ketika menerima anugrah Nobel sastra 1993)

41. Tempat yang gelap

“Jim, anak muda,” kata Lukas dengan suara serak, “perjalanan yang pendek telah usai. Maafkan aku, karena sekarang kau harus berbagi nasip denganku.”

Jim menelan ludah.

“Kita kan memang berteman,” jawabnya lirih dan menggigit bibir bawahnya supaya tidak bergetar terlalu kuat.

(Michael Ende, Jim Knopf dan Lukas sang masinis)

42. Berita dari Farid

“Baiklah,” kata Zoff. “Ini yang akan kukatakan, siapa yang merasa punya rencana lebih baik, bisa menceritakan rencananya itu nanti.”

(Michael de Larrabeiti, The Borribles go for broke: buku kedua trilogy the Borribles)

43. Beberapa kebohongan untuk Basta

“Lihat ini!” teriaknya. “Aku meludah di atas tanah ini dan mengutuknya. Laknat! Kalau kau bertemu pemiliknya, katakana padanya apa yang kau dengar ini, katakan padanya bahwa untuk ke-1219 kalinya Jennet Clouston menjatuhkan kutukan atas dirinya dan rumahnya, lumbung dan kandangnya, pelayan dan tamunya, lelaki, perempuan, gadis, anak-anak—terkutuk, terkutuklah mereka semua!”

(Robert L.Stevenson, Kipnapped)

44. Terbangun di malam gelap

Setiap jam sepanjang hari pelayan datang membawa bunga-bunga. Setumpuk bunga pohon ek, brown, meadowsweet, yang terindah dan terhalus yang bisa dikumpulkannya di hutan dan ladang.

( Evangeline Walton, The Four Branches of Mobinogi)

45. Sendiri

“Aduh, mengapa aku mau meninggalkan liang hobbit-ku?” kata Bilbo yang terlonjak-lonjak di punggung Bombur.

(J.R.R. Tolkien, The Hobbit)

46. Si Murai

Namun mereka membangunkannya dengan kata-kata, senjata mereka yang mematikan dan berkilauan.

(T.H. White, the book of Merlin)

47. Kesombongan Basta dan muslihat Staubfinger “Bagaimanapun aku tetap penasaran apakah kita akan disebut dalam syair-syair dan cerita-cerita. Tentu saja, kita ada dalam salah satunya; tapi maksudku: benar-benar diterangakn dalam kata-kata. Kau mengerti kan, diceritakan di samping perapian atau dibacakan lantang dari buku besar dengan tulisan bertinta merah dan hitam, terus-menerus, tahun demi tahun. Dan orang-orang berseru, ”Kami ingin mendengar kisah Froddo dan cincinnya!” kemudian mereka berkata, “Ya, itu salah satu cerita kesukaan kami.”

(J.R.R. Tolkien, The Two Towers: buku kedua trilogy The Lord of the rings)

48. Elinor tertimpa sial

Kemudian Charley menjelaskan padanya letak persis kantor polisi serta banyak petunjuk lain, bahwa dia harus berjalan lurus dari pintu masuk, kemudian setelah sampai di pekarangan, dia harus mengambil posisi di kanan dan menaiki tangga melalui pintu, dan dia harus mengangkat topi begitu masuk ruang kantor. Setelah itu Charley memintanya melanjutkan perjalanan sendirian dan berjanji padanya ia akan menunggu di situ, di tempat mereka berpisah.

(Charles Dicksens, Oliver Twist)

49. Nyaris

“Aku tidak tahu apa itu,” jawab Fiver sedih.

“Untuk sementara tidak ada bahaya, tapi ada yang sedang menuju ke sini—dia datang.”

(Richard Adams, Watership Down)

50. Makhluk kecil yang rapuh

Ketika ia mengungkapkan harapanya yang tipis bahwa Tinker Bell akan senang dengan kehadirannya, Peter pan bertanya, “Siapa Tinker Bell?”

