Pencarian Benang Merah

Sherlock!

Gambar

“Orangnya cukup baik, hanya saja dia memiliki gagasan yang aneh-aneh. Dia menaruh perhatian besar terhadap beberapa cabang sains. Aku tidak mengetahui apa motivasi belajarnya. Dia mendalami anatomi dan sangat ahli di bidang kimia, tetapi sepanjang sepengetahuanku, dia tidak pernah mengikuti pendidikan medis secara sistematik. Cara belajarnya aneh dan tidak mempunyai kepastian, namun dia berhasil mengumpulkan banyak pengetahuan yang akan membuat para professor heran.”

Bisa jadi novel yang akan saya bahas karya Sir Arthur Conan Doyle adalah novel terbaik yang pernah saya baca. Perkenalan Dokter Watson dengan Sherlock  dimulai dari kepulangan Watson ke Inggris pasca perang di Afganistan. Dia mencari seorang teman untuk berbagi ruang, mencari tempat tinggal di Inggris untuk mencoba memecahkan masalah lalu mendapatkan kamar dengan harga yang layak. Dia bertemu teman lamanya, Stamford dan mengajaknya makan siang di Holborn. Di situlah teman lamanya itu bercerita tentang Holmes.

“Sebab dia orang yang agak tertutup, meskipun dia bisa juga bicara panjang lebar kalau dia mau. Tak mudah untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa diungkapkan. Begini, bagiku holmes itu tidak terlalu ilmiah, bahkan cenderung berdarah dingin. Bisa kubayangkan dia memberikan alkaloid tumbuhan terbaru kepada teman serumahnya, bukan karena niat jahat, tapi hanya ingin tahu pengaruhnya. Supaya adil, aku harus mengatakan bahwa holmes pun akan mengkonsumsi zat tersebut dengan kesiapan yang sama. Dia tampaknya begitu bernafsu untuk memperoleh pengetahuan yang jelas dan pasti. Bayangkan saja, dia pernah memukuli mayat-mayat di kamar bedah dengan tongkat!”

Kalimat pertama yang didengar Watson dari holmes adalah, “sudah kutemukan, sudah kutemukan. Aku sudah menemukan reagen yang hanya bereaksi oleh haemoglobin dan tidak oleh zat lain.” Setelah itu Holmes serasa menodong calon partner-nya tersebut dengan memberi syarat. “Aku sudah menemukan apartemen yang cocok di Baker Street, kau tidak keberatan dengan bau tembakau yang menyengat kuharap.  Kau biasanya membawa bahan kimia, dan sesekali mengadakan percobaan. Aku terkadang tenggelam dalam pemikiranku dan bungkam seribu bahasa sampai berhari-hari. Jangan menganggap marah kalau aku berbuat begitu, dan yang penting, jangan mengganguku. Tak lama kemudian aku akan pulih. Dan yang ingin kauakui, rasanya paling baik kalau dua orang saling mengetahui kejelekan masing-masing sebelum mereka hidup bersama. Apa menurutmu bermain biola termasuk hal yang menggangu?”

“Tergantung siapa yang memainkannya. Biola yang dimainkan dengan baik merupakan hiburan para dewa, tetapi permainan yang buruk …”

“Oh, beres kalau begitu,” Holmes tertawa riang. “Kurasa kita sudah mencapai kesepakatan.”

Begitulah. Perkenalan singkat dynamic duo yang akan melegenda itu. Melalui Stamford akhirnya mereka tinggal seatap. Penggamaran asli seorang Holmes adalah ia bertubuh jangkung, tingginya lebih dari 180 sentimeter, dan begitu kurus hingga tampak lebih jangkung. Matanya tajam menusuk, kecuali ketika sedang melamun, dan hidungnya runcing bagai paruh rajawali menyebabkan seluruh ekspresinya terkesan waspada dan mantab. Dagunya kokoh dan berbentuk segi empat., menandakan ia orang yang berpendirian kuat. Tangannya sering kali ternoda tinta serta bahan kimia, namun sentuhannya begitu halus, sebagaimana kusaksikan is bermain biola. Holmes bukan mahasiswa kedokteran, ia juga tak tertarik terhadap bacaan apa pun yang memungkinkannya untuk mendapat gelar di bidang sains atau bidang lainnya. Meski begitu, ada hal-hal tertentu yang denga tekun dipelajarinya, dan dalam batasan-batasan eksentrik pengetahuannya luar biasa banyak dan pengamatannya begitu rinci sehingga aku kagum. Jelas tak ada orang yang mau bekerja keras atau memeproleh informasi setepat itu tanpa tujuan yang nyata. Orang membaca untuk iseng akan memperoleh pengetahuan yang sedikit, berbeda dengan Holmes yang mau mencari tahu sampai hal-hal kecil.

Anehnya, pengetahuan Holmes yang begitu luar biasa diimbangi denga ketidaktahuan yang sama besar di bidang lainnya. Holmes sama sekali tidak tahu apa-apa tentang karya sastra kontemporer, filosofi, dan politik. Pada saat Watson mnegutip pendapat Thomas Carlyle, dengan naïf Holmes  bertanya siapa orang itu dan kejahatan apa yang dilakukannya. Aku sangat heran ketika tanpa sengaja Watson mengetahui holmes tidak tahu teori Copernicus dan komposisi tata surya bahwa ada orang beradap yang hidup di abad kesembilan belas yang tidak menyadari bahwa bumi mengitari matahari. Setelah dijelaskan, Holmes dengan enteng menjawab, “Sekarang aku sudah tahu teori-teori itu, tetapi aku harus berusaha sebaik-baiknya untuk melupakannya.”

“Otak manusia pada awalnya seperti sama seperti loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengahatau tercampur dengan hal lain. Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukannya ke dalam loteng otaknya. Ia tidak memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaan, sebab peralatan itu saja sudah banyak. Semua itu ditata rapi dalam loteng otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dengan mudah dapat ditemukan. Keliru kalau kaupikir loteng-otak kita memiliki dinding-dinding yang membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukka, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta tidak berguna itu menyingkirkan fakta yang berguna.”

Well, itulah perkenalan unik pasangan detektif yang terkenal di dunia. Kisah yang ditulis di ‘a Study in scarlet’ lalu melompat mundur sampai benua Amerika. Penangkapan yang menghebohkan seorang pembunuh berdarah dingin, yang sungguh diluar duga itu dirunut ke secara mundur. Penuturannya sungguh enak dibaca, sampai akhirnya kita malah bersimpati terhadap si otak criminal dalam kisah ini. Dari kasus inilah kemudian lahir kisah-kisah yang banyak kita kenal. Dokter Watson kemudian mencatatnya dan mem-publish. Sebuah refleksi hidup Sir Arthur Conan Doyle dengan bumbu fantasi.

Dan setiap kali saya membaca kisah detektif yang hebat, saya selalu menarik ke belakang dengan menjadikan buku ‘Pencarian Benang Merah’ ini sebagai acuan.

Karawang, 240613

Advertisements

4 thoughts on “Pencarian Benang Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s