Blue Is The Colour

Kamis, 25 Juli 2013 nanti hari yang dinanti-nanti tiba. Chelsea FC melengkapi Asia tour 2013 nya ke Indonesia. Hari ini mereka sudah tiba di Indonesia, aura biru sudah terasa. Setelah Arsenal dan Liverpool kini the Blues melengkapi invasinya ke Gelora Bung Karno. Sebuah hiburan tak ternilai harganya bagi seorang fan bisa menyaksikan langsung para idola lapangan hijau. Saya beli tiket kelas paling murah seharga rp 150 ribu, tribun atas. Tapi tetap sangat antusias, rencana akan menonton bareng true blue dari Jakarta. Teman nobar film, kita berganti kostum bola.

Sebelum masuk GBK, kita mau nonton bareng film The Wolverine di FX Senayan, lalu buka bersama dan ditutup menyanyikan ‘Blue is the Colour’ bareng dengan fan Chelsea. Ga sabar rasanya menuju hari H. Pride of London, welcome to Jakarta!

Lirik Blue is the Colour:

Blue is the colour, football is the game
We’re all together and winning is our aim
So cheer us on through the sun and rain
Cos Chelsea, Chelsea is our name.

Here at the Bridge, whether rain or fine
We can shine all the time
Home or away, come and see us play
You’re welcome any day

Blue is the colour, football is the game
We’re all together and winning is our aim
So cheer us on through the sun and rain
Cos Chelsea, Chelsea is our name

Come to the Shed and we’ll welcome you
Wear your blue and see us through
Sing loud and clear until the game is done
Sing Chelsea everyone

Blue is the colour, football is the game
We’re all together and winning is our aim
So cheer us on through the sun and rain
Cos Chelsea, Chelsea is our name.

Blue is the colour, football is the game
We’re all together and winning is our aim
So cheer us on through the sun and rain
Cos Chelsea, Chelsea is our name.

Diambil di sini: http://www.lyricstime.com/chelsea-blue-is-the-colour-lyrics.html

Gambar

Iklan

Parallel Universe

 

Gambar

(sate ikan yummy)

Beberapa waktu yang lalu saya lihat di twitter ada sebuah akun yang memposting sederet gambar parallel universe. Gambar-gambarnya seru sekaligus seram. Dan berikut diantaranya.

Gambar

(kepergok buka web dewasa)

Gambar

(the wedding ring)

Gambar

(famous Titanic movie)

Gambar

(klub berpakaian)

Gambar

(teori evolusi)

Gambar

(meets grandma)

Gambar

(lets drug, son!)

Gambar

(you mad bro)

Gambar

(get the points)

Gambar

(apple)

taken from twitter: @OMGfunniest

Tertunda

Catatan: Cerpen ini pernah saya kirim ke web annida-online.com. Sebulan kemudian ada pemberitahuan bahwa ‘tertunda’ akhirnya tertunda terpilih. Jadi sortir ke box rijek. Komentarnya, terlalu menggurui. Harusnya ini di-edit dan di-modifikasi, namun setahun lebih tidak saya sentuh. Sebagai warga baru wordpress, saya mau sharing ke sini saja.

Tertunda

Oleh: Lazione Budy

Aku yakin, aku tidak akan pernah terlambat. Karena aku percaya, rintangan terbesar seseorang untuk sukses adalah penundaan. Dalam manajemen waktu seseorang harus bisa menghindari menunda-nunda pekerjaan. Banyak orang suka menunda sesuatu dengan dalih takut gagal, kewalahan mengatur waktu, sudut pandang kepentingan apa yang akan dikerjakan atau memang itu sifat dasar manusia? Yang pasti dengan sering menunda sesuatu kita berpotensi terlambat. Namun pagi ini rasanya berat sekali untuk bangkit dan dunia berkonspirasi memunggungiku.

“Tut tut tut tut”

Bunyi dering handphone di pagi hari sebagai alarm, sebuah rutinitas. Ah, pagi ini malas sekali berangkat kerja, aku tekan tunda alarm untuk lima menit berikutnya. Dalam keadaan setengah sadar lima menit adalah sekejap, tunda lagi lima menit. Dan sekali lagi dan sekali lagi dan lagi…

Sampai hal itu membuatku tergegas bangkit karena takut track record tak pernah terlambat kerjaku pecah. Sebuah ketergesa-gesaan itu tidak bagus jadi dengan berat hati segera saja aku bangun untuk mandi dan bersiap berangkat kerja. Setelah segalanya siap, kutatap cermin pagi ini.

