Tertunda

Catatan: Cerpen ini pernah saya kirim ke web annida-online.com. Sebulan kemudian ada pemberitahuan bahwa ‘tertunda’ akhirnya tertunda terpilih. Jadi sortir ke box rijek. Komentarnya, terlalu menggurui. Harusnya ini di-edit dan di-modifikasi, namun setahun lebih tidak saya sentuh. Sebagai warga baru wordpress, saya mau sharing ke sini saja.

Tertunda

Oleh: Lazione Budy

Aku yakin, aku tidak akan pernah terlambat. Karena aku percaya, rintangan terbesar seseorang untuk sukses adalah penundaan. Dalam manajemen waktu seseorang harus bisa menghindari menunda-nunda pekerjaan. Banyak orang suka menunda sesuatu dengan dalih takut gagal, kewalahan mengatur waktu, sudut pandang kepentingan apa yang akan dikerjakan atau memang itu sifat dasar manusia? Yang pasti dengan sering menunda sesuatu kita berpotensi terlambat. Namun pagi ini rasanya berat sekali untuk bangkit dan dunia berkonspirasi memunggungiku.

“Tut tut tut tut”

Bunyi dering handphone di pagi hari sebagai alarm, sebuah rutinitas. Ah, pagi ini malas sekali berangkat kerja, aku tekan tunda alarm untuk lima menit berikutnya. Dalam keadaan setengah sadar lima menit adalah sekejap, tunda lagi lima menit. Dan sekali lagi dan sekali lagi dan lagi…

Sampai hal itu membuatku tergegas bangkit karena takut track record tak pernah terlambat kerjaku pecah. Sebuah ketergesa-gesaan itu tidak bagus jadi dengan berat hati segera saja aku bangun untuk mandi dan bersiap berangkat kerja. Setelah segalanya siap, kutatap cermin pagi ini.

“Selamat pagi” bisikku pada bayang wajah di seberang. Satu lagi hari yang cerah untuk memulai aktivitas. “Kamu tahu? Dunia ini tercipta di pagi hari jadi mulailah harimu dengan semangat” tambahku. Setelah berkemas dan mengeluarkan motor dari garasi kunyalakan motor untuk memanaskan mesin sejenak, lalu ada orang di depan rumahku yang menyapa.

“Wahai saudara, sambutlah pagi dengan doa karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi sepanjang hari ini. Semoga engkau selalu dalam lindunganNya”. Kemudian dia pergi lagi, aku tidak perhatikan dia dengan seksama. Tetangga ataukah hanya orang lewat saja, yang jelas ketika dia berjalan menjauh kuperhatiakn dari belakang dia memiliki rambut cepak dan memakai baju biru. Aku banget style-nya, aku tak pernah berambut gondrong dan menyukai warna biru.

Aku hanya mengernyitkan dahi, dasar orang aneh. Tak usah dipikirkan, segera saja kuberangkat bekerja. Sampai di tengah jalan bunyi perut keroncong, ini membuatku untuk berhenti sejenak di pinggir jalan untuk membeli makanan. Kebetulan ada penjual nasi bungkus di pinggir jalan. Aku yakin, aku tidak akan pernah terlambat.

“Mas beli nasinya satu dibungkus, cepat ya”

“Wahai saudara,  makanlah segala yg halal. Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah, jika hanya kepadaNya saja kamu menyembah.”

“Aaah.., pagi begini ceramah. sini cepet makanannya” segera tanpa kuperhatikan dia aku bayar, motor kupacu lagi melanjutkan perjalanan. Namun baru beberapa saat, ada yang aneh dengan roda belakang motorku. Duh! Ternyata bocor, ya Allah jangan sekarang please, tetapi apa daya kenyataannya segera saja aku dorong sesaat di bengkel terdekat. Apes, antrian motor yang di bengkel sangat panjang.

“Mas tambal ban dong, sekalian aku nitip motor bisa ya? Aku berangkat kerja nih. Takutnya terlambat, aku mau melanjutkan naik taksi saja”

“Wahai saudara, apa-apa yang kini menjadi milikku adalah milik Allah yang dititipkan kepadaku. Dan ini semua adalah ujian untukku dan semua ini kelak akan dimintai pertanggung jawaban”

Karena sebal aku hanya menunduk dan menggelengkan kepala saja. Dan setelah debat singkat yg kurang mengenakkan, akhirnya boleh juga motor aku titipkan.

