Bisnis Yang Aneh

Gambar

Rumah baru semangat baru

Pertama kali saya ditawari bisnis yang aneh itu pas dulu pertama kerja di perantauan. Waktu itu saya ditelpon teman lama yang juga lagi di Cikarang. Tumben dia telpon dengan nada manis dan sok akrab. Padahal dulu pas satu sekolah dia ga cs sama saya. Jangankan senyum, berkabar saja tidak. Jadi saya kaget juga dapat telpon darinya. Dia minta saya untuk main ke kos nya di daerah Vila. Saya respon ada apa ya? Dia main rahasia-rahasiaan. Saya yang ga akrab sama dia malas lah, waktu itu apalagi saya belum ada kendaraan sendiri. Jadinya saya tolak. Beberapa hari dia tanya kabar dan ngajak main lagi, ada surprise katanya. Wah saya jadi penasaran, saya tebak teman lama main ke Cikarang ya? Bukan. Kamu pesta ulang tahun? Bukan. Kamu dapat hadiah mobil Atoz? (dia salah satu yang menertawakan saya pas dapat undian itu, baca catatan saya tentang undian di-postingan sebelumnya), bukan. Waduh surprise apaan? Dia jawab  suruh main ke kos nya siang ini. Saya yang masuk malam tak ada kendaraan bilang ga janji siang ini bisa hadir. Siangnya dia telpon lagi (busyet rajin banget), saya yang dibaut penasaran akhirnya mengalah. OK sekarang saya usahakan, mau cari pinjaman motor dulu. Setelah telpon ditutup, saya yang ngantuk berat nyamperin tetangga kos yang punya motor. “Hen, pinjam motornya ya?”. Dia jawab isi bensin! Oke.

Dengan motor pinjaman dan posisi ngantuk tapi tetap semangat ketemu teman lama. Feeling saya surprise-nya teman lama datang ke Cikarang jadi walau sama yang satu ini tak akrab saya tetap berharap teman lain yang se-gank. Sampai di kosnya, sepi hanya ada dia. Apaan surprise-nya? Dia senyum saja, tenang bentar lagi datang, dia masih dalam perjalanan. Tumben juga dia beli makanan hidang yang wah, ada banyak varian makanan dan minumnya teh kotak yang segar. Kutunggu sampai hampir setengah jam belum hadir juga, tapi makanan yang disaji tetap saya sikat. Sambil nunggu dia ngobrol sok akrab, saya yang memang seorang pendengar yang baik cuma iya-iya saja. Akhirnya tamu misterius itu datang juga, saya kaget. Busyet tamunya bawa mobil Honda Civic yang kinclong, lalu muncul dua wanita cantik dengan baju dan setelan yang wah. Wanginya menyengat, rok sedengkul dan aksesoris emasnya memenuhi tubuh. Dari anting, gelang, cincin, sampai kalung. Ini istri pejabat ya bos? Saya yang terpukau reflek ngeletuk. Bukan, ini temanku, kenalin. Mereka menyebut dua nama yang keren sampai saya ga bisa melafalkan namanya waktu itu, kalau ga salah Catherine sama Elisabeth. Ketika salaman, tangannya lembut banget. Kontras sama telapak tangan kasar buruh saya. Bidadari? Saya tertegun, ini maksudnya apa ya? Saya dicomblangin? Saya dipaksa kerja s** saya dia? Plak! Hahaha… saya diajak main film? Segala tanya memenuhi pikiran kotor saya. Maklum waktu itu jiwanya masih labil dan saya yang dari kota kecil Sukoharjo jarang-jarang lihat wanita semewah ini.

Akhirnya setelah teman saya menyilahkan duduk bidadarinya, saya menyusul duduk. Kaca matanya dibuka, wah cantiknya. Lalu bajunya dibuka juga, eh ga ding ngayal kamu! Akhirnya dia mengeluarkan beberapa buku besar dari tasnya. Satu diserahkan ke saya, yang lain disimak 3 manusia lain di ruangan ini. Dia mulai membuka pembicaraan.