“Selamat pagi” bisikku pada bayang wajah di seberang. Satu lagi hari yang cerah untuk memulai aktivitas. “Kamu tahu? Dunia ini tercipta di pagi hari jadi mulailah harimu dengan semangat” tambahku. Setelah berkemas dan mengeluarkan motor dari garasi kunyalakan motor untuk memanaskan mesin sejenak, lalu ada orang di depan rumahku yang menyapa.

“Wahai saudara, sambutlah pagi dengan doa karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi sepanjang hari ini. Semoga engkau selalu dalam lindunganNya”. Kemudian dia pergi lagi, aku tidak perhatikan dia dengan seksama. Tetangga ataukah hanya orang lewat saja, yang jelas ketika dia berjalan menjauh kuperhatiakn dari belakang dia memiliki rambut cepak dan memakai baju biru. Aku banget style-nya, aku tak pernah berambut gondrong dan menyukai warna biru.

Aku hanya mengernyitkan dahi, dasar orang aneh. Tak usah dipikirkan, segera saja kuberangkat bekerja. Sampai di tengah jalan bunyi perut keroncong, ini membuatku untuk berhenti sejenak di pinggir jalan untuk membeli makanan. Kebetulan ada penjual nasi bungkus di pinggir jalan. Aku yakin, aku tidak akan pernah terlambat.

“Mas beli nasinya satu dibungkus, cepat ya”

“Wahai saudara,  makanlah segala yg halal. Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah, jika hanya kepadaNya saja kamu menyembah.”

“Aaah.., pagi begini ceramah. sini cepet makanannya” segera tanpa kuperhatikan dia aku bayar, motor kupacu lagi melanjutkan perjalanan. Namun baru beberapa saat, ada yang aneh dengan roda belakang motorku. Duh! Ternyata bocor, ya Allah jangan sekarang please, tetapi apa daya kenyataannya segera saja aku dorong sesaat di bengkel terdekat. Apes, antrian motor yang di bengkel sangat panjang.

“Mas tambal ban dong, sekalian aku nitip motor bisa ya? Aku berangkat kerja nih. Takutnya terlambat, aku mau melanjutkan naik taksi saja”

“Wahai saudara, apa-apa yang kini menjadi milikku adalah milik Allah yang dititipkan kepadaku. Dan ini semua adalah ujian untukku dan semua ini kelak akan dimintai pertanggung jawaban”

Karena sebal aku hanya menunduk dan menggelengkan kepala saja. Dan setelah debat singkat yg kurang mengenakkan, akhirnya boleh juga motor aku titipkan.

“Aduh tukang bengkel sialan, memang pendidikan kamu apa memberi ceramah kepadaku? Urusi saja kepentinganmu sendiri” gerutuku kesal. Namun aku tetap berterima kasih padanya karena kini dia sudah mau memahami keadaanku. Membantuku, oh aku suka membantu orang lain juga.

Lalu aku di pinggir jalan menunggu taksi lewat. Tak kusangka ternyata lama sekali taksii yang kunanti tak segera muncul, biasanya juga banyak yg lewat. Aku lirik jam tangan, sepuluh menit lagi, Aku yakin, aku tidak akan pernah terlambat. Keyakinanku masih penuh akan hal itu, namun beberapa menit berlalu dan aku mulai panik.

“Wahai saudara, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” tiba-tiba ada seseorang yang lewat di depanku dan berkata demikian. Lalu orang tersebut melanjutkan jalannya. Aneh! Aku kembali mengernyitkan dahi, hari ini banyak orang aneh yang berada di sekelilingku. Mereka semua mencoba menceramhiku. Ada apa ini?

