Welcome Ramadhan 2013

Gambar

Tak terasa bulan puasa sebentar lagi tiba, setelah kemerdekaan kita makan dan minum di siang hari kita akan menyambut lagi bulan suci Ramadhan. Bulan penuh berkah tahun ini akan dimulai pada hari Selasa, 9 Juli 2013. artinya sholat tarawih untuk tanggal 1 Ramadhan akan dimulai pada Senin malam.

Menentukan awal puasa dalam satu decade terakhir memang gampang-gampang susah. Dulu zaman Orde Baru tidak pernah sepelik ini. Segala aktivitas sosial selalu dikontrol oleh Pemerintah. Termasuk yang satu ini. Saya melewati masa kecil di era tersebut. Tidak pernah ada yang namanya perbedaan puasa atau Lebaran. Semua satu suara dan dalam satu komando dari atas, ga ada tuh berita umat Islam beda hari perayaan ibadah.

Nah setelah era Pak Harto runtuh, perlahan tapi pasti kebebasan yang kebablasan memberikan banyak dampak pada tiap warga. Salah satu yang sangat saya sesalkan adalah merayakan hari besar yang beda-beda. Di era se-modern ini kita malah terpecah. Ilmu pengetahuan yang maju tapi pemikiran yang mundur.

Saya harus akui, sejak kecil pengaruh Muhammadyah ada dalam masyarakat di sekeliling saya. Mulai dari tarawaih 8 rekaat, subuh tanpa qunut sampai kepastian hari perayaan jauh hari sudah dihitung. Maka wajar jika keluarga saya selalu menaati apa yang ada di kalender. Kalau di kalender tertera 1 syawal adalah 8 Agustus 2013 maka kami sekeluarga akan melakukan sholat ied di hari itu juga. Tak pengaruh pada pengumuman apapun. Seperti 2 tahun lalu yang kacau, di saat Muhammadyah memastikan jauh hari Lebaran sesuai kalender tiba-tiba pemerintah yang sebelumnya setia pada kalender merubah hari raya. Sehingga dalam satu kampung perayaannya jungkir balik.

Jelang Ramadhan ataupun hari besar Idul fitri biasanya HP akan ramai oleh ucapan-ucapan selamat. Kebanyakan adalah sms / bbm forward yang sangat tidak kreatif, kebanyakan pula bekas tahun-tahun sebelumnya yang didaur-ulang dengan hanya mengganti tahunnya. Saya sendiri tidak mempermasalahkannya, Cuma kurang kreatif saja. Saya selalu membuat sendiri dengan kalimat sendiri. Walau tak sebagus mereka dan tak se-arab pada umumnya tapi ucapan selamat buatan sendiri rasanya akan teman-teman baca daripada yang forward-an yang saya yakin kalian langusng skip atau malah langsung hapus.

Saya yang masih awam agama setidaknya punya dasar untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh para ahli agama (dalam hal saya berpatokan dengan Muhammadyah). Di era bulan sudah dipijak, internet sudah bukan barang langka, dunia maya mengglobal dan jet berkecepatan angin sudah ditemukan seharusnya perhitungan penanggalan Hijriyah sudah dapat dihitung jauh hari. Namun seperti ibadah puasa itu sendiri, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 2013. Moga berkah.

Karawang, 050713

Iklan

Terjebak

Catatan: cerpen ini pernah dibukukan di antologi Orange yang terbit tahun 2012 lalu. Mengikuti kompetisi kastilfantasi.com dan sedang dalam tahap adaptasi film pendek yang dibuat oleh komunitas Gila Film di Jakarta.

Terjebak oleh: Lazione Budy

“Kriiing…”

Dering HP yang membangunkan tidur. Ough.., cahaya lampu kamar menyilaukan mata. Dengan masih mengantuk kucari sumber suara. Masih di dalam tas biru kuliah yang saya geletakkan di samping tempat tidur. Kulihat di layar HP, Fanny memanggil…

“Hello..”

“Novel Good Omens  yang kamu sarankan ternyata brillian, saya baru selesai membacanya dan sekarang lagi di kampus menunggu kuliah dimulai”

“Iya kan, sudah kubilang”

“Kamu di mana sekarang? Hari ini kan kamu mau sidang skripsi?”

