Penalty

Gambar

Dalam sepak bola, tendangan penalti (penalty, dalam bahasa Inggris) adalah tendangan yang dilakukan apabila salah satu pemain tim melakukan pelanggaran di dalam kotak wilayah penjaga gawang tim sendiri. Tendangan dilakukan dengan menendang bola dari titik yang telah di buat di tengah kotak dalam wilayah penjaga gawang, tanpa dijaga oleh pemain lawan (pagar betis), dengan jarak kira-kira 12 kaki dari garis gawang. (wikipedia.org)

 

Well, dalam pertandingan sepak bola penalty selalu membuat penonton jantungan dag-dig-dug. Selama saya menjadi penggemar sepak bola, selama itu pula saya dibuat bahagia dan sedih. Ga ada jaminan sang penendang mengkonversinya menjadi gol. Pemain-pemain hebatpun pernah lunglai di hadapan kiper. Dari banyak adegan penalty berikut ini adalah adu penalty (setelah perpanjangan waktu, bukan karena pelanggaran) yang akan selalui akan saya kenang:

1. Italia vs Brazil (2-3) Piala Dunia 1994

Saya di awal suka sepak bola adalah fan Italia. Di tahun 1994 saya masih SD, cuma saat itu saya ikut nonton bola sama teman. Masuknya Italia ke final mungkin bisa menjadi puncak karier sang mega bintang Roberto ‘kuncir’ Baggio yang setahun sebelumnya menyandang pemain terbaik dunia. Tapi siapa sangka di partai puncak itu dia melakukan ‘tendangan langit’ yang memupus harapan Gli Azzuri juara. Setiap kali saya melihat tendangan yang melesat di atas mistar secara otomatif saya akan menyandingkannya sebagai ‘Tendangan Baggio’

2. Italia vs Belanda (3-1) Piala Eropa 2000

Drama di sini bukan di adu pinaltinya namun pada cara bermain Italia yang kembali ke ciri khas mereka yaitu cattenacio. Strategi bertahan untuk memenangkan pertandingan tak peduli berapapun skornya. Mereka melaju ke final dengan mengandalkan serangan balik. Drama semifinal melawan Belanda sungguh membuat degup jantung berirama. Terlihat Italia selalu mencoba memblok semua serangan Belanda baik udara ataupun terobosan, sebelum masuk ke kotak pinalti. Manurut saya cattenacio adalah salah satu seni dalam permainan sepak bola. Di pertandingan ini adalah seni cattenacio terbaik yang pernah kutonton. Dan cara ini nyaris membuat Italia juara.

3. Italia vs Perancis (4-3) Piala Dunia 2006

Drama tandukan Zidane terhadap Matterazi di perpanjangan waktu biarlah menjadi misteri dalam perjalanan sepak bola. Setelah kedudukan sama kuat 1-1, pertandingan harus dilanjutkan dengan adu pinalti. Di sini terlihat Italia sudah siap melakoni adu tos-tosan. Dari kelima penendang semuanya masuk. Adalah tendangan David Trezegol yang menempa mistar dan tendangan penutup Fabio Grosso yang memastikan Italia juara. Setelah sekian tahun akhirnya saya bisa melihat tim favorite saya juara dunia. Sebuah puncak yang layak karena sepanjangan perhelatan Italia hanya kebobolan 2 gol, itupun satu gol bunuh diri dan pinalti dari Zidane.

4. Liverpool vs AC Milan (3-2) Liga Champion 2005

Final di Istambul ini munkin menjadi salah satu keajaiban dalam sepak bola selain final 1999. Di mana ketika skor sudah 3 gol tanpa balas di separuh pertandingan, dan saat itu saya sudah siap-siap lanjut tidur. Tak dinyana Liverpool dapat mengejar difisit 3 gol, ya walau gol ketiga hadiah pinalti. Setelah tak ada gol lagi di babak tambahan akhirnya adegan pinalti tersaji. Yang menyedihkan pemain bintang Andrei Shevchenco gagal menjalankan tugasnya. Tragis, walau 2 tahun berselang mereka mampu membalasnya lewat 2 gol Inzhagi.