“Oh, Peter!” ia berseru terkejut. Namun, meski ia menjelaskannya Peter tetap tak bisa mengingatnya.

“Peri banyak sekali,” kata Peter. “Kurasa dia sudah mati”

Kurasa Peter benar. Peri hanya hidup singkat, tetapi mereka makhluk yang sangat kecil, sehingga waktu yang sedikit itu bagi mereka terasa cukup lama.

(James M. Barrie, Peterpan)

51. Kata-kata yang tepat

Inilah yang menakutkan: seolah dari lumpur di kedalaman yang paling dasar datang suara-suara dan teriakan-teriakan; debu yang tanpa bentuk bergerak dan berbuat dosa; sesuatu yang mati dan tak terlihat sosoknya menguasai perwujudan kehidupan.

(Robert L. Stevenson, Dr. Jekyll & Mr. Hyde)

52. Api

“Lalu—aku tahu!” kata Bagheera, tiba-tiba melompat. “Cepatlah kau pergi ke desa manusia di lembah gunung dan ambil beberapa Bunga Merah yang mereka tanam. Kalau tiba saatnya nanti, kau akan punya teman yang lebih kuat daripada aku, Baloo, atau siapa pun anggota kawanan kita yang menyayangimu. Ambilah bunga merah itu!”

Yang dimaksud Bagheera dengan Bunga Merah adalah api, tapi tidak ada penghuni rimba ini yang menyebutkan nama asli benda itu. Setiap makhluk rimba takut padanya seperti mereka takut pada kematian.

(Rudyard Kipling, The Jungle book)

53. Penghianatan, kebohongan, dan kebodohan Kemudian ia berkata, “Aku akan mati, itu sudah pasti; tidak ada jalan untuk lari dari penjara yang sempit ini!”

(Kisah Ali baba dan emapt puluh perampok)

54. Sang bayangan

Langitku kuningan

Tanahku besi

Bulanku segumpal tanah liat

Pes matahariku

Membakar ketika siang

Kabut kematian saat malam

(William Blake, Lagu ratapan kedua Enion dari Vala atau The Four Zoas)

55. Hanya desa yang terbengkelai

Dalam buku aku bertemu dengan mereka yang telah mati, seolah mereka masih hidup, Dalam buku aku melihat apa yang akan datang.

Semua akan hancur dan musnah seiring berlalunya waktu; Yang terkenang akan terlupakan, Jika Tuhan tidak menganugerahkan buku Untuk menolong manusia yang fana.

(Richard de Bury, dikutip dari Alberto Manguel)

56. Merindukan rumah

Namun Bastian tahu ia tidak akan pergi tanpa membawa buku itu. Sekarang ia baru mengerti bahwa ia datang ke sini hanya demi buku itu. Buku itu memanggilnya dengan caranya sendiri, karena buku itu ingin bersamanya, karena sejak awal buku itu memang miliknya!

(Michael Ende, Cerita tanpa akhir)

57. Pulang

Dan ia berlayar pulang

Setelah hampir setahun penuh

Dan berminggu-minggu

Dan sehari lagi

Sampai ia kembali tiba di kamarnya, ketika malam Makan malamnya menunggu Dan masih hangat.

(Maurice Sendak, Where the wild things are)

Ruanglain31@Cikarang, 15 Maret 2010 (Pikir lagi!)

Note: catatan ini ditulis ulang dengan iringan lagu Sherina Munaf dari album Gemini.

Gambar

Karawang, 281113

Tidak Tuntas

Baca novel memang menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Tiap kali ke toko buku pasti tujuan utamanya langsung ke rak fiksi. Mau suka ga suka, mau ada budget ataupun tidak, keluar dari toko buku bisa dipastikan akan menenteng belanjaan. Kalau mau dirunut setengah tahun ke belakang, saya sudah beli buku belasan. Namun ternyata tak semua kelar dibaca. Ada kebiasaan menumpuk, lalu tak tersentuh. Bisa lupa, bisa juga minatnya sudah redup.

