Decision Maker

Saya termasuk orang yang kurang tegas dalam mengambil keputusan.

Hal tersebut saya rasa sudah dari dulu namun sangat sulit dirubah, mungkin sudah sifat dasarnya. Karena kurang tegas saya merasa kurang pantas dalam memimpin. Dalam keadaan wajar ataupun mendesak keputusan yang saya ambil selalu mencoba fifty-fifty, di mana keputusan tersebut kuharap bagus buat kedua belah pihak dan mencoba untuk tidak ada yang dirugikan. Berikut beberapa contoh keputusan yang pernah saya ambil yang menggambarkan betapa kurang tegasnya saya.

Dulu saya pernah menjabat sebagai seorang Work Preparation (WP) atau istilah umumnya seorang drafter di departemen PPIC (Production Plan Inventory Control), tugas utamanya adalah membuat gambar rencana yang akan dibuat di bagian Produksi. Gambar kadang menggunakan tools Autocad/Aspan tapi seringnya memakai ms excel. Dalam gambar ada nilai toleransi dan setiap gambar kerja yang nilainya berbeda. Rata-rata adalah 0.5 mm, semua rencana gambar dibakukan dan harus ditandatangai dept. terkait. Dari dept. Produksi, Quality Control (QC), Sales, sampai dept. ISO.

Nah ada sebuah kasus ketika sebuah product trial dihasilkan terjadi perdebatan apakah masuk kategori OK atau NG (Not good). Pihak QC dan produksi saling klaim, dan akhirnya mereka mencari jalan tengah dengan menanyakan kepada pembuat planning. Saya memang yang membuat gambar tapi saya sendiri tak bisa memutuskan, saya merasa membuatnya atas order yang sudah di-approve oleh Sales. Akhirnya saya lempar ke dept. Sales, tapi justru Sales kembali mempertanyakan validitas hasil kerja karena saya yang menterjemahakan permintaan costumer harusnya tahu produk yang dihasilkan itu Ok atau tidak. Kalau sudah begini saya selalu meminta pendapat mereka bagusnya bagaimana, bukannya berani ambil resiko untuk bilang ’it’s Ok’ atau ’buang itu ke box merah!’

Dalam sebuah hasil Medical Check Up (MCU) calon karyawan ada tiga kategori yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit yang kami tunjuk. Yang pertama satu bintang yang artinya calon karyawan sehat/fit dan siap kerja. Yang kedua dua bintang, itu artinya dia tit tapi dengan catatan misal pernah menderita penyakit parah atau ada tatto di tubuh atau buta warna. Jadi pihak rumah sakit mengembalikan kepada HRD untuk mengambil keputusan OK tidaknya. Dan yang ketiga adalah tiga bintang yang artinya pelamar tidak sehat/unfit. Dalam perjalanan waktu, dua bintang kadang saya Approve untuk bergabung dengan Perusahaan kadang saya coret. Inilah salah satu bentuk ketidaktegasan saya berikutnya. Pernah pihak user dalam hal ini Manager Produksi minta penjelasan kepada saya, namun yaitu tadi dalam presentasi ironisnya saya sendiri malah ragu terhadap apa yang saya ucapkan!

Ketika saya dan istri ikut acara nonton bareng film di Jakarta. Kita sudah sepakat bahwa setelah selesai nonton kita akan memisahkan diri dari teman-teman dan akan menikmati jalan-jalan di hari libur ini berdua untuk sekedar makan atau hunting buku. Namun dalam realisasi-nya, ketika film sudah usai dan anggota komunitas sudah berkumpul di lobby bioskop. Saya yang sudah pamit untuk tidak ikut ngumpul pasca acara malah berubah pikiran. Waktu itu sang ketua bilang, ”Ayolah Bud, kamu jarang ngumpul setelah menikah. Kali ini masak langsung misah. Kita mau makan di D’cost sambil ngerumpi masalah project film pendek kita. Saya traktir deh”. Saya sebagai pemimpin (walau skala keluarga) harusnya tak menggubris ajakan tersebut karena semalam sudah deal sama istri. Namun yang keluar dari mulut saya adalah, ”Kenapa tidak?” Dan sang istri-pun manyun mencolek keras pinggang saya tanda dia kesal.

Karena temannya teman saya usianya sudah lewat dari 23 tahun maka sudah tidak bisa saya masuk kerja bagian Produksi di Perusahaan kami. Namun di Perusahaan tetangga kriterianya ternyata usia maximal 25 tahun jadi saya referensikan ke HRD tetangga yang kebetulan kenal (karena kita sering sharing tentang HR) dan kita kadang memang ’tambal sulam’ pegawai. Maksudnya apabila karyawan dari PT tetangga ada yang bagus tapi tidak diangkat karyawan tetap dan habis kontrak maka bisa direfensikan ke kita, begitu juga sebaliknya. Termasuk untuk karyawan baru.

Singkatnya, temannya teman saya itu test di sana dan lolos sesi test tertulis. Tahap selanjutnya adalah test interview. Namun ketika akan interview, temannya teman saya telpon menanyakan apakah nanti ketika ditanya sudah menikah atau belum, dia harus jujur? Karena ketika test tertulis di awal sudah dijelaskan bahwa yang bisa bergabung harus berstatus lajang, dan temannya teman saya ini ternyata sudah menikah. Hal yang baru saya tahu, baik masalah persyaratan yang satu ini atau status ini orang. Saya yang seharusnya kasih saran keputusan malah reflek bilang, ”Natural saja”. Dia tanya maksdunya apa, haruskah jujur yang berarti dia gagal? ”Sekali lagi natural saja, kamu mau jawab jujur silakan dengan segala konsekuensi. Kamu mau jawab lajang ya silakan saja dengan segala sebab-akibat. Karena ini sepenuhnya adalah keputusan hidup kamu!”

Betapa tidak tegasnya saya ya. Saya tidak tahu akhirnya dia jawab jujur atau tidak di sesi interview. Namun satu minggu kemudian ada sms dari dia singkat sekali berupa ucapan, ”terima kasih mas Budi”.

I am a bad decision maker!

Gambar

(saya tak setampan ini, gambar saya ambil dari google)

Karawang, 130713

Advertisements

20 thoughts on “Decision Maker

  1. natural = ikut arus (pragmatis) … mungkin secara naluriah iya juga ya..
    masalah mengambil keputusan memang sulit, perlu berlatih asertif..

  2. Menurut saya harus bisa merubah diri, kasihan orang2 disekitar, apalagi istri atau keluarga. Tapi mas budy sudah hebat berani mengurai kelemahan dan semoga ada jalan keluarnya. 🙂

  3. Ya ampun sob, masalah kita sama banget. Sampai sekarang saya masih terus belajar untuk tegas, konsisten, dan bersikap asertif. Sulit, ya. Tapi harus dicoba terus, hehe….

  4. gak semua leader harus tegas kok.
    kadang leader yang baik juga harus mendengarkan segala sisi.
    tapi memang tetap harus mampu mengambil keputusan. bisa dilatih kan mas.

  5. be a good decision maker butuh proses bang.
    *sok tau banget gue*
    tapi dr seminar2 yg saya ikutin, ya emang semua butuh waktu. sekarang kan jd udah tau, kalo gak tegas bakal gimana jadinya. pasti ada perang batin deh. Ya, kalo beneran mw berubah, pasti bisa kok.
    Percaya diri sama semua keputusan yang udah kita buat itu penting, jadi bisa pertahanin argumen kalo suatu saat ada yg ga setuju.
    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s