5. Chelsea vs Man Utd (5-6) Liga Champion 2008

Tragedi kepleset sang kapten. Saya menontonnya di kos-an bareng rekan-rekan lintas fan. Saat Chelsea leading saya jingkrak-jingkrak, saat CR7 menyamakan kedudukan fan MU yang bersorak. Sampai akhirnya di drama 12 pas, saat gelar juara ada di depan mata. John Terry terpeleset melakukan tendangan pinalti dan melenceng ke kanan. Tragis sekali mereka gagal meraup juara melalui pelatih intern. Kegagalan Anelka juga ga akan kumaafkan. Tahun itu Chelsea gagal total.

6. Chelsea vs Bayern Muechen (5-4) Liga Champion 2012

Akhirnya apa yang kunanti tiba juga. Mengawali musim dengan terseok-seok. Di tengah jalan AVB dipecat dan digantikan sementara sama sang asisten, Di Matteo dengan kondisi tertinggal 3-1 sama Napoli di fase knock-out, nafas Chelsea di Liga Champion sepertinnya akan sampai di ujung. Dan dalam sepakbola selalu ada keajaiban. Setelah dengan fantastis membalikkan keadaan, di semifinal Chelsea bertemu musuh bebuyutannya Barcelona. Seperti biasa, Chelsea dapat kartu merah dan diganjar pinalti (dan Messi gagal lagi). Dalam menit krusial awal dan akhir mereka memastikan lolos ke final dengan super keren di pengujung laga melalui gol troll mr. Torres yang (mungkin) menjadikannya salah satu momen terbaik dalam sepak bola. Penalty tersaji di final di Allianz Arena markas musuh. Di sini juga penuh kemukjizatan. Penalty gagal Robben, tertinggal terlebih dahulu, lalu membalasnya melalui gol sundulan Drogba dari satu-satunya corner kick. Dan dalam drama penalty setelah degub jantung yang berpacu, posisi Chelsea di penendang terakhir di-eksekusi dengan sempurna oleh Didier ‘Legend’ Drogba.

Menyaksikan para jagoan bolaku sudah juara di segala kompetisi, hidup ini nyaris sempurna hanya menanti Lazio untuk juara Liga Champion-lah yang akan melengkapi kebahagian. Dan kuharap itu juga via penalty.

Note: catatan ini dibuat setelah petang tadi menyaksikan timnas U23 kita melaju ke final ISC Palembang 2013. Jebreeet!

Karawang, 270913

Menikmati Film

Image

Ada banyak cara untuk menikmati sebuah film. Kalau sebuah film mulai diputar maka saya akan focus konsentrasi pada layar dan tak mau diganggu. Sejujurnya paling enak itu nonton film sendiri. Jadi kalau tatapan sedih kalian terhadap orang yang menonton bioskop sendiri itu salah besar. Lagian ketika nonton bareng memangnya bisa diskusi di dalam bisokop? Begitu juga ketika menonton film di rumah. Saya lebih nyaman sendiri dengan lampu redup bersama minuman ringan. Berikut sumber menonton film yang biasa saya nikmati:

1. Bioskop

Setelah pindah ke ‘kota’ Karawang saya jarang menonton film di bioskop. Di sini tak ada 21 Cineplex apalagi Blitz, adanya bioskop jadul macam Karawang Teater. Bioskop bau apak dengan pendingin yang tak dingin. Layarnya miring dengan kualitas gambar yang sangat buruk. Lebih buruk dari film bajag-an. Suaranya membuat telinga menjerit kesakitan. Kemresek dan dentumannya yang tak konstan kadang keras kadang pelan membuat miris. Dua kali saya menonton di sana, film Avengers dan Belenggu yang diulas keren saya hanya bisa mengernyitkan dahi, bosan menanti kapan berakhirnya, kapan selesai disiksanya? Setelah itu kapok tak ke sana lagi.

Sebelum hijrah ke Karawang, saya termasuk rutin menonton di 21 Cineplex Lippo Cikarang, dulu filmnya telat dengan harga tiket miring yaitu masih menggunakan ‘tiket layar tancep’ yang warna-warni. Merah, kuning kadang hijau. Saya rutin tiap pekan nonton sendiri dan sesekali bareng teman. Sekarang bioskop Cikarang sudah bagus, kualitas dolby stereo dan gambar digital. Tiketnya juga sudah menyamai tiket 21 kebanyakan dengan tiket print out computer. Sayangnya ketika bioskop Cikarang sudah bagus saya malah menjauh. Jadi hanya sesekali ke sana, terakhir menonton The Conjuring yang bertahan lebih dari 7 minggu beruntun di sana.

