Everything At Once

Gambar

As sly as a fox, as strong as an oxAs fast as a hare, as brave as a bearAs free as a bird, as neat as a wordAs quite as a mouse, as big as a house
All I wanna be, all I wanna be, ohAll I wanna be is everything
As mean as a wolf, as sharp as a toothAs deep as a bite, as dark as the nightAs sweet as a song, as right as a wrongAs long as a road, as ugly as a toad
As pretty as a picture hanging from a fixtureStrong like a family, strong as I wanna beBright as day, as light as playAs hard as nails, as grand as a whale
All I wanna be, all I wanna be, ohAll I wanna be is everything
As warm as the, the sun, as silly as funAs cool as a tree, as scary as the seaAs hot as fire, cold as iceSweet as sugar and everything nice
As old as time, as straight as a lineAs royal as a queen, as buzzed as a beeStealth as a tiger, smooth as a glidePure as a melody, pure as I wanna be
All I wanna be, all I wanna be, ohAll I wanna be is everything

Halo, Aku Dalam Novel

Gambar

Saya hanya ingin jadi penulis. Tidak lebih dari itu. Saya tidak orang peduli mau bilang apa. Tidak peduli kepada orang lain adalah peraturan pertama dalam hidup saya, termasuk apa yang mereka katakan.

Ada yang tahu novel karya Nuril Basri dengan judul di atas? Saya membeli ini buku termasuk yang awal-awal muncul di toko buku. Tercetak di tahun 2009, saya membelinya di tahun yang sama. Saat itu seperti yang terjadi di catatan “Ke Toko buku”. Saya hanya main ke mal dengan uang yang minim. Saat itu di awal bulan ulang tahun saya. Jadi saya tak memberi budget untuk membeli buku, karena dalam posisi menganggur. Tetapi ternyata meleset, kisahnya sama juga dengan awal bulan ini. Selain harga yang miring, dibandrol Rp 33 ribu plus diskon lagi, saya membelinya karena membaca sekelumit paragraph di back cover berbunyi: “Batas antara khayalan dan kenyataan perlahan-lahan menghilang. Apakah kau termasuk yang tidak percaya bahwa fiksi bisa menciptakan realitasnya sendiri?”

Ya, sekali lagi penuturan yang surealis yang ditawarkan membuatku tertarik. Penawaran ending yang ambigu yang biasanya saya suka dengan percampuran dunia nyata dan fiksi menjadikannya koleksi di rak buku saya. Ceritanya tentang seorang mahasiswa Idonesia bernama Pram yang kuliah di Amerika. Dia senang dengan kesendiriannya, hobinya menulis dan menciptakan tokoh-tokoh fiksi. Lalu tokoh tersebut mulai keluar dari imajinasninya dan menguasainya. Hal-hal aneh terjadi sementara orang di sekelilingnya tak satupun percaya pada Pram. Penawaran ceritanya mengingatkan saya pada kisah Tyler Durham dalam ‘Fight Club’ di mana dia terjebak di pikirannya sendiri. Kebetulan waktu itu saya baru kelar membacanya. Buku yang sangat keren dengan harga miring yang saya temukan ditumpukan novel diskon.

 Bab satu dibuka dengan bagus dengan mencantumkan potongan lagu musisi asal Irlandia, The Corrs berjudul ‘Anybody There’ berbunyi “and what is life, there’s no one to share with?” Penggunaan diksi orang pertama berwujud ‘saya’ juga menurut saya bagus, karena tanpa saya sadari saya juga terlibat layaknya catatan-catatan sebelumnya. Setting tempat di Oregon, Amerika Serikat. Dilempar jauh dari kehidupan keseharian kita, dan saya yakin penulis pun juga. Mengingatkan saya pada buku ‘A Secret Identity’ yang indah karya Ardina.

