Demo Buruh

Gambar

Ok, saya sebenarnya malas mengikuti perkembangan buruh akhir-akhir ini. Makin hari makin memprihatinkan. Saya yang dulu simpati kini jadi antipasti. Tindakan untuk melakukan demo yang resmi, tidak anarkis dan sesuai peraturan perundang-undangan sih silakan saja. Tapi actual di lapangan sekarang ini lihatlah. Sudah menjurus tindak pidana yang mengusik kenyaman publik. Ancam blokir jalan tol, menyandera kantor pemerintahan sampai pemaksaan untuk mogok kerja dengan cara sweeping ke Perusahaan tetangga. Sungguh iklim usaha yang tidak diharapakan.

Lihatlah berita, setiap tahun menjelang pergantian angka Masehi selalu terjadi demo buruh yang menuntut kenaikan UMR yang sulit diterima nalar. Contoh sederhana-nya di Karawang saja. tahun 2012 UMR sektor satu sebesar 1,5 juta. Tahun ini menjadi 2,4 juta dan tuntutan mereka tahun depan menjadi 3,7 juta. Luar biasa bukan. Jadi tak perlu skill mumpuni dan pendidikan tinggi untuk mencapainya. Saya dapat curhatan dari teman yang berprofesi guru dan dosen, mereka gajinya ga sampai segitu. Bahkan dengan lembur pun tak bisa menyentuhnya. Untuk menjadi pengajar jelas tak bisa sembarangan orang. Orang-orang akademis yang memunculkan generasi masa depan malah hidup dalam kesederhanaan. Sementara buruh menuntut lebih.

Kembali kepada individu masing-masing. Kaya miskin itu relative. Kalau tak syukur, gaji berapapun tak akan pernah merasa cukup. Contoh kalau gaji 2 juta untuk bisa maju ya tabung 1 juta, pakai 1 juta. Paksakan untuk menyisihkan sebagian uangnya. Bukannya malah menambah beban penggunaan 3 juta dengan cara hutang. Kalau seperti itu ya kedepannya berat, bahkan andai 3,7 juta di acc sekalipun.

Kejadian saat buruh memblokir jalan tol di Cikarang tahun lalu, di mana jalan tol dipenuhi manusia dan motor pun bisa melenggang itu sudah diluarkewajaran. Ini adalah demokrasi yang keblablasan. Maka saat saya membaca himbauan dari ketua serikat nasional (berinisial SI) maka saya hanya bisa tersenyum masam. Dalam edarannya akan dilakukan Mogok Nasional (Monas) seminggu penuh dari tanggal 28 Oktober s/d 1 November 2013. Tanggal 28, 29, dan 30 Oktober adalah ‘pemanasan’ tanggal 31 Oktober dan 1 November adalah puncaknya. Wew, demo saja ada pemanasannya bos! Dan seperti yang kita lihat dalam berita hari ini, demo buruh terjadi serentak. Walau dalam gertakannya akan melakukan di 20 propinsi dengan mengerahkan 3 juta buruh dalam kenyataannya ‘hanya’ 2 juta yang turun ke jalan.

Dari broadcast yang saya terima, teman-teman saya di Cikarang ada bentrok antara buruh dan ormas mengakibatkan buruh dilarikan ke rumah sakit kena bacok! Serem. Buruh mengklaim LSM/Ormas/Karang taruna/preman (coret yang tak perlu) melakukan serangan terlebih dahulu. Sementara pihak ormas membantah menyerang fisik dulu, mereka melakukan serangan karena diprovokasi dan mereka meminta demo bubar di sore hari. Dan keduanya sepakat menyalahkan polisi yang membiarkan bentrok terjadi. Saya miris mendengarnya saudara-saudara. Sangat miris.

Di tempat saya bekerja juga terjadi sweeping sehingga produksi off selama 1 shift penuh dari jam 07:00 sampai jam 16:00, shift sore produksi kembali jalan. Saat strike terjadi, saya sedang santai di rumah dengan baca novel dan musik pop yang menenangkan. Slow down, hidup ini singkat. Ga usah mengedepankan emosi, santai saja sobat. Oiya, novel ‘The Man Who Loved Books Too Much’ karya Alison Bartlett yang tadi kubaca bagus lho. Obsesi gila pecinta sastra, andai penghuni dunia semua suka buku. Iqro’!

