Aksesoris

Gambar

Saya termasuk orang jarang memakai aksesoris yang melekat di tubuh. Pergi ke mana-mana yang penting nyaman dan tak berlebihan. Pakai baju paling sering kaos dan tak bermerek, celana paling pakai celana jeans kw. Hamper tak pernah memakai yang aneh-aneh. Pun dengan aksesoris yang melekat di badan. Saya pernah memcoba pakai gelang yang terbuat dari tali tambang kecil-kecil. Saya beli di distro pakaian yang ternyata juga menyediakan peralatan naik gunung. Di situ saya iseng melihat gelang berbagai warna dan coraknya menarik. Beli empat macam harganya cuma sepuluh ribu. Saya hanya ikut-ikutan saja sama teman seangkatan kampus yang naik gunung. Tapi ternyata tak lama bertahan, gelangnya rontok dan hilang entah kemana.

Saya pernah juga memakai jam tangan. Tapi punya jam tangan juga belum lama, harga sepasang hanya Rp. 150 ribu. Satu buat istri satu saya pakai. Belum genap setahun punya itu jam sudah rusak, maklumlah harga tak berbohong. Setelah lama tergeletak, iseng kubawa ke tukang servis. Normal dan kupakai lagi, ternyata ga ada sebulan gantian baterainya tewas. Sempat saya ganti baterai, eh seminggu kemudian jarumnya terhenti di jam 05:31. Dan sampai sekarang pun masih jam 05:31 walau jarum detiknya tetap bekerja. Akhirnya masuk kotak juga.

Jam tangan dan gelang cowok saja ga bertahan lama, apalagi aksesoris cicin. Saya sempat memakainya setelah menikah (huhui, saya sudah nikah!), sempat melingkar di jari manis. Tapi tiap ketemu teman selalu ditanya, itu emas? Setiap saya bilang iya, dibalas pria tak boleh memakai emas. Sekali dua kali yang bilangin sih ga masalah, tapi lama-lama penasaran juga kebenarannya. Kakakku yang agamanya lebih bagus, pernah juga menegur. Iseng browsing hukum pria memakai emas dan benar saja, hadist-nya shahih dilarang. Ini saya copy dari web muslim.or.id Dalilnya adalah hadits berikut ini,

عَنْ أَبِي مُوسَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَّتِي وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا

“Dari Abu Musa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari ummatku, namun diharamkan bagi para pria’.” (HR. An Nasai no. 5148 dan Ahmad 4/392. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Langsung saya istirahatkan cicin kawin saya. Istri saya juga memaklumi, tapi dia meminta memakai cicin perak, dan setelah tanya kanan kiri orang-orang yang lebih kompeten agama, itu diperbolehkan. Namun sampai saat ini belum terealisasikan.

Selain aksesoris ketiga itu, saya ga pernah memakai aksesoris lain. Kecuali ikat pinggang, kaus kaki, celana dalam dihitung aksesoris *devillaugh*. Lucu aja pas melihat di jalan laki-laki memakai kalung. Apalagi anting, suka ilfil kasihan menatapnya. Saya juga pernah bertemu laki-laki memakai gelang di kaki, gelang itu gelang emas. Lebih parah lagi jari kakinya juga ada cicin yang melingkar di jempol. Saya ketemunya pas di angkot yang sesak, saya menunduk bosan di sela-sela penumpang. Reflek saya berujar, ‘Astaga ini laki-laki bukan?’

Bagi pesepakbola, memakai aksesoris bisa jadi sebuah trade mark. Bambang Pamungkas yang saya perhatikan selalu memakai gelang ‘deker’. Untuk pemain yang gondrong banyak yang memakai bando karet, atau ikat kucir kuda. Sah sah saja menurut saya, asal tidak pakai pita kupu-kupu pink. Dulu pas kuliah pernah berambut gondrong, tapi tetap saja ga pakai aksesoris apapun di rambut. Jadinya awut-awutan, tak heran teman-teman memanggilku ‘brekele’.

Well, dari ketiga aksesoris SAH yang saya sebutkan tanpa kusadari semuanya melingkar di tangan kanan. Ada yang bilang, kok aneh jam tangan ada di tangan kanan? Lha memang ada aturan harus di kiri? Mereka bilang, ga sih cuma biasanya. Ya begitulah, menurut saya laki-laki yang tak suka memakai aksesoris adalah normal. Mungkin suatu saat nanti kalau ada penemuan teknologi kaca mata tembus pandang, bolehlah nanti saya memakainya.