Kisahnya mahasiswa dari Indonesia yang terasing di negeri Paman Sam ini dituturkan secara linier. Dicampur secara acak antara realita yang dialami Pram di kehidupan sehari-hari dengan kisah yang dituliskannya dalam novel yang dibuatnya. Pram mencipta Halo, seorang yang nantinya akan tertanam dalam imajinasi lalu keluar dari pikirannya. Halo sendiri merupakan karakter representative Pram, di mana mereka akhirnya berbincang dan menyusun banyak kisah. Di kisah Halo, Pram membuat alurnya tragis lalu Halo seraya protes dan menyalahkan Pram kenapa karakter penting dalam kisahnya dimatikan. Dilema karena ditekan oleh Halo, Pram berusahan untuk menghidupkan lagi melalui kisah panjang di hujan  asam. Sayangnya file novelnya secara tak sengaja dibaca oleh teman asramanya. Mereka kagum karena kisahnya bagus, tapi protes terhadap eksekusinya. Perdebatan tersebut salah satunya adalah bahwa film itu fakta, tapi fiksi. Dan Pram digiring menjadi rumit tanpa sadar layaknya Gollum dalam ‘The Lord of The Rings’ yang mempunyai kepribadian ganda.

Sebenarnya ceritanya berpotensi menakjubkan, sayangnya makin menipis halaman yang kubaca makin tak bisa diterima kisahnya. Saya kagum sama ‘Fight Club’ yang endingnya manghancurkan. Saya terpikat ‘a Secret Identity’ yang setiap kemunculan karakter baru selalu dilibatkan dan menemui kisah yang bercabang. Tapi dalam novel ‘Halo, saya dalam novel’ ini terasa kurang tajam dalam eksekusi. Kalau mau hancur, hancurkan sekalian toh mereka fiksi. Tyler and the gank berani meruntuhkan gedung layaknya terrorist. Mereka membuat banyak pihak berdarah-darah, sayangnya Halo tak sepemberani itu. Dia lugu layaknya Pram yang takut dalam keramaian.

Endingnya mengingatkanku pada film ‘A beautiful Mind’ saat Russel Crowe berbicara dengan orang asing, dia bertanya dulu dengan orang di sampingnya apakah dia juga melihat orang lain. Ah, terlambat tapi memang harus dimaklumi melihat cv sang penulis (bolehlah kamu bilang itu Pram, Nuril ataupun Halo) yang telah menghasilkan Bijikaka, Banci Kalap, Mas suka Masukin Saja dan dan Terowongan Rumah Sakit. Oh pantas saja, jangan harap ceritanya ‘wow’ lah mengingat adaptasi filmnya kita hujat di grup C bahkan sebelum kalian tonton. Tolong, saya terjebak dalam novel.

Dan sekali Lagi Italy Gagal

Final Piala Konfederasi 2013 tanpa kejutan, unggulan pertama dan kedua yaitu Spanyol dan Brazil akhirnya bertemu di partai puncak yang akan digelar Minggu malam waktu setempat di st Maracana. Brazil terlebih dahulu mendapat tiket final kemarin setelah menang menegangkan 2-1 atas Uruguay. Pertandingan diwarnai kegagalan penalty oleh Diego Forlan. Tendangannya dapat dibaca dengan mudah oleh Julio Cesar. Babak pertama mereka unggul 1 gol lewat Fred. Setelah peluit paruh kedua dimulai, hanya butuh waktu 3 menit untuk Edison Cavani menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Setelahnya pertandingan berjalan seru, kedua tim jual beli serangan. Tapi mental juara akhirnya berbicara, ketika waktu normal tinggal tersisa 5 menit, Selecao memastikan tiket finalnya. Sepak pojok Neymar dapat dimanfaatkan Paulinho melalui sundulan. Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Spanyol menyusul dini hari tadi. Menghadapi musuh bebuyutan Italy, mereka tetap memeragakan penguasaan bola. Namun Italy malah mendapatkan peluang gol lebih banyak. Italy seakan lupa tradisi taktik Catenacio. Babak pertama selesai angka masih sama kuat 0-0. Statistic menunjukan, walau Spanyol menguasai bola 63%  tapi Italy mendapat 9 shot yang mana 4 diantaranya mengarah ke gawang. Lihat itu Mourinho! Iker Casillas bermain cemerlang. Sementara Spanyol hanya mendapatkan 2 shot yang keduanya meleset.

Babak kedua berjalan lebih alot lagi, kini giliran Italy yang memegang kendali.  Jual beli serangan memperlihatkan bahwa meraka memang dua Negara sepak bola yang luar biasa. Sama-sama menghibur sama-sama ngotot untuk unggul. Banyak momen asyik dilihat. Ada Shakira yang tiap Pique dapat bola kegirangan, kameramennya pun iseng mantengin dia terus. Hand ball Pique di kotak penalty Italy yang berbuah yellow card. Ada Torres yang selalu off target, hehe… wasit plontos yang terkenal sebagai fan MU pagi ini terlihat sempurna menjalankan tugasnya, mungkin karena tak ada pemain Setan Merah di sana.

