Hewan Peliharaan

Membicarakan tentang hewan peliharaan saya akan selalu teringat dengan seekor anak anjing yang lucu pemberian paman dulu sewaktu masih Sekolah Dasar. Namanya Brown.

Saya termasuk orang yang suka mempelihara binatang. Dari kecil saya sudah punya banyak peliharaan. Saya suka berburu burung dengan menggunakan ketapel. Ketapel adalah senjata yang terbuat dari sebatang kayu yang ada cawangnya, lalu kedua ujung cawang diikat sebuah karet berwarna merah. Kedua ujung karet tersebut diberi tempat pelontar dari kulit. Biasanya saya memakai bekas sabuk yang dipotong. Pelurunya adalah segumpal tanah liat yang dilinting memutar sehingga menjadi bulat, sebulat kelereng. Dengan ketapel, saya sudah membunuh ribuan burung sewaktu kecil. Dari burung kutilang, cocak rowo, gereja sampai burung emprit. Kebanyakan sih burung emprit karena populasinya yang bejibun. Kampung saya masih banyak sawah jadi banyak pohon di sekitar rumah menjadi sarang burung.

Beberapa burung yang kena masih hidup, saya pelihara. Jadi sewaktu kecil saya punya banyak sangkar, sangkar burungnya juga bermacam-macam. Saya pernah punya burung kutilang yang nurut dimana ketika burung itu terlepas dia akan pulang lagi ke sangkar. Senang sekali melihatnya, jadi setiap pagi saya lepas dan itu burung akan pulang di sore hari. Dari sekian banyak burung yang pernah saya pelihara, tinggal satu sebelum saya memutuskan merantau ke Jawa Barat. Dan akhirnya tak punya sama sekali karena tak ada yang merawat di rumah.

Selain burung saya suka juga memelihara ikan. Sewaktu kecil saya suka sekali mencari ikan di selokan, di sawah, di sungai dan berbagai dam di sekitar rumah. Paling asyik cari ikan dengan memancing, karena ketika pendulumnya bergoyang saat umpan termakan ada sensasi tersendiri. Dari berbagai ikan yang pernah kutangkap, saya pelihara di kolam rumah. Paling suka ikan sepat yang pipih dan rona badannya yang berkilau. Namun sayang, pas pulang kampung banyak sungai yang beralih fungsi. Airnya tak sejernih saat saya masih kecil. Banyak air limbah dan tempatnya kotor banyak sampah.

Selain burung dan ikan saya juga suka kucing. Kalau yang ini ga usah berburu karena biasanya kucing tetangga yang beranak pinak tinggal minta seekor untuk dipelihara. Namun sayangnya memelihara kucing tak sama dengan burung dan ikan yang punya tempat tersendiri. Kucing yang imut-imut tersebut tak semua orang suka. Kakak saya jijik sama bulunya yang mudah rontok. Yang suka kucing hanya ibu dan saya. Setiap habis makan saya kasih tulang ikan, telur sepotong atau irisan daging ayam. Kemudian saya elus-elus itu badannya sampai ekornya naik kayak antena.

Ada juga peliharaan bapak pucung yang ada hanya musiman pohon randu, lalu belalang yang saya tangkap setelah mandi di sungai, ada kecapung yang warna-warni yang setelah ditangakp saya masukan plastic (jadi ingat SpongeBob dan Patrick nangkap ubur-ubur). Ada juga semut yang bergerombolan di samping rumah, yang tiap sore saya kasih makan kecapung mati. Semut warna hitam yang tak menggigit beberapa diantaranya saya masukkan ke plastik untuk saya amati. Betapa kecil duniamu di sana sobat. Ada juga laba-laba yang nangkring di taman depan rumah, tiap hari saya kasih makan nyamuk atau lalat yang sengaja saya tangkap. Atau kecapung mati, kalau jatah si semut sudah mencukupi. Ada juga hewan undur-undur yang saya cari di teras rumah kemudian saya masukkan kaleng. Ada juga jangkrik, yang saya tangkap tiap minggu pagi di sawah yang baru dipanen atau saat jalan-jalan di Minggu pagi ke kampus UNS. Ada juga kelinci yang imut warna putih, tiap sore saya carikan makanan kangkung dan beli wortel di warung samping rumah. Ada juga kura-kura, yang ini saya pelihara saat mulai di perantauan di Cikarang. Saya beli sepasang yang kata penjualnya adalah laki dan perempuan. Saya namakan Peter and Marry. Namun ketika kura-kura itu mulai gede, saya meragukan penjelasan sang penjual bahwa mereka berlainan jenis. Dan akhirnya salah satunya mati, yang menurut si penjual itu yang jenis laki. Berarti sekarang di rumah adalah si Marry Jane. Ayam dan bebek juga punya di kampung, namun kedua binatang ini tak istimewa karena hampir setiap rumah ada. Yang tiap kita lapar dan tak ada lauk tinggal ambil salah satunya untuk dipotong, atau tinggal ambil telurnya untuk digoreng.

