Rencana Besar!

Gambar

Dulu sewaktu saya masih kelas dua SMK, saya mengira bahwa seseorang yang berusia 30 tahun itu sudah di usia matang. Mempunyai rumah lengkap dengan perabotnya, dengan pekerjaan mapan dan setiap pagi sebelum berangkat kerja mendapat kecup semangat dari sang istri dan sorenya pulang dengan disambut senyum ceria seorang anak. Saya mengira usia segitu tentunya sudah dewasa dengan berpakaian rapi memakai dasi dalam aktivitas keseharian. Mengikuti meeting dengan orang-orang penting dan merumuskan sebuah keputusan yang akan menentukan masa depan orang banyak. Wara-wiri dari satu Perusahaan ke Perusahaan lain dengan dering telpon yang setiap saat menggangu. Dan di tiap akhir pekan menjalani liburan ke tempat romantis dengan keluarga menggunakan berkendara mobil pribadi.

Boom! Saya (hampir) tak mempunyai semuanya saat ini.

Bulan lalu saya ulang tahun ke 30 tahun. Usia kepala tiga yang pernah saya bayangkan saat masih Sekolah ternyata meleset semua. Ketika bangun tidur, pikiran saya masih sama. Saya segera buat minuman setelah ibadah, lalu menonton kartun di tv. Spongebob tetap menjadi acara favorite, bahkan itu kartun diputar ulang setiap pagi-pun saya tetap berminat (serta sore hari tentunya). Saya masih suka main play station, punya PVP yang berisi Mario Bross atau Battle City yang beberapa tahun lalu saya gemari. Di tempat kerja pun saya masih sesantai  di sekolah. Pressure kerjaan tak kuanggap sebagai sebuah beban. Saya nikmati dan malah berbalik menjadi candu. Ketika berangkat dan pulang kerja-pun saya pasang musik mp3 di telinga dan membaca majalah film terbaru atau novel berdebu di mobil jemputan, dalam perjalanan saya sesekali berdendang layaknya sebuah perjalanan libur. Well, pada dasarnya tak banyak perubahan. Pikiran saya masih sebingung anak SMK kelas dua.

Dari pemikiran hijau itu maka saya susun sebuah rencana besar dalam hidup. Seperti layaknya peternak menggiring bebek-nya untuk berbaris di pematang sawah, maka saya pun menyusun apa saya yang harus saya capai di usia-usia tertentu. Bebek pertama, di usia 22 tahun saya harus punya motor sebagai sarana mobilitas ke mana-mana. Setahun sebelum menginjak usia itu saya sudah beli, cash! Bebek kedua, lulus kuliah tepat waktu. Bisa di check list, lancar jaya walau IPK nya memprihatinkan yang saya harap hanya bisa pakai toga. Yang terpenting bisa membuat orang tua tersenyum bahwa saya bisa kuliah dengan uang sendiri, dan lulus. Bebek berikutnya saya pengen punya usaha mandiri sebelum usia 26 tahun. Ini yang repot. Oke, karena bebek sudah kupegang, walau berontak maka saya paksakan buka usaha toko listrik dan usaha ternak ayam. Hell yeah, kalau belum siap memang alangkah bagusnya tak dipaksakan. Belum setengah tahun jalan semuanya runtuh. Sewa ruko yang mahal, panjaga toko yang kena tipu sampai manajemen keuangan yang buruk. Merugi dan dipaksa gulung tikar. Ternak ayam. Ini usaha keluarga, saya hanya melanjutkan. Saya lepas semua yang saya tata di perantauan dan memutuskan pulang kampung. Timing-nya tak tepat. Saat itu flu burung yang saya kira sudah reda ternyata menghantam saya. Banyak ayam dan bebek saya limbung. Saya juga limbung. Saya seperti merusak sendiri barisan bebek yang sudah atur. Di akhir tahun 2009 saya benar-benar bangkrut.

Salah satu jalan pintas untuk mendapatkan uang adalah mencari kerja. Dengan bekerja sebagai karyawan maka kamu akan otomatis mendapat uang setiap bulan. Tak peduli bagaimana bagus atau buruknya performa kamu, selama kamu datang di jam kerja maka kamu akan digaji. Jadi saya dengan terpaksa kembali ke kota Cikarang dengan posisi uang minus (pinjam kakak saya). Saya kembali menebar lamaran baik via e-mail ataupun surat pos. Dan setelah tiga bulan kebebasan saya sudah berseragam kerja menjadi leader produksi. Dari sini saya ingin melanjutkan S1, sehingga gaji saya ketatkan dalam pemakaian. Hufh, untuk sementara ada pemasukan dan tantangan menata bebek berlanjut.

Bebek saya yang berikutnya adalah saya ingin menikah di usia 27 tahun, itu artinya tahun 2010 harusnya sudah berkeluarga. Yang ini meleset. Ketika bulan menginjak angka sembilan saya kembali me-review teman-teman wanita yang pernah dekat. Sampai akhirnya di pengujung tahun saya tak menemukan wanita yang siap berjuang bersama. Di bulan Januari 2011 saya memaksa diri harus menikah tahun ini, tahun 2011. Jadi review para calon kembali saya gulirkan. Ada empat wanita yang saya bidik, salah satunya kelak jadi pendamping saya.