Ketika melihat site plan kota Galuh Mas di Karawang saya melonjak kegirangan, di situ tergambar tahun 2014 nanti akan ada bioskop Blitz yang berdiri dekat Karawang Central Plaza (KCP). Tak sabar menantinya, apalagi rumah yang kucicil ini hanya berjarak 300 meter dari plan site Blitz! Wow, kebetulan yang menyenangkan bisa jalan kaki ke bioskop itu suatu anugrah. Sembari menunggu Blitz dibuka saya paling sesekali ke Jakarta kumpul sama teman-teman.

2. DVD Bajag-an

Sebelum saya mengenal Gila Film saya termasuk rutin membeli dan menonton film melalui DVD bajag-an (teman-teman suka memplesetkannya dengan huruf ‘g’ sehingga ketika disingkat jadi ‘bjg’ aka bajing**) atau bootleg. Apalagi di Cikarang waktu itu filmnya ga update sehingga ketika di forum grup pada ngomongin film baru maka saya hanya jadi pembaca diam tanpa bisa mengikuti perdebatan. Lebih parah lagi kalau sampai tak sengaja membaca bocoran / spoiler penting yang akan membuat kenikmatan menonton film berkurang.

Selain itu banyak film-film yang ga tayang di bioskop kita terutama film- film Eropa. Salah satu kasus paling menghebohkan adalah film Triangle tahun 2009. Film yang dibintangi Mellisa George itu mengadung twist berlapis yang tak berujung. Nah, ketika di forum sudah ramai me-review-nya (dan filmnya ga tayang di bioskop lokal) maka tak ada jawaban yang lebih tepat selain menontonnya via bajag-an. Harganya lima ribu tapi sebagian ada yang jual enam ribu atau tujuh ribu. Ada juga kalau beli banyak kena diskon. Saya punya langganan yang bila gambarnya ga bagus, subtitle ga pas bisa dituker. Kalau sedang diskusi atau kumpul sama teman-teman jangan sesekali membicarakan bootleg, kalian akan kena tembak. Mereka biasanya pada pamer koleksi asli yang direnteng di lemari yang membuat mata silau, iri. Saya setuju piracy is a crime tapi sebagai maniak film awam (baca kere) apa salahnya.

3. File Komputer

Pernah coba download film? Ya saya dua kali melakukannya, benar-benar lama! Ini sebelas dua belas sama dvd bajag-an bahwa menikmati film dengan mengunduh di internet itu ilegal. Tapi ternyata dari sekumpulan Gila Film ada beberapa yang tukang download. Dia membeli memori external berukuran 1Tb atau lebih yang isinya anjiiiir film semua. Kalau lagi nongkrong bawa laptop pada tukeran file film, ini lebih gila lagi karena tinggal copy-paste maka film favorite Anda sudah siap dinikmati. Kalau saya sih saat ini cuma punya flashdisk ukuran 16 Mb yang apabila penuh saya lempar ke komputer. Cuma masalahnya menonton film di laptop / komputer itu kurang mantab. Enakan di tv minimal 21 inc dengan suara stereo yang menggelegar (awas komplain tetangga). Dan nyatanya ada banyak film file komputer yang belum kutonton.

4. Kaset Original

Sebelum mengenal para Gila Film saya sering membeli kaset original juga. Biasanya (baca: kuatnya) kaset vcd yang harganya lebih miring yang rata-rata berlabel Rp 49,000,-. Ada di lemari koleksi sederet vcd film, paling keselip satu dua dvd original. Salah satu kasus yang membuatku jengkel adalah dvd  original film Alice In Wonderland yang klasik punya saya terjatuh dan kepingannya rusak tak bisa lagi diputer. Benar-benar kehilangan. Makanya terkadang dvd bajag-an itu lebih aman pemakaiannya kalau rusak tinggal buang.

Saat ini ada banyak dvd keluaran TOP yang harganya miring. Dulu seharga lima belas ribu tapi update terbaru jadi tujuh belas ribu. Dengan fitur yang minim, nyaris tak ada bonus saya lebih suka membelinya. Toh saya pengen lihat filmnya bukan extras-nya. Sayangnya hanya beberapa film yang ada.

