Hujan

Hujan

Gambar

Apa yang membuat saya suka hujan? Hhhmm…, rintiknya. Saya suka melihat rintik hujan dari teras rumah. Menikmatinya dengan secangkir kopi dan sebuah kisah dari sebuah buku yang saya baca.  Seperti hari ini, hujan turun merata dari pagi sampai sore. Ketika Asar menjelang, rintiknya mulai berkurang dan berangsur menjadi gerimis. Saya suka menikmati rintik di waktu sore. Hari ini saya menikmati kisah Mariam Jo dari buku A thousand Splendid suns karya Khaled Hosseini.  Rintikan yang menimpa atap rumah seperti nyanyian konstan yang menyejukan. Di luar sana anak-anak bermain air, berkejaran tak takut dingin. Mengingatkan masa kecil yang menyenangkan.

Hari ini saya seharian tidur, setelah subuh saya melanjutkan memeluk guling. Tak terasa adzan Dhuhur menyapa ketika saya masih ogah-ogahan bangun. Setelah mandi dan sembahyang, saya menikmati rintiknya. Duduk di teras sendirian dengan kepulan asap kopi dan tumpukan buku. Sedikit menyesal kenapa saya bangun terlambat, karena melewatkan separuh hari yang hujan dalam buaian mimpi.

Untungnya hari ini sang hujan tak ditemani guntur, jadi suasananya terlihat sempurna. Seringnya kalau hujan dibarengi petir, listrik akan mati. PLN serasa janjian sama kilatnya untuk istirahat sejenak. Kisah pilu Jo dalam novel yang hari ini saya baca sangat kontras dengan suasana sejuk di sekitar. Dalam kisahnya Jo adalah seorang anak Harami yang diasingkan oleh sanga ayah. Tinggal dalam pengasingan dengan ibu kandungnya, Jo akhirnya mengalami masa tragis diulang tahunnya yang ke lima belas. Dipaksa menikah di usia sekecil itu, dia akhirnya hidup di kota asing dang suami yang asing.

Dengan setting Negara Afganistan di masa runtuhnya pemerintahan Kerajaan menuju Republik, kisahnya ditulis dengan sangat memikat. Dalam sehari saya sudah sampai bab dua belas. Di mana saat itu Jo dan suami sedang mengalami musim salju. Oh iya salju. Saya yang sudah melewati usia seperempat abad ini belum pernah mengalami dan menikmati dinginnya salju yang turun dari langit. Dalam cerita-cerita yang sering saya baca salju sepertinya menyenangkan. Dalam film-film yang saya tonton salju sungguh menggiurkan. Di rumah-rumah eropa ada perapian di dalamnya untuk melawan dinginnya musim salju. Tiba-tiba saya iri dengan cuaca yang meraka rasakan. Saya ingin membuat boneka salju! Saya ingin memakai mantel tebal di tengah taman yang bersalju. Mungkin nikmatnya seperti suara rintik hujan di sore hari ini. Mungkin.

Ketika hujan mulai berhenti dan anak-anak sudah mulai berkemas karena dipanggil orang tuanya untuk segera mandi, saya turut berhenti membaca novel. Salah satunya adalah tetangga rumah, yang mengeringkan tubuhnya. Saya iseng mendekatinya dan menyapanya.

“Apa yang kamu suka dari bermain bola di jalanan kala hujan turun?”

“Asyik saja, saya selalu suka bermain air di kolam renang. Saya tak punya kolam renang di rumah jadi ketika hujan tiba, inilah kesempatan saya untuk bermain air sepuasnya. Tak peduli setelahnya diomelin ibu, tak peduli nantinya sakit. Yang penting senang bisa berlarian bebas di bawah hujan.”

Saya tersenyum, “Nikmatilah nak, nikmatilah masa kecilmu!”

Karawang, 040713