Wanita pertama adalah teman kuliah yang kini bekerja di sebuah rumah sakit. Saya mendatanginya saat jam kerja. Setelah dipersilakan duduk dan diberi minum, saya langusng mengutarkan niat gila itu. Dia hanya tersenyum. Jawabnya ketika itu, “Peluang kita bersama 50%. Saya masih ingin berkarir, datangi saya ketika kamu sudah lulus S1”. Waktu itu, S1 saya belum kelar. Beberapa sks akan saya ambil lagi karena ada nilai ‘D’ nya. Jadi bisa saya pastikan tahun 2011 ga akan selesai. Jadi saya coret. Saya hanya minta kesediaanya tanpa syarat apapun.

Wanita kedua adalah temannya teman kuliah yang dulu sering ikut ngumpul saat ada tugas yang dikerjakan bersama. Saat itu ada seminar launching buku baru Fira Basuki di Jakarta. Saya ajak ketemuan sekalian ajak dia mengikuti acara tersebut. Selesai acara saya utarkan niat gila itu. Sama, dia hanya tersenyum. Jawabnya lebih menusuk, “Sudah karyawan tetap? Nanti bisa kasih makan anak orang? Tinggal di mana?”. Sekali lagi saya tak mau syarat apapun. Segalanya dipikir nanti, yang terpenting siap berjaung bersama dan harus tahun ini menikah. Waktu tak bisa dibeli dengan apapun. “Temui saya ketika sudah mapan”. Coret!

Wanita ketiga adalah teman lama yang lost contact sejak tahun 2006. Ketika pertama menghubunginya via telpon saya langsung to the point seperti yang lain, awalnya saya dianggap gila karena sudah lama tak bertemu tahu-tahu menodong senapan rumah tangga. Lalu kita sepakat bertemu, saya main ke rumahnya (setelah sekian lama masih ingat ternyata). Saya paparkan salah satu rencana besar saya. Bahkan saya mengaku pengangguran dengan posisi masih lanjut kuliah S1. Saya ingin menguji kelayakannya. Boom! Dia bersedia. Ternyata dia juga masih kuliah dan bekerja. Dia juga mengajak berjuang bersama dan yang terpenting dia kasih jawaban 100% siap. Dia ga peduli saya nantinya mau kerja sebagai apa, dan sama-sama berprinsip bahwa semua masalah nantinya pasti ada solusi. Singkat cerita di tanggal 11-11-11 akhirnya kita menikah, itu berarti bulan depan kita anniversary kedua. Tak terasa. Secara otomatis kandidat keempat saya coret.

Menikah adalah tanggung jawab besar yang akan banyak mengubah pemikiran manusia. Pasca menikah saya yang bekerja di Cikarang bolak-balik Karawang. Terpaksa saya memulai baru lagi dengan mencari kerja di Karawang. Saya tak mau jauh dari keluarga. Keluarga adalah yang paling utama. Tak lama saya dapat dan sampai sekarang masih kujalani. Hidup memang tak bisa ditebak. Padahal dulu saya ingin pulang kampung dan menetap di sana. Padahal dulu saya ingin usaha dan mandiri, bukan sebagai orang gajian. Dulu saya maunya punya tempat tinggal tanpa kredit ke bank yang mencekik. Dulu saya ingin sekali menjelalah nusantara yang luas ini. Dulu, dulu, dulu…

Jadi quote ini ada benarnya:

“Manusia ingin percaya bahwa mereka hidup dan bertindak berdasarkan kemauan

mereka sendiri, namun pada kenyataannya mereka hanya dipaksa oleh keadaan.”

– Eiji Yoshikawa –

Oke kita dipaksa keadaan, setidaknya kita harus kembali kepada kenyataan. Kembali mengatur bebek-bebek untuk berbaris lagi. Dan mau tahu bebek berikutnya? Hhhhmmm…, bebek berikutnya adalah saya harus bisa menerbitkan novel sebelum akhir tahun 2014 atau di usia 31 tahun, impian itu harus terwujud. Itu artinya waktu yang tersisa sekitar satu tahun dua bulan. Kumohon kepada bebek saya yang satu ini, please tetaplah pada barisan. Dan sejauh saya memandang ke depan, pematang sawahnya masih lurus sampai di ujung. Semoga, saatnya kembali membuka file lama sobat!

Karawang, 111013

Iklan

41 thoughts on “Rencana Besar!

  1. baru tergelitik baca yang ini.. meski sudah direncanakan, klo saya let it flow aja. di the best, lets God do the rest..yang penting dijalanin dengan ikhlas ya mas..

    saya tunggu novelnya 😀

  2. tanda sudah dewasa adalah berani mengambil pilihan dan bertanggungjawab atas pilihan itu dan kamu sudah membuktikannya jadi selamat menjadi dewasa dan mari berjuang …
    e… tapi itu bebeknya yang sudah ketangkep di goreng ?.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s