Dari sekian banyak hewan peliharaan, saya sangat terkesan dan tak kan pernah melupakan sama anak anjing pemberian paman saya. Saat saya masih kelas 4 SD saya main ke tempat paman yang ada di Palur Utara. Sore itu saya bawa pulang seekor anak anjing berwarna brown. Ayah saya menentang, kakak saya menghujat, mbak-ku cuma geleng-geleng kepala. Hanya ibu-ku yang walaupun tak setuju kita memelihara anjing dia tetap sabar dan turut membantu saya. Saya beri nama “Brown”, ya karena warnanya itu. Si Brown saya masukkan kandang kardus yang diletakkan di teras rumah, diberi penghalang oleh kakakku agar tidak bisa keluar dari kandang. Saya yang waktu itu masih awam agama, sempat protes sama dia. Saya ga boleh jalan-jalan sama Brown, tak boleh dekat-dekat, tak boleh mengelusnya. Hampir tiap hari kakak dan ibu cek-cok masalah Brown.  Kata kakakku malaikat tak akan mau ke rumah kita selama ada Brown di sini, ibu berpendapat apa susahnya kamu menyenangkan Ragil – saya anak terakhir. Toh Brown tak pernah masuk rumah, hanya di teras.

Sampai akhirnya setelah dua minggu memiliki anak anjing, di suatu siang saat saya pulang sekolah si Brown tak ada di kandang. Saya hanya menangis sejadi-jadinya. Dan saya benci sama kakak saya karena ternyata dia-lah orang yang melenyapkan. Saya sampai sakit, karena tak siap kehilangan. Besoknya saat pulang sekolah saya mendengar bahwa di kampung sebelah ada yang menemukan anak anjing, saya langsung ke sana. Dan benar saja, itu si Brown. Namun saat saya bawa pulang lagi, saya malah dimarahi sama kakak. Si Brown sampai dipukul kepalanya pakai tongkat, dan selalu ibu menjadi pahlawanku untuk membiarkannya tetap tinggal.

Namun paginya Brown kembali dibuang sama kakak ke kampung tetangga yang lebih jauh. Sorenya dia dibawa ke rumahku sama orang yang menemukannya karena tahu itu anak anjing kami, dia malah mau menebus dengan membelinya. Saya jelas ga akan mau. Akhirnya malam itu kami sekeluarga musyawarah mencari solusi terbaik akan nasib si Brown. Singkat cerita, mereka sepakat si Brown dikembalikan ke rumah paman agar saya masih bisa sesekali melihatnya dan rumah ini tak ada anjing lagi.

Besok sorenya dengan keadaan hujan lebat, saya yang menangis sepanjang jalan mengantar si Brown ke rumah paman lagi. Setiap bulan saya main ke rumah paman untuk melihat perkembangan si Brown. Dari banyak peliharaan anjingnya paman, si Brown memang paling beda. Anjing seangkatannya pada gemuk sementara dia kurus. Tapi saya bahagia karena dia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya.

Selang beberapa bulan, saya kembali ke rumah paman dan saya terkejut karena tak ada anjing lagi di sana. Ketika saya tanya ke pamanku, dia dengan enteng menjawab, semua sudah kujual ke warung lapo pinggir jalan. Saya yang masih kecil tak tahu apa itu lapo. Paman menjelaskan lapo itu tempat minum minuman keras orang Batak. Jadi di sana Brown dipelihara mereka untuk menjaga rumah dan warung ya paman? Kataku ceria. Paman cuma ketawa terpingkal-pingkal lalu dengan santai menjawab: “Bukan! Si Brown dan kawan-kawan disate di sana untuk pesta.” Hah kejam sekali? Saya kembali menangis…

Karawang, 070613

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s