Kepanikan segera mendera jadi segera saja kuambil keputusan. Ah, letak kantor cuma di seberang sungai dekat perempatan jalan, aku berubah pikiran lalu kuputuskan saja untuk lari. Selain hemat juga menyehatkan, sambil bersiap lari kulirik jarum jam, masih tujuh menit tersisa, masih bisa terkejar santai saja. Namun baru beberapa langkah bergerak seorang tukang ojek dengan helm kacanya berhenti di depanku menawarkan jasa.

“Wahai saudara, tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan”

“Maaf mas langkah aku tinggal sejengkal menuju tujuan. Aku tidak butuh bantuan orang lain untuk itu”

“Wahai saudara, jika ada jalan mudah kenapa memilih yang sulit?”

“Aku tidak butuh kamu, kalian, semua orang di dunia ini guna menggapai kesuksesanku. Sendiri aku bisa, jangan ganggu perjalananku” sialan bener ini tukang ojek. Tidak sopan! Sayup-sayup masih aku dengar di belakang dia berteriak.

“Wahai saudara, jangan sombong!” aku berbalik untuk menimpalinya, namun dia sudah memacu motornya menjauh. Kuperhatikan dari belakang, motor, baju, helm semuanya berwarna biru. Sepertinya aku mengenalnya tapi tak tahu di mana dan siapa, ah lupakan saja aku harus segera bergegas.

Dengan hati dongkol aku berlanjut berlari, sampai jembatan aku lirik jam tangan, lima menit lagi. Duh! Kakiku tersandung batu, sialan siapa juga ini yang meletakkan batu sebesar ini di tengah jembatan. Aku terjatuh, sambil meringis menahan sakit. Duduk di pinggir jalan meringis kesakitan, kurut sejenak sakitnya. Kupandangi jalanan yang lenggang, kenapa mesti pagi ini? Kaki berdarah dan sepatu robek. Ya Allah jangan sekarang, namun apa daya dengan terpincang-pincang aku menepi. Rasanya sakit sekali, kenapa dunia pagi ini seakan berkonspirasi memusuhiku? Kenapa kesialan bertubi-tubi menghampiriku dalam pagi yang cerah ini. Lelah aku mengerutu, kecewa karena sepertinya kurasa aku terlambat menyusun sesuatu yang entah kusadari atau bukan.

“Ah, dasar sepatu tak berguna, dasar rongsokan” aku lempar sepatunya ke tengah sungai. Tidak masalah, melanjutkan perjalanan ini tak beralas sepatu pun aku mampu. Kuperhatikan sepatuku yang mengelepar di tengah air sungai yang mengalir. Sepatu yang dulu selalu menemaniku ke manapun kupergi itu kini sudah tamat di sungai ini. Kuperhatikan sejenak sampai akhirnya menjauh dan hilang ditelan gelungan riak air.

Kini di sisa perjalanan ke kantor aku dengan langkah tertatih. Sampai akhirnya aku tiba di perempatan jalan, sudah dekat kata hatiku. Tinggal beberapa menit lagi jadi aku bergegas, namun karena tergesa-gesaku pula tanpa melihat kanan kiri untuk menyebrang, sebuah mobil sedan dari arah kanan membunyikan klakson dengan nyaringnya. Reflek aku mundur dan terjatuh. Sopir tersebut turun dari mobilnya dan menghampiriku. Kali ini karena dia yang menghampiriku dan langsung menatapku aku perhatikan wajahnya dengan seksama, Ya Allah! Aku merinding, seluruh bulu kuduk ini berdiri, tanganku bergetar hebat dan badan ini mengigil.

“Wahai saudara! berhati-hatilah dari dunia. Hati-hati dari cinta dunia dan bergantungnya hatimu kepadanya. Sesungguhnya jika hati telah bergantung kepada dunia dan cinta kepada harta, akan sangat cepat tertipu dan cepat pula hilangnya ilmu dalam kehidupan dunia yang fana dan terkutuk ini!” lalu dia kembali ke mobilnya melanjutkan perjalanan. Seakan tak menyadari kejanggalan ketika menatapku tadi.

Aku masih terpaku lemas di pinggir jalan dengan hati ketakutan. Di mana aku? Ada apa ini? Perlahan-lahan kesadaranku menyatu. Kuputar memori ke belakang sesaat, Penjual nasi bungkus, tukang tambal ban, seorang ojek, sopir sedan dan semuanya. Baru kusadari mereka mempunyai wajah yang sama. Wajahku, wajah yang setiap hari ku tatap di seberang cermin. Ternyata semua orang yang kutemui itu adalah aku sendiri. Aku langsung lemas.