“Baru bangun tidur. Sudah siap semuanya. Doakan saja lancar”

“Pastinya, selalu yang terbaik buat kamu”

“Sayang, hari ini setelah sidang skripsi kita jalan-jalan ke JB park yuk”

“Mau ngapain?”

“Ingin melepas penat, melepas lelah ini setelah berbulan-bulan terkurung dalam persiapan sidang ini” jawabku penuh rahasia. Lamaran ini akan memberi kejutan padanya.

“Oke honey, saya tunggu ya.”

Badan ini capek sekali, rasanya lemas. Kuminum air putih yang selalu ku sediakan di meja dekat tempat tidur. Kulihat jam dinding, pukul 7:10. Hari ini rencananya setelah sidang skripsi, saya mau melamar Fanny, jadi sebaiknya saya bergegas ke kampus untuk bersiap-siap. Kulihat di kalender, catatan tangan penuh tertuju hari ini. Kuraba kalender di dinding kamar, melamun sesaat. Hari ini akan menjadi hari besarku. Kugenggam sepasang cincin yang sudah kusiapkan. Kuamati cincin tersebut, cincin tiga warna yang memadukan warna gold, perak dan pink. Favorite-nya. Sangat menawan, khusus saya pesan untuk melamarnya nanti. Lalu kupegang sebuah novel karya Roald Dahl berjudul Matilda. Kubuka sampulnya, di halaman pertama tertulis namaku dan Fanny serta tanggal hari jadian kita. Novel ini selalu terkenang di hatiku. Fanny adalah Matilda-ku, belahan jiwaku. Saya bersyukur mengenalnya. Kubuka sebentar secara acak, sampai di bab enam belas dengan judul “Pondok Miss Honey”. Mataku menangkap sebuah puisi Dylan Thomas yang diberi warna kuning keemasan.

“Jangan pernah gadisku, mengembara jauh dan dekat.

Ke negeri dongeng-dongeng perapian yang hangat,

Dan tertidur lelap kena sihir yang kuat.

Takut atau percaya, si srigala berbulu domba.

Akan meloncat sambil melolong nyaring, manisku, manisku.

Keluar sarangnya di balik tumpukan dedaunan yang basah oleh embun.

Lalu memangsa hatimu, dalam pondok mungil di hutan mawar”

Saya selalu tersenyum setelah membacanya, puisi kenangan kita. Saya sudah hafal, novel ini juga akan kubawa untuk melamarnya nanti. Ya Tuhan hari ini lancarkanlah segalanya.

“Praaang…” terdengar suara piring pecah di ruang dapur, segera saya keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.

“Maaf pak lantainya licin baru selesai saya pel, tidak sengaja saya menjatuhkan piring”

“Oh tidak apa-apa, bereskan ya jangan ada pecahan piring yang tertinggal”

“Baik pak”

Setelah cuci muka dan gosok gigi, kuambil tas biruku dan kuraih cincin yang di meja untuk segera berangkat kuliah. Di ruang tengah ada tukang yang sedang mengecat dinding, hari ini dimulai renovasi rumah, hampir saja saya lupa.

Kuraih koran kota hari ini, sebuah headline tentang korupsi pejabat negara masih saja mewarnai, nanti kubaca di perjalanan saja.

Setelah ku ambil kunci mobil segera saja kubuka pintu depan menuju garasi. Kutarik pintunya hingga terbuka lebar, sampai ada cahaya putih yang menyilaukan menempa mataku. Saya tak sadarkan diri.

***

“Kriiing…”

Dering HP yang membangunkan tidur. Ough.., cahaya lampu kamar menyilaukan pandangan. Hah, di mana saya? Apa yang terjadi? Bukankah saya baru saja keluar rumah? Saya masih bingung, shock. Kupulihkan kesadaran, dering HP masih terdengar. Fanny memanggil…

Dengan tangan gemetar kupencet tombol hijau, terdengar suara pacarku di seberang.

“Novel Good Omens yang kamu sarankan ternyata brillian, saya baru selesai membacanya dan sekarang lagi di kampus menunggu kuliah dimulai”

Saya diam, memikirkan sesuatu. Apa yang terjadi? Sunyi beberapa detik. Cemas. Kalut.

“Hello sayang, kamu masih di sana?”

Kukumpulkan kekuatan untuk menjawab.

