Warga Baru WordPress

Gambar

Saya termasuk warga baru WordPress. Baru join awal tahun 2013 ini. Saya termasuk satu dari sekian orang yang kecewa Multiply tutup. Sebenarnya di Multiply menyenangkan walau ga segila blogger lain, saya tetap sesekali update tulisan. Ketika pertama kali saya dengar ini Web mau tutup jelas saya sedih. Seingat saya saya pertama kali bergabung dengan Multiply di tahun 2006. Tahun di mana saya untuk membuat koneksi internet ga seluas sekarang. Waktu itu saya kalau mau menyambung ke dunia maya harus ke warung internet (warnet). Tarifnya pun waktu itu satu menit seratus perak, jadi satu jam seharga Rp 6 ribu. Paling sesekali saja ketika teman kuliah main membawa modem yang harganya waktu itu sejuta lebih. Waktu itu saya dengan katro nya terheran-heran ada alat koneksi tanpa kabel yang bisa menjelajah hanya dengan barang segede jempol. Walaupun HP saya sudah bisa GPRS tapi tarifnya masih mahal dan tak senyaman di PC.

Menurut saya Multiply gugur karena gagal adaptasi. Seperti Friendster yang akhirnya juga tumbang. Sama seperti WordPress yang kini mulai nyaman, dulu sebelum Facebook  booming saya juga selalu meng-update Friendter. Saya setuju mengenai pendapat bahwa di dunia ini tak ada yang original. Adanya adalah penyempurnaan penemuan lama dengan menambal sulam apa yang telah ada. Kasus Nokia yang akhirnya kukut juga karena gagal adaptasi. Di saat mobile-phone sudah mulai merambah system yang lebih maju Nokia malah tetap setia pada pakem lama symbian, mungkin ke-Pede-an sama julukan ponsel sejuta umat. Ketika mereka menyadari tertinggal mereka terlambat untuk adaptasi, salah perhitungan. Saya juga punya akun di komunitas Ngerumpi.com, dan jujur saja saya tak terlalu terkejut ketika itu web juga tutup pada akhirnya. Begitu juga blog film keroyokan di Bicarafilm.com. Mereka yang tersisih adalah mereka yang gagal beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ya, seperti Dinasaurus yang pada akhirnya ditelan zaman.

Saya termasuk orang yang (mencoba) setia terhadap apa yang saya pertama kali punya. Nomor HP saya ga pernah ganti dari pertama beli sampai sekarang. Tapi dipaksa ganti karena HP nya kemalingan. HP Nokia buntut 7610 saya masih ada dan masih saya pakai, walau sekarang nambah beli lemot-phone. Sepeda motor saya Kharisma keluaran 2005 dan sampai sekarang tak terbesit sedikitpun untuk ganti dengan yang lain, eh ini sih kepaksa kali ya. Ga ada budget beli baru. Hehe..

Begitu juga blog, saya pertama kali bikin blog di Multiply dan kini dipaksa buat akun baru di tempat lain. Wah, walau saya punya Blogspot dan kadang menulis di note Facebook bagi saya rumah sesungguhnya tetap di rumah nanas di bawah laut, eh maksudnya di Multiply. Oh iya, saya juga punya akun di Kompasiana.com, awalnya menjadi silent reader, lalu iseng gabung. Di sana kebanyakan sudah berkelas, walau yang amatir juga banyak. Hanya saja, politik dan sosial lebih kental. Padahal saya orangnya ga suka terlampau formal dalam bercerita. Kalau debat politik saya paling juga KO, waktu kuliah saya jarang ikut demo. Hahaha, hidup Jokowi! Dengan kondisi seperti itu paling di Kompasiana saya pasang tulisan di bagian hiburan atau fiksi. Makanya jarang posting tulisan. Dan yang lebih parah, PC kantor Kompasiana di-block. Duh! Kiranya social network macam Facebook dan Twitter kali ya ini IT.

Dan kini dengan semangat baru, saya resmi bermigrasi ke WordPress. Seperti pada umumnya, orang baru harus memperkenalkan diri. Saya follow sebanyak-banyaknya dan mencoba membaca tulisan teman-teman baru. Komen dan like ditebar di mana-mana (jangan kaget dan jangan bosan menemukan jejak saya di tempat kalian). Moga saya diterima dengan baik di sini. Maaf, buat para senior kalau meng-ospek anak baru jangan keras-keras ya. Sejauh ini WordPress sih asyik. Lebih fleksibel dan yang terpenting di PC kantor tidak di-block. Haha…, salam kenal semua.

