Suap #3

Gambar

Ini adalah catatan ketiga dari lima, sebuah pengalaman tentang Suap yang terjadi di sekeliling kita.

Sebagai orang berkecimpung di bidang HR (Human Resource) dan GA (General affairs) kejahatan suap adalah kejahatan yang paling mengancam. Sebagian besar orang yang terjun di bidang itu sudah mengetahui, namun sayangnya banyak yang abai atau istilah umunya ‘sudah biasa’. Padahal suap adalah salah satu bentuk korupsi. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Yaitu  Pasal 12B ayat (1) UU No.31/1999 jo UU No. 20/2001, berbunyi:

“Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya”

Di situ jelas sekali suap termasuk gratifikasi, walau ruang lingkup lebih kecil, bukan sebagai pegawai negeri tapi hanya sebatas karyawan. Tapi tetap saja kan, orang-orang yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kelangsungan Perusahaan ada di departemen HRD dan GA. Berikut beberapa item yang rawan suap yang selamanya bersinggungan dengan saya.

# Catering

Ada setumpuk proposal catering di meja kerja yang diajukan oleh pengelola cetering. Pada dasarnya saya selalu ingin sebuah persaingan yang sehat dalam pelayanan makan buat karyawan bukan pada seberapa besar uang suap yang coba diberikan. Untuk saat ini di Perusahaan kami nilai nominal makanan yang disepakati adalah Rp 9.000,-. Angka yang kecil di tengah gempuran harga kebutuhan bahan pokok makanan di pasaran. Di proposal biasanya ada range harga per menu. Mulai Rp 6000,- sampai Rp 15.000,-. makin tinggi harga yang diambil maka jelas makin bagus menu yang disajikan. Ada 4 menu utama yang disediakan yang bisa jadi pilihan karyawan agar tak bosan, yaitu ayam, daging, telur dan ikan. Menunya pun bervariasi dan sudah terjadwal selama satu bulan, sehingga bisa dikontrol dan dijaga nutrisi yang disajiakn. Tidak ada peraturan khusus dalam Undang-undang berapa kalori yang harus dipenuhi oleh seorang karyawan saat istirahat makan.

Yang mendapat tugas mengontrol kualitas catering memang departemen GA tapi mereka harusnya mendapat masukan/kritik dari seluruh karyawan. Nah, berdasarkan pengalaman. Sebuah pelayanan tak mungkin bisa memuaskan semua pihak. Ada saja yang komplain. Mulai dari isi menu, penyajian yang ga higienis, pelayanan dari pihak catering yang lambat, dsb. Biasanya catering yang baru memberikan pelayanan yang prima dan menu yang menarik untuk memberi kesan pertama yang wah. Biasanya juga, untuk shift 1 (siang) mereka konon berani merugi dengan memberi menu maximal, tapi mereka mengeruk keuntungan dengan menu ala kadar untuk shift 2 (malam) dan shift 3 (dini hari). Hal itu dikarenakan orang-orang office yang non-shift (siang) tetap puas dan mempertahankan catering mereka. Hal yang sebenarnya tak saya setuju karena mau siang, malam ataupun dini hari harusnya tetap OK.

Lalu dimana letak korupsi suap yang mungkin terjadi? Jelas, adalah para pengambil kebijakan dalam pemilihan catering. Sudah menjadi rahasia umum, sebuah catering untuk bisa masuk ke dalam Perusahaan diharuskan membayar sejumlah uang sebagai pelicin. Uang yang beredar tak sedikit, karena sejauh yang saya tahu tak ada yang namanya pemilik catering itu miskin. Mereka menyuplai banyak Perusahaan, semakin banyak order maka semakin jayalah catering tersebut.

Dulu saya pegang Departemen HRD dan GA, sekarang sih sudah fokus ke HRD. Sayangnya mental orang-orang di sekitar kita memang tak kuat. Banyak yang mencoba memberi amplop, uang kopi, uang rokok atau sejenisnya. Bukannya sombong, saya ga minat uang panas. Selalu saya tolak, baik secara baik-baik atau keras. Karena kalau itu saya terima maka secara otomatis saya pasti akan terikat dan sangat terpengaruh dalam pengambilan keputusan. Jadi dengan tak menerima suap saya bisa sebebas-bebasnya mengganti catering yang ga bagus. Minimal ada 3 pengaduan komplain dari karyawan yang terbukti benar, maka kontrak catering langsung saya putus. Sederhana sekali bukan?

Permasalahnya di lapangan tak sesederhana itu, banyak Perusahaan yang susah melepas catering walau pelayanan jelek. Menunggu diberi Surat Peringatan (SP) 1, 2 dan 3 baru diganti. Sehingga muncul kecurigaan dari karyawan, ’pasti sudah disogok nih’. Jadi benar kata KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) bahwa gratifikasi itu dilarang, karena akan sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Bahkan hanya sekelas Perusahaan.

Advertisements

4 thoughts on “Suap #3

  1. baru masalah catering saja sudah membuka peluang..
    apalagi untuk proyek pembangunan atau pengadaan lebih parah lagi..

  2. Prihatin banget, Mas…. Nggak kebayang dengan yang terjadi di instansi-instansi pemerintahan. Di sana kan banyak proyek. Tapi sering kali hasil-hasil proyek yang dilaksanakan oleh pemenang tender nggak maksimal….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s