“Fanny?!”

“Iya”

“Apa yang terjadi?”

“Maksudnya?”

“Bukankah tadi kamu sudah menelponku, memberi kabar bahwa novel Good Omens brilian?”

“Hah, kapan? Saya baru sampai kampus, langsung ku telepon kamu sambil nunggu kuliah dimulai. Hari ini ada ujian praktek”

“Bukan, maksudku beberapa menit yang lalu.”

“Belum sayang, hari ini saya baru telepon sekali ini. Eh kuliah mau mulai, saya masuk dulu ya”

“Tunggu..”

Tut tut tut. Telepon telah ditutup. Kulihat jam dinding 7:10 kuperhatikan kalender hari ini penuh coretan. Tadi mungkin hanya mimpi. Aneh sekali pagi ini, mimpi yang terasa nyata.

“Praaang…” suara piring jatuh terdengar dari ruang dapur. Hal ini membuat saya terkejut. Ini seperti mimpi yang hadir di dunia nyata. De javu ataukah firasat? Bergegas saya ke dapur, kuperhatikan pembantu sedang membereskan pecahan piring.

“Maaf pak lantainya licin baru selesai saya pel, tidak sengaja saya menjatuhkan piring”

Dalam keadaan bingung, saya hanya diam, ada apa ini? Lalu segera saja saya ke ruang tengah untuk memastikan apakah ada tukang cat di sana. Benar, ternyata ada. Kuperhatikan dia sedang mengecat dinding.

“Pak bukannya tadi bapak sudah mengecat yang sebelah sudut timur kenapa diulang lagi?”

“Belum pak, Ini baru dimulai”

Saya heran, tadi mungkin benaran mimpi. Kemudian saya teringat hari ini ada sidang skripsi, segera ku berangkat kuliah, kuraih koran kota hari ini, tas kuliah, cincin lamaran, novel Matilda, dan kunci mobil, segera ke kampus. Kubuka pintu depan, lalu cahaya putih itu kembali menimpa mataku. Saya tak sadarkan diri.

***

“Kriiing…”

Dering HP yang membangunkan tidur. Ough.., cahaya kamar menyilaukan pandangan. Sekali lagi saya di kamar tidur dengan bingung. Kuraih HP dalam tas, Fanny memanggil..

Aku angkat.

“Novel Good Omens yang kamu sarankan ternyata brillian, saya baru selesai membacanya dan sekarang lagi di kampus menunggu kuliah dimulai” terdengar suara Fanny di seberang. Panggilan langsung ku tutup lagi. Kucoba telaah apa yang terjadi. Semuanya terasa berulang dimulai dari dering telepon dan ditutup dengan pintu terbuka. Ada apa ini? Kucubit tangan kananku, augh.. sakit. Ini bukan mimpi. Sepertinya saya terjebak dalam sebuah lingkaran berulang atau karena cahaya silau di luar rumah itu?

“Praaang…” piring pecah yang terdengar familiar, saya keluar kamar kuambil kaca mata hitamku, benar mungkin cahaya putih yang menimpa mataku-lah yang membuat ini berulang. Lalu kubuka pintu rumah, cahaya putih itu tetap menyilaukan. Saya tak sadarkan diri.

***

“Kriiing…”

Dering HP yang membangunkan tidur. Ough.., cahaya kamar menyilaukan pandangan. Sekali lagi saya di kamar tidur dengan cemas. Kuraih HP dalam tas, Fanny memanggil..

“Novel Good Omens yang kamu sarankan ternyata brillian, saya baru..”

“Fanny sayang! Matilda-ku. Ada yang tidak beres dengan hari ini”

“Hhhmmm.. ada apa sayang?”

“Saya terbangun dari tidur menerima telepon darimu dan segalanya berjalan berulang sampai saya buka pintu rumah untuk keluar ada cahaya putih yang menyilaukan mata kemudian saya tiba-tiba kembali terbangun di kamar lagi”

“Kamu bicara apa sih?”

“Dengar ya ini bukan mimpi, saya tersadar dan saya bingung dengan ini semua” tubuhku berkeringat.

“Sayang kamu lagi sakit? Apa saya perlu ke rumahmu sekarang?”

“Tidak, jangan. Sebaiknya kamu lanjut kuliah hari ini kamu ada ujian praktek”

“Oh kok tahu, saya belum memberitahukannya kan?”