“Aduh tukang bengkel sialan, memang pendidikan kamu apa memberi ceramah kepadaku? Urusi saja kepentinganmu sendiri” gerutuku kesal. Namun aku tetap berterima kasih padanya karena kini dia sudah mau memahami keadaanku. Membantuku, oh aku suka membantu orang lain juga.

Lalu aku di pinggir jalan menunggu taksi lewat. Tak kusangka ternyata lama sekali taksii yang kunanti tak segera muncul, biasanya juga banyak yg lewat. Aku lirik jam tangan, sepuluh menit lagi, Aku yakin, aku tidak akan pernah terlambat. Keyakinanku masih penuh akan hal itu, namun beberapa menit berlalu dan aku mulai panik.

“Wahai saudara, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” tiba-tiba ada seseorang yang lewat di depanku dan berkata demikian. Lalu orang tersebut melanjutkan jalannya. Aneh! Aku kembali mengernyitkan dahi, hari ini banyak orang aneh yang berada di sekelilingku. Mereka semua mencoba menceramhiku. Ada apa ini?

Kepanikan segera mendera jadi segera saja kuambil keputusan. Ah, letak kantor cuma di seberang sungai dekat perempatan jalan, aku berubah pikiran lalu kuputuskan saja untuk lari. Selain hemat juga menyehatkan, sambil bersiap lari kulirik jarum jam, masih tujuh menit tersisa, masih bisa terkejar santai saja. Namun baru beberapa langkah bergerak seorang tukang ojek dengan helm kacanya berhenti di depanku menawarkan jasa.

“Wahai saudara, tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan”

“Maaf mas langkah aku tinggal sejengkal menuju tujuan. Aku tidak butuh bantuan orang lain untuk itu”

“Wahai saudara, jika ada jalan mudah kenapa memilih yang sulit?”

“Aku tidak butuh kamu, kalian, semua orang di dunia ini guna menggapai kesuksesanku. Sendiri aku bisa, jangan ganggu perjalananku” sialan bener ini tukang ojek. Tidak sopan! Sayup-sayup masih aku dengar di belakang dia berteriak.

“Wahai saudara, jangan sombong!” aku berbalik untuk menimpalinya, namun dia sudah memacu motornya menjauh. Kuperhatikan dari belakang, motor, baju, helm semuanya berwarna biru. Sepertinya aku mengenalnya tapi tak tahu di mana dan siapa, ah lupakan saja aku harus segera bergegas.

Dengan hati dongkol aku berlanjut berlari, sampai jembatan aku lirik jam tangan, lima menit lagi. Duh! Kakiku tersandung batu, sialan siapa juga ini yang meletakkan batu sebesar ini di tengah jembatan. Aku terjatuh, sambil meringis menahan sakit. Duduk di pinggir jalan meringis kesakitan, kurut sejenak sakitnya. Kupandangi jalanan yang lenggang, kenapa mesti pagi ini? Kaki berdarah dan sepatu robek. Ya Allah jangan sekarang, namun apa daya dengan terpincang-pincang aku menepi. Rasanya sakit sekali, kenapa dunia pagi ini seakan berkonspirasi memusuhiku? Kenapa kesialan bertubi-tubi menghampiriku dalam pagi yang cerah ini. Lelah aku mengerutu, kecewa karena sepertinya kurasa aku terlambat menyusun sesuatu yang entah kusadari atau bukan.

“Ah, dasar sepatu tak berguna, dasar rongsokan” aku lempar sepatunya ke tengah sungai. Tidak masalah, melanjutkan perjalanan ini tak beralas sepatu pun aku mampu. Kuperhatikan sepatuku yang mengelepar di tengah air sungai yang mengalir. Sepatu yang dulu selalu menemaniku ke manapun kupergi itu kini sudah tamat di sungai ini. Kuperhatikan sejenak sampai akhirnya menjauh dan hilang ditelan gelungan riak air.

Kini di sisa perjalanan ke kantor aku dengan langkah tertatih. Sampai akhirnya aku tiba di perempatan jalan, sudah dekat kata hatiku. Tinggal beberapa menit lagi jadi aku bergegas, namun karena tergesa-gesaku pula tanpa melihat kanan kiri untuk menyebrang, sebuah mobil sedan dari arah kanan membunyikan klakson dengan nyaringnya. Reflek aku mundur dan terjatuh. Sopir tersebut turun dari mobilnya dan menghampiriku. Kali ini karena dia yang menghampiriku dan langsung menatapku aku perhatikan wajahnya dengan seksama, Ya Allah! Aku merinding, seluruh bulu kuduk ini berdiri, tanganku bergetar hebat dan badan ini mengigil.