Hingga akhirnya 90 menit waktu normal kedudukan masih sama lemah 0-0. Di extra time, pertandingan baru berjalan 2 menit Italy menggetarkan tiang Iker lewat serangan yang apik, Italy layak mendapat tiket final. Tapi jelang waktu extra time habis giliran Spanyol yang mengambil alih permainan. Juan Mata menyamakan kedudukan mental gawang. Tapi itu tak cukup untuk menuntaskan laga, dan akhirnya tak ada gol tercipta. Seminal kedua ini harus dilanjutkan kea du tos-tosan.

Kedua kipper sekaligus kaptem tim pingsut ala koin. Spanyol mendapat gambar yang artinya bisa memilih mau ambil tendangan dulu apa serahkan ke kubu lawan. Iker bilang: “Yo wes, tak serahno nang Buffon wae. Tim mu sik yo seng nendang”. Buffon senyum lalu mbales: “Oke sip.”

Tendangan pertama adalah PEMAIN LAZIO, CANDREVA. Tendangannya melambung ringan di tengah gawang, Iker kecolongan gerak ke kiri. PANENKA-nya berhasil dan langsung jadi trending topic di twitter. Laziale menggila. BB ku bergetar mulu, itu itu Candreva, itu itu keren beud! Itu itu Pemain kita, dst. Tendangan selanjutnya ga usah dibahas. Masuk semua sampai dengan skor 5-5. Penendang kelima Italy adalah manusia paling keren dalam sepak bola, manusia paling dingin maksudnya. Pirlo memempatkan bola di sisi kanan Iker, dan ini bukan yang pertama kalinya Iker terkecoh. Setelah skor 6-6 dengan melalui semuanya masuk. Hebat juga dua jagoan kipper kita gagal menyelamatkan 1 tendanganpun, akhirnya sang pecundang uncul. Adalah Bonucci yang tendangannya melambung tinggi, mengingatkan kita pada Mr Roberto Baggio pada final Piala Dunia 1994. Dan Baggio pun jadi treding topic di twitter. Jesus Navas mengantar Spanyol ke final setelah memastikan bola gagal dijangkau Buffon, 6-7. Hasil ini menyamakan kenangan Piala Eropa 2008 yang membuat Spanyol juara. Di tahun lalu juga Italy ditumbangakn tim yang sama. Dan sekali Lagi Italy Gagal.

Karawang, 280613

Brokeback Mountain

Gambar

“Kita bisa punya hidup yang menyenangkan bersama-sama, hidup yang benar-benar menyenangkan. Kau tidak mau, Ennis, jadi yang kita punya sekarang cuma gunung Brokeback. Segalanya dibangun di atas itu. Hanya itu yang kita punya… hitung berapa kali kita akan bertemu selama dua puluh tahun ini. Kau sama sekali tidak tahu keadaanku kau terlalu hebat untukku, Ennis. Andai saja aku tahu bagaimana caranya meninggalkanmu.”

Brokeback Mountain merupakan sebuah novela yang terdapat pada kumpulan cerita pendek karya Annie Proulx berjudul Close Range: Wyoming stories yang terbit tahun 1999. Cerita Brokeback Mountain pernah dimuat di majalah the New Yorker dan mendapat penghargaan O. Henry Awards kategori short story dan Nasional Magazine award. Sementara kumpulan cerpennya mendapat penghargaan Best Fiction 1999 oleh New Yorker Book Award.

Annie Proulx merupakan penulis perempuan pertama yang menerima penghargaan bergengsi P.E.N – Faulkner Award tahun 1993 untuk novel perdananya berjudul Postcards. Di tahun berikutnya dia memenangkan Pulitzer Prize dan Nasional Book Award untuk novel The Shipping News.

Brokeback Mountain bercerita tentang seorang pemuda bernama Ennis Del Mar seorang pemuda desa yang tidak lulus SMA yang sudah bertunangan dengan Alma Beers di tahun 1963. Dia bertemu dengan Jack Twist di Kantor Tenaga Kerja Pertanian dan Peternakan, seorang yang tidak lulus SMA juga yang nyaris tak punya masa depan yang mana mereka siap untuk bekerja apa saja demi kelangsungan hidup. Mereka berdua mendaftar sebagai penggembala dan penjaga kemah untuk kegiatan penggembalaan domba di bagian Signal utara, di Gunung Brokeback.