Tubuhku mulai bergetar, aku kumpulkan kekuatan untuk berdiri. Kuamati perempatan ini. Badan ini menggigil hebat saking takutnya. Kulihat aku sedang jualan koran, kulihat aku menanti bus di halte, kulihat aku sedang duduk di pinggir jalan menikmati cerahnya pagi, kulihat aku bergerombol dengan aku yang lain berjalan sambil bercanda, kulihat wajah aku dipajang di baliho dalam sebuah iklan, kulihat aku mengemis di lampu merah. Ya Allah apa yang terjadi? Semua orang yang hiruk pikuk ini adalah aku dalam balutan yang berbeda, di mana aku sebenarnya? Aku roboh, terjatuh lagi, galau dalam kepanikan yang tak menentu. Air mataku menetes, bingung.

“Tut tut tut tut” bunyi alarm di jam tanganku berbunyi, menunjukkan waktu kerja sudah harus dimulai.

Kulihat jam tangan untuk memastikan waktu, oh sudah terlambat, dan sekarang di tengah kegalauan ini aku tak memperdulikannya. Aku gagal, aku hancur, aku telah banyak mennyia-nyiakan waktu, menyia-nyiakan peluang untuk sukses. Air mata ini meleleh lagi dengan derasnya. Ada di mana aku ini sebenarnya? Ya Allah tolonglah aku. Ya Allah ampuni dosa-dosa hamba, ajarilah hamba menjadi orang yang bisa bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan selama ini dan nanti. Beri aku kekuatan untuk melewati segala rintangan hidup. Kupanjatkan segala doa untukNya. Rapuh dan tak berdaya. Aku pasrah.

Sampai tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundakku. Aku terkejut, kulihat aku berpakaian rapi penuh wibawa bersama wanita cantik bagai bidadari disampingnya. Tersenyum.

“Siapa kamu?”

“Aku adalah kamu!

“Apa maksud semua ini? Jika kamu adalah aku, tolonglah aku. Bangunkan aku segera dari segala yang membingungkan” rintihku. Aku memohon kepada aku.

“Hei pakai kembali sepatumu nanti, kencangkan ikat pinggangmu, rapikan dasimu, dan jangan sia-sia kan waktu!”

Mataku berkunang-kunang, dunia gelap.

            “Kita tidak mengetahui kemana takdir akan membawa kita esok hari, jadi kita lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan hari ini. Jangan biarkan penundaan menguburkan harapan dan impian kita. Kamu bisa menunda, tetapi waktu tidak bisa ditunda.” samar-samar dia ataukah aku masih berujar lirih.

***

Demi Cinta

Catatan: Cerpen ini saya ambil dari Antologi yang terbit tahun 2012 lalu. Yang Anda baca ini adalah versi draft-nya. Saya cari yang sudah final ga ketemu.

Demi Cinta

Oleh: Lazione Budy

“Apa? Ini tak mungkin” tangisku meleleh, tubuhku bergetar. Kalut.

“Dunia ini memang kejam nak…”

***

“Sayang aku tak akan meninggalkanmu, aku cinta banget sama kamu.”

“Janji ya, kamu setia.”

“Iya sayang, apapun yang terjadi aku ingin menjadi istrimu.”

“Iya sayang, segera akan kulamar kamu.”

“I love you.”

“I love you too.”

Kukecup keningnya, kugenggam tanganku. Segera kami melangkah pulang dari taman kota. Kegalauan hati Fanny selalu membuatku resah. Kecemburuannya ditumpahkan sore itu gara-gara dia memergokiku suka ber-sms dengan wanita lain. HP yang biasanya selalu kugenggam tak tahu kenapa tiba-tiba ada di tangannya, dan dia membaca beberapa sms yang lupa kuhapus. Segala cara kuusahakan agar dia percaya bahwa mereka hanya teman, tak lebih. Dan janji setia selalu terucap sebagai penutup yang melegakan hatinya. Sumpah aku adalah pria yang setia.