Seperti trilogy ‘Clear and Danger Present’ a novel by Tom Clancy yang kubeli di saat malam takbir hari raya Qurban. Saya hanya semangat di awal, buku pertama sudah nyaris selesai. Mau lanjut kedua berat. Selain tema yang rumit, novel ini penuturannya bertele-tele. Berharap seperti cerita spionase macam Robert Langdon yang rumit tapi cerita tetap berbobot dan dikemas fun. Lain lagi ’The Maze Runner’, buku pertama butuh seminggu untuk menyelesaikannya. Awalnya saya mengharap akan seperti Harry Potter, nyatanya baru sampai di tengah cerita saya sudah bisa menebak twist nya, dan benar. Makanya ‘The Scorch Trial’ pun ga kesentuh juga.

‘Lolita’, ini lebih parah lagi. Sudah tiga tahun berdebu di rak. Buku pinjam-tukar sama teman-teman Gila Film (GF). Bulan lalu nyaris selesai, tapi sampai di bagian Lolita yang kembali sekolah saya malah meletakannya untuk berganti ke novel berikutnya. Saat ini saya pegang ‘Night Shift’ nya Stephen King. sudah dapat satu cerita ‘Jerusalem’s Lot’ yang katanya cerita pendek tapi panjangnya sampai beberapa halaman, ga tahu akankah kelar juga karena dalam satu cerita King membubuhkan detail yang tak ada sangkutnya dengan inti. Bersama dengan King, saya dapat separo novelnya Dean Koonz: Intensitas. Ini saya yakin sampai selesai, paling lambat akhir pekan ini. Ceritanya bagus, tentang pembunuh serial yang cerdas. Psikopat yang suka bermain-main dengan korban sebelum dihabisi, ceritanya intens dengan seorang karakter utama, sang calon korban yang cerdas dan ternyata mempunyai masa lalu yang suram yang membentuk karakternya untuk menghadapi tekanan. Ini baru cerita bagus.

Banyak novel yang tidak tuntas dibaca dalam ‘satu kayuhan’ bisa membuat kita kehilangan benang merah. Saat kita baca sebuah cerita, saat cerita itu menuju titik bosan harusnya tetap harus dituntaskan. Jangan mengganti buku lain. Ini teorinya, nyata yang saya lakukan dalam satu waktu bisa memegang 3-5 buku cerita yang tak ada sangkut pautnya. Kasus novel ‘Twilight’ yang saya beli komplit, saya tak tuntas baca seri ‘New Moon’ karena keburu nonton filmnya dan hilang selera saat ternyata filmnya busuk. ‘Kumpulan Kisah Seru Seri 2’ juga bernasip sama, saya terpecah baca tiap cerpen lalu lanjut buku lain, saat buku lain jenuh saya lanjut cerpen berikutnya, begitu seterusnya tahu-tahu sudah ganti buku lain.

Harus saya akui daya baca saya tak secepat dulu, minat masih tinggi tapi actualnya ga sanggup. Apalagi rutinitas kerjaan yang memaksaku untuk menguranginya. Dengan 5 hari kerja, waktu luang tinggal Sabtu-Minggu. Pulang kerja ada rutinitas lain, jadi sangat mepet. Belum lagi kalau ada bola di tv, itu acara yang tak bisa ditunda untuk dinikmati. Dua hari libur, pasca menikah beda banget sama pas merdeka. Kalau dulu seharian penuh bisa duduk bareng buku dan musik kini itu tinggal kenangan. Istri saya tak hobi buku, apalagi bola paling rewel kalau saya menyendiri. Hobinya ngobrol, ini nih yang membuat produktivitas menurun. Repot juga kalau pasangan tak sehobi. Saya masih berkeyakinan kalau nanti saya bisa menuntaskan buku-buku yang sudah kubeli tapi terbengkelai. Saya sudah menandainya tiap berhenti saat itu, jadi kalau ada waktu luang bisa segera dilanjutkan. Entah itu kapan.