Karawang, 091013

Iklan

Tiga Kata Ajaib

Gambar

Bagi yang sudah pernah kerja di Perusahaan ketika saya menulis kalimat ‘Tiga Kata Ajaib’ saya yakin sebagian sudah paham apa yang saya maksud. Seperti yang biasanya disampaikan kepada calon karyawan baru, disetiap training akan diselipkan motivasi dalam bekerja, seperti jangan sampai melakukan 3M: Menerima barang NG (Not Good; baca ‘en-ji’), membuat barang NG dan Mengalirkan barang NG. Nah, kalau training motivasi maka di suatu kesempatan akan ada istilah ‘Tiga Kata Ajaib’. Tiga kata itu adalah:

MAAF – TOLONG – TERIMA KASIH

Dalam hidup, saya percaya bahwa apa yang kita tanam maka akan kita tuai. Singkatnya, kalau kamu ingin dihormati maka hormatilah orang lain. Bila kamu ingin dihargai maka hargailah orang lain. Jika kamu (suatu saat) perlu pertolongan, maka biasakan menolong sesama. Begitu seterusnya. Maka dari itu tanamlah kebajikan sebanyak mungkin dengan iklas tanpa pamrih, maka suatu saat Tuhan akan membalasnya. Kita tak tahu melalui tangan siapa yang jelas pasti ada.

Dalam dunia kerja, rasa saling menghormati sangat penting untuk interaksi. Baik dengan teman kerja, atasan, bawahan ataupun dengan kolega Perusahaan lain. Dalam prakteknya kita perlu menjalankan tiga kata ajaib tersebut. Biasakan ucapkan “MAAF” ketika akan memulai berbicara, di sini dalam artian ketika kita akan menyela pekerjaan orang lain. Di saat orang lain bekerja maka kita meminta maaf karena menggangunya.

“Maaf menggangu waktunya”

“Maaf sebelumnya, bisa bantu saya”

“Maaf menyela pekerjaannya sebentar”

Kata berikutnya adalah “TOLONG”. Walaupun itu adalah job mereka kita sebaiknya mencoba menghormatinya dengan membuka percakapan dengan meminta tolong. Contohnya ketika kita mau foto copy kita memberi instruksi kepada OB agar terdengar sopan maka tinggal bubuhi kalimat pembuka dengan kata ajaib ini.

“Bisa minta tolong, foto copy kertas ini?”

“Minta tolong kesediaanya besok lembur”

“Bisa minta tolong lanjutkan print out ini”

Dan kata ajaib terakhirnya adalah ucapan “TERIMA KASIH”. Setelah semua usai biasakan ucapkan terima kasih atas apresiasi-nya. Ini juga ga peduli apakah yang dilaksakan adalah job dia atau bukan. Bagian HRD paling sering mendengar kata ini setelah selesaikan pekerjaannya. Ya iya-lah interaksinya manusia tiap hari, bukan mesin atau alat ukur.

“Terima kasih sudah membantu”

“Terima kasih ya”

“Makasih sudah mau memperbaiki absensinya”

Ada analogi yang biasa saya paparkan ketika training karyawan baru. Si A mau meminta balik bolpoin yang dipinjam si B. Ini tergantung dari si A memulai percakapan.

Cara 1: “Kembalikan bolpoin saya sekarang”

Cara 2: “Maaf B, saya lagi butuh bolpoinnya. Tolong dikembalikan ya. Terima kasih”

Dari dua cara tersebut, pada intinya bolpoin memang kembali ke si A. Namun alangkah lebih bijak cara yang ke 2 dipakai, karena pasti membekas di pikiran si B untuk kembali menghargai orang lain. Simple tapi mengena.

Mari kita prakterkan tiga kata ajaib ini, dan rasakan bedanya!

Karawang, 081013

Makanan Halal

Gambar

(alangkah lebih bijak meng-ecek adanya logo ini di setiap makanan yang akan kita santap)

Beberapa waktu yang lalu saya dapat broadcast bbm tentang restoran terkemuka di Indonesia yang belum mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kaget juga ketika membacanya, karena beberapa kali saya pernah makan di sana. Walau bukan jaminan halal dalam actual-nya tapi setidaknya dengan adanya label halal dari MUI lebih memberi kenyamanan hati dalam bersantap.

