Iklan

Gambar

Di Majalah film langganan saya, ada sebuah iklan sebuah provider kartu telpon yang mencapai 12 halaman. Iklan yang sangat menggangu tersebut ditaruh berjejer di halaman belakang. Sungguh mengurangi kenyamanan membaca. Belum lagi iklan yang terselip di antara artikel, banyaknya minta ampun. Di Koran yang tiap hari saya konsumsi, iklannya lebih gila lagi. Hampir separuh koran tersebut, yang artinya saya membayar penuh untuk separuh isi. Di web yang setiap hari saya buka, facebook di sebelah kirinya terdapat iklan yang isinya mayoritas adalah berita sampah. Biasanya berisi berita kriminal, pejabat korupsi sampai informasi yang tak jauh dari selakangan. Di televisi yang kita tonton, lebih gila lagi. Iklan mendominasi. Bahkan dalam waktu bersamaan pernah saya ganti chanel, iklannya sama dengan frame yang persis. Di sepanjang jalan dari rumah menuju tempat kerja, ada banyak iklan baliho terpampang di kanan kiri. Dari iklan perumahan, iklan produk sampai promo keberhasilan kosong pejabat. Di radio yang saya dengar, setiap lima belas menit acara ada iklan yang wajib berkumandang. Di handphone yang tiap hari saya pantengin, ada sms/bbm broadcast iklan yang masuk. Baik dari provider resmi, tawaran untuk membuka kartu kredit, tawaran pinjaman uang ataupun hanya iklan jualan BB yang ga penting. Di email yang sudah saya punya hampir satu dekade ini, setiap hari rata-rata ada 30 email masuk yang payahnya 50 % adalah iklan. Dari email winner lotere, penawaran hotel murah, email lamarn kerja sampai tawaran obat kuat. Sudah saya saring untuk masuk ke kotak spam, tapi tetap saja bikin jengkel. Beberapa kali di teras rumah ada saja sales iseng yang melempar brosur iklan, ada iklan kredit kendaraan, brosur harga dari minimarket, brosur iklan kredit panci. Bahkan di novel-novel yang saya baca, di halaman belakangnya ada iklan buku lain yang biasanya dalam satu penerbit. Hello warga dunia, kita dikepung iklan!

Sebenarnya keberadaan iklan di sekitar kita adalah sebuah kewajaran. Semuanya take and give, di mana agar khalayak luas tahu produk / jasa yang kita tawarkan mereka berani membayar mahal untuk penayangan iklan. Saya tak tahu banyak ilmu periklanan, tapi berdasarkan pengalaman saya memegang HRD untuk memasang iklan di sebuah situs pencari kerja skala global, mereka memasang tariff yang sangat mahal. Hitungan kasarnya, saya memasang iklan untuk 4 lowongan kerja yang tayang selama satu bulan, Perusahaan membayar 1 juta. Bayangkan satu iklannya dihargai Rp 250 ribu, mahal bukan. Tapi situs pencari kerja skala nasional macam Jobsteet, JobsDB atau Karir mereka berani garansi yang melamar akan tembus angka 3 digit. Itu berarti kalau sampai pelamar kurang dari 100 maka iklan akan ditayang ulang dengan konfirmasi terlebih dahulu kepada HRD. sejauh ini saya puas, karena kebutuhan karyawan non-operator selalu dapat diatasi. Pernah iklan yang tayang hanya di angka 40, maka mereka konfirmasi untuk kembali tayang. Dan iklan yang ditayangkan di media maya lebih efektif daripada yang manual. Contohnya saya pasang iklan lowongan di kantor pos dan kantor Depnaker, surat lamaran yang masuk sangat minim. Kebanyakan dikirim lewat pos, padahal selain saya cantumkan alamat kantor di bawahnya saya tulis alamat email juga. weleh di tahun 2013 masih ada ya? So yesterday.

Yang membuat saya geram adalah iklan yang menggangu kenyaman. Saya yakin kalian pernah melihat iklan kampanye pemilihan kepala daerah yang dipasang di sudut-sudut jalan. Iklan tersebut menampilkan seseorang yang dianggap sukses sebelumnya. Pernah saya lihat sebuah iklan menampilkan kandidat kepala daerah yang disandingkan dengan sang Proklamator. Ada pula yang menampilkan pak SBY di sampingnya. Iklan macam apa ini? Iklan yang menggangu juga banyak bertebaran di majalah. Cinemags, Total Film Indonesia yang saya baca iklannya ga bagus dalam penempatan. Menurut saya iklan mending ditempatkan di lembar terpisah, jadi setelah kita terima majalahnya itu iklan bisa dibuang. 😀

Kasih contoh di Koran Kompas, iklan yang bejibun itu menurut saya tak menggangu sama sekali. Iklan Kompas Klasika kalau tak minat tinggal buang, namun ternyata di situ mereka juga menaruh banyak artikel menarik tapi ringan. Game Sudoku, trivia, info tv, potongan komik adalah beberapa contoh untuk tetap membuat pembaca betah tanpa mengangu kenyamanan. Pengalaman Kompas yang sudah ditempa zaman memang tak bisa bohong.

Banyak juga iklan yang bohong, apa yang ditampilkan setelah kita coba ternyata tak seperti yang digembar-gemborkan. Dibuat semenarik mungkin agar konsumen tertarik. Kata Bongkar! Untuk sebuah iklan kopi yang mengajak kita untuk mencoba produk mereka ternyata rasa kopinya tidak TOP sama sekali. I hate slow mungkin adalah salah satu jargon paling bohong yang pernah saya alami. Gila saja, setelah mereka meluncurkan kalimat itu modem saya langsung slow.

 Oiya, sebelum saya tutup tulisan ini ada satu iklan lagi yang sangat menggangu saya tiap pagi dan sore. Saat asyik menonton Si kuning, iklan makanan ringan ini sering muncul berulang-ulang. Membuat saya penasaran dan suatu ketika terpaksa mencoba mencicipinya, bolehlan kalian bilang saya korban iklan. Tapi setelah dicoba ternyata memang rasanya so nice. Duh! Tepok jidat.

Karawang, 200613

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s