“Kita mengundang bapak Budi ini untuk bergabung dalam bisnis besar. Kita lagi bisnis emas dan berlian. Ini contoh gambar emas yang kita jual dan blab la bla…”

Saya lalu membuka-buka buku besar itu sambil dengar ocehannya. Saya yang dari keluarga sederhana di desa jadi senewen. Sialan, ga salah ngajakin nih? Mana ada duit dan kuat beli kemewahan ini? Dan jawaban ada di akhir penjelasan panjang yang ga mutu tersebut.

“Jadi bapak hanya perlu mendaftar menjadi member kita dengan membayar 2 juta, lalu merekrut member lain. Setiap member yang berhasil direkrut bapak, bapak dapat komisi, bla bla blah…”

Saya hanya tertunduk marah sama teman saya, singkatnya dia ngajak bisnis MLM (Multi Level Marketing). Kenapa ga jujur dari awal kalau dia ngajak bisnis ga jelas ini, bisnis yang aneh. Saya yang sudah ditelanjangi informasi benar-benar muak. Walau saya masih hijau tapi otak saya sudah bisa prediksi ini omongan sampah semua. Dari tour ke Eropa, komisi mobil dan kapal pesiar sampai kaya di usia muda. Bah! Sampah. Kalau mau sukses ya usaha dari kecil dulu, bertahap. Tak ada yang instan bos. Saya mencoba sopan dengan tetap mendengar walau tertunduk. Sekitar satu jam akhirnya kelar juga, tawarannya selalu saya jawab nanti saya informasikan ke teman saya. Dan dua bidadari itupun pergi, teman saya yang harusnya paham gesture saya selama mendengar ceramah masih saja berharap saya gabung.  Setelah Honda Civic menghilang dari pandangan saya memuntahkan kemarahan.

“Gila kau ya. Saya tadinya berharap yang datang adalah Kurniawan, Wahid, Aji, atau Rosi (nama teman sekolah), nyatanya kamu malah ngajakin bisnis ga jelas kayak gini. Tahu ga saya pinjam ini motor dan saya shift malam. Saya ngantuk berat demi undangan kejutan kamu. Bah! Kenapa ga jujur dari awal?”

Saya banting itu buku besar langsung pulang. Anehnya dia ga merasa bersalah, malah beberapa hari kemudian dia masih saja menawarkan bisnis emas MLM ini. Apa dia buta ya? Apa dia ga paham penolakan? Gigih amat. Akhirnya pada suatu kesempatan kita bisa ketemu lagi, dan dia yang kuharap minta maaf atas undangan ga bermutunya, eh malah dia gantian marah sama saya. Katanya, saya ini mau bantu kamu biar sukses kamunya malah marah. Saya itu ngajak sukses bareng, kamunya menolak. Kamu saya ajak bisnis besar kamunya malah menertawakanku. Jangan menyesal nantinya kalau saya sukses, ingat itu! Dan sepuluh tahun berselang, saat ini dia masih saja buruh. Dan mungkin sudah lupa sama siang waktu bidadara itu. Tapi saya tak akan melupakannya.

Itu adalah ajakan pertama kali bisnis MLM yang menghantuiku. Saya ga sukanya mereka ga jujur dari awal. Kalau ngajak saja sudah ga jujur gmana kita mau percaya? Selanjutnya saya beberapa kali kena jebakan MLM lagi. Suatu malam ada teman kuliah ngajakin makan-makan gratis, dia minta ajakin teman se-kos sebanyak mungkin. Bah! Anak kos mana yang menolak makan gratis? Saya penasaran, tumben ini orang susah ngajain makan gratis sebanyaknya lagi. Akhirnya di restoran itu sebelum acara makan ada yang isi, yang ternyata ngajakin bisnis MLM parfume. Pernah saya diajak ke sebuah seminar di Jakarta, saya penasaran. Seminar apaan? Udah ngikut saja, gratis. Kirain seminar motivasi macam Mario Teguh, nyatanya seminar MLM yang dahsyat menggelegar luar biasa. Asem.