“Dinas Kehutanan punya daerah-daerah perkemahan yang ditunjuk untuk pekerjaan ini. Letak perkemahan itu bisa ratusan meter dari tempat domba yang sedang merumput. Banyak domba hilang karena binatang buas, tidak ada yang jaga mereka kalau malam. Yang aku mau penjaga kemah ada di kemah utama di tempat yang ditunjuk Dinas Kehutanan, tapi Penggembala diam-diam pasang tenda kecil di dekat domba-domba, jangan kelihatan siapa-siapa dan dia tidur di sana bersama domba-domba. Seratus persen tidak boleh ada api, jangan ada tanda apa-apa. Setiap pagi bereskan tenda. Musim panas lalu aku kehilangan 25% isi ternak, sialan. Aku tak mau seperti itu lagi.”

Begitu petuah yang mereka berdua dapat untuk pekerjaan baru sebagai Penggembala domba di gunung Brokebaack. Selanjutnya didinginnya cuaca gunung dan keseharian yang sunyi mereka saling mengakrabkan diri. Dan terjadilah apa yang ada di film arahan Ang Lee di tahun 2005. Film yang mengantar Ang Lee memenangkan Golden Globe dan nyaris menang Oscar. Kisahnya tidak perlu saya jelaskan karena saya yakin kalian sudah tahu ke arah mana. Namun pernyataan Ennis di bagian pertama setelah kejadian sudah cukup mewakili penonton / pembaca. Sebuah kisah yang mengharukan sekaligus menjijikan.

Ennis merasa seakan isi perutnya ditarik keluar perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Dia berhenti di tepi jalan dan dalam serbuan salju yang baru turun dia berusaha muntah, tapi tidak ada yang keluar. Belum pernah dia merasa seburuk ini, dan butuh waktu lama hingga perasaan itu hilang.

Kado yang manis buat  si Joker.

Karawang, 270613

Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Gambar

Di sebuah angkot, sopir menyetir sambil merokok. Belum habis rokoknya, tiba-tiba tanpa melihat ke belakang kalau-kalau ada pengendara lain lewat dan tanpa mematikan dulu itu rokok dibuang di jalan. Sewaktu lari pagi di hari minggu, segerombolan remaja membuang botol air mineral di selokan setelah selesai meminumnya. Padahal satu meter dari tempatnya berdiri ada sebuah bak sampah. Ketika makan di warung mie ayam, terlihat pengunjung meninggalkan mejanya dalam keadaan berantakan, kenapa sampahnya tidak dijadikan satu dalam piring. Di sebuah motor yang sedang berjalan terlihat si pembonceng dengan santainya sambil makan kacang, dan membuang kulitnya sepanjang jalan. Di kantor ada seorang staff senior yang membuang kertas gagal foto copy di sekitar mesinnya. Ketika naik bus ada penumpang yang dengan sengaja melempar bungkusan plastic ke sungai. Di pasar seorang penjual memilah barang dagangannya setampah cabe, yang busuk dilempar di tengah jalan. Di sebuah acara gathering yang ada panggung hiburannya, ada peserta yang dengan entengnya menikmati acara sambil makan kacang dan menjatuhkan kulitnya di sekitar. Di tempat wisata kebun binatang, banyak pengunjung yang selesai makan lesehan sekeluarga meninggalkan sampah di atas rumput. Di sebuah gerbang tol, seorang sopir terlihat membuang struk tol di jalanan. Saat ngopi sama teman, sang tuan rumah mengaduk kopi memakai pembungkus kopinya dan melemparnya ke luar teras. Seorang ibu-ibu berjalan sambil menggendong bayinya, tangan kiri memegang payung. Tiba-tiba meludah ke tengah jalan yang tak sengaja mengenai sebuah kendaraan. Di sungai ketika memancing ikan ditarik malah dapat sandal butut. Di pinggir jalan ditemuakn se-plastik pembalut. Seorang sopir turun dari kendaraannya, lari terbirit-birit menuju pohon di pinggir jalan untuk kencing. Seorang turis yang sedang berjemur, ketika menyadari cream-nya habis melempar botolnya ke pantai. Di sebuah bus banyak pedagang asongan, salah satunya penjual tahu Sumedang. Ada penumpang yang membelinya, selesai makan plaatiknya di lembar keluar jendela. Di kios majalah, seorang pembeli saking semangatnya ingin segera membaca majalah yang dibelinya, membuang plastic pembungkusnya sembarangan. Seorang SPG yang cantik membuang kertas tisu di sekitar stand. Seorang guru melempar kapur kepada murid yang sedang tertidur di kelas. Di toilet umum banyak tokai yang tidak disiram. Di internet banyak iklan sampah yang menutupi laman utama. Seorang wanita di ruang tunggu mengorek kupingnya dengan cotton but setelah selesai ditaruh di pinggir jendela. Seorang dokter meletakkan sarung tangan karetnya di washtafel kamar mandi. Seorang tukang bangunan yang sedang membetukan rumah melempar paku seenaknya setelah paku yang rencananya dipasang ternyata bengkok. Seorang pelajar yang terlihat frustasi mengerjakan tugas, merobek kertas tulisnya dan membuangnya di bawah meja. Seorang pengamen di sebuah bus membuang sebungkus permen yang diberikan penumpang di jalanan. Di sebuah laci meja kerja ditemukan bungkus mie instan. Di sungai terlihat sampah mengambang di mana-mana. Di asbak banyak kotak rokok, bungkus makanan dan bungkus permen. Di pantry kantor, bungkus kopi tergeletak di atas meja. Di halte bus banyak bungkus makanan ringan berserakan. Di ruang rapat, di bawah meja ada bungkus permen. Bahkan di bandara yang ada tempat sampah di setiap sudut, banyak sampah di sekitar!