Dan yang terakhir saya belum pernah beli kaset blue-ray yang digadang-gadang lebih jernih dan wah. Entah kapan saya memilikinya.

Karawang, 2600913

BB

Gambar

Beberapa hari yang lalu Blackberry (BB) saya nge-hang. Insert sim card mulu dan sinyalnya sos. Awalnya kukira karena provider-nya bermasalah. Maklum nomer 3 yang murah ini terkenal miskin sinyal. Namun setelah saya restart beberapa kali dan saya coba pasang nomor lain ternyata masih sama saja. Berarti HP nya yang bermasalah. Sempat panik juga memikirkannya seandainya benar-benar rusak. Karena ada temanku yang BB juga rusak trus datanya hilang. Setelah capek restart dan cabut-pasang baterai (haha, semua pemilik BB pasti mengalaminya), saya diamkan di lemari saja, saya tinggal nonton tv. Besoknya saya coba lagi dan ternyata bisa nyala lagi. Syukurlah ga usah sampai ke bengkel HP. Langsung saja saya pindahkan data-data penting yang ada, terutama yang ada di memori device seperti document / note dan contact.

Harus diakui BB memang payah, hampir setahun saya memakai ini HP lemotnya minta ampun. Segala saran perawatan sudah saya coba seperti:

  1. Tekan alt + lg lg lalu bersihakn log secara rutin
  2. Restart 2 hari sekali. Ga usah cabut-pasang baterai tapi cukup tekan alt + aa (sebelah kanan) + del
  3. Bersihkan semua cache secara rutin. Cache yang ada di browse dan aplikasi lain seperti FB, twitter, detikcom, Uber, dll
  4. Hapus memori log yang ada di tools secara berkala
  5. Hapus log panggilan, pesan, bbm, inbox email, dll

Masih saja lemot, bahkan aplikasi yang awalnya ada banyak satu per satu saya hapus. Aplikasi favorite macam Chess online, Wechat, Opera mini, Sudoku lite sampai macam-macam game sekarang lenyap. Dari semua itu masih saja muncul warning: “memori habis”. Kelemahan utama memang ada di penempatan install yang hanya bisa di memori HP jadi kalau HP nya beli yang paling murah ya resiko memorinya kecil. Saya berpedoman, mending beli HP murah asal masih baru, daripada beli HP bagus namun second.

Namun ternyata ga juga, adik saya pakai BB yang harganya hampir 4 juta pun sama lemotnya. Teman sekantor setali tiga uang, bahkan kini BB nya masuk bengkel dan saking sebalnya dia beli Android yang katanya seminggu ini nyaman. Sempat pamer chat WhatsApp (WA) via voice ketawa gitu. Padahal di BB juga ada WA. Katro! Hihi..

Dan kabar yang lagi ramai-raminya saat ini bahwa aplikasi BBM sudah merambah Android dan Ios makin menurunkan ke-ekslusif-an BB. Karena sekarang buat apa beli BB karena mayoritas aplikasinya ada di pesaing. Well, saya pribadi merasa biasa saja menggunakan BBM. Sama seperti chat message lainnya. Bahkan aplikasi dari pihak ketiga macam Wechat, Kakaotalk, Line, WhatsApp mulai unjuk gigi. Chat lintas mobile phone yang lebih fleksibel. Kabarnya pengguna WA sudah tembus 200 juta dan penggunaanya lancar-lancar saja ga seperti BBM yang sehari pasca diluncurkan langsung bermasalah di jaringan RIM. Katanya pengguna dalam sehari langsung melonjak hampir 2 juta dan membuat pihak RIM down. Hhhmmm…, lagian apa sih hebatnya chat BBM? Yang paling penting esensi isi pesan sampai kepada pengguna. Beres! Mau pakai emotion, stiker atau apalah, itu hanya bonus.

Atau mending kembali ke era awal Nokia saja cukup pakai sms. Eh!

Karawang, 250913

Because classic is so good!

