Misteri Lukisan Nabila

a reviewed by LBP

Gambar

Sebuah novel karya Sihar Ramses Simatupang.

Saya beli ini novel karena dua hal. Seperti yang saya tulis di catatan “Ke Toko Buku”, yaitu harga yang miring cuma Rp 36 ribu itupun ternyata kena diskon lagi dan endorsement di back cover yang menarik. Di sana si pemberi review Pak Gerson Poyk, di kalimat pembukanya bilang: “surealisme adalah fusi, penggabungan antara mimpi dan realitas.” Dari kalimat tersebut saya langsung terpikat. Saya suka cerita-cerita absurb yang memberi ending ambigu. Walau saya belum mengenal Pak Sihar sang novelis, tapi  ketika memulai baca ekspektasiku tinggi.

Nabila Pasha adalah seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai pelukis di waktu senggang. Wanita kelahiran Mojokerto tahun 1973 ini menempuh kuliah di sebuah universitas negeri di Surabaya. Pernah menjabat sebagai humas di sebuah Perusahaan periklanan. Kegemarannya melukis sudah ada sejak lama, setelah menikah hobinya makin diasah dan di KTP-nya ngotot mencantumkan profesi sebagai seniman. “Saya ingin menjadi Pelukis professional,” ungkapnya. Selama dia dijinkan melukis, maka panjangnya waktu senggang di rumah menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Di masa kuliah Nabila berpacaran dengan seorang mahasiswa aktivis bernama Bentar. Seseorang yang kritis karena sering menulis esia opini yang tajam, kritis, bersemangat, dan seketika menggemuruhkan dada pembacanya. Kalau saja tangan-tangan generasi sekarang membaca tulisannya, baik di layar komputer atau kertas poster, pasti lelaki zaman sekarang pun tetap akan terpengaruh. Penggemar novelis asal Rusia Maxim Gorki, akhirnya ditunjuk sebagai salah satu konseptor kegiatan organisasi mahasiswa. Bentar akhirnya larut dalam kegiatan aktivitas politiknya, larut begitu alamiah. Di sebuah penutup bab ada kalimat, “semoga saja dia tidak mati seperti dalam kisah novel si pengarang asal Rusia itu”. Nyatanya dia hilang.

Kemudian ada karakter, Feri Arman istri Nabila. Mereka dijodohkan kelurga, keluarga Nabila tak setuju dengan Bentar. Dalam sebuah bab yang singkat, Nabila pernah diminta untuk segera pulang kampung ke Mojokerto dari kuliahnya di Surabaya. Di tengah kesibukannya dia terpaksa pulang, karena kabarnya bapak sakit. Tapi ternyata setelah sampai di rumah Nabila dipertemukan dengan Feri untuk dijodohkan. Sakita hanya alasan agar dia mau segera pulang. Nabila yang sudah punya pacar, tentu saja tidak mau. Tapi tetap akhirnya mereka menikah juga setelah Nabila selesai kuliah.

Kisah akhirnya digulirkan dengan plot maju-mundur. Di tahun 1998, di mana Indonesia sedang bergolak di masa peralihan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Bentar menjadi salah satu aktivis yang mencoba menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto. Tapi sebelum Mei datang Bentar menghilang, seorang seniman dari Solo; Wiji Tukul juga disinggung. Akhirnya terungkap dalam punuturan 3 bab panjang bahwa Bentar dan rekan-rekan aktivis diculik dan dibunuh. Jasadnya dibuang di laut utara Jakarta di sekitar Pulau Bidadari. Penggambaran permbunuhannya sadis, beberapa kalimat saya skip karena saya tak sduka detail yang berdarah-darah.

“Telah hilang kekasihku…

Di antara rahasia

Dan Reformasi belum usai”

Dari situlah Nabila sering mimpi bertemu Bentar, roh bentar yang masih di ‘dunia antara’ sering berkunjung ke kekasih lamanya. Membisikkan banyak cerita, nostalgia di alam bawah sadar sampai bercengkrama dalam cinta. Akhirnya pesan-pesan yang disampaikan Bentar berwujud dalamm lukisan yang dibuat Nabila. Bila yang suka melukis pemandangan alam, sketsa semesta kini perlahan mulai berubah arah. Lukisannya menjadi lebih kelam, gelap dan mengisyaratkan sesuatu. Tentang manusia-manusia tersiksa. Nah, di sinilah yang saya tangkap dari paragraph endorsement di back cover. Dia memang tak bohong tentang surealisme. Dalam perjalanan waktu, akhirnya Bila menjadi Pelukis terkenal dan karyanya mendapat apresiasi dari Pelukis dan kolektor kenamaan. Dia bahkan mempunyai sebuah pemeran tunggal. Lukisan Bila memang terlihat banyak pesan terselubung, penggambaran Bentar menjelang ajal ada dalam beberapa lukisannya. Absurb.

Era Presiden Soeharto, seperti yang kita tahu akhirnya tumbang di bulan Mei 1998. Menyisakan banyak misteri, dan salah satunya adalah ‘Misteri Lukisan Nabila’. Sebenarnya novel ini bisa menjadi luar biasa apabila sebuah twist yang ada di tengah cerita di tempatkan di akhir. Setelah kejutan yang disaji di tengah pergolakan membuat saya jadi tak berhasrat lagi membacanya, karena sudah jelas-jelas motif terungkap di pertengahan. Seharusnya kalau di tengah cerita ada kejutan, di akhir cerita dihajar kejutan lain. Buat pembaca tertipu dengan menggiringnya untuk membuat opini bahwa twist itu benar dan akhirnya ditapok lagi dengan kenyataan yang tak terduga. Sekali lagi, seharusnya. Sayangnya novel ini tidak. Cerita dari tengah sampai akhir runut terus tanpa ada tempaan angin sama sekali. Saya tak akan ungkap twist tersebut, tapi pemilihan kejutan dengan menampilkan foto di masa lalu memang salah satu pilihan cerdas. Misteri yang belum terungkap karena sebenarnya kita juga tak tahu pasti ke mana hilangnya para aktivis tersebut.

Karawang, 210613

Iklan