***

Pagi ini ada mata kuliah praktek computer di hari pertama. Sebagai mahasiswa baru tak boleh terlambat, namun sial aku bangun kesiangan sehingga ketika sampai kampus kelas sudah dimulai.

“Maaf pak aku terlambat.”

“Silakan masuk, cari tempat duduk yang kosong di belakang.”

“Terima kasih pak.”

Kuedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk, semua penuh. Lalu kumelangkah ke belakang ruang kelas, kulihat seorang gadis cantik duduk sendirian. Kudekati dia.

“Boleh aku duduk di sini? Satu computer buat dua orang” sapaku sambil tersenyum.

“Silahkan.”

“Oh, terima kasih” lalu kutarik sebuah kursi untuk lebih dekat dengannya.

“Ngomong-ngomong siapa namamu?” lanjutku.

“Fanny” jawabnya. Nama yang indah, aku membatin.

***

“Ayah kamu itu kelewatan!” teriakku padanya. “Kita hanya pacaran biasa dia berani-beraninya menuduhku yang tidak-tidak.”

“Maaf sayang, ayahku memang terlalu protektif.”

“Bukan hanya protektif, tapi dia juga selalu berfikiran negative.”

“Maaf….”

“Seharusnya aku tahu bahwa aku tak diterima di keluargamu. Sejak hari pertama aku berkunjung ke rumahmu, ayahmu selalu bertanya macam-macam. Melarang ini-itu seolah-olah aku ini anak kecil.”

“Maaf.…”

“Kamu orang mana? Sudah punya penghasilan belum? Fanny tak boleh pacaran, dia harus langsung menikah nantinya. Konsentrasi kuliah, selesaikan dulu. Setiap ada lelaki berkunjung ke sini selalu kularang memacari Fanny, termasuk kamu.. “ kutirukan berbagai macam pertanyaan ayah Fanny sebagai bentuk protes kepada pacarku untuk kesekian kalinya.

“Maaf….”

“Pertanyaan macam apa itu, dasar orang tua yang kolot” kemarahanku memuncak.

“Maaf….” dia mengucapkan kata maaf lagi sambil menunduk di hadapanku, air matanya mengalir.

“Sayang, kita sudah melewatkan banyak waktu. Kita sudah melanggar perkataan ayahmu untuk tidak pacaran, kita menjalani cinta backstreet dan aku mulai muak dengan semua ini”

“Maaf…, aku tak tahu harus bagaimana” tangisnya makin terdengar.

“Tahu tidak kenapa aku tetap mempertahankanmu, demi apa coba? Demi kamu, demi kita, demi cinta!”

“Maaf…., aku tahu kamu sangat mencintaiku tapi jika keadaan memaksa kamu bisa kok memutuskanku. Kamu terlalu baik untukku.”

“Tidak, aku takkan memutuskanmu. Akan kuperjuangkan sampai detak jantungku terhenti”

“Janji?”

“Janji! Demi cinta.”

“Ya demi cinta, sayang aku takut kehilanganmu” ucapnya.

****

Sebuah panggilan telepon mengetarkan HP ku, aku yang baru bangun tidur segera saja mengangkatnya. Sebuah nomor baru.

“Hello..”

“Nak kamu jangan mendekati Fanny, apapun alasannya. Mengerti?” tanpa ada sapaan, suara di seberang langsung nerocos.

“Maaf ini siapa ya? Maksudnya apa?”

“Paham apa yang aku bilang?” bentaknya. Oh, ternyata ayah Fanny.

“Maaf pak, tidak bisa. Aku mencintai anak bapak, dan dia juga mencintaiku. Jadi tak ada masalah seharusnya.”

“Oh ya, kalau begitu. Hari ini juga kalian harus menikah”

“Tunggu dulu pak, aku masih kuliah kenapa harus tergesa-gesa?”

“Jadi kalau belum siap jangan memacari anak orang”

“Pak aku mencintai Fanny, dan aku berjanji akan menjaganya” sahutku memelas.

“Benarkah?” katanya, seolah-olah dia baru menyadarinya.

“Apakah Fanny benar-benar mencintaimu juga?” lanjutnya.

“Tentu saja, apakah dia tak pernah bercerita kepada Anda selama ini?”