Media Cetak

Dari zaman SD sampai sudah berkeluarga sekarang ini ada beberapa majalah / Koran / tabloid yang rutin saya baca. Media cetak tersebut mewarnai saya baik beli secara rutin ataupun eceran. Berikut media cetak yang paling sering saya baca:

1. Bobo

Gambar

(sekarang lebih komersial penuh iklan, tapi tetap saya terpesona daya tahan Bobo)

Bisa jadi majalah Bobo adalah bacaan wajib anak-anak di era saya. Dengan tagline ‘Teman Bermain dan Belajar’, Bobo berhasil bertahan lintas generasi. Waktu saya SD ini majalah saya baca bekas yang kubeli di warung depan Sekolah. Dari yang harganya saat itu Rp 1.200,- saya bisa dapat membelinya seharga Rp 100,-. Artikel favorite saya waktu itu adalah cerpen dan cerita bergambar seri yang rutin ada seperti Bona Gajah Kecil Belalai Panjang, Negeri Nirmala, sampai sempalan cerita film anak yang diulas secara acak. Serial Ksatria Baja Hitam adalah yang paling disuka. Sampai saat ini majalah ini tetap terbit, terakhir baca dan beli adalah tahun 2007 saat covernya Harry Potter. Ditengah gempuran pesaing dan era internet, Bobo termasuk luar biasa.

2. Annida

Gambar

(saat ini web Annida-online.com mulai promo mau cetak lagi, cuma ga rutin. Mungkin butuh waktu berbenah guna tampil lagi)

Oke, ini adalah majalah Islam untuk remaja perempuan. Saya secara tak sengaja membacanya ketika liburan sekolah berkunjung di perantauan kakakku di Cikampek. Saat ini satu rumah ada beberapa penghuni teman kerja kakak saya. Salah satunya ternyata suka baca dengan banyak koleksi buku, salah satunya majalah Annida. Dari keisengan membaca Annida itu saya akhirnya ketagihan, setelah liburan sebulan (era Gus Dur Ramadhan libur full sebulan) saya malah rutin beli. Isinya bagus, cerpen Islami yang dibuat oleh pembaca. Dari ini majalah saya mengenal Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Pipiet Senja (alm), Samsa Hawa dll. Sayang Annida gagal bersaing dalam percetakan dan akhirnya stop produksi. Saat ini Annida merambah internet dan kalau saya merindunya saya buka di web: annida-online.com. Isinya masih ‘Inspirasi Tak Bertepi’.

3. Bola

Gambar

(Bola terakhir yang saya beli edisi special EPL)

Tabloid Bola bisa jadi adalah yang paling lama bertahan kunikmati. Dari SMP saya sudah membacanya. Saat itu Lazio, klub favorite saya lagi bagus-bagusnya. Saat itu ada 2 tabloid olahraga yang terbit secara bersamaan seminggu dua kali. Saling sikut dan bersaing, namun dalam perjalanan tabloid GO akhirnya KO dan tutup usia. Sampai saat ini saya masih sesekali membelinya. Bahkan kini Bola selain terbit seminggu dua kali juga terbit harian. Hebat juga masih bertahan di era digital yang serba update.

4. Bola Vaganza

Gambar

(sempat mau beli ini edisi, cuma pegang doang ga jadi)

Majalah ini sebagai penunjang tabloid Bola yang sudah kubaca, terbit sebulan sekali. Puncaknya adalah saat Italia juara Piala Dunia 2006. Tulisannya enak, ulasannya bagus. Sempat coba 442 Indonesia yang lugas. Pasca Italia juara saya tak membelinya lagi. Kurasa membelinya kurang bermanfaat. Jadi koleksinya hanya setahun beli, 2005-2006.

5. Cinemags

Gambar

(ini mungkin salah satu edisi terbaik Cinemags, di mana interaksi editor dan pembaca masih seru-serunya ga segaduh sekarang)

Di saat kuliah saya satu kos sama seorang maniak film, dia yang pertama beli ini majalah. Waktu itu harganya Rp 32.500,- terlihat mahal. Cuma gara-gara isinya bagus dengan bonus poster gede yang dipasang di kos akhirnya saya malah kepincut membelinya rutin. Dari majalah Cinemags lah saya akhirnya menemukan banyak teman untuk kopi darat guna nonton bareng. Sebelumnya saya ga terlalu movie freak tapi gara-gara kena virus kini film adalah hiburan wajib.

6. TotalFilm Indonesia

Gambar

(ini edisi pertama kali saya beli, mana bisa menolak pesona Leo?)

