Halo, Aku Dalam Novel

Gambar

Saya hanya ingin jadi penulis. Tidak lebih dari itu. Saya tidak orang peduli mau bilang apa. Tidak peduli kepada orang lain adalah peraturan pertama dalam hidup saya, termasuk apa yang mereka katakan.

Ada yang tahu novel karya Nuril Basri dengan judul di atas? Saya membeli ini buku termasuk yang awal-awal muncul di toko buku. Tercetak di tahun 2009, saya membelinya di tahun yang sama. Saat itu seperti yang terjadi di catatan “Ke Toko buku”. Saya hanya main ke mal dengan uang yang minim. Saat itu di awal bulan ulang tahun saya. Jadi saya tak memberi budget untuk membeli buku, karena dalam posisi menganggur. Tetapi ternyata meleset, kisahnya sama juga dengan awal bulan ini. Selain harga yang miring, dibandrol Rp 33 ribu plus diskon lagi, saya membelinya karena membaca sekelumit paragraph di back cover berbunyi: “Batas antara khayalan dan kenyataan perlahan-lahan menghilang. Apakah kau termasuk yang tidak percaya bahwa fiksi bisa menciptakan realitasnya sendiri?”

Ya, sekali lagi penuturan yang surealis yang ditawarkan membuatku tertarik. Penawaran ending yang ambigu yang biasanya saya suka dengan percampuran dunia nyata dan fiksi menjadikannya koleksi di rak buku saya. Ceritanya tentang seorang mahasiswa Idonesia bernama Pram yang kuliah di Amerika. Dia senang dengan kesendiriannya, hobinya menulis dan menciptakan tokoh-tokoh fiksi. Lalu tokoh tersebut mulai keluar dari imajinasninya dan menguasainya. Hal-hal aneh terjadi sementara orang di sekelilingnya tak satupun percaya pada Pram. Penawaran ceritanya mengingatkan saya pada kisah Tyler Durham dalam ‘Fight Club’ di mana dia terjebak di pikirannya sendiri. Kebetulan waktu itu saya baru kelar membacanya. Buku yang sangat keren dengan harga miring yang saya temukan ditumpukan novel diskon.

 Bab satu dibuka dengan bagus dengan mencantumkan potongan lagu musisi asal Irlandia, The Corrs berjudul ‘Anybody There’ berbunyi “and what is life, there’s no one to share with?” Penggunaan diksi orang pertama berwujud ‘saya’ juga menurut saya bagus, karena tanpa saya sadari saya juga terlibat layaknya catatan-catatan sebelumnya. Setting tempat di Oregon, Amerika Serikat. Dilempar jauh dari kehidupan keseharian kita, dan saya yakin penulis pun juga. Mengingatkan saya pada buku ‘A Secret Identity’ yang indah karya Ardina.

Kisahnya mahasiswa dari Indonesia yang terasing di negeri Paman Sam ini dituturkan secara linier. Dicampur secara acak antara realita yang dialami Pram di kehidupan sehari-hari dengan kisah yang dituliskannya dalam novel yang dibuatnya. Pram mencipta Halo, seorang yang nantinya akan tertanam dalam imajinasi lalu keluar dari pikirannya. Halo sendiri merupakan karakter representative Pram, di mana mereka akhirnya berbincang dan menyusun banyak kisah. Di kisah Halo, Pram membuat alurnya tragis lalu Halo seraya protes dan menyalahkan Pram kenapa karakter penting dalam kisahnya dimatikan. Dilema karena ditekan oleh Halo, Pram berusahan untuk menghidupkan lagi melalui kisah panjang di hujan  asam. Sayangnya file novelnya secara tak sengaja dibaca oleh teman asramanya. Mereka kagum karena kisahnya bagus, tapi protes terhadap eksekusinya. Perdebatan tersebut salah satunya adalah bahwa film itu fakta, tapi fiksi. Dan Pram digiring menjadi rumit tanpa sadar layaknya Gollum dalam ‘The Lord of The Rings’ yang mempunyai kepribadian ganda.

Sebenarnya ceritanya berpotensi menakjubkan, sayangnya makin menipis halaman yang kubaca makin tak bisa diterima kisahnya. Saya kagum sama ‘Fight Club’ yang endingnya manghancurkan. Saya terpikat ‘a Secret Identity’ yang setiap kemunculan karakter baru selalu dilibatkan dan menemui kisah yang bercabang. Tapi dalam novel ‘Halo, saya dalam novel’ ini terasa kurang tajam dalam eksekusi. Kalau mau hancur, hancurkan sekalian toh mereka fiksi. Tyler and the gank berani meruntuhkan gedung layaknya terrorist. Mereka membuat banyak pihak berdarah-darah, sayangnya Halo tak sepemberani itu. Dia lugu layaknya Pram yang takut dalam keramaian.

Endingnya mengingatkanku pada film ‘A beautiful Mind’ saat Russel Crowe berbicara dengan orang asing, dia bertanya dulu dengan orang di sampingnya apakah dia juga melihat orang lain. Ah, terlambat tapi memang harus dimaklumi melihat cv sang penulis (bolehlah kamu bilang itu Pram, Nuril ataupun Halo) yang telah menghasilkan Bijikaka, Banci Kalap, Mas suka Masukin Saja dan dan Terowongan Rumah Sakit. Oh pantas saja, jangan harap ceritanya ‘wow’ lah mengingat adaptasi filmnya kita hujat di grup C bahkan sebelum kalian tonton. Tolong, saya terjebak dalam novel.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s