#Renungkanlah

Karawang, 260613

Pencarian Benang Merah

Sherlock!

Gambar

“Orangnya cukup baik, hanya saja dia memiliki gagasan yang aneh-aneh. Dia menaruh perhatian besar terhadap beberapa cabang sains. Aku tidak mengetahui apa motivasi belajarnya. Dia mendalami anatomi dan sangat ahli di bidang kimia, tetapi sepanjang sepengetahuanku, dia tidak pernah mengikuti pendidikan medis secara sistematik. Cara belajarnya aneh dan tidak mempunyai kepastian, namun dia berhasil mengumpulkan banyak pengetahuan yang akan membuat para professor heran.”

Bisa jadi novel yang akan saya bahas karya Sir Arthur Conan Doyle adalah novel terbaik yang pernah saya baca. Perkenalan Dokter Watson dengan Sherlock  dimulai dari kepulangan Watson ke Inggris pasca perang di Afganistan. Dia mencari seorang teman untuk berbagi ruang, mencari tempat tinggal di Inggris untuk mencoba memecahkan masalah lalu mendapatkan kamar dengan harga yang layak. Dia bertemu teman lamanya, Stamford dan mengajaknya makan siang di Holborn. Di situlah teman lamanya itu bercerita tentang Holmes.

“Sebab dia orang yang agak tertutup, meskipun dia bisa juga bicara panjang lebar kalau dia mau. Tak mudah untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa diungkapkan. Begini, bagiku holmes itu tidak terlalu ilmiah, bahkan cenderung berdarah dingin. Bisa kubayangkan dia memberikan alkaloid tumbuhan terbaru kepada teman serumahnya, bukan karena niat jahat, tapi hanya ingin tahu pengaruhnya. Supaya adil, aku harus mengatakan bahwa holmes pun akan mengkonsumsi zat tersebut dengan kesiapan yang sama. Dia tampaknya begitu bernafsu untuk memperoleh pengetahuan yang jelas dan pasti. Bayangkan saja, dia pernah memukuli mayat-mayat di kamar bedah dengan tongkat!”

Kalimat pertama yang didengar Watson dari holmes adalah, “sudah kutemukan, sudah kutemukan. Aku sudah menemukan reagen yang hanya bereaksi oleh haemoglobin dan tidak oleh zat lain.” Setelah itu Holmes serasa menodong calon partner-nya tersebut dengan memberi syarat. “Aku sudah menemukan apartemen yang cocok di Baker Street, kau tidak keberatan dengan bau tembakau yang menyengat kuharap.  Kau biasanya membawa bahan kimia, dan sesekali mengadakan percobaan. Aku terkadang tenggelam dalam pemikiranku dan bungkam seribu bahasa sampai berhari-hari. Jangan menganggap marah kalau aku berbuat begitu, dan yang penting, jangan mengganguku. Tak lama kemudian aku akan pulih. Dan yang ingin kauakui, rasanya paling baik kalau dua orang saling mengetahui kejelekan masing-masing sebelum mereka hidup bersama. Apa menurutmu bermain biola termasuk hal yang menggangu?”