Ini majalah adopsi UK yang terbit tahun 2009 di Indonesia. Waktu kemunculan pertama, pengemar setia Cinemags mencibirnya. Tak sedikit yang memprediksi akan senasip dengan First yang adopsi Singapure yang layu di perjalanan. Ulasannya pada wah, teman-teman yang waktu itu setia Cinemags pada iseng beli. Saya penasaran dan ikutan coba beli di edisi ke 3. Ternyata memang ulasannya padat dan superb. Sempat beli 2 majalah film bersamaan tapi lama-lama tekor juga karena sesekali-pun beli majalah yang lain macam M2 atau Showblitz (KO juga). Dan akhirnya kualitas memang tak bohong. Sampai sekarang saya rutin membelinya. Membandingkan 2 majalah tersebut seperti membandingkan kualitas film local kita dengan Hollywood, jauh.

7. Kompas

Gambar

(salah satu artikel favorite saya: Kompas Kita. Interaksi dengan orang ‘penting’ tanya jawab via email)

Baru 3 bulan lalu saya berhenti langganan, selain alasan sudah pindah rumah, kurasa koran Kompas mulai kewalahan dengan informasi digital yang lebih cepat macam web: detik, okezone, merdeka, yahoo!, dll. Apalagi di kantor juga langganan makanya mending baca di kantor saja pas sebelum mulai kerja atau pas istirahat 10 menit ngopi. Paling yang utama dituju adalah artikel bola, opini, metropolitan, sudoku dan headline-nya. Oiya, Kompas Minggu saya masih beli walau eceran. Saya masih belum bisa lepas baca cerpen Minggu dan sosialita. 😀

Selain ke 7 nya saya memang sesekali membaca majalah lain seperti Intisari, tabloid Soccer, koran Republika, atau majalah Rolling Stone Indonesia tapi ga serutin ke 7 nya. Kita sudah merambah dunia digital dimana segala informasi sebegitu cepatnya sampai kepada pembaca. Era masa depan yang tak lama lagi, (mungkin) segalanya akan begeser dari media cetak ke media elektronik. Walau sejujurnya saya masih menyukai bau kertas saat menikmati tulisan. Or is it just me?

 Note: semua gambar diambil dari google.

Karawang, 240913

Suap # 5

Gambar

Ini adalah catatan terakhir, yaitu catatan kelima tentang suap, sebuah pengalaman tentang Suap yang terjadi di sekeliling kita.

Sebagai orang berkecimpung di bidang HR (Human Resource) dan GA (General affairs) kejahatan suap adalah kejahatan yang paling mengancam. Sebagian besar orang yang terjun di bidang itu sudah mengetahui, namun sayangnya banyak yang abai atau istilah umunya ‘sudah biasa’. Padahal suap adalah salah satu bentuk korupsi. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Yaitu  Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi:

“Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya”

Di situ jelas sekali suap termasuk gratifikasi, walau ruang lingkup lebih kecil, bukan sebagai pegawai negeri tapi hanya sebatas karyawan. Tapi tetap saja kan, orang-orang yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kelangsungan Perusahaan ada di departemen HRD dan GA. Berikut beberapa item yang rawan suap yang selama ini bersinggungan dengan saya.

# Pengadaan Barang

Well, pengadaan barang di sini lebih kepada barang-barang yang besifat umum, bukan barang-barang yang bersinggungan dengan proses produksi. Karena aturannya bagian HRD dan GA tidak boleh mencampuri urusan proses produksi. Barang-barang yang umum misalnya Alat Tulis Kantor (ATK), barang furniture penunjang office, parcel, rekening koran, computer, makanan penunjang shift malam dan sebagainya.

Potensi terjadi korupsi ada pada loby dari luar yang akan menyuplai barang-barang kebutuhan. Misalnya ada sebuah Perusahaan mengajukan proposal untuk menyupai ATK, biasanya mereka berani beri diskon karena akan ada kontrak kerja sama yang mana suplai akan diberikan secara continue. Karena terjadi persaingan dengan banyaknya proposal pengajuan yang masuk, mereka selain kasih diskon juga berani memberi amplop. Di sini lah ketegasan pengambil keputusan harus berani berkata ‘TIDAK’. Jelas-jelas dengan adanya amplop tersebut keputusan kita untuk memakai jasa mereka secara tak langsung diikat. Kebijakan yang kita ambil akan oleng dan tak objektif lagi.

