Hargai Waktu Mereka!

Gambar

Sebagai HRD recruitment saya termasuk orang yang mencoba selalu menghargai waktu. Kalau saya janjian sama pelamar besok akan test jam 10:00 maka besok jam 10:00 saya jamin test dimulai. Ini adalah respon kekecewaan saya di masa lalu.

Dulu saya pernah test di sebuah Perusahaan percetakan. Melalui telpon HRD Perusahaan tersebut membuat kesepakatan untuk test wawancara jam 08:00 keesokan harinya. Sesuai yang kita sepakati, saya datang 30 menit sebelum wawancara dimulai. Dari resepsionis saya menyampaikan maksud kedatangan saya. Resepsionis, wanita cantik berbaju Merah tersebut mempersilahkan saya duduk menunggu di lobi. Di sana sudah ada dua orang yang ternyata juga diundang untuk wawancara untuk posisi yang sama, jadi ini seteru saya nantinya. Sembari menanti waktu yang disepakati, saya mengobrol dengan mereka. Tanya rumahnya di mana, lulusan mana, pengalamannya apa, sebuah basa-basi ala kadarnya untuk menunjukan kesopanan.

Ketika jam sudah menunjukan angka Delapan, sang HRD belum muncul juga. Lalu saya tanya ke resepsionis, saya diminta untuk menunggu. Jadi kami kembali duduk, saya memainkan HP untuk membunuh waktu. Mulai browsing, game sampai sms ke teman lama. 5 menit, 10 menit, 15 menit belum ada informasi. Setengah jam berlalu belum ada tanda-tanda dipanggil. Salah seorang ’seteru’ akhirnya gantian mendatangi si gadis Merah. Jawabnya masih sama. 40 menit, 50 menit dan satu jam akhirnya lewat. Saya mulai bosan sama HP. Saya keluarkan novel detektif yang baru saya beli beberapa waktu yang lalu. Saya baca lembar demi lembar untuk melewati masa penantian. 80 menit, 90 menit, satu setengah jam berlalu. Sang ’seteru’ yang lain kembali mendatangi si gadis Merah. Lagi-lagi mendapat jawaban yang sama. Kami bertiga mulai bosan. Satu bab, dua bab, tiga bab. Akhirnya dalam kebosanan tingkat dewa, waktu sudah menunjukan pukul 11:00. Tiga jam lebih yang sia-sia ini kami mulai frustasi. Saya benar-benar marah, saya datangi lagi resepsionis dan minta dihubungkan dengan extension ruang HRD. Dia menolak, dan tetap berusaha sopan, ”Maaf pak, ini bukan wewenang saya untuk memastikan waktu wawancara. Saya hanya menjalankan apa yang menjadi tugas saya. Selama Bapak X (sang HR) belum memberi informasi bapak dipersilakan untuk menunggu.”

Kami yang bersikeras menunggu tiga jam itu sudah diluar batas kewajaran, saya meminta si Merah untuk kembali menginformasikan ke bapak X sekali lagi di depan kami. Jadi dia-pun akhirnya mau menelpon di depan kami. Dari ekspresi dan jawaban sepatah dua patah kata yang kami dengar, seperti kami diminta menunggu lagi. Benar saja, setelah gagang telpon diletakan dia memberi informasi untuk lebih bersabar.

Saya benar-benar bosan dibuatnya. Jam istirahat tiba, bel berbunyi dan akhirnya si gadis Merah mempersilakan kami untuk istirahat dulu, nanti jam satu diminta datang lagi. Alamak! Bagaimana bisa sejak pagi kita terlantar hingga waktu dhuhur tak ada kejelasan. Salah satu seteru mengajak saya makan bareng, yang satu lagi menyalami kami berdua. Dia menyerah katanya, dia ada keperluan sehingga tak bisa lanjut wawancara. Kami tertawa, lanjut wawancara? Kita bahkan belum mulai. Jadi setelah Sholat dan makan, tinggal kami berdua. Jam satu siang tepat kami sudah kembali duduk di lobi, kami sampai kehabisan bahan untuk ngobrol. Jadi setelah 30 menit berlalu saya putuskan mengikuti seteru satu untuk mundur saja. Saya berjalan menuju si gadis Merah dan sesampai di resepsionis saya mau bilang pulang saja. Tapi sebelum saya membuka mulut, dia sudah bicara duluan.

”Bapak X baru saja menginformasikan, berhubung hari ini ada meeting yang tak bisa ditinggalkan maka wawancara ditunda besok di jam yang sama.”

”Alamak!”

Saya kesal sekali, saya sebenarnya ingin ga datang besoknya tapi karena saya dalam posisi yang membutuhkan kerja, besoknya di sana lagi. Tapi saya belajar dari kejadian kemarin, jam delapan yang dijanjikan tapi saya datang jam sepuluh. Di sana dua seteru ternyata sudah datang. Saya heran, kok yang satu bisa tahu. Seteru satu memberitahu seteru dua untuk datang lagi. Oh, jam delapan mereka menanti dan sudah lebih dari dua jam mereka belum dipanggil juga. Wah minta dihajar nih HR.

Jam sebelas ditengah kepasrahan akhirnya kami baru mulai wawancara.

Walau tiga hari kemudian saya yang dipilih menjadi pegawai di Perusahaan tersebut, pengalaman ’menunggu’ tersebut ga bisa saya maafkan.

Belajar dari pengalaman tersebut, sekarang kalau saya membuat janji buat pelamar saya akan mati-matian untuk disiplin waktu. Saya ga akan membuat pelamar menunggu lama. Dan sejauh ini lumayan berhasil. Pernah suatu ketika jam 10:00 yang kami sepakati untuk test, tiba-tiba ada meeting karena ada trouble sama planning kerja. Jadi sebelum saya mulai meeting, saya temui para pelamar, saya persilakan duduk di sebuah ruang senyaman mungkin. Lalu saya sebarkan test tertulis dan isi aplikasi calon pekerja. Walau kemarinnya jadwalnya hanya wawancara, saya sampaikan bahwa kami ada sesi tambahan test tertulis. Pintar-pintar kita ngeles saja. Jadi mereka tetap dihargai waktunya.

Pernah juga suatu ketika user wawancara ternyata tidak masuk, jadi harusnya wawancara ditunda. Saya tidak mau kembali menyuruh mereka pulang, jadi setelah isi aplikasi wawancara berjalan hanya dengan saya. Sehingga waktu mereka tetap dihargai.

Marilah kita hargai waktu mereka. Seberapa-pun besarnya mereka butuh bekerja, mereka sudah mengorbankan waktu untuk kita. Sesibuk apa-pun waktu kita bekerja, tolong sempatkan waktu untuk tetap mencoba disiplin. Hidup memang harus saling mengisi(kan).

Karawang, 020713

Advertisements

2 thoughts on “Hargai Waktu Mereka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s