Karawang, 311013

Di Belakang Layar

Gambar

Saya termasuk orang yang lebih senang di belakang layar daripada tampil dalam sorotan dan menebar senyum terhadap khalayak. Lebih suka berfikir mencari solusi dalam satu meja daripada berdiri gagah di depan mimbar. Jadi jangan harap saya berorasi membakar semangat kalian. Saya lebih suka menggunakan kekuatan ngobrol dalam santai untuk mengambil keputusan ketimbang debat panjang dengan adu kuat argument. Slow down, santai saja Belanda masih jauh bung.

Beberapa teman sering meminta saya untuk membuat draft pengumuman yang akan dipajang di dinding. Atau minta untuk re-check pengumumannya sebelum disebarkan. Baik cek susunan kalimat atau ejaan. Lalu setelah final, dalam pengumuman itu jelas tak akan ada nama saya di kotak: ‘dibuat’, ‘diperiksa’, dan ‘disetujui oleh’. Saya tak peduli, saya ikut senang setidaknya ketikan saya masih dipakai.

Bukan hanya dalam pengumuman, untuk pemilihan kata ketika membalas surat penawaran, menyusun kalimat untuk Memorandum of Understand (MOU), membuat presentasi untuk bos agar lebih rapi sampai surat perjanjian dengan pihak ketiga pun saya dengan senang hati. Lebih parah lagi, beberapa teman ada yang minta untuk dibuatkan kartu ucapan pernikahan, kartu ulang tahun, sampai hal-hal sepele susunan kalimat yang akan dibaca saat paging atau pengumuman suara oleh front office. Santai bisa, resmi siap!

Dalam film jelas saya lebih mengagumi sang script writer daripada actor utama. Faktor terbesar yang menentukan bagus tidaknya sebuah film menurut saya adalah cerita. First thing first: story! Makanya setiap tahun saya selalu menaruh minat besar prediksi naskah original terbaik dan naskah adaptasi terbaik. Dan saya salut sama orang yang bisa menjadi sutradara sekaligus penulis naskah. Manusia di balik layar jauh lebih mempesona.

Jadi jangan harap saya jadi motivator layaknya Mario Teguh apalagi sang penceramah berlabel ustadz, ga bakat!

Karawang, 301013

Torres

Gambar

Fernando Torres telah mengalami pahit manis dalam perjalanan di karir sepak bola. Saat pindah ke Chelsea awal tahun 2011 saya terkejut. Tampil mempesona dengan Atletico dan Liverpool, Roman Abramovich berani menggelontorkan uang mahal untuk memboyongnya ke London. Menjadikannya pemain termahal di English Premier League (EPL). Saya segelintir orang yang ga setuju.

Bukan sebuah jaminan ketika seorang pemain bagus nantinya bisa tampil OK di tempat baru dengan harga wah. Saya masih sakit hati sama Andriy Shevchenco. Apalagi Chelsea nyaris selalu membuang striker muda berbakatnya. Dari Mikael Forssell, Carltone Cole sampai yang terbaru, Daniel Sturridge. Benar saja sekarang si Keling sudah resmi menjadi pemain the Reds dan tampil menawan bersama Suarez.

Nah, kasus Torres ini salah satu efeknya membuat rekrutan bagus Lukaku kini terancam lepas. Setahun di West Brom, kini dipinjamkan lagi ke Everton.

Kekhawatiran saya terbukti di awal Torres bergabung. Dengan bandrol 50 juta, el Nino tampil sangat buruk selama setengah tahun awal dia hanya menceak satu gol ke gawang West Ham. Dan membuat Don Carlo dipecat karena nir gelar. Di musim baru 2011/2012 ketajamannya masih tak kunjung ketemu sehingga menimbulkan inkonsisten di klasemen, AVB you’re fired! Salah satu momen besar Torres makin jadi bahan ledekan adalah laga kontroversi mengahadapi MU saat Chelsea mendapat 2 kartu merah, gol off side Chicarito dan momen Torres gagal menceploskan bola ke gawang saat De Gea sudah dilewati. Miris.