“Tidak!” jawabnya ketus.

“Aneh, Fanny bilang dia sudah bercerita pada Anda. Dia seorang piatu yang membutuhkan kasih sayang. Anda selalu menolak tiap kali dia pacaran, semua mantannya selalu menyerah mundur tiap kali menghadpi Anda. Tapi tidak buatku, aku akan maju terus untuk memperjuangkan Fanny. Demi cinta! Jadi sekarang bapak sudah tahu kan.” Terangku setenang mungkin.

“Tidak…”

“Pak dia sudah dewasa, jangan terlalu protektif terhadap anak. Kami bisa jaga diri kok, jadi percayakan padaku. Anda takkan kecewa, Fanny tak akan kukecewakan.”

“Tidak…” hanya itu yang kudengar di seberang.

“Pak bolehkan aku tahu bagaimana istri Anda meninggal?”

“Tidak…” kupicingkan telinga ini di speaker, suara ayah Fanny memelan. Sepertinya dia mulai bisa menerimaku.

“Bapak tidak apa-apa?”

“Tidak…, nak bisakah kita bertemu? Bisakan kamu ke sini sekarang ke rumahku, kita butuh bicara.”

“Baiklah, aku ke rumahmu sekarang”

Tanpa ada kata-kata, telpon sudah ditutup. Sialan, dasar orang tua tak punya sopan santun. Tapi tak mengapa, mungkin setelah ini dia merestui hubunganku dengan Fanny jadi sebaiknya aku bergegas kerumahnya sekarang dengan bersemangat.

***

Tak lebih dari setengah jam aku sudah di sana. Seperti biasa, rumah ini sepi. Hanya Fanny dan ayahnya yang tinggal di sana. Katanya ibu Fanny sudah meninggal ketika Fanny masih kecil, tak ada pembatu di rumah semewah ini rasanya aneh juga. Setelah dipersilahkan masuk di ruang tamu, kulihat Fanny duduk tertunduk di kursi, dia menangis. Sementara ayahnya di sampingnya membuka map berwarna hijau. Sepertinya surat nikah. Ah, ada-ada saja. Aku belum siap kalau menikah hari ini.

“Nak, kita butuh bicara. Fanny sebagai saksi.”

“Oh, mau membicarakan apa ya?” jawabku bingung.

“Sebelumnya biarkan aku bercerita tentang masa lalu Fanny dengan sejujur-jujurnya, mohon jangan disela selama aku bercerita. Setelah ceritaku selesai terserah kalian mau bagaimana, apakah mau melanjutkan ke jenjang serius atau tidak. Paham?”

Aku tersenyum, “Paham”

“Baiklah, nama asli Fanny adalah Paniyem, dia terlahir dari keluarga yang miskin. Profesi kedua orang tuanya adalah pengemis. Rumahnya terbuat dari gubuk reyot di pinggiran desa. Paniyem kecil tidak sekolah, kesehariannya selalu membatu orang tuanya mengemis. Sampai suatu hari ada seorang duda yang murah hati datang ke gubuknya untuk mengambilnya sebagai anak angkat. Walau terlambat akhirnya Paniyem bersekolah dan ayah angkatnya mengganti nama Fanny..”

“Tunggu dulu, maksudnya apa ini?” aku gemetar, lalu kutatap Fanny yang tertunduk terus menangis.

“Benarkan itu Fanny?” tanyaku padanya. Dia diam, sesengguk air matanya adalah jawab yang tak kuinginkan.

“Nak, sudah kubilang ketika aku bercerita mohon jangan disela!”

“Oh tidak..” kupegangi kepalaku yang berdenyut. Aku turut menunduk tak berdaya. Katanya Fanny adalah anak orang kaya.

“Baik, aku lanjutkan. Bertahun-tahun setelah masa sekolah, sang duda membawanya ke kota untuk lanjut study kuliah. Aku selalu menjaganya, selalu berharap dia akan menjadi manusia yang berguna suatu saat…” ada jeda beberapa detik.

“Duda itu adalah aku nak…” lanjutnya.

Sambil terus menunduk aku berguman, “Bagiku tak masalah Fanny dari keluarga mana, aku tetap mencintainya. Selama dia juga mencintaiku aku akan tetap menikahinya…” tak terasa air mataku mulai keluar.