“Tergantung siapa yang memainkannya. Biola yang dimainkan dengan baik merupakan hiburan para dewa, tetapi permainan yang buruk …”

“Oh, beres kalau begitu,” Holmes tertawa riang. “Kurasa kita sudah mencapai kesepakatan.”

Begitulah. Perkenalan singkat dynamic duo yang akan melegenda itu. Melalui Stamford akhirnya mereka tinggal seatap. Penggamaran asli seorang Holmes adalah ia bertubuh jangkung, tingginya lebih dari 180 sentimeter, dan begitu kurus hingga tampak lebih jangkung. Matanya tajam menusuk, kecuali ketika sedang melamun, dan hidungnya runcing bagai paruh rajawali menyebabkan seluruh ekspresinya terkesan waspada dan mantab. Dagunya kokoh dan berbentuk segi empat., menandakan ia orang yang berpendirian kuat. Tangannya sering kali ternoda tinta serta bahan kimia, namun sentuhannya begitu halus, sebagaimana kusaksikan is bermain biola. Holmes bukan mahasiswa kedokteran, ia juga tak tertarik terhadap bacaan apa pun yang memungkinkannya untuk mendapat gelar di bidang sains atau bidang lainnya. Meski begitu, ada hal-hal tertentu yang denga tekun dipelajarinya, dan dalam batasan-batasan eksentrik pengetahuannya luar biasa banyak dan pengamatannya begitu rinci sehingga aku kagum. Jelas tak ada orang yang mau bekerja keras atau memeproleh informasi setepat itu tanpa tujuan yang nyata. Orang membaca untuk iseng akan memperoleh pengetahuan yang sedikit, berbeda dengan Holmes yang mau mencari tahu sampai hal-hal kecil.

Anehnya, pengetahuan Holmes yang begitu luar biasa diimbangi denga ketidaktahuan yang sama besar di bidang lainnya. Holmes sama sekali tidak tahu apa-apa tentang karya sastra kontemporer, filosofi, dan politik. Pada saat Watson mnegutip pendapat Thomas Carlyle, dengan naïf Holmes  bertanya siapa orang itu dan kejahatan apa yang dilakukannya. Aku sangat heran ketika tanpa sengaja Watson mengetahui holmes tidak tahu teori Copernicus dan komposisi tata surya bahwa ada orang beradap yang hidup di abad kesembilan belas yang tidak menyadari bahwa bumi mengitari matahari. Setelah dijelaskan, Holmes dengan enteng menjawab, “Sekarang aku sudah tahu teori-teori itu, tetapi aku harus berusaha sebaik-baiknya untuk melupakannya.”

“Otak manusia pada awalnya seperti sama seperti loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengahatau tercampur dengan hal lain. Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukannya ke dalam loteng otaknya. Ia tidak memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaan, sebab peralatan itu saja sudah banyak. Semua itu ditata rapi dalam loteng otaknya sehingga ketika diperlukan, ia dengan mudah dapat ditemukan. Keliru kalau kaupikir loteng-otak kita memiliki dinding-dinding yang membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukka, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta tidak berguna itu menyingkirkan fakta yang berguna.”

Well, itulah perkenalan unik pasangan detektif yang terkenal di dunia. Kisah yang ditulis di ‘a Study in scarlet’ lalu melompat mundur sampai benua Amerika. Penangkapan yang menghebohkan seorang pembunuh berdarah dingin, yang sungguh diluar duga itu dirunut ke secara mundur. Penuturannya sungguh enak dibaca, sampai akhirnya kita malah bersimpati terhadap si otak criminal dalam kisah ini. Dari kasus inilah kemudian lahir kisah-kisah yang banyak kita kenal. Dokter Watson kemudian mencatatnya dan mem-publish. Sebuah refleksi hidup Sir Arthur Conan Doyle dengan bumbu fantasi.

Dan setiap kali saya membaca kisah detektif yang hebat, saya selalu menarik ke belakang dengan menjadikan buku ‘Pencarian Benang Merah’ ini sebagai acuan.

Karawang, 240613