“Seperti yang kubilang ada yang tidak beres dengan hari ini. Segalanya berputar.” suaraku mulai terdengar panik.

“Maksud sayang apa sih, Fanny tidak mengerti”

“Sudahlah sebaiknya kamu lanjut kuliah. Sampai ketemu di kampus” kututup telepon.

Oke, jadi semua ini berputar. Mungkin dengan cara ini saya mengakhirinya.

“Pranggg…” bunyi piring pecah di dapur kuhiraukan. Permintaan maaf pembantu tak kutanggapi. Kuambil kapak di gudang belakang. Kubawa ke ruang depan, dengan kekuatan penuh kuhancurkan pintu tersebut. Ku kapak dengan membabi buta. Kuhancurkan dengan sekuat tenaga, dengan kemarahan yang memuncak pintu tersebut bertubi-tubi berusaha kurobohkan.

“Aaaaaaaagh….!”

Tubuhku berkeringat, tanganku menggigil, nafasku mulai memburu, butuh beberapa menit untuk hancur. Teriakan ketakutan tukang cat di belakangku tak menghalangiku guna menghancurkan pintu ini.

“Ya Tuhan tolong saya! Saya mau keluar dari rumah ini”

Sampai ketika akhirnya pintu berlubang, saya terus coba untuk menghancurkannya dan cahaya putih itu menyilaukan mataku. Kapak jatuh ke lantai dan saya tak sadarkan diri.

***

“Kriiing…”

Dering HP yang membangunkan tidur. Ough.., cahaya kamar menyilaukan pandangan. Sekali lagi saya di kamar tidur dengan takut. Kuraih HP dalam tas, Fanny memanggil..

“Novel Good Omens  yang kamu sarankan ternyata brillian, saya baru selesai membacanya dan sekarang lagi di kampus menunggu kuliah dimulai”

Tubuhku menggigil kedinginan. Cemas, panik, tak tahu harus berbuat apa. Hari ini saya sidang skripsi jadi saya harus segera ke kampus mau tak mau. Sulit kupercaya, saya terjebak di rumah sendiri. Kucoba berbagai cara untuk keluar rumah. Lewat pintu belakang, kubuka jendela, sekali lagi kudobrak pintu, tapi tetap saja berakhir di kamar ini. Kucoba menutup mata sampai di garasi namun seketika kubuka mata ini saya kembali berbaring di kamar dengan suara dering HP. Setiap kali cahaya diluar menyentuh mataku saya selalu pingsan. Sampai akhirnya saya menyerah untuk kesekian kalinya. Entah apa yang terjadi, tubuh ini lemas tak berdaya. Ya Tuhan ada apa ini? Kalau ini mimpi buruk, kumohon segera bangunkan saya. Saya mohon padaMu sebuah ketenangan jiwa. Saya lelah menghadapi ini. Saya ingin mohon kemurahanMu, Tuhan, ampunilah semua kesalahan saya, biarlah semua ketakutan, kekhawatiran, beban dan semua hal-hal negatif lainnya yang diakibatkan oleh kesalahan saya, juga dibersihkan, dikeluarkan & digantikan dengan cahaya dan kasih sayangMu. Kini kupanjatkan doa setulus-tulusnya.

***

Saya memang terkenal sebagai playboy kampus. Entah sudah berapa kali saya pacaran, selingkuh dan menebar pesona di mana-mana. Dengan ketampanan dan kekayaan yang saya miliki gadis mana yang tak bertekuk lutut untuk menjadi pacarku? Sampai akhirnya saya mengenal Fanny. Gadis feminim yang tak biasa, yang membuatku merasakan benar apa itu cinta sejati. Dialah yang mengubah segalanya.

Saya mengenalnya di perpustakaan kampus. Saat itu pagi yang cerah, dan seperti biasa saya mau mengembalikan novel yang kupinjam. Kulirik ada seorang mahasiswi sedang membaca novel Roald Dahl di pojok ruangan. Iseng kudekati dia.

“Jangan pernah gadisku, mengembara jauh dan dekat ke negeri dongeng-dongeng perapian yang hangat. Dan tertidur lelap kena sihir yang kuat” kusampaikan kalimat rayuan kepadanya. Dia hanya memalingkan kepalanya sesaat ke arahku, lalu lanjut membaca novel.