“Tunggu dulu, ceritaku belum selesai. Fanny apakah kamu mencintainya?” kulirik Fanny sesaat, dia tak menjawab dan terus menangis. Ayahnya hanya menggelengkan kepala. Aku turut tak percaya, dia tak menjawab. Lalu dia menatapku dan lanjut bercerita.

“Nak, pada suatu hari ayah kandung Fanny sekarat. Sebelum meninggal dia berwasiat kepadaku untuk menjaganya. Dan…”

“Cukup! Aku tak peduli, aku tetap akan menikahinya. Titik!” sela-ku emosi.

“…dan menikahinya..” ujarnya lirih.

“Apaaaa? Ini tak mungkin!” tanganku bergetar hebat. Tubuhku panas dingin, rasanya seperti ada berkilo-kilo benda menghantam kepalaku.

“Ya, dia istriku, Fanny adalah istriku nak…” lalu dia menyodorkan surat nikah yang ada di map hijau tersebut sebagai bukti.

“Oh tidak, ya Allah apa salahku?” aku tak kuat, kepalaku pusing. Dunia gelap.

Story inspired by movie: An Education starring Carey Mulligan.

Sikat gigi

Gambar

Seberapa sering kamu mengganti sikat gigi? Hhhmmm…, saya termasuk yang boros mengganti sikat gigi. Dalam sebulan minimal satu sikat gigi saya harus baru. Bentuk bulu sikatnya mengembang, basa Jawa-nya njebrawut ra jelas. Dulu pas masih kecil saya heran sama kebiasaan orang tua yang keseringan ganti sikat gigi. Saya perhatikan bulu sikatnya sudah tak lurus lagi tapi sudah rusak sana-sini. Tapi dengan berjalannya waktu, kebiasaan itu turun ke saya.

Gigi sebelah kanan bawah saya berlubang. Lubangnya cukup lebar, sekitar empat tahun lalu makin keropos dan akhrinya pecah. Sekarang geraham tersebut sudah tak berbentuk. Ngunyah makan selalu pakai gigi sebelah kiri. Nah semenjak gigi bolong tersebutlah saya boros sikat gigi. Setiap sikat saya gosok ke bagain yang berlubang, bulu sikat yang elastis akan menyesuaikan gigi. Akhirnya ya njebrawut itu bulu.

Saya tiap bulan selalu beli sikat gigi yang family pack yang isinya tiga pcs. Satu saya taruh tas yang saya bawa ke mana-mana, satu saya taruh kamar mandi yang saya gunakan tiap mandi dan akan tidur dan satu lagi cadangan yang saya taruh di lemari. Herannya sisi cadangan selalu tinggal satu, karena bila hitungan sebulan satu yang biasanya paling boros yang di kamar mandi harusnya di tas dan lemari hemat. Ternyata istriku juga boros sikat gigi. Walau tak seboros saya, tapi dia yang sering mengambil sikat gigi di lemari. Prinsipnya kalau ganti sikat gigi jangan sampai menunggu sampai rusak parah. Berbahaya!

Menggosok gigi sehari bisa lebih dari tiga kali. Pagi bangun tidur, siang hari sebelum dhuhur atau sesudah makan siang dan ketika mandi sore plus ketika akan tidur. Bahkan kadang lebih, tapi gigi tetap saja ga bisa putih cemerlang sperti yang ada di iklan. Dan ada yang tahu rahasia apa itu flouride? Hhhmm…

Karawang, 150713

Di Pantai Tanjung Pura

Gambar

* Mataharinya keren ya.

Gambar

* teman-temannya istriku lagi cari kepiting

 

Gambar

* si Mey yang nulis, bukan saya

 

Gambar

* berpose

Note: Gambar ini diambil ketika ada teman kuliah istri yang menikah di Indramayu. Setelah menginap semalam, paginya kita jalan-jalan ke pantai yang dekat rumahnya. Nama pantainya Tanjung Pura. Seperti kebanyakan pantai utara Jawa. Tempatnya bagus, asri. bagus untuk bersantai sambil minum kopi. Namun ya gitu, banyak sampah berserakan.