Pernah ada seorang teman yang menawarkan suplai susu dan roti kepada saya, saya sih silakan saja masukan proposal. Setelah saya cek, harganya memang menggiurkan, miring. Jadi saya persilakan kita trial seminggu, ga dinyana kualitas rotinya buruk dan susu bantalnya lebih tipis. Sempat ada protes dari karyawan, seminggu saja langsung saya cut walaupun dia temanku. Sempat mau kasih amplop, saya ga bisa melanjutkan. Kebutuhan karyawan yang tiap shift malam untuk memberi makanan penunjang yang layak jauh lebih diutamakan.

Ada lagi kasus mesin foto copy yang rusak, si tukang servis menawarkan kecurangan untuk me-mark-up jasa perbaikan. Katanya ini sudah biasa dengan HRD-GA di tempat lain. Weleh, lagi-lagi alasan kebiasaan jadikan dasar. Sepertinya memang harus dirombak total nih Indonesia.

Pernah juga saya pergoki seorang bawahan saya me-mark-up harga 10 rim kertas A4. Jadi ceritanya kebutuhan kertas sudah habis sebelum masanya, sementara supplier yang biasanya sedang tak bisa mengirim sehingga kita membeli ke sebuah toko buku pingir jalan. Harganya ada yang aneh, walau dinaikkan sedikit. Saya minta staff untuk membelinya dengan diantar sopir, setelah kuitansi saya terima saya langsung cek dengan menelpon langsung (ada alamat di nota), saya pura-pura menanyakan harga beberapa item yang salah satunya ya kertas A4 tadi. Marah? Jelas! Kenapa hal sepele seperti ini saja di-mark-up? Heran. Kepercayaan itu memang mahal harganya.

 

Penutup: Selain kelima hal yang sudah saya sharing, masih banyak hal-hal yang memungkinkan terjadinya suap-menyuap. Laporan yang masuk ke meja kalau mau direkap, numpuk. Ini masih sekelas Perusahaan, kecil memang jika dibanding Pemerintahan. Kebanyakan terjadi karena kebiasaan. Saling sikut kepentingan, bancakan proyek. Di Perusahaan yang sekarang menaungi saya, ada tempat pengaduan terhadap keluh kesah karyawan. Termasuk bila ada kecurigaan suap. Di Perjanjian Kerja Bersama (PKB) juga sudah diatur, dimana apabila karyawan terbukti menerima suap sanksinya adalah PHK. Namun itu hanya tempelan, karena desas desus suap akan selalu ada dan susah diberantas. Tinggal kembali kepada pribadi masing-masing. Saya selalu menyerukan hal ini ketika melakukan training karyawan, kalaupun masih terjadi ya mau bagaimana lagi. Setidaknya sudah mencoba mencegah, atau kalaupun masih tak mempan untuk diluruskan, minimal SAYA tidak melakukannya. So Jokowi for presiden! –  apa sangkutpautnya coba?  🙂  –

Karawang, 130913

Book review: Boy and Happy Roald Dahl Day!

My favorite author: Roald Dahl. HBD ya..

Book of words

Roald Dahl day partyHappy Roald Dahl Day everyone!

On the birthday of one of my favorite childhood authors, I am here with a review of the first part of Dahl’s autobiography “Boy,” or alternatively titled “More About Boy.” I was surprised that I have never come across this until recently despite having read the latter half of his memoir “Going Solo” years ago.

“Boy” describes the earlier half of Dahl’s life tracing his Norwegian parents arrival to Britain and later into his school years. It is such a fun and light-hearted book where you can read about the ingenious tricks he played on others and also his love for all things sweet and chocolatey. And of course, how could I forget the wonderful illustrations of Quentin Blake?

This book reminded me of his another work “Matilda” because both were set inside an English school where the main protagonists faced horrible teachers. During Roald…

View original post 309 more words

Suap # 4

Gambar

Ini adalah catatan keempat dari lima, sebuah pengalaman tentang Suap yang terjadi di sekeliling kita.

Sebagai orang berkecimpung di bidang HR (Human Resource) dan GA (General affairs) kejahatan suap adalah kejahatan yang paling mengancam. Sebagian besar orang yang terjun di bidang itu sudah mengetahui, namun sayangnya banyak yang abai atau istilah umunya ‘sudah biasa’. Padahal suap adalah salah satu bentuk korupsi. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Yaitu  Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi:

“Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya”

Di situ jelas sekali suap termasuk gratifikasi, walau ruang lingkup lebih kecil, bukan sebagai pegawai negeri tapi hanya sebatas karyawan. Tapi tetap saja kan, orang-orang yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kelangsungan Perusahaan ada di departemen HRD dan GA. Berikut beberapa item yang rawan suap yang selama ini bersinggungan dengan saya.