Karawang, 210613

Iklan

Iklan

Gambar

Di Majalah film langganan saya, ada sebuah iklan sebuah provider kartu telpon yang mencapai 12 halaman. Iklan yang sangat menggangu tersebut ditaruh berjejer di halaman belakang. Sungguh mengurangi kenyamanan membaca. Belum lagi iklan yang terselip di antara artikel, banyaknya minta ampun. Di Koran yang tiap hari saya konsumsi, iklannya lebih gila lagi. Hampir separuh koran tersebut, yang artinya saya membayar penuh untuk separuh isi. Di web yang setiap hari saya buka, facebook di sebelah kirinya terdapat iklan yang isinya mayoritas adalah berita sampah. Biasanya berisi berita kriminal, pejabat korupsi sampai informasi yang tak jauh dari selakangan. Di televisi yang kita tonton, lebih gila lagi. Iklan mendominasi. Bahkan dalam waktu bersamaan pernah saya ganti chanel, iklannya sama dengan frame yang persis. Di sepanjang jalan dari rumah menuju tempat kerja, ada banyak iklan baliho terpampang di kanan kiri. Dari iklan perumahan, iklan produk sampai promo keberhasilan kosong pejabat. Di radio yang saya dengar, setiap lima belas menit acara ada iklan yang wajib berkumandang. Di handphone yang tiap hari saya pantengin, ada sms/bbm broadcast iklan yang masuk. Baik dari provider resmi, tawaran untuk membuka kartu kredit, tawaran pinjaman uang ataupun hanya iklan jualan BB yang ga penting. Di email yang sudah saya punya hampir satu dekade ini, setiap hari rata-rata ada 30 email masuk yang payahnya 50 % adalah iklan. Dari email winner lotere, penawaran hotel murah, email lamarn kerja sampai tawaran obat kuat. Sudah saya saring untuk masuk ke kotak spam, tapi tetap saja bikin jengkel. Beberapa kali di teras rumah ada saja sales iseng yang melempar brosur iklan, ada iklan kredit kendaraan, brosur harga dari minimarket, brosur iklan kredit panci. Bahkan di novel-novel yang saya baca, di halaman belakangnya ada iklan buku lain yang biasanya dalam satu penerbit. Hello warga dunia, kita dikepung iklan!

Sebenarnya keberadaan iklan di sekitar kita adalah sebuah kewajaran. Semuanya take and give, di mana agar khalayak luas tahu produk / jasa yang kita tawarkan mereka berani membayar mahal untuk penayangan iklan. Saya tak tahu banyak ilmu periklanan, tapi berdasarkan pengalaman saya memegang HRD untuk memasang iklan di sebuah situs pencari kerja skala global, mereka memasang tariff yang sangat mahal. Hitungan kasarnya, saya memasang iklan untuk 4 lowongan kerja yang tayang selama satu bulan, Perusahaan membayar 1 juta. Bayangkan satu iklannya dihargai Rp 250 ribu, mahal bukan. Tapi situs pencari kerja skala nasional macam Jobsteet, JobsDB atau Karir mereka berani garansi yang melamar akan tembus angka 3 digit. Itu berarti kalau sampai pelamar kurang dari 100 maka iklan akan ditayang ulang dengan konfirmasi terlebih dahulu kepada HRD. sejauh ini saya puas, karena kebutuhan karyawan non-operator selalu dapat diatasi. Pernah iklan yang tayang hanya di angka 40, maka mereka konfirmasi untuk kembali tayang. Dan iklan yang ditayangkan di media maya lebih efektif daripada yang manual. Contohnya saya pasang iklan lowongan di kantor pos dan kantor Depnaker, surat lamaran yang masuk sangat minim. Kebanyakan dikirim lewat pos, padahal selain saya cantumkan alamat kantor di bawahnya saya tulis alamat email juga. weleh di tahun 2013 masih ada ya? So yesterday.

Yang membuat saya geram adalah iklan yang menggangu kenyaman. Saya yakin kalian pernah melihat iklan kampanye pemilihan kepala daerah yang dipasang di sudut-sudut jalan. Iklan tersebut menampilkan seseorang yang dianggap sukses sebelumnya. Pernah saya lihat sebuah iklan menampilkan kandidat kepala daerah yang disandingkan dengan sang Proklamator. Ada pula yang menampilkan pak SBY di sampingnya. Iklan macam apa ini? Iklan yang menggangu juga banyak bertebaran di majalah. Cinemags, Total Film Indonesia yang saya baca iklannya ga bagus dalam penempatan. Menurut saya iklan mending ditempatkan di lembar terpisah, jadi setelah kita terima majalahnya itu iklan bisa dibuang. 😀

Kasih contoh di Koran Kompas, iklan yang bejibun itu menurut saya tak menggangu sama sekali. Iklan Kompas Klasika kalau tak minat tinggal buang, namun ternyata di situ mereka juga menaruh banyak artikel menarik tapi ringan. Game Sudoku, trivia, info tv, potongan komik adalah beberapa contoh untuk tetap membuat pembaca betah tanpa mengangu kenyamanan. Pengalaman Kompas yang sudah ditempa zaman memang tak bisa bohong.

Banyak juga iklan yang bohong, apa yang ditampilkan setelah kita coba ternyata tak seperti yang digembar-gemborkan. Dibuat semenarik mungkin agar konsumen tertarik. Kata Bongkar! Untuk sebuah iklan kopi yang mengajak kita untuk mencoba produk mereka ternyata rasa kopinya tidak TOP sama sekali. I hate slow mungkin adalah salah satu jargon paling bohong yang pernah saya alami. Gila saja, setelah mereka meluncurkan kalimat itu modem saya langsung slow.

 Oiya, sebelum saya tutup tulisan ini ada satu iklan lagi yang sangat menggangu saya tiap pagi dan sore. Saat asyik menonton Si kuning, iklan makanan ringan ini sering muncul berulang-ulang. Membuat saya penasaran dan suatu ketika terpaksa mencoba mencicipinya, bolehlan kalian bilang saya korban iklan. Tapi setelah dicoba ternyata memang rasanya so nice. Duh! Tepok jidat.

Karawang, 200613