Jadi baca buku langsung tuntas, itu hanya teori. Kecuali buku itu sehebat Harry Potter.

Gambar

Karawang, 261113

Daily Needed

Catatan: Bukan bermaksud promosi sebuah produk, tapi foto-foto berikut adalah barang yang setiap hari saya butuhkan. Variasi produsen-nya sudah sebuah bukti ini bukan posting-nya sebuah iklan.

1. Air Mineral

Gambar

2. Kanebo

Gambar

3. Deterjen

Gambar

4. Pemutih

Gambar

5. Minyak rambut

Gambar

6. HP

Gambar

7. Saus

Gambar

8. Margarin

Gambar

9. Pasta gigi

Gambar

10. Suplemen

Gambar

11. Susu

Gambar

12. Pencuci Wajah

Gambar

13. Shampoo

Gambar

14. Pengusir nyamuk

Gambar

15. Mie instan

Gambar

16. Kopi

Gambar

17. Ketel suling

Gambar

18. Pelicin setrika

Gambar

19. Koran

Gambar

20. Kreamer

Gambar

21. Pencuci mulut

Gambar

22. Pembersih kaca

Gambar

23. Lotion ketek

Gambar

24. Kecap

Gambar

25. Minyak wangi

Gambar

26. Pewangi lantai

Gambar

27. Teh

Gambar

28. Pengharus ruangan

Gambar

29. Sabun pencuci piring

Gambar

30. Minyak goreng

Gambar

31. Sabun tangan

Gambar

32. Sabun colek

Gambar

Satu hal yang baru saya sadari, tak ada satu-pun ber-merk sama. Walau mungkin produsennya satu atap. Saatnya berkumur…
Karawang, 251113

UMK Karawang 2014 Final

Gambar

(Kantor Pemda Karawang yang sempat diduduki ribuan buruh berhari-hari)

Setelah melalui perundingan alot berhari-hari dengan diwarnai demo, pendudukan kantor Bupati, bentrok antar ormas, bentrok antar Serikat, adegan buruh menginap di Pemda, bentrok TNI vs Polisi (yang ini alasan pribadi yang kebetulan terjadi di hari demo buruh) sampai perang urat syaraf. Akhirnya UMK Karawang 2014 sudah final, tanggal 20 November 2013 kemarin Bupati Karawang, Ade Swara ketok palu dan menandatanganinya. Rinciannya adalah:

UMK Dasar Rp 2.447.450,-

– UMK TSK (Tekstil Sandang dan Kulit) : Rp 2.484.162,-

– UMK Kelompok Usaha I                       : Rp 2.496.375,-

– UMK Kelompok Usaha II                      : Rp 2.624.000,-

-UMK Kelompok Usaha III                      : Rp 2.814.590,-

Nilai ini meleset dari tuntutan buruh yang awalnya meminta di angka 3.7 juta yang saat menjelang penutupan melunak minta 3.2 juta. Padahal dengan diketuknya palu di angka 2.8 juta ini berarti Karawang menduduki nilai UMK tertinggi se-Indonesia. DKI Jakarta yang sudah jauh hari menentukannya ‘cuma’ di angka 2.4 juta. Nilai UMK Jakarta 2014 ini sama dengan UMK karawang tahun 2013 untuk sektor tertinggi.

Sementara posisi kedua diduduki Kabupaten Bekasi yang selisih 5 (lima) rupiah untuk UMK dasar. Deadline penentuan UMK memang tanggal 20 November 2013 kemarin, sekarang Karawang tinggal menanti ketok palu dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Wait and see, biasanya 99% acc kalau dari Bupati sudah tanda tangan.

Harusnya buruh Karawang lebih bersyukur dengan jadi juara satu. Mudah-mudah ini yang terbaik tanpa mempolitisir segala keputusan yang dibuat. Semoga..