Pernah juga saya didatangi teman lama, tumben ini orang main biasanya ga pernah nyapa. Eh dia bawa tas gede dan buku besar. Ternyata ngajakin bisnis MLM obat. Setdah! Pernah di bus yang melaju ke Solo, punya teman duduk seorang bapak-bapak. Dia memulai ajak bincang, dia bawa obat prolis dan ngajak bisnis MLM. Pernah di kampus, lagi santai baca buku di pojokan ada mahasiswa asing yang sok akrab. Ujung-ujungnya ngajak bisnis ga jelas. Dan terakhir waktu teman nonton ngajakin ketemuan di sebuah kampus di Jakarta dia ngajak bisnis. Saya yang sudah trauma langsung tembak, MLM ya? Dia hanya ketawa. Bukan! Wah kalau bukan saya tertarik. So, saya yang waktu itu menganggur dan sebentar lagi nikah jadi tertarik. Jadinya minggu siang itu dengan bermodal uang seadaanya saya bela-belain datang.

Sampai di kampus, ada tiket seminar Rp 25 ribu. Wah bayar ya? Tenang saja, seminar bisnisnya bagus kok. So terpaksa saya mengeluarkan duit untuk mengekor dia masuk ke aula. Catat! Waktu itu saya rela mengeluarkan uang karena dalam pikiran saya ini ajakan bisnis non-MLM. Tapi  ternyata feeling buruk saya menjadi kenyataan. Dia ngajakin bisnis MLM obat! Setan! Kalau ga ingat sama biaya dan rasa respect dia temanku saya sudah cabut dari seminar ini semenjak kalimat pertama sang ’motivator’. Banyak terpedaya banyaknya bintang. Mereka seakan bangga sama bintang yang melekat. Kalau saya bintang 7 malah pusing 7 keliling. Saya yang sudah pengalaman sama ajakan gila, sudah ga mempan lagi sama bualan mimpi mereka. Yang baru kuketahui namanya adalah prospek. Jadi mereka mencari member sebanyak-banyaknya. Selanjutnya biar para senior yang menjelaskan. Edan semua itu di ruangan. Semua diajak mimpi. Yang saya heran dari semua teman saya yang pernah ngajak ini bisnis, kenapa tak satu pun jujur dari awal? Ya sudahlah, anggap saja ini warna hidup.

Hidup Anda tak lengkap tanpa kena jebakan MLM. Setuju?

Advertisements

7 thoughts on “Bisnis Yang Aneh

  1. hahahaha. sering ya?
    sama tuh. dulu juga pernah digituin. bilang… ada bisnis menarik nih. atau ngobrol aja, dah lama gak ketemu juga kan. bla bla bla.
    MLM yuk….

  2. Izin ngakak dulu sebentar boleh nggak mas? 😆

    Duuh saya jadi merasa deja vu nih. Pernah diajakin seminar kampret kaya gitu. Itu seisi ruangan pada kena pelet apa ya? Sorak sorai membahana kaya kebo dicucuk hidungnya.

    Nggak lama kemudian, temen lama yang nggak deket-deket amat ngasih nomor telepon temennya lagi (cowok) ke saya. Katanya mau nelpon. Ada urusan apa? Ntar dijelasin deh. Kapan bisa ketemuan? Katanya. ya sudah saya suruh ke rumah. Ngobrol ngalor ngidul ternyata dia ini keponakannya pak RT saya.
    Udah kepedean si cowok ini mau ngapain ke rumah. Basa basi ngobrol ke sana ke mari eh ternyata dia ngajak bisnis obat yang hargaya selangit. Mengajak sama-sama bermimpi bawa pulang BMW.. 😛
    Mbencekno!

    Pas sudah menikah, saya diajakin sepupu saya ikutan MLM kosmetik dan mirisnya pas anak saya lahir lha kok temen baiknya suami yang jauh-jauh datang ke rumah bukannya mendoakan si bayi tapi malah bahas pembalut anti kanker. Ujung-ujungnya nawari dagangan. Miris ndak?

    Suami saya langsung mutung. jengkel banget sama teman baiknya ini. Duuh MLM, kau merusak persahabatan antar manusia

    • Silakan.
      Saya juga sepanjang seminar kampret cuma ngerundel dan pasang mp3 di kuping. Itu rekayasa yang semuanya diajak mimpi ga jelas. Sebal sekali saya kejebak kayak gitu 3x.

      Bener banget, bisnis MLM benar2 merusak persahabatan. Sayang sekali ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s