A.T.M

Here I am

Gambar

Ada berapa banyak kartu ATM yang pernah kamu punya? Hhhmmm, setiap saya pindah kerja hampir selalu membuka rekening baru. Pertama kali saya bekerja di Perusahaan kecil saya belum membuka rekening. Saya dibayar cash dalam amplop. Gaji saya pertama tersebut dalam amplopnya terbilang sampai 500 perak, jadi dalam amplop tersebut recehnya pun ada. Uangnya sesuai dengan di slip yang diberi.

Di Perusahaan kedua baru saya diminta buka rekening. Bekerja di pabrik dalam satu angkatan ada 60 orang, kami buka rekening bareng-bareng. Rekening pertama yang saya punya adalah bank Lippo. Saya dikumpulkan dalam satu ruangan, lalu HRD menyebarkan aplikasi bank Lippo kita diminta mengisi form tersebut. Enak sekali jadi pasukan, setelah isi semua. Sekitar dua minggu saya sudah dapat kartu ATM beserta pin dalam amplop dan buku tabungan.

Dua tahun berselang, saya pindah kerja. Di Perusahaan selanjutnya ini saya membuka rekening bank Permata. Langkah-langkahnya sama persis seperti sebelumnya. Cuma di Permata tak ada buku tabungan, kita akan mendapatkan rekening Koran tiap bulan dikirim ke alamat kita. Setelah selama setengah tahun itu pakai Permata saya cabut lagi dan lanjut kuliah. Waktu kuliah saya kekurangan dana dan akhirnya cari kerja lagi.

Setelah dua kali bekerja di Perusahaan otomotif,  berikutnya adalah Perusahaan furniture. Di sini saya buka lagi rekening baru. Adalah rekening bank NISP yang saya punya. Nama bank yang asing waktu itu. Tapi beberapa waktu kemudian pihak Perusahaan mengganti kebijakan payroll jadi semua karyawan gaji akan di-transfer ke bank Mandiri. Jadi migrasi ramai-ramai. Setelah hampir tiga tahun bekerja dan tak terasa kuliahku selesai. Saya memutuskan pindah kerja lagi.

Selanjutnya adalah perusahaan Farmasi dan rekening yang diminta adalah Permata. Berhubung sudah lama ga dipakai, nomor rekening lama otomatis close jadi diminta daftar lagi. Jadi untuk kedua kalinya saya daftar Permata. Hanya setengah tahun bertahan, saya memutuskan pulang kampung untuk usaha dan lanjut kuliah. Tidak ada satu tahun, saya kembali bekerja di sebuah Perusahaan percetakan kartu.

Di sini bank yang mau dipakai untuk penggajian lebih variatif. Karyawan dipersilahkan memakai bank manapun yang terpenting harus rekening atas nama karyawan yang bersangkutan, berhubung Permata saya masih bisa dipakai saya lanjutkan itu rekening. Tidak ada satu tahun saya pindah kerja lagi. Hitunglah berapa kali saya jadi kutu loncat.

Di Perusahaan berikutnya, rekening yang dipakai ternyata sama yaitu Permata jadi lanjut lagi. Setelah saya amati, saya rasa Permata adalah bank dengan pelayanan paling bagus. Mereka tidak ribet dalam ‘birokrasi’, dalam tanda kutip ya. Tidak perlu buku tabungan, tidak berbelit-belit, semangat muda pelayanannya, tidak panjang antriannya. Baik untuk setor ataupun mau ambil uang via manual dan masih banyak lagi.

Jadi ketika akhirnya saya pindah kerja lagi dan di tempat baru masih menggunakan cara penggajian manual amplop. Saya sebagai HRD akhirnya memilih bank Permata untuk payroll berikutnya. Baru 3 bulan menjabat di Perusahaan tersebut, akhirnya saya rubah cara penggajian manual menjadi transfer. Saya pilih Permata daripada yang lainnya, jadi selama satu bulan saya mengurusi pendaftaran rekening seluruh karyawan. Dan seperti yang saya bilang tadi, pelayanan dan respon mereka memang prima. Semangat anak muda.

Saya menikah dan akhirnya mengalah sama pasangan, istri saya tinggal di kota Karawang. Otomatis saya yang sudah lebih dari delapan tahun bekerja di Cikarang harus cari kerja lagi. Jadi tak ada setahun saya pindah kerja ke Karawang. Nah inilah tempat kerja saya sampai sekarang. Saya terpaksa pindah rekening lagi. Adalah bank BII yang saya pakai. Sudah lebih dari satu tahun saya di sini, dan nyatanya memang pelayanannya ga sebagus Permata. Ketika mendaftar birokrasi mereka ribet, old fashion sekali.

Untuk membuka rekening, BII terlalu banyak syarat. Tanda tangan yang tidak mirip, data yang sedikit kurang, materai yang tanda tangan-nya ga pas. Mereka tak seperti Permata yang siap membantu data dan mempermudah tetek bengeknya. Ketika ATM sudah jadi, kita bahkan diminta setor uang Rp 5 ribu untuk mengambil ATM. Untuk print out rekening kita diminta adm lagi. BII yang ada kata international di dalamnya kok jadi malah rasa ‘Indonesia’ sekali masalah ‘birokrasi’nya.

Setelah melewati beberapa rekening tersebut, rasa jadi merasa paling enak tuh gajian manual amplop. Toh tiap bulan juga gajian cuma mampir. Tiap receh kalau manual ada dalam amplop sementara kalau gajian di-transfer kita diwajibkan meninggalkan saldo minimal Rp 50 ribu atau sekarang sudah naik jadi Rp 100 ribu. Itu sih komentar teman-teman, yang saya amini. Apalagi kalau kartu ATM uang kamu pegang adalah BII.

Itulah beberapa rekening yang pernah saya punya. Lumayan ya. Kartu ATM boleh banyak, asal jangan ditanya berapa banyak saldo-nya. Meh, namanya juga orang gajian.

Karawang, 030713

Advertisements

2 thoughts on “A.T.M

  1. kalo masalah ttd gak mirip, data sedikit kurang itu mungkin bagus yah untuk keamanan nasabah juga. Tapi kalo sedikit2 harus bayar admin rasanya emang gak ekonomis sekali 😦

  2. Bagus sih, cuma harusnya mereka juga bisa membedakan mana nasabah yang wah dan mana nasabah yang hanya menggunakannya untuk menerima gaji kemudian habis.
    Mayoritas karyawan kan pekerja jadi ga perlu seketat itu.
    Pengalaman di Permata, mereka selalu membantu data dan ga membuat ribet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s