Sebagai pembanding UMK Bekasi 2014:

UMK Dasar Rp. 2.447.445,-

– UMK Untuk rumah sakit/klinik : Rp. 2.101.374,-

– UMK Kelompok usaha III         : Rp. 2.496.394,-

– UMK Kelompok usaha II          : Rp. 2.692.190,-

– UMK Kelompok usaha I           : Rp. 2.814.562,-

Karawang, 211113

Sinetron

Gambar

Sungguh mengherankan tayangan tak bermutu justru banyak yang berminat nonton. Ratingnya jelas tinggi karena acara-acara tersebut terus diproduksi dan ditempatkan di jam utama. Laku, laku banget. Acara musik live yang norak. Gosip murahan yang wara-wiri setiap menitnya. Tayangan komedi garing yang tak mendidik sampai sinetron. Untuk catatan kali ini saya ingin fokus terhadap sinema elektronik atau lebih dikenal dengan sinetron.

Mungkin ini yang namanya geting nyanding, apa yang saya benci justru menimpa saya. Istri saya dan seluruh keluarganya suka menonton sinetron. Saya sebal sekali kalau pas acara ngumpul keluarga, tv yang nyala pilihannya jatuh ke SCTV dengan sepertinya tiada henti berisi sinetron, RCTI dengan haji buburnya, Indosiar dengan serial noraknya atau MNC dengan sinetron setting jadulnya. Hebatnya lagi mereka hafal dan bisa diskusi detail apa saja yang telah terjadi dan kemungkinan nasip sang tokoh ke depan. Makanya kalau saya paling formalitas ikut duduk segera menghabiskan kopi untuk beranjak menyendiri lanjut menikmati buku. Saya seperti kejebak di antara tawa dan sinis karakter sinetron.

Saya pernah lihat sepintas salah satu karakter sinetron kita adalah Batman. Manusia kelelawar burjubah kitam yang muncul di antara penduduk desa setting zaman dulu. Anda tak salah baca, Batman produksi DC komik itu. Serius.

Pernah juga lihat tokoh-tokohnya berkulit biru seperti warga planet Pandora yang ada di film Avatar. Gila! Lali ada karakter bersorban laksana jin di film-film Timur Tengah sampai ke setting zaman kerajaan, judulnya Gajah Mada. Ini dunia sudah kacau jangan dibuat makin kacau.

Tayangan sinetron di ruang keluarga hanya akan kalah kalau ada bola. Biasanya semua ngalah buatku karena bola tak bisa di-pause karena tiap menitnya live. Kalau udah gitu ada yang ikut nonton ada yang menyingkir ke kamar buat lanjut nonton sinetron. Padahal dulu pas sebelum berkeluarga sampai awal saya bergabung dengan keluarga istri mereka suka menonton berita di TV1 atau Metro, anehnya setelah resmi jadi keluarga saya malah dihajar sinetron nyaris setiap hari.

Untungnya penderitaan sinetron sudah berakhir setelah saya pindahan rumah. Jadi merdeka mau nonton apa saja silakan. Pilihan nonton pun bisa saya atur lagi seperti waktu lajang dulu. Kalau istri mau nonton acara buruk (versi saya) termasuk sinetron maka saya akan tegur, “seleranya tolong di-upgrade”.

Sebenarnya saya sendiri jarang nonton TV. Acara rutin yang kuikuti hanya bola. Sesekali lihat kartun, atau kalau cari teman makan sambil nonton ya lihat berita. TV hanya sebagai teman kala sedang malas ngapa-ngapain. Teman buang waktu, atau pengen update kabar terbaru. Apalagi sekarang lagi masa kampanye terselubung jelang Pemilu 2014. Pemilik TV malah berlomba menampakkan diri untuk mencalonkan diri jadi pemimpin Indonesia tercinta ini. Metro dengan Paloh-nya, MNC grup dengan Win-HTnya, AnTV dan Tv1 dengan ARB nya sampai selubung pemerintah di TV nasional. Sudah tak objektif lagi. Muak lihat penampakan yang seolah-olah mereka berhasil dan layak, padahal pepesan kosong. Jadi ketika kita dihajar sinetron dan mau menghindarinya kita malah disuguhi parade badut politik.