“Wahai saudara! berhati-hatilah dari dunia. Hati-hati dari cinta dunia dan bergantungnya hatimu kepadanya. Sesungguhnya jika hati telah bergantung kepada dunia dan cinta kepada harta, akan sangat cepat tertipu dan cepat pula hilangnya ilmu dalam kehidupan dunia yang fana dan terkutuk ini!” lalu dia kembali ke mobilnya melanjutkan perjalanan. Seakan tak menyadari kejanggalan ketika menatapku tadi.

Aku masih terpaku lemas di pinggir jalan dengan hati ketakutan. Di mana aku? Ada apa ini? Perlahan-lahan kesadaranku menyatu. Kuputar memori ke belakang sesaat, Penjual nasi bungkus, tukang tambal ban, seorang ojek, sopir sedan dan semuanya. Baru kusadari mereka mempunyai wajah yang sama. Wajahku, wajah yang setiap hari ku tatap di seberang cermin. Ternyata semua orang yang kutemui itu adalah aku sendiri. Aku langsung lemas.

Tubuhku mulai bergetar, aku kumpulkan kekuatan untuk berdiri. Kuamati perempatan ini. Badan ini menggigil hebat saking takutnya. Kulihat aku sedang jualan koran, kulihat aku menanti bus di halte, kulihat aku sedang duduk di pinggir jalan menikmati cerahnya pagi, kulihat aku bergerombol dengan aku yang lain berjalan sambil bercanda, kulihat wajah aku dipajang di baliho dalam sebuah iklan, kulihat aku mengemis di lampu merah. Ya Allah apa yang terjadi? Semua orang yang hiruk pikuk ini adalah aku dalam balutan yang berbeda, di mana aku sebenarnya? Aku roboh, terjatuh lagi, galau dalam kepanikan yang tak menentu. Air mataku menetes, bingung.

“Tut tut tut tut” bunyi alarm di jam tanganku berbunyi, menunjukkan waktu kerja sudah harus dimulai.

Kulihat jam tangan untuk memastikan waktu, oh sudah terlambat, dan sekarang di tengah kegalauan ini aku tak memperdulikannya. Aku gagal, aku hancur, aku telah banyak mennyia-nyiakan waktu, menyia-nyiakan peluang untuk sukses. Air mata ini meleleh lagi dengan derasnya. Ada di mana aku ini sebenarnya? Ya Allah tolonglah aku. Ya Allah ampuni dosa-dosa hamba, ajarilah hamba menjadi orang yang bisa bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan selama ini dan nanti. Beri aku kekuatan untuk melewati segala rintangan hidup. Kupanjatkan segala doa untukNya. Rapuh dan tak berdaya. Aku pasrah.

Sampai tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundakku. Aku terkejut, kulihat aku berpakaian rapi penuh wibawa bersama wanita cantik bagai bidadari disampingnya. Tersenyum.

“Siapa kamu?”

“Aku adalah kamu!

“Apa maksud semua ini? Jika kamu adalah aku, tolonglah aku. Bangunkan aku segera dari segala yang membingungkan” rintihku. Aku memohon kepada aku.

“Hei pakai kembali sepatumu nanti, kencangkan ikat pinggangmu, rapikan dasimu, dan jangan sia-sia kan waktu!”

Mataku berkunang-kunang, dunia gelap.

            “Kita tidak mengetahui kemana takdir akan membawa kita esok hari, jadi kita lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan hari ini. Jangan biarkan penundaan menguburkan harapan dan impian kita. Kamu bisa menunda, tetapi waktu tidak bisa ditunda.” samar-samar dia ataukah aku masih berujar lirih.

***

Iklan

7 thoughts on “Tertunda

      • bukan masalah menggurui, tapi yang ga jelas antara intro sama klimaksnya.. secara tiba2 magneto menjadi sakti gitu loh.. hehe..
        tapi suka2 yang nulis kok..

      • ini berdasarkan mimpi saya lho, waktu saya menyadari bahwa mereka adalah saya, saya terbangun dengan banyak keringat. Habis itu ga bisa lanjut tidur, terjaga sampai pagi. Harus kuakui eksekusi kurang bagus.

        😀

      • pengalaman yang bagus..
        btw mungkin cocok dikategorikan sebagai cerpen absurd atau surealis gitu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s