Saya jadi teringat saat saya masih kecil tinggal di kampung, di rumah keluarga kami yang sederhana dengan menerapkan aturan makan yang ketat. Keluarga kami menekankan untuk lebih makan sayuran dan lebih sering makan telur (kaya protein bro). Kalaupun sesekali tersaji daging maka biasanya ikan, udang atau hewani yang hidup di air. Dan kalau menginginkan daging ayam atau bebek maka keluarga kami akan menyembelih ayam sendiri agar prosedurnya sesuai dengan kaidah agama. Biasanya sih tinggal ambil dari ternak, tapi sesekali beli ayam hidup di pasar. Kebetulan di kampung sudah terbiasa memelihara ayam, di mana pagi harinya dilepas dan sore harinya ngandang sendiri. Ibaratnya telur tinggal ambil, sayur tinggal petik.

Namun sayangnya kebiasaan yang sangat baik di keluarga ini tak bisa berjalan ketika saya merantau. Awalnya saya masih menjaga makan dengan membeli makan di warteg berupa sayur, ikan dan telur. Lama-lama bosan. Dan lingkungan di perantauan akan memaksa Anda untuk mengikuti kebiasaan mereka. Setelah bekerja maka ada catering yang tersedia ada beberapa pilihan: daging, ayam, ikan, dan telur. So akhirnya saya memakan ayam yang bukan ‘dibunuh’ oleh keluarga. Lalu ketika ada acara ngumpul sama rekan kerja makan-makan maka akan sulit menolak ayam kalau acaranya di KFC. Dari yang kecil dan sesekali itu akhirnya saya tak bisa mempertahankan tradisi keluarga untuk menjaga makanan. Apalagi jadi anak kos yang ‘merdeka’ di mana asal tak kelaparan saja itu sudah bagus. Hello mie instan, apa kabar?

Dan selama hampir sepuluh tahun di perantauan ini tubuh saya mekar sampai kelebihan berat badan sepuluh kilo. Padahal pas awal berangkat ke tanah orang saya kerempeng, sampai-sampai kalau pas mudik ibu saya prihatin dikiranya ga doyan makan karena jauh dari rumah. Lebih parah lagi, istri saya tak mahir memasak. Jadinya sering beli di luar, padahal saya termasuk orang rumahan di mana saat usai kerja jarang sekali main ke tempat teman.

Jadi kesimpulannya saya hanya sekedar sharing saja tidak mengajak untuk bilang ‘jangan makan di sini’ karena itu semua kembali kepada masing-masing individu, prinsip saya kalau bisa dicegah kenapa tidak? Berikut data 15 restoran yang belum ber-label halal: J-Co Donuts, Bread Talk Roti, Roti Boy, Papa Rons Pizza, Izzi Pizza, Baskin ‘n Robbins, Richeese Keju, Coffee Bean, Dapur Coklat, Starbucks Coffee, Solaria, Hanamasa, Rice Bowl, Red Bean, dan Burger King.

Sebagai catatan tambahan saja, setelah saya baca broadcast tersebut saya tak pernah makan di sana lagi. Memang enak hidup di desa sih, lingkungan masih asri dan jarang beli makan di luar, apalagi di restoran-restoran tersebut.

Karawang, 0710013

Arrest of ‘Antigraft’ Judge Shows Depth of Indonesia’s Corruption Crisis

Masuk time nih ketua MK kita.
Kacau!

World

When agents from Indonesian’s Corruption Eradication Commission (KPK) hauled a sobbing judge from his Jakarta residence on Wednesday night, it looked like a re-run of dozens of other arrests in this chronically corrupt country — right down to the huge pile of banknotes (in this case $595,000) found in the crooked official’s home. But Akil Mochtar was not just any crooked official. In a startling demonstration of just how far graft in Indonesia has reached, investigators this time had nabbed the chief justice of the Constitutional Court, which sits side by side with the Supreme Court as one of the two highest courts in the land.

This apex judicial official was charged with accepting bribes to fix two cases of disputed district-head elections. The antigraft agency also arrested a few other people, including a legislator from the Golkar Party — the political party Akil once belonged to — who also…

Lihat pos aslinya 549 kata lagi