Harusnya ada peraturan yang mengatur agar pemilik TV tak boleh mencalonkan diri untuk jadi presiden. Acara TV kita makin kacau. Stasiun TV nya makin banyak tapi pilihan bijak tetap sedikit. Andai punya duit lebih buat langganan TV kabel. Eh, ga juga ding ntar malah waktu saya lebih banyak terbuang duduk di depan TV. Duh, salahkan Orange TV!

Karawang, 191113

Malas

Gambar

Dua hari penuh cuaca di Karawang mendung, bertepatan dengan hari libur Sabtu –  Minggu. Hari yang sempurna untuk bermalas-malasan. Sejak pagi saya sudah malas bergegas dari tempat tidur, hanya sembahyang bentar lalu lanjut meluk guling. Siangnya ga jauh beda, paling diselingi makan yang karena malas keluar maka makannya pun hanya roti dan camilan yang tersedia stock di kulkas. Habis itu lanjut tidur. Sampai petang saat peralihan tenggelamnya matahari (yang sepertinya ga muncul hari ini) cuaca masih sangat bersahabat untuk bermalas-malasan. Gerimis makin menenggelamkan wajah pada bantal dan pelukan guling makin erat. Saat hari sudah gelap, rasa lapar akhirnya memaksa untuk bangun, andalannya ya bikin mie rebus sama ceplok telur. Habis itu lanjut tidur. Akhir pekan ini makin membuat tanpa gairah saat tahu tak ada laga sepakbola di tv. Sedang libur liga buat pertandingan international. Jadi lengkaplah sudah seharian ini tidur.

Besoknya pagi-pagi sudah gerimis dan kebetulan Minggu ini tak ada acara ke manapun. Jadi hanya beranjak ke ruang tengah untuk menonton kartun sambil ngopi. Sepanjang pagi tak melakukan apa-apa, siangnya walau cuaca mendung, ada tamu. Bukan tamu saya, teman istriku main mau acara bikin lotis mangga. So saya bergegas masuk kandang lagi, lanjut mlungker di kamar. Sambil tiduran dalam selimut iseng lanjut baca buku berjudul ‘Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar’. Karena buku ini semacam rangkuman reportase wartawan Tribunnews jadi seperti membaca koran, khas media online. Lama-lama ngantuk lagi. Tahu-tahu sudah maghrib dibangunin istri buat sholat. Tamunya sudah tak ada. Kelar ngaji bentar, cek acara tv tak ada yang bagus. Isinya para alay melakukan lelucon yang tak lucu, mau dibawa kemana komedi Indonesia. Melihat di luar malah turun hujan tak ada pilihan lain selain lanjut bermalas-malasan. Terbangun tengah malam, sempat mau lanjut ngetik dan nyalain laptop saat mau bikin kopi eh gas malah habis. Terpaksa dini hari ini kering. Tanpa doping kopi ternyata ga nikmat sama sekali so akhirnya laptop kembali off dan nemani istri ngobrol, tak ada 30 menit dia ketiduran. Duh! Senin dini hari mata fresh karena kabanyakn tidur. Kembali nyalain tv ada film ga jelas di salah satu stasiun swasta. Karena filmnya ga menarik malah menguap berkali-kali. Dan saat terbangun di ruang tengah hari sudah terang.

Jadi selama dua hari penuh saya ada progress apa pun. Tak ada gairah sepak bola. Tak ada acara baca novel. Tak ada acara refreshing keluar rumah. Istirahat total. Lagian cuaca di pertengahan November ini sangat mendukung untuk malas. Yah, sesekali memang harus begitu. Tidur tanpa beban untuk menunjang hari Senin yang kembali padat.

Karawang, 181113