Di tengah kapal pecah, sang pelatih intern Di Matteo diluarduga bisa membuat Chelsea merebut juara Champions. Gelar yang diidam-idamkan oleh sang pemilik. Di suatu momen semi-final, Torres melakukan troll football yang akan dikenang lama, di mana dia mengecoh Valdes saat pasukan Barca kocar-kacir mengahadapi counter attact. Saat itu saya mengklaim, 50 juta-nya lunas.

Di Musim 2012/2013 lagi-lagi dia melempem, bahkan saat Chelsea sekali lagi mengganti pelatih di tengah musim dengan menunjuk Rafa, mantan bosnya di Liverpool dia ga kunjung menemukan sentuhan emasnya. Yang tak terlupa jelas saat di final Europa League dia men-troll kiper lagi untuk mengantar Chelsea juara. Menjadikannya klub pertama Inggris yang bisa menyandingkan gelar Winners, EL dan Champions.

Kini di musim keempatnya bersama the Blues Torres masih belum bangkit. Giliran Eto’o dan Ba yang menjadi partnernya di depan. Moga bisa kembali gahar dengan banyak gol tercipta.

Seperti yang saya bilang, 50 juta-nya sudah lunas. Saya anggap Torres adalah jimat Chelsea. Memang di jarang cetak gol tapi saat dia melakukannya itu adalah gol hebat penentu gelar seperti yang terakhir terjadi Minggu lalu. Gol bejan-nya ke gawang City itu akan krusial di akhir musim.

Karawang, 291013

Bahasa Tarzan

Gambar

Sebenarnya saya malu juga menggunakan bahasa Tarzan. Sebagai seorang HR tuntutan untuk bisa billingual adalah keharusan. Manajemen di Perusahaan ini adalah pemilik Perusahaan yang 100 % pemodal asing. Perusahaan Jepang yang terkenal disiplin dan sangat menghargai waktu. Padahal setahun lalu saya belajar bahasa Jepang, Nihon go level 5 (level terendah). Nyatanya gagal, gagal karena saya memang tak bersungguh-sungguh mempelajarinya. Selama belajar di Perusahaan mereka bahkan membayarnya sebagai waktu lembur. Kurang apa coba, udah dapat ilmu plus dibayar. Saat ikut ujian kompetensi ke Jakarta pun kita dapat transport dan free pendaftaran. Sayangnya gagal. Dari 15-an orang yang test hanya 2 orang yang dapat sertifikat lulus level 5. Itu artinya, yang mempunyai sertifikat dapat tambahan gaji, tunjangan tetap bahasa.

Alasan utama saya adalah saya memang tak berniat sungguh-sungguh. Entah mengapa saya tak terlalu minat sama bahasa Jepang. Sebuah niatan ga bagus jika mengingat saat ini banyak Perusahaan negeri Matahari Terbit yang bertebaran di Negara kita.

Sudah terlalu sering saya menggunakan bahasa Tarzan, bahasa isyarat seadaanya menggunakan tangan dan English yang terbata. Orang Jepang yang ada di sini mayoritas tak bisa English. Mereka terlampau bangga pada Negara mereka termasuk penguasaan bahasa, jadi percuma kita selipkan bahasa Inggris malahan mending kita selipkan bahasa Indonesia karena justru mereka mempelajari Bahasa kita.

Pernah suatu ketika mereka menanyakan amplop di mana, sambil menunjukan amplop bekas. Saya kasih amplop yang baru seperti yang dia pegang, dia jawab bukan, katanya “besaaaar”. Saya carikan yang lebih besar warna coklat. Dia tersenyum, “ya yang ini”. Lalu dia tanya, “apa ini?” dan dia pun mencatat di note apa yang saya ucap.

Mereka biasanya mencatat hal-hal baru yang dipelajari di sekitar tempat kerja. Pernah juga mencatat “asbak”, “pulpen”, “binder” sampai hal-hal sepele macam “penghapus”. Semangat belajar di negara yang mereka pijak sungguh luar biasa. Tak jarang juga saya menemui orang Jepang bisa ngomong patah-patah bahasa Indonesia. Saya sangat meng-apresiasi-nya.