“Hei, itu adalah potongan puisi Dylan Thomas” rayuku lagi. Dia tetap tak bergeming.

“Puisi itu ada di dalam novel yang kamu baca saat ini. Di bab enam belas.” lanjutku.

“Terus kenapa?” akhirnya di bersuara

“Saya paling suka Matilda, ini adalah novel terbaik karya Roald Dahl” jawabku.

“Terus kenapa”

“Setidaknya kita mempunyai kesamaan sekarang”

“Terus kenapa”

“Bisa tidak kamu menjawab semua pertanyaanku dengan kalimat selain ‘terus kenapa?’” dia malah terdiam.

“Kita bisa saling berbagi cerita, saya suka baca novel” ada jeda lama. Dia malah mengabaikanku.

“Hello, boleh kenalan. Boleh kita ngobrol? Dari jurusan mana?” Akhirnya diletakkannya juga bukunya.

“Dengar ya, di perpustakaan dilarang berisik. Tolong camkan itu!” responnya di luar dugaanku, lalu dia pergi keluar ruangan meninggalkanku.

Saya hanya tersenyum, boleh juga. Diacukan cewek bukanlah reputasiku, lihat saja nanti.

Berhari-hari kemudian kucari informasi tentangnya. Ternyata susah sekali menaklukkan hatinya. Dia sudah mendengar banyak hal tentang masa lalu ku, tentang reputasiku sebagai laki-laki playboy. Berbagai cara kucoba untuk meluluhakn cintanya, sampai suatu saat dia menyanggupi mau menjadi pacarku dengan syarat tiap bulan membelikan novel untuknya dan memutuskan pacar-pacarku. Demi dia kulakukan juga hal itu.

“Kenapa kamu memutuskanku? Salahku apa?” Rina bertanya untuk kesekian kalinya.

“Sudah kubilang berapa kali? Kita sudah tidak cocok lagi”

“Tidak cocok bangaimana? Saya siap mengorbankan segalanya demi kamu”

“Maaf Rina kita harus putus. Titik”

“Desi, maaf kita harus putus.” kuucapkan kuucapkan kalimat itu dengan mantab.

“Saya tahu suatu saat kamu akan berkata itu. Kamu memang cowok brengsek”

“Dian maaf hari ini kita putus” kukirim sms ini ke Dian. Lalu saya teruskan sms ke semua cewek yang kukencani dengan mengubah kata pertama dengan nama meraka. Berbagai balasan sms kuterima, ada yang marah-marah ada yang biasa saja. Yang pasti sudah kubulatkan tekad untuk melepas semuanya demi Fanny.

***

“Kriiing…”

Dering HP yang membangunkan tidur. Ough.., cahaya kamar menyilaukan pandangan. Sekali lagi saya di kamar tidur dengan perasaan cemas, kini saya pasrah. Kuraih HP dalam tas, Fanny memanggil..

Saya menangis, menangis sejadi-jadinya. Saya menyesal kenapa tidak dari dulu saya bertobat, kenapa tidak dari dulu saya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, kenapa tidak dari dulu kulamar Fanny, kini saya terjebak di rumah ini tak tahu apa yang telah terjadi dan tak tahu pula bagaimana cara untuk keluar. Saya mencintainya ya Tuhan beri saya kesempatan sekali saja untuk menyampaikannya, untuk melamarnya, saya ingin hidup bersamanya.

Dengan kepasrahan hati dan air mata yang meleleh saya melangkah gontai kubawa HP ke ruang tengah, kupegang ganggang pintu, lalu tangan yang satu lagi kupakai buat menjawab telepon.

“Novel Good Omens yang kamu sarankan ternyata brillian, saya baru selesai membacanya dan sekarang lagi di kampus menunggu …”

“Fanny sayang, saya tidak tahu apakah nanti kita bisa bertemu lagi. Saya hanya mau bilang betapa saya mencintaimu.” kusampaikan kalimat cinta dengan sangat tulus.

“Saya juga sangat mencintaimu, kamu kenapa sepertinya lagi menangis?”

“Maukah kamu menjadi istriku?” air mata ini terus meleleh, bergetar hati ini ketika menyampaikannya. Isakan tangisku masih terdengar dan terbayang cincin lamaranku yang masih di kamar. Ironisnya cincin itu terasa jauh sekali.

