Kaset Pita

Gambar

Beberapa waktu yang lalu saya mendapati sebuah gambar yang unik di site 9gag.com. Judulnya ‘age test’ dengan gambar di bawahnya sebuah bolpoint dan kaset pita berwarna hitam. Tertera sebuah pertanyaan “What’s the connection between these two objects?”. Pertanyaan yang sangat mudah bagi kita yang pernah melewati masa 90-an. Gara-gara gambar tersebut saya membongkar koleksi lama saya. Dua bok penuh kaset pita ada di dalamnya. Tepatnya saya tak tahu berapa, yang pasti ada lebih dari dua ratus kaset pita. Hampir semuanya original dan mayoritas masih bisa didengarkan.

Koleksi saya berawal dari sekolah kelas dua SMP, saat itu walkman player kakak saya tertinggal setelah dia mudik beberapa hari di Solo. Ada tiga kaset diantaranya, yaitu album ‘the Cranberries: Burry the Hatchet’, ‘Sixpence None the Richer: Kiss me’, dan album kompilasi barat yang memuat lagu-lagu Boyzone, R Kelly, No Doubt dkk. Oiya, sebelumnya saya tak ada walkman di rumah jadi untuk mendengarkan musik hanya lewat radio. Radio FM yang ada di Solo seperti PTPN,  SAS, Solo radio, sampai JPI sangat akrab di telinga saya. Jadi ketika ada player di rumah saya gunakan kesempatan tersebut untuk menikmatinya. Walau sejujurnya ternyata lebih asyik dengar radio daripada lewat player. Kita tinggal duduk manis, lagu sudah dipilihkan.

Dari situ saya ketagihan, karena saya bisa mendengarkan lagu-lagu tanpa menunggu diputar di radio. Malahan setelah kakakku balik, walkmannya tak dibawa jadi hak milik saya. Informasi saja, walkman tersebut hilang dicuri orang pada tanggal 26 Januari 2003. Lalu paman saya mempunyai tape player dua deck yang salah satunya bisa untuk merekam, makin keranjingan deh. Dengan membeli kaset kosongan berdurasi 60 menit atau 90 menit kita bisa merekam lagu-lagu favorite dengan bermodalkan pinjam. Dari situ saya juga menabung untuk membeli kaset-kaset original, rata-rata untuk kaset local Rp. 15 ribu dengan isi sekitar epuluh lagu sementara kaset barat (PKS ke laut saja) rata-rata seharga Rp. 21 ribu dengan isi antara 12 – 20 lagu. Kaset original pertama yang saya beli dengan uang sendiri adalah album Backstreet Boys: Black and Blue, yang ada lagunya the Call. Na… nana… nana.. nana….

Nah ketika sekolah STM saya ambil jurusan Teknik Audio Video (TAV) atau lebih umum jurusan Elektronika. Dari situ, saya makin keranjingan dengan music karena yang dipelajari diantaranya adalah rangkaian radio, tape, televisi. Apalagi mempunyai teman-teman yang ‘gila’ juga terhadap ilmu elektronika. Jadi pulang sekolah mampir ke took Eletro itu seperti sebuah rutinitas. Toko Damai di Palur, took Bastol di Kartasuro atau yang ada di Gemolong (itu apa namanya lupa) jadi jelajahi semuanya. Kita buat rangkaian elektro, dari yang PCB kosong dirangkai sendiri atau beli PCB siap pakai, jadi kita tinggal menyolder-nya dengan memasang setiap komponen yang dibutuhkan.

OK, kembali ke masalah kaset. Salah satu keisengan saya yang sampai saat ini masih nyala dan bagus adalah merangkai tape deck. Rangkaiannya sederhana, kita hanya menyambungkan tiap bagian dari adaptor, pre-amp, equalizer, tone, player, radio tunner  sampai power. Tapi setelah satu decade ternyata tak sesederhana yang saya kira. Lali kabeh! Haha…

Setelah punya tape deck sendiri, kegilaanku mengoleksi kaset turut menggila. Tapi karena masih sekolah dan tak punya banyak budget, saya sering beli kaset pita BJG alias bajakan. Harganya berkisar antara Rp. 4 ribu sampai Rp. 6 ribu. Tergantung lapaknya di mana. Rata-rata sama durasinya adalah 60 menit, dibajak bolak balik dan kalau masih ada sisa menit akan disi lagi lagu dari putaran awal. Cover-nya dicopy warna sesuai dengan aslinya. Kaset bajakan saya kira-kira lebih dari lima puluh. Kaset bajakan yang paling sering kuputar sampai akhirnya rusak adalah album perdana Westlife duluxe warna kuning yang covernya menampilkan kelima kepala Boyband Irlandia tersebut. Nasib kaset bajakan-ku sekarang ga tahu kemana karena kutinggal di rumah dan pas pulang kampung sudah tak ada di tempat, kata ibu sudah dijual ke tukang loak.

 Pekerjaan pertama saya setelah lulus sekolah adalah sebagai pelayan took Elektonika. Walau hanya sebulan saya sangat terkesan, gaji pertama saya buat beli kaset M2M yang ‘best of’ warna orange. Setelah dapat kerja yang lebih mapan kegilaan saya terhadap kaset tak terbendung lagi. Nyaris setiap bulan saya selalu beli satu kaset, bahkan saya tulis di sampul labum tanggal belinya. Tak peduli saya dalam keadaan kere ataupun ga, saya selalu beli. Bahkan invasi mp3 tak mempengaruhi hobi saya ini. Sampai tahun 2006 saat kuliah saya masih saja beli. Kalau ga salah terakhir beli kaset adalah album soundtracknya Transformer tahun 2007. Jadi tak heran saya punya album komplit Sheila on 7, Padi, Sherina, Westlife, Backstreet Boys, NSYNC sampai Savage Garden.

Kembali ke gambar tersebut apa hubungannya? Orang yang terlahir di atas tahun 2000-an mungkin akan mengernyitkan dahi. Bagi kita semacam nostalgia. Saya akhiri saja catatan ga jelas ini, setidaknya kuota satu tulisan wajib di hari ke-11 ini terpenuhi. Hurey..

Roll on!

Gambar

Karawang, 140613

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s