Suap # 4

Gambar

Ini adalah catatan keempat dari lima, sebuah pengalaman tentang Suap yang terjadi di sekeliling kita.

Sebagai orang berkecimpung di bidang HR (Human Resource) dan GA (General affairs) kejahatan suap adalah kejahatan yang paling mengancam. Sebagian besar orang yang terjun di bidang itu sudah mengetahui, namun sayangnya banyak yang abai atau istilah umunya ‘sudah biasa’. Padahal suap adalah salah satu bentuk korupsi. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Yaitu  Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi:

“Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya”

Di situ jelas sekali suap termasuk gratifikasi, walau ruang lingkup lebih kecil, bukan sebagai pegawai negeri tapi hanya sebatas karyawan. Tapi tetap saja kan, orang-orang yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kelangsungan Perusahaan ada di departemen HRD dan GA. Berikut beberapa item yang rawan suap yang selama ini bersinggungan dengan saya.

# Legal Document

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa ada yang tak beres di badan milik Pemerintahan. Termasuk di Departemen Tenaga Kerja (Depnaker). Sebagai orang yang mengurus dokumen legal ke kantor Depnaker, saya banyak menemukan kebobrokan pegawainya. Sebelum pindah ke kota Karawang, saya sudah bertahun-tahun tinggal di Cikarang. Di sana petugas sama korup-nya dengan di sini. Dan saya yakin di daerah lain tak jauh beda, karena ketika kita sharing dengan member HR yang lain mereka sependapat.

Ketika pertama kali saya mendapat tugas untuk memperpanjang surat izin Wajib Lapor Perusahaan, saya yang awam karena saya memang seorang diri di departemen HRD waktu itu tanya ke petugas Depnaker, istilah di sana pengawas untuk Perusahaan di tempat saya bekerja. Salah satu pertanyaan yang saya lontarkan adalah, ’berapa biayanya?’ dia bilang Rp 400 ribu. Saya yang belum pengalaman iya-iya saja, asal ada bukti kuitansi sehingga bisa diberikan ke accounting. Beberapa hari kemudian setelah semua surat dan biaya administrasi sudah siap, saya ketemu lagi sama sang pengawas. Ketika saya berikan uang adm nya, dia malah menyeret saya ke ruangan dan untuk tetap menyimpan uangnya. Setelah di ruangan hanya berdua dia baru memintanya. Ketika menulis di kuitansi dia tanya, ”mau ditulis berapa?”. Ya saya jawab ”kalau biayanya 400 ribu ya ditulis 400 ribu.” Dia menatapku lama, seolah-olah ada yang aneh di diri saya. Sekarang saya baru ‘nggeh’ bahwa itu kode penyelewengan, istilahnya ‘mark-up’. Jadi uang transaksi yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang ada di kuintansi. Aje gile! Mental orang-orang kita benar-benar bobrok! Saya bukannya sok bersih, saya ga pernah mau untuk melakukannya. Ada sebagian orang bilang itu untuk uang bensin, bensin apaan saya keluar kantor tinggal duduk ada sopir. Ada juga yang bilang uang rokok, maaf saya tidak merokok. Juga ada yang bilang uang kopi, wow saya biasa ngopi satu sachet hanya seribu.

Setelah berapa lama, saya akhirnya tahu bahwa tak ada biaya sama sekali dalam mengajukan surat wajib lapor ke Depnaker, alias gratis. Hal ini saya dapat setelah saya selidiki susunan pegawai di sana lalu saya menentukan hari sama atasan Depnaker untuk bertemu langsung. Dari mulut sang kepala pengawas, untuk mengajukan perpanjangan tak ada biaya, cuma kalau mau memberikan tips silakan. Weleh, ini sebenarnya sang kepala pengawas sudah tahu anak buahnya menerima suap tapi dibiarkan karena memang sudah menjadi kebiasaan.

Lebih lanjut bukan hanya laporan perpanjangan Wajib Lapor saja yang menjadi proyek sogok-menyogok, semua hal yang berhubungan dengan laporan yang masuk selalu dibuat ‘proyek’. Saya setelah mengetahui hal ini selalu mencoba untuk tidak memberi suap ke mereka. Memang awalnya dipersulit untuk mendapatkan stempel dan ttd, tapi dengan posisi Perusahaan kita taat dan tidak bermasalah, kita tak perlu risau. Pernah ada seorang pengawas melakukan audit ke Perusahaan kami, saya sudah komitmen untuk tidak memberikan amplop dan sekedar diajak makan siang keluar. Bahkan ada pengawas yang terang-terangan minta parcell Lebaran untuk dikirim ke rumahnya. Dasar mental pengemis, kalau saya sih TIDAK, cuma pihak departemen GA diberi karena ternyata parcel masuk ke dalam budget tahunan.

Keteguhan hati untuk tidak melakukan suap ini awalnya sungguh sulit, tapi saya yakin perlahan tapi pasti kita bisa mengubah kebobrokan ini. Kalau bukan kita siapa lagi?

Advertisements

8 thoughts on “Suap # 4

    • sopo kui Ombudman.
      Saya sudah ultimatum kok, saya ga akan kasih uang. Kalau ada temuan audit atau kesalahan pelaksanaan aturan Pemerintah, Perusahaan siap untuk memperbaikinya. Jadi silakan tulis temuannya lalu di audit berikutnya, temuan itu kita pastikan tak akan ada. Simple sebenarnya.

      • Kalai yg ini sudah OK. Waktu itu saya beritahu kalau hal seperti ini bisa sampai ke media, minimal lokal, bisa dikuak semua.
        Saya sih di milis mencoba mengajak rekan yg lain utk menghindari suap.
        Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu

  1. Keingetan cerita Papa saya. Jadi ada beberapa temen kantornya yang sakit tapi sakitnya dilebih2kan supaya dapet uang ganti dari kantor gitu mas. Dan ternyata ada beberapa dokter juga yang udah “ngerti” jadi tinggal nanya : mau ditulis berapa di kwitansi?
    Ckckck 😐

    • itu sudah jadi rahasia umum, saya juga sering razia. Pura-pura berobat, trus minta surat dokter. Kalau saya fit dan tetap dikasih, klinik itu kami black-list.

      Kemudian untuk kasus kuitansi, agak susah juga memberantasnya karena itu kembali ke pribadi masing-masing. Kesalahan ada di klinik dengan menawarkan suap.

      duh!

  2. Suap dan konco2nya ? waw!
    saya kebetulan kerja di hotel. seorang petinggi aparat suatu hari mendatangi saya dan berkata kalo dia minta setoran. Dia sebutkan angkanya, dan dia bilang untuk atasannya sekian, dia sekian, dan dibagi sekian..
    buset dah!
    saya nawar, bukan menolak, karena penolakan berarti bisnis saya siap2 digelitiki.. hi hi hi hi…
    Dia ngancam, katanya akan nungguin kalo angka yang saya berikan cuma sedikit, tapi saya ngotot kasih sedikit juga. Dia ngancam, saya balik ngancam… he he he…
    Sampai sekarang saya “cuma” kasih sekitar 150rb dari jutaan yang diminta.. setiap bulannya… untuk “kelangsungan keamanan’.

    behhhhhhhhhhh… maunya sih tidak menyuap, tapi piye dong??? ha ha ha…

    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s