“Ya saya bersedia, tapi bukankah kita sudah sepakat untuk bertatap muka jika kita membicarakan sesuatu yang penting? Kurasa momen ini sangat penting jika dibicarakan lewat telepon nantinya kurang berkesan sayang, jadi sebaiknya kita bertemu di kampus siang ini setelah kamu sidang skripsi”

“Itu adalah rencana kita, tapi apakah nanti kita masih bisa bertemu? Saya tidak tahu, saya hanya mau bilang betapa saya mencintaimu dan saya ingin hidup bahagia selamanya denganmu”

“Kita pasti bertemu, saya juga mencintaimu selamanya”

“Maukah kamu berjanji untuk setia denganku?”

“Sayang kita sudah sering membahasnya, kita sudah pacaran dua tahun, kita sudah saling mengenal, kita sama-sama setia, kita sama-sama mencintai, tak ada yang perlu diragukan lagi. Kita pasti akan menikah. Saya hanya menunggu peresmian lamaran dari kamu sayang. Hanya maut yang bisa memisahkan cinta kita”

“Saya sangat mencintaimu”

“Ya, saya juga mencintaimu. Selamanya”

“Semoga niat baik kita untuk segera menikah diberi jalan oleh Tuhan”

Kututup telepon, kupejamkan mata ini, dengan keyakinan penuh kuputar ganggang pintu. Pintu terbuka, Lalu perlahan kubuka mata. Dengan kelegaan yang membuncah, saya tetap di teras rumah. Kulihat sekeliling, tak ada yang ganjil. Kuamati halaman rumah, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Cahaya yang menimpa matakupun tak berbekas. Kulirik jam tangan, 07.10. Segera kutahan pintu dengan balok agar tetap terbuka, dan segala barang yang kuperlukan untuk ke kampus kuambil dengan ketergesaan. Puji Tuhan, akhirnya saya bisa keluar dari putaran ini.

“Hati-hati di jalan pak!” tukang cat di ruang tamu memberi sapaan. Anehnya seperti kurasa ada penekanan dalam kalimat itu. Saya hanya tersenyum.

“Terima kasih” walau merinding, kuucapkan juga kata itu.

Hanya dalam hitungan menit, saya sudah di mobil dalam perjalanan ke kampus. Hati ini lega, senang tak terkira. Iseng kubuka koran yang kubawa tadi, sambil menyetir kubaca berita hari ini di halaman depan. Tentang korupsi, tentang berita selebriti, update berita bola dan kutemukan berita musibah kecelakaan di sudut kiri bawah dengan judul:

Kecelakaan maut menewaskan semua penumpang

Koran kota (5/6) — Sebuah kecelakaan maut terjadi kemarin pagi di kota JB, kecelakaan terjadi di perempatan jalan JB diduga karena supir bus mengantuk dan melanggar lampu merah. Kecelakaan tersebut menewaskan seluruh penumpang, termasuk penumpang yang ada di sebuah mobil yang ditabrak bus…

Berita terputus karena lanjut ke halaman 9.

Karena sambil menyetir mobil, koran tersebut hanya terbaca sebentar di halaman muka. Kuletakkan lagi. Hufh, hari gini masih melanggar lalu lintas. Harusnya malu! Kasihan semua penumpang itu, kasihan keluarga yang ditinggal, orang-orang yang dicintai, batinku.

Pagi ini cuaca cerah, Tak terasa perjalanan hampir sampai kampus. Di perempatan jalan JB lampu menyala merah, kuhentikan mobilku.

“Kiriiing..”

Terdengar dering HP berbunyi. Kuraih tas biru ku yang ada di kursi belakang. Kulihat di layar, Fanny memanggil..

Belum sempat kutekan tombol hijau untuk menjawab, tiba-tiba sebuah bus dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan melaju ke arahku, cahaya putih lampu depannya menyilaukan mata, sebelum sadar apa yang terjadi bus tersebut menghantam mobil. Crash! Kecelakaan tak terhindarkan.

Hiruk pikuk lalu lintas terhenti. Dan dering HP itu masih terdengar.

Kriiing….

Link dari kastil fantasi: http://kastilfantasi.com/2011/07/terjebak-2/