Saya sendiri kalau dicari sama mereka kalau bertemu sama staff lain yang tak bisa bahasa Jepang dengan isyarat sambil memegang dagu ke bawah yang artinya ‘berjenggot’. Lalu teman saya yang pakai kaca mata, diisyaratkan dengan membentuk bulatan 2 jari antara jempol dan telunjuk diletakkan depan mata. Ada juga teman saya yang memakai jilbab pakai isyarat kedua tangan diletakkan di pipi lalu turun ke bawah.

Terakhir, kemarin malam jam 8 saat di office tinggal saya doang mereka menemui saya untuk meminta tolong pesan makanan delivery Bento. Setelah bahasa Tarzn yang tersendat, akhirnya saya nyerah dan telpon penerjemah untuk mengartikan maksudnya. Jadi si bos ngomong ke penerjemah lalu HP kasih ke saya apa maksudnya, lalu di kasih ke dia lagi. Begitu seterusnya sampai selesai semuanya. Kacau? Ya! Malu? Jelas! Berantakan sekali saya memikirkannya.

Sejujurnya, sayang sekali kesempatan belajar bahasa Jepang ini saya lewatkan. Mungkin menanti dulu ‘the power of kepepet’ yang memaksa saya mempelajarinya, entah kapan itu datangnya. Mungkin sampai mood itu datang, saya akan terus memakai bahasa Tarzan. Hiks,

Karawang, 291013

BBM

Gambar

Aplikasi chat di mobile sudah banyak mulai dari WhatsApp, Line, WeChat, Kakaotalk, sampai yang jadul macam Yahoo! Messager (hello MIRC, apa kabar?). Namun apa yang membuat para pengguna HP begitu menunggu BBM rilis lintas platform?

Dalam beberapa hari ini kontak BBM saya meningkat drastis, bertambah puluhan teman. Pasca BBM bisa di-install di Adro dan Iphone ramai-ramai mereka yang dulu menghujat BB kini menjadi user aplikasi special itu.

Masih ingat dulu pas pertama kali mencuat info bahwa BBM akan rilis lintas ponsel, para pengamat berpendapat itu adalah blunder produk dari Kanada itu. Saya sebagai pengguna awalnya juga merasa BB tidak special lagi. Lalu saat rilis resmi di bulan September 2013, aplikasi ini hang seakan tak siap menerima serbuan peminat. Saat itu banyak yang bilang BBM ga sepenuh hati melepasnya ke pasar bebas. Namun semua itu terbantahkan beberapa hari yang lalu saat akhirnya bisa digunakan secara umum.

Saya jadi teringat setahun lalu saya dicibir karena menggunakan BB, ponsel alay dengan banyak masalah, katanya. Mereka mencela apa special-nya BBM, toh gitu-gitu aja. Update gambar, update status. Kirim pesan, kirim gambar, saling sapa dan yang paling menyebalkan datang broadcast. Tak ada yang istimewa.

Nyatanya sejauh ini BBM sukses meng-invasi ponsel pintar. Para hater malah banyak yang akhirnya mengunduh dan kini menjadi pemakai. Ada yang berkilah penasaran, ada yang benar-benar pengen, ada juga yang mengeluhkan, “kalau ga ada BBM akan ketinggalan”. Bukti kecilnya, beberapa grup WhatsApp yang saya ikuti pada saling lempar pin. Jadi ga usah munafik, kalau mau pakai ya silakan download dan ga usah hujat gitu. Mari ber-BlackBerry Messager.

Karawang, 251013

Rencana Besar!

Gambar

Dulu sewaktu saya masih kelas dua SMK, saya mengira bahwa seseorang yang berusia 30 tahun itu sudah di usia matang. Mempunyai rumah lengkap dengan perabotnya, dengan pekerjaan mapan dan setiap pagi sebelum berangkat kerja mendapat kecup semangat dari sang istri dan sorenya pulang dengan disambut senyum ceria seorang anak. Saya mengira usia segitu tentunya sudah dewasa dengan berpakaian rapi memakai dasi dalam aktivitas keseharian. Mengikuti meeting dengan orang-orang penting dan merumuskan sebuah keputusan yang akan menentukan masa depan orang banyak. Wara-wiri dari satu Perusahaan ke Perusahaan lain dengan dering telpon yang setiap saat menggangu. Dan di tiap akhir pekan menjalani liburan ke tempat romantis dengan keluarga menggunakan berkendara mobil pribadi.