# Legal Document

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa ada yang tak beres di badan milik Pemerintahan. Termasuk di Departemen Tenaga Kerja (Depnaker). Sebagai orang yang mengurus dokumen legal ke kantor Depnaker, saya banyak menemukan kebobrokan pegawainya. Sebelum pindah ke kota Karawang, saya sudah bertahun-tahun tinggal di Cikarang. Di sana petugas sama korup-nya dengan di sini. Dan saya yakin di daerah lain tak jauh beda, karena ketika kita sharing dengan member HR yang lain mereka sependapat.

Ketika pertama kali saya mendapat tugas untuk memperpanjang surat izin Wajib Lapor Perusahaan, saya yang awam karena saya memang seorang diri di departemen HRD waktu itu tanya ke petugas Depnaker, istilah di sana pengawas untuk Perusahaan di tempat saya bekerja. Salah satu pertanyaan yang saya lontarkan adalah, ’berapa biayanya?’ dia bilang Rp 400 ribu. Saya yang belum pengalaman iya-iya saja, asal ada bukti kuitansi sehingga bisa diberikan ke accounting. Beberapa hari kemudian setelah semua surat dan biaya administrasi sudah siap, saya ketemu lagi sama sang pengawas. Ketika saya berikan uang adm nya, dia malah menyeret saya ke ruangan dan untuk tetap menyimpan uangnya. Setelah di ruangan hanya berdua dia baru memintanya. Ketika menulis di kuitansi dia tanya, ”mau ditulis berapa?”. Ya saya jawab ”kalau biayanya 400 ribu ya ditulis 400 ribu.” Dia menatapku lama, seolah-olah ada yang aneh di diri saya. Sekarang saya baru ‘nggeh’ bahwa itu kode penyelewengan, istilahnya ‘mark-up’. Jadi uang transaksi yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang ada di kuintansi. Aje gile! Mental orang-orang kita benar-benar bobrok! Saya bukannya sok bersih, saya ga pernah mau untuk melakukannya. Ada sebagian orang bilang itu untuk uang bensin, bensin apaan saya keluar kantor tinggal duduk ada sopir. Ada juga yang bilang uang rokok, maaf saya tidak merokok. Juga ada yang bilang uang kopi, wow saya biasa ngopi satu sachet hanya seribu.

Setelah berapa lama, saya akhirnya tahu bahwa tak ada biaya sama sekali dalam mengajukan surat wajib lapor ke Depnaker, alias gratis. Hal ini saya dapat setelah saya selidiki susunan pegawai di sana lalu saya menentukan hari sama atasan Depnaker untuk bertemu langsung. Dari mulut sang kepala pengawas, untuk mengajukan perpanjangan tak ada biaya, cuma kalau mau memberikan tips silakan. Weleh, ini sebenarnya sang kepala pengawas sudah tahu anak buahnya menerima suap tapi dibiarkan karena memang sudah menjadi kebiasaan.

Lebih lanjut bukan hanya laporan perpanjangan Wajib Lapor saja yang menjadi proyek sogok-menyogok, semua hal yang berhubungan dengan laporan yang masuk selalu dibuat ‘proyek’. Saya setelah mengetahui hal ini selalu mencoba untuk tidak memberi suap ke mereka. Memang awalnya dipersulit untuk mendapatkan stempel dan ttd, tapi dengan posisi Perusahaan kita taat dan tidak bermasalah, kita tak perlu risau. Pernah ada seorang pengawas melakukan audit ke Perusahaan kami, saya sudah komitmen untuk tidak memberikan amplop dan sekedar diajak makan siang keluar. Bahkan ada pengawas yang terang-terangan minta parcell Lebaran untuk dikirim ke rumahnya. Dasar mental pengemis, kalau saya sih TIDAK, cuma pihak departemen GA diberi karena ternyata parcel masuk ke dalam budget tahunan.

Keteguhan hati untuk tidak melakukan suap ini awalnya sungguh sulit, tapi saya yakin perlahan tapi pasti kita bisa mengubah kebobrokan ini. Kalau bukan kita siapa lagi?