Boom! Saya (hampir) tak mempunyai semuanya saat ini.

Bulan lalu saya ulang tahun ke 30 tahun. Usia kepala tiga yang pernah saya bayangkan saat masih Sekolah ternyata meleset semua. Ketika bangun tidur, pikiran saya masih sama. Saya segera buat minuman setelah ibadah, lalu menonton kartun di tv. Spongebob tetap menjadi acara favorite, bahkan itu kartun diputar ulang setiap pagi-pun saya tetap berminat (serta sore hari tentunya). Saya masih suka main play station, punya PVP yang berisi Mario Bross atau Battle City yang beberapa tahun lalu saya gemari. Di tempat kerja pun saya masih sesantai  di sekolah. Pressure kerjaan tak kuanggap sebagai sebuah beban. Saya nikmati dan malah berbalik menjadi candu. Ketika berangkat dan pulang kerja-pun saya pasang musik mp3 di telinga dan membaca majalah film terbaru atau novel berdebu di mobil jemputan, dalam perjalanan saya sesekali berdendang layaknya sebuah perjalanan libur. Well, pada dasarnya tak banyak perubahan. Pikiran saya masih sebingung anak SMK kelas dua.

Dari pemikiran hijau itu maka saya susun sebuah rencana besar dalam hidup. Seperti layaknya peternak menggiring bebek-nya untuk berbaris di pematang sawah, maka saya pun menyusun apa saya yang harus saya capai di usia-usia tertentu. Bebek pertama, di usia 22 tahun saya harus punya motor sebagai sarana mobilitas ke mana-mana. Setahun sebelum menginjak usia itu saya sudah beli, cash! Bebek kedua, lulus kuliah tepat waktu. Bisa di check list, lancar jaya walau IPK nya memprihatinkan yang saya harap hanya bisa pakai toga. Yang terpenting bisa membuat orang tua tersenyum bahwa saya bisa kuliah dengan uang sendiri, dan lulus. Bebek berikutnya saya pengen punya usaha mandiri sebelum usia 26 tahun. Ini yang repot. Oke, karena bebek sudah kupegang, walau berontak maka saya paksakan buka usaha toko listrik dan usaha ternak ayam. Hell yeah, kalau belum siap memang alangkah bagusnya tak dipaksakan. Belum setengah tahun jalan semuanya runtuh. Sewa ruko yang mahal, panjaga toko yang kena tipu sampai manajemen keuangan yang buruk. Merugi dan dipaksa gulung tikar. Ternak ayam. Ini usaha keluarga, saya hanya melanjutkan. Saya lepas semua yang saya tata di perantauan dan memutuskan pulang kampung. Timing-nya tak tepat. Saat itu flu burung yang saya kira sudah reda ternyata menghantam saya. Banyak ayam dan bebek saya limbung. Saya juga limbung. Saya seperti merusak sendiri barisan bebek yang sudah atur. Di akhir tahun 2009 saya benar-benar bangkrut.

Salah satu jalan pintas untuk mendapatkan uang adalah mencari kerja. Dengan bekerja sebagai karyawan maka kamu akan otomatis mendapat uang setiap bulan. Tak peduli bagaimana bagus atau buruknya performa kamu, selama kamu datang di jam kerja maka kamu akan digaji. Jadi saya dengan terpaksa kembali ke kota Cikarang dengan posisi uang minus (pinjam kakak saya). Saya kembali menebar lamaran baik via e-mail ataupun surat pos. Dan setelah tiga bulan kebebasan saya sudah berseragam kerja menjadi leader produksi. Dari sini saya ingin melanjutkan S1, sehingga gaji saya ketatkan dalam pemakaian. Hufh, untuk sementara ada pemasukan dan tantangan menata bebek berlanjut.

Bebek saya yang berikutnya adalah saya ingin menikah di usia 27 tahun, itu artinya tahun 2010 harusnya sudah berkeluarga. Yang ini meleset. Ketika bulan menginjak angka sembilan saya kembali me-review teman-teman wanita yang pernah dekat. Sampai akhirnya di pengujung tahun saya tak menemukan wanita yang siap berjuang bersama. Di bulan Januari 2011 saya memaksa diri harus menikah tahun ini, tahun 2011. Jadi review para calon kembali saya gulirkan. Ada empat wanita yang saya bidik, salah satunya kelak jadi pendamping saya.

Wanita pertama adalah teman kuliah yang kini bekerja di sebuah rumah sakit. Saya mendatanginya saat jam kerja. Setelah dipersilakan duduk dan diberi minum, saya langusng mengutarkan niat gila itu. Dia hanya tersenyum. Jawabnya ketika itu, “Peluang kita bersama 50%. Saya masih ingin berkarir, datangi saya ketika kamu sudah lulus S1”. Waktu itu, S1 saya belum kelar. Beberapa sks akan saya ambil lagi karena ada nilai ‘D’ nya. Jadi bisa saya pastikan tahun 2011 ga akan selesai. Jadi saya coret. Saya hanya minta kesediaanya tanpa syarat apapun.

Wanita kedua adalah temannya teman kuliah yang dulu sering ikut ngumpul saat ada tugas yang dikerjakan bersama. Saat itu ada seminar launching buku baru Fira Basuki di Jakarta. Saya ajak ketemuan sekalian ajak dia mengikuti acara tersebut. Selesai acara saya utarkan niat gila itu. Sama, dia hanya tersenyum. Jawabnya lebih menusuk, “Sudah karyawan tetap? Nanti bisa kasih makan anak orang? Tinggal di mana?”. Sekali lagi saya tak mau syarat apapun. Segalanya dipikir nanti, yang terpenting siap berjaung bersama dan harus tahun ini menikah. Waktu tak bisa dibeli dengan apapun. “Temui saya ketika sudah mapan”. Coret!

Wanita ketiga adalah teman lama yang lost contact sejak tahun 2006. Ketika pertama menghubunginya via telpon saya langsung to the point seperti yang lain, awalnya saya dianggap gila karena sudah lama tak bertemu tahu-tahu menodong senapan rumah tangga. Lalu kita sepakat bertemu, saya main ke rumahnya (setelah sekian lama masih ingat ternyata). Saya paparkan salah satu rencana besar saya. Bahkan saya mengaku pengangguran dengan posisi masih lanjut kuliah S1. Saya ingin menguji kelayakannya. Boom! Dia bersedia. Ternyata dia juga masih kuliah dan bekerja. Dia juga mengajak berjuang bersama dan yang terpenting dia kasih jawaban 100% siap. Dia ga peduli saya nantinya mau kerja sebagai apa, dan sama-sama berprinsip bahwa semua masalah nantinya pasti ada solusi. Singkat cerita di tanggal 11-11-11 akhirnya kita menikah, itu berarti bulan depan kita anniversary kedua. Tak terasa. Secara otomatis kandidat keempat saya coret.

Menikah adalah tanggung jawab besar yang akan banyak mengubah pemikiran manusia. Pasca menikah saya yang bekerja di Cikarang bolak-balik Karawang. Terpaksa saya memulai baru lagi dengan mencari kerja di Karawang. Saya tak mau jauh dari keluarga. Keluarga adalah yang paling utama. Tak lama saya dapat dan sampai sekarang masih kujalani. Hidup memang tak bisa ditebak. Padahal dulu saya ingin pulang kampung dan menetap di sana. Padahal dulu saya ingin usaha dan mandiri, bukan sebagai orang gajian. Dulu saya maunya punya tempat tinggal tanpa kredit ke bank yang mencekik. Dulu saya ingin sekali menjelalah nusantara yang luas ini. Dulu, dulu, dulu…

Jadi quote ini ada benarnya:

“Manusia ingin percaya bahwa mereka hidup dan bertindak berdasarkan kemauan

mereka sendiri, namun pada kenyataannya mereka hanya dipaksa oleh keadaan.”

– Eiji Yoshikawa –

Oke kita dipaksa keadaan, setidaknya kita harus kembali kepada kenyataan. Kembali mengatur bebek-bebek untuk berbaris lagi. Dan mau tahu bebek berikutnya? Hhhhmmm…, bebek berikutnya adalah saya harus bisa menerbitkan novel sebelum akhir tahun 2014 atau di usia 31 tahun, impian itu harus terwujud. Itu artinya waktu yang tersisa sekitar satu tahun dua bulan. Kumohon kepada bebek saya yang satu ini, please tetaplah pada barisan. Dan sejauh saya memandang ke depan, pematang sawahnya masih lurus sampai di ujung. Semoga, saatnya kembali membuka file lama sobat!

Karawang, 111013

Berjalan Ketemu Jalan

Gambar

Entah tepatnya kapan saya pertama kali dengar motto hidup tersebut. Mungkin tiga belas tahun yang lalu saat liburan sekolah ada Pesantren Kilat di sebuah Masjid di Penumping, Solo. Saat itu pada sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan. Remaja Masjid di kampung kami mengirim utusan para pengajar Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) ke sana, saya salah satunya. Dalam satu satu kajian yang akan dibawakan, seorang moderator membacakan biodata sang Ustadz yang akan mengisi materi, namanya siapa saya lupa yang jelas ketika sampai di motto hidup terdengarlah kalimat ajaib tersebut: Berjalan Ketemu Jalan.

Dalam sebuah sesi tanya jawab perkenalan sebagai intermezzo, pemateri akhirnya menjelaskan keajaiban kalimat tersebut. Berjalan ketemu jalan bisa berarti kita harus terus bergerak dan berusaha untuk lebih baik ke depan. Dengan terus berusaha maka akan ada jalan keluar terhadap setiap masalah yang dihadapi. Jangan menyerah dan terpaku pada cara satu yang (telah) gagal untuk menghasilkan solusi tapi terus berjalanlah untuk menemukan cara dua, tiga dan seterusnya agar tujuan akhir bisa dicapai.

Selain makna dalam yang terkandung, motto ini juga bermain dengan rima yang memudahkan untuk diingat. Makanya dulu pas ada interview pekerjaan, ketika salah satu pewawancara menanyakan motto hidup, jadi secara reflek yang saya ingat ya kalimat ini. Bagus juga sih diterapkan dalam hidup, sebagai salah satu motivasi.

Setiap manusia punya masalah, yang membedakan kualitas hidup kita salah satunya adalah bagaimana kita menghadapi dan mencari jalan keluarnya. Saya sendiri menganggap hidup sebuah siklus. Di mana generasi masa lalu telah kita geser dan bumi ini kita duduki. Kita pun akan musnah dan diganti generasi yang akan datang. Hidup ini sangat singkat, usia manusia paling lama bertahan 80 s/d 100 tahun. Yang bisa menembus satu abad sudah luar biasa. Jadi apa yang kita risaukan? Nabi akhir zaman meninggal di usia 63 tahun, dan itulah usia rata-rata manusia saat ini. Jadi jika saat ini usia kita sudah kepala tiga maka kita sudah separo jalan menjalani kehidupan.

Baiknya kita review, apa saja yang sudah kita berikan kepada umat manusia. Ga usah muluk-muluk sampai menyelamatkan dunia (serahkan pada Super hero), yang simple saja di sekitar kita. Jangan nunggu kaya untuk memberi sumbangan, jangan menunggu waktu luang untuk bersilaturahmi, jangan menunggu terpuruk untuk bersujud padaNya.

Jadi alangkah baiknya kita selalu berjalan, selalu mencoba memperbaiki kualitas hidup agar hari esok menjadi lebih baik. Terus berusaha terus bersyukur, dan jangan bosan untuk sesekali melihat ke belakang untuk mengambil hikmah perjalanan. Jangan menunggu ‘ditegur’ Tuhan agar mengingatnya bahkan sampai meruntuk sumpah serapah di kala hujan diselingi petir sambil berkata ‘Kenapa Saya!’. Jangan.

Optimis saja, selama kita berusaha pasti ada solusi. Salam ‘Berjalan